Chapter 20

1522 Words
Fajar menyingsing, cahaya hangat matahari yang menyinari gazebo berhasil membawa kembali jiwa Yi Tan yang sempat berkelana. Kedua mata itu terbuka, entah sejak kapan sang Pangeran sudah terbaring di lantai dalam posisi miring. Mata yang baru setengah terbuka itu lantas menemukan sesosok orang yang berdiri tepat di hadapannya. Dahi Yi Tan mengernyit sebelum pada akhirnya bangkit dan membuka matanya lebar-lebar. Mengarahkan pandangannya ke atas, Yi Tan tertegun ketika mendapati wajah asing namun pernah ia lihat sebelumnya. "Kau bisa melihatku, Pangeran Yi Tan?" tegur Young Jae. Mata Yi Tan sejenak mengerjap, merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya saat ini. Ia masih mengingat dengan jelas bahwa wajah di hadapannya itu sangatlah mirip dengan lukisan cendekiawan di Kuil yang sebelumnya ia lihat sebelum sampai di sana. Yi Tan kemudian bertanya dengan ragu. "Siapa ... kau?" "Pemilik gunung ini. Apakah tidurmu semalam nyenyak?" "Roh Gunung?" Bukannya memberikannya jawaban, Yi Tan justru memastikan identitas sosok di hadapannya. Young Jae kemudian menyahut, "siapa yang sedang kau harapkan untuk datang ke tempat ini? Karena kau sudah bermalam tanpa meminta izin terlebih dahulu, aku berhak melakukan apapun padamu, Pangeran Yi Tan." "Kau ... tahu siapa aku?" Yi Tan merasa bingung. Dia kemudian bangkit dan berhadapan dengan Roh Gunung. Young Jae kembali berbicara. "Jangan berbicara padaku seakan-akan kita adalah teman baik. Aku adalah Roh Gunung, manusia tidak bisa berdampingan denganku juga tidak bisa berdiri di tempat yang lebih tinggi dariku." "Jika memang benar begitu, jika memang benar kau adalah Roh Gunung. Lalu kenapa kau muncul di hadapanku?" "Karena kau sedang tersesat. Kau masih tidak percaya bahwa aku adalah pemilik gunung ini, bukan?" Yi Tan tak menjawab. Sesungguhnya sang Pangeran tengah bimbang sekarang. Kenapa Roh Gunung tiba-tiba muncul di hadapannya sebagai seorang bangsawan. Namun memang penampilan Roh Gunung berbeda dari orang Joseon pada umumnya. Young Jae kemudian menegur. "Kau mencari sesuatu, Pangeran Yi Tan?" Yi Tan terlihat ragu hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk tak menjawab. Meski sebenarnya dia tahu bahwa jika Roh Gunung berada di sana, sudah pasti si rubah juga ada di sekitar sana. Tak mendapatkan jawaban, Young Jae kembali menegur. "Kau sedang mencari rubahku?" Pandangan yang sempat terjatuh itu lantas kembali bertemu dengan tatapan teduh milik sang Roh Gunung. Melihat bahwa Roh Gunung seperti sudah mengetahui tentang tujuannya datang ke sana, keraguan itu perlahan menghilang. Yi Tan menyahut, "jika aku mengatakan 'ya' apakah Roh Gunung akan memberitahuku di mana Gumiho itu?" "Entahlah, aku tidak pernah terlibat negosiasi dengan manusia. Sebaliknya, mereka akan memberi sebanyak mungkin ketika mereka menginginkan sesuatu." "Aku tidak membawa apapun untuk bisa diberikan kepada Roh Gunung saat ini. Tapi jika Roh Gunung mempercayai janji manusia, aku bisa kembali dan membayar atas keinginanku." "Kalau begitu sebutkan apa yang Pangeran inginkan sehingga jauh-jauh datang kemari." Meski sudah tahu tujuan Yi Tan, Roh Gunung tetap berbasa-basi. Dengan penuh pertimbangan Yi Tan berucap, "Gumiho ... biarkan aku menemuinya." Young Jae tersenyum dan sempat melihat beberapa anak panah yang tergeletak di lantai. Kembali memandang sang Pangeran, Roh Gunung kembali berbicara. "Pangeran ingin menusuk hati rubahku menggunakan anak panah itu atau sebilah pedang itu?" "Aku tidak memikirkan hal itu." "Sampai Pangeran menginjakkan kaki di Kuil," Young Jae menyela. Batin Yi Tan sempat tersentak. Young Jae kembali berbicara. "Pangeran meninggalkan Hanyang dalam keadaan marah dan Pangeran berpikir akan menusuk hati rubahku begitu sampai di tempat ini. Tapi ... pikiran itu tiba-tiba menghilang ketika Pangeran menginjakkan kaki di Kuil. Apakah aku salah, Pangeran Yi Tan?" Yi Tan menjatuhkan pandangannya. Semua yang dikatakan oleh Roh Gunung adalah kebenaran. Ketika meninggalkan Hanyang, ia berpikir bahwa ia akan mencabik-cabik tubuh si Gumiho. Namun segala perasaan buruk yang ia bawa datang dari Hanyang tiba-tiba lenyap ketika ia