kritis dan pendarahan

1232 Words

Tubuh Amel sudah lemas karena darah terus mengalir di tangannya. Seluruh keluarga kaget dan tak menyangka jika Amel nekad ingin mengakhiri hidupnya. Amel merasa sangat kecewa dengan Fardan dan hilang akal karena syndrom itu kini kembali menang. Sanusi bergerak cepat. Ia langsung mengambil kain untuk mengikat tangannya. Tentu untuk menghentikan pendarahan pada tangan, agar Amel tak kehabisan darah. "Ambil kunci mobil, Buk!" Sanusi berteriak pada Riana dengan segera mengangkat Amel. Sementara tubuh Riana membeku melihat Amel tergolek lemah. Ia seperti terhipnotis. Hatinya perih tercabik-cabik. "I-iya, Pak!" Riana segera berlari. Wiwin pun yang tadi membeku kini juga sudah sadar dan segera membantu membukakan pintu selebar mungkin. Riana segera langsung kedepan. Membuka pintu mobil untuk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD