Fardan menuju loket pendaftaran. "Sus, saya mau konseling. Apa masih dibuka?" Fardan bertanya pada petugas piket. "Masih, Pak. Dengan nama siapa? Apa sebelumnya sudah pernah konseling ke Dokter Maria?" "Belum, Sus. Baru kali ini!" Suster mencatat nama dan menanyakan alamat lengkap serta nomer telfon. "Silahkan tunggu ya, Pak. Nanti namanya di panggil!" "Baik, Sus." Fardan kembali ketempat duduk. Sebenarnya hatinya ragu, apalagi setelah mendengar nama dokternya seorang perempuan. Iya makin insecure untuk berkinseling. "Dengan Saudara Fardan Maulana!" Panggil Suster. Seketika Fardan beranjak. Hatinya bimbang, apa ia urungkan saja. Gumamnya dalam hati. "Silahkan ikut saya!" Suster langsung masuk kedalam ruangan. Jantung Fardan berdegub lebih kencang dari biasanya. "Selamat Siang, si

