Chapter 19

1363 Words
Sang Surya kembali memperlihatkan wujudnya di ujung timur. Seiring dengan waktu yang berjalan, sosoknya semakin bergerak ke atas. Menuju ke tempat yang paling tinggi sebelum kembali terjatuh. Yi Tan terbangun, mendapati perasaan yang lebih tenang dibandingkan dengan hari sebelumnya. Yi Tan berpikir bahwa hal itu mungkin karena saat ini ia tengah berada di Kuil, meski tujuannya datang ke sana untuk mencari makhluk yang telah memberikan cacat pada kehidupannya. Yi Tan beranjak berdiri, meraih pedang serta panah miliknya sebelum bergegas keluar Kuil untuk mencari keberadaan si Biksu. Yi Tan menuruni anak tangga dan menghentikan langkahnya di bawah anak tangga. Terlalu sepi untuk menemukan kehidupan di sana, saat itu pandangan Yi Tan justru menemukan seekor rusa berada di sudut halaman. Yi Tan memperhatikan seekor rusa yang tampaknya juga tengah memperhatikannya tersebut. Namun saat itu Yi Tan menyadari ada yang janggal dengan rusa itu. Dahi Yi Tan mengernyit. Dia berharap bahwa penglihatannya yang salah, namun setelah diperhatikan baik-baik, rusa itu benar-benar terlihat aneh. Sejak kapan rusa memiliki ekor rubah. Benar sekali, kejanggalan yang ditemukan oleh Yi Tan adalah pada ekor rusa itu. Dan siapa lagi rusa berekor rubah itu jika bukan si rubah tua Seo Eun Kwang. Padahal baru kemarin Roh Gunung memperingatkan untuk menjaga ekornya baik-baik, dan sia-sia lah petuah Roh Gunung kemarin. Sepertinya dua rubah yang mendampinginya tidak bisa menutupi kelemahan mereka. Bahkan si Gumiho dengan tujuh ekor pun tidak bisa mengendalikan telinga rubahnya yang sering muncul. Dan berkat ekor rubah Eun Kwang, Yi Tan berhasil mengenali wujud dari sang rusa yang sesungguhnya. Yi Tan menyelipkan pedangnya dan beralih mengambil busur panah. Namun saat itu Eun Kwang dalam wujud rusa jadi-jadiannya memasuki hutan. Yi Tan bergegas menyusul Eun Kwang sembari menarik satu anak panah. Sepertinya sang Pangeran benar-benar ingin menangkap rubah tua itu. Memasuki hutan, Yi Tan terus mengikuti ke mana perginya rusa itu. Hingga pada akhirnya Yi Tan memiliki kesempatan untuk memanah rusa itu. Satu anak panah melesat, membuat Eun Kwang sangat terkejut. "Roh Gunung ..." teriak Eun Kwang dalam hati. Anak panah Yi Tan meleset dan justru menancap pada pohon. Eun Kwang segera berlari secepat mungkin mengarah ke Bukit Rubah, sementara Yi Tan pun segera mengejar si rusa jadi-jadian. Setelah cukup jauh berlari, Eun Kwang mengubah dirinya kembali dalam wujud manusia dan segera berbaring di bebatuan di sekitar aliran sungai yang berada di bawah air terjun. Napas si rubah tua memburu namun terdengar pendek. "Aigoo! Kenapa aku harus melakukan hal sekonyol ini? Aku hampir saja mati di tangan manusia," keluh Eun Kwang. Young Jae kemudian mendatangi Eun Kwang dan berdiri di samping si rubah tua. Young Jae menegur, "haruskah kau berlari sejauh ini?" Eun Kwang menatap sinis dan menyahut, "Tuan ingin aku mati di tangan manusia itu?" "Mungkinkah semakin tua kau semakin bodoh ataukah kau memang sudah bodoh sejak dulu?" Eun Kwang langsung bangkit terduduk. Dia berucap tak terima. "Bagaimana bisa Roh Gunung mengatakan hal semacam itu padaku? Aku hampir saja mati di tangan Pangeran Yi Tan. Tidak punya hati sekali." Eun Kwang kemudian menggerutu. "Lagi pula kenapa dia malah berburu rusa? Apakah dia kelaparan?" "Lama-lama aku akan memotong ekormu," sahut Young Jae dengan malas. "Ada apa lagi dengan ekorku? Roh Gunung benar-benar keterlaluan. Aku melalui banyak kesulitan untuk membawa Pangeran Yi Tan ke Bukit Rubah." Suara Young Jae sedikit mengeras. "Sejak kapan ada rusa yang memiliki ekor rubah? Siapapun akan langsung sadar jika kau hanyalah rusa jadi-jadian. Kau benar-benar membuat aku malu sebagai pemilik Gunung. Benar-benar ..." Eun Kwang memasang raut wajah tak bersalah. "Benarkah? Aku pikir aku sudah melakukannya dengan baik. Lalu kenapa Tuan tidak mengingatkan aku?" "Percuma saja aku mengingatkanmu, kau tidak akan mengerti. Lagi pula untuk apa kau mengubah dirimu menjadi rusa? Kau hanya perlu menjadi Biksu dan mengatakan jalan menuju Bukit Rubah. Apakah kau benar-benar tidak pernah memikirkan hal sederhana itu?" Young Jae menatap tak percaya. Eun Kwang tersenyum lebar sebelum akhirnya tertawa ringan. Dia bahkan tidak percaya dengan kebodohannya sendiri. Hanya karena dia bisa melakukan apapun menggunakan sihirnya, dia justru memilih cara yang berbahaya dengan menjadi hewan buruan sang Pangeran. Eun Kwang kemudian berkata pada dirinya sendiri. "Kenapa aku tidak pernah memikirkan hal itu?" Young