memasuki Kuil. Bahkan sekarang ia merasa ragu, akankah ia bisa menyakiti Gumiho milik Roh Gunung Baekdusan itu. Terlebih setelah sang pemilik gunung menemuinya secara langsung. Young Jae kembali berbicara. "Pikirkanlah baik-baik, Pangeran Yi Tan. Aku tidak bisa menghalangi jika ada manusia yang ingin menyakiti rubah malang itu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan siapapun menyakiti milikku. Pikirkanlah baik-baik hingga anak itu pulang." Young Jae kemudian turun dari gazebo dan mendekati Pohon Penyangga Surga. Berdiri di tepi tebing dan membelakangi tempat Yi Tan berada. Yi Tan yang merasa sedikit gelisah lantas menghampiri Young Jae. "Permisi," tegur Yi Tan. Young Jae berbalik. Namun saat itu Young Jae melihat kedatangan Eun Kwang. "Roh Gunung ..." seru Eun Kwang yang berlari menghampiri keduanya. Yi Tan berbalik dan merasa pernah melihat Eun Kwang sebelumnya. Hingga pada akhirnya ingatannya tentang si Biksu kembali ketika Eun Kwang sudah berdiri di hadapannya. "Aku sudah kembali, Tuan," ucap Eun Kwang, belum menyadari keberadaan Yi Tan. Yi Tan terkejut. "Kau—" Eun Kwang segera memandang Yi Tan dan terlonjak. "Omo!" Eun Kwang segera bersembunyi di belakang Young Jae. "Bukankah kau Biksu yang aku temui di Kuil?" Yi Tan berucap tak percaya. Young Jae menyahut, "dan dia adalah rusa berekor rubah yang membawa Pangeran sampai ke tempat ini." "Apa yang Tuan katakan?" protes Eun Kwang. Yi Tan menatap tak percaya, berpikir bahwa Eun Kwang adalah Gumiho yang ingin ia temui. "Kalau begitu ... apakah dia—" "Bukan," Young Jae menyela. "Meski hidup ribuan tahun sekalipun, ekor rubah tua ini tidak pernah bertambah." Eun Kwang kemudian melayangkan protes dengan suara lantang seperti biasa. "Kenapa Tuan selalu menghinaku karena aku hanya memiliki satu ekor?" "Lalu, di mana dia sekarang?" Pertanyaan Yi Tan membuat Eun Kwang kembali bersembunyi. Young Jae kemudian memandang Eun Kwang menggunakan ekor matanya. Si Roh Gunung bertanya, "kau membawa anak itu pulang?" Eun Kwang mengangguk dan berbicara dengan nada berbisik. "Tapi sepertinya ada sedikit masalah, Tuan." "Ada apa?" "Saat aku datang, Tuan Muda sedang minum-minum di kedai bersama Pelajar Konfusius Hong Joo Chan." Dahi Young Jae mengernyit. "Apakah dia mabuk?" Eun Kwang bingung harus mengangguk atau menggeleng. "Aku tidak yakin dengan hal itu, Tuan. Tuan Muda mengatakan akan pulang sendirian." "Dan kau meninggalkannya begitu saja?" Eun Kwang tersenyum lebar. Dan di saat Roh Gunung dan si rubah sibuk berbicara berdua, saat itu ekor mata Yi Tan menyadari kedatangan seseorang. Yi Tan mengarahkan pandangannya ke ujung jalan dan menemukan seorang wanita cantik dengan gaun merah yang mencolok berjalan berlenggak-lenggok ke arah mereka. Untuk sesaat Yi Tan tak bisa melepaskan pandangannya pada sosok wanita muda itu yang berpenampilan tak seperti wanita Joseon pada umumnya. Bukan tertarik secara pribadi, Yi Tan merasa penasaran bagaimana caranya seorang wanita cantik sampai di tempat itu. "Siapa wanita yang sedang berjalan kemari itu?" gumam Yi Tan dan berhasil menarik perhatian kedua makhluk beda dunia yang berada di dekatnya. Young Jae dan Eun Kwang serempak memandang ke tempat yang dimaksud oleh Yi Tan dan menunjukkan reaksi yang berbeda. Eun Kwang yang terperangah dan Roh Gunung yang justru memberikan tatapan menghakimi. "Datang dari mana wanita cantik itu?" gumam Eun Kwang. Wanita cantik yang tampak sangat sombong itu sampai di hadapan ketiga laki-laki dari dunia yang berbeda itu. Namun sikap sombongnya perlahan berubah ketika ia memperhatikan wajah Yi Tan yang juga tengah memandangnya. Wanita muda itu kemudian mendekati Yi Tan. Sang Pangeran refleks mengambil langkah mundur. Namun wanita muda itu tak menghentikan langkahnya dan justru membuat sang Pangeran tersudut ke tepi tebing. "Kenapa dia agresif sekali?" gumam Eun Kwang. Seruling di tangan Young Jae terangkat dan memukul kepala wanita muda itu. Seketika wanita muda itu menunjukkan wujud dirinya yang sesungguhnya. Dan Eun Kwang lebih terkejut lagi ketika melihat bahwa wanita muda itu adalah Shin Chang Kyun. "Oh! Tuan Muda?" "Kau bahkan tidak bisa mengenali tuanmu dengan baik