Jae memandang dengan tatapan menghakimi. "Kau benar-benar mengagumkan, Pak Tua. Bagaimana kau bisa hidup selama ini dengan pemikiran serumit itu? Benar-benar tidak bisa dipercaya." Eun Kwang kemudian berdiri dan tampak sudah bisa bernapas dengan normal kembali. Si rubah tua kemudian menuntut Roh Gunung. "Sebenarnya, apa alasan Roh Gunung membawa Pangeran Yi Tan ke Bukit Rubah?" Young Jae menjawab dengan santai. "Meski tanpa bantuanmu sekalipun, manusia itu pada akhirnya akan menemukan Bukit Rubah." "Tapi bagaimana jika Tuan Muda tiba-tiba pulang dan bertemu dengan Pangeran Yi Tan? Pangeran Yi Tan pasti akan langsung menangkap Tuan Muda." "Dia bukan anak kecil lagi, dia bisa lari jika seseorang ingin menangkapnya. Untuk sementara waktu bersembunyilah, jangan mendekati Bukit Rubah." Young Jae kemudian pergi. "Tapi, Tuan—" Young Jae tiba-tiba menghilang dari pandangan Eun Kwang dan membuat si rubah tua mengeluh. Sementara itu Yi Tan yang telah kehilangan jejak Eun Kwang lantas sampai di Bukit Rubah. Yi Tan menemukan sebuah gazebo yang sempat ia dengar dalam perjalanan ke sana. Dan sang Pangeran yakin bahwa saat ini dia sudah berada di Bukit Rubah. Yi Tan berjalan mendekati tebing dan berdiri di samping Pohon Penyangga Surga. Memandang lembah Joseon yang membentang di bawah tempatnya berdiri saat ini. Untuk sesaat Yi Tan melupakan tujuan awalnya datang ke sana ketika untuk kali pertama dia melihat pemandangan yang begitu mengesankan seperti itu. "Di sinikah tempat itu ... Baekdusan?" gumam Yi Tan. Perhatian Yi Tan teralihkan oleh keberadaan Pohon Penyangga Surga. Sang Pangeran mendongak, berniat melihat seberapa tinggi pohon di sampingnya itu. Namun pohon itu terlalu tinggi hingga ia tidak bisa melihat ujung dari pohon tersebut. Dan hari itu Yi Tan menghabiskan banyak waktu di tempat itu. Meyakini bahwa si rubah ekor sembilan akan muncul di sana, sang Pangeran memutuskan untuk menunggu hingga rubah itu menampakkan wujudnya. Dan setiap pergerakannya tak luput dari pengawasan Roh Gunung. Namun tak peduli berapa lama pun Yi Tan menunggu, si Gumiho tidak akan menjumpainya di sana hari itu ketika si Gumiho tengah sibuk belajar di Hanyang. Dan hingga sang surya terjatuh ke tempat yang paling dalam, sang Pangeran tetap menanti. Tertidur di gazebo, Yi Tan tak lagi terpengaruh dengan keadaan di sekitarnya. Dan saat itu Roh Gunung kembali mendatanginya. Sepertinya sebelumnya, Young Jae berdiri di hadapan Yi Tan dan kali ini memperhatikan sang Pangeran dalam waktu yang lebih lama. Young Jae kemudian berucap dengan suara yang pelan. "Kau menjadi orang buangan lagi? Setengah bangsawan?" Young Jae menggerakkan ekor matanya ke samping dan berucap, "keluarlah." Saat itu Eun Kwang keluar dari kegelapan dan mendekati gazebo, namun hanya berdiri di bawah tangga. Young Jae lantas memberikan perintah. "Besok pagi pergilah ke Hanyang, bawa Shin Chang Kyun pulang." Eun Kwang terlihat gelisah. "Tapi, Tuan. Apa yang akan terjadi jika Tuan Muda bertemu dengan Pangeran Yi Tan?" "Mereka berdua memang harus bertemu." "Ye?" Eun Kwang terkejut. Young Jae kembali berbicara. "Mereka harus bertemu, dengan begitu masalah di antara mereka bisa diselesaikan." "Tapi ... bukankah Tuan Muda tidak memiliki masalah dengan manusia?" "Manusia lah yang telah berurusan dengan Chang Kyun. Dan manusia itu yang membuat Chang Kyun berurusan dengan manusia lain ... mereka harus tetap bertemu untuk menyelesaikan kesalahpahaman. Bukan hanya itu ..." "Bukan hanya itu?" tanya Eun Kwang dengan hati-hati. Young Jae kembali memandang Yi Tan dan berucap, "agar seseorang tidak lagi menunggu." "Siapa yang sedang Tuan bicarakan?" "Aku tidak ingin memberitahumu. Tugasmu adalah membawa Chang Kyun pulang besok." "Jika Roh Gunung sudah memberi perintah, aku bisa apa?" gumam Eun Kwang. Dan malam itu Young Jae membiarkan Baekdusan dalam keadaan yang damai seakan tak ingin mengusik tamunya yang datang dari jauh. Bahkan udara di Baekdusan malam itu sedikit lebih hangat sehingga sang Pangeran tidak akan kedinginan meski bermalam di ruang terbuka. Sementara itu, ketika gong penanda jam malam diberlakukan telah dibunyikan. Chang Kyun justru terlihat duduk di atap asrama dengan helaian rambut hitam legamnya yang jatuh menutupi punggungnya. Kembali membiarkan sang rembulan menemukan sosoknya, si Gumiho terlihat bermain-main dengan kunang-kunang hadiah dari Roh Gunung. Kembali menikmati malam yang sangat hening dan begitu sepi, membuatnya kembali merindukan seseorang yang tak bisa lagi ia temui. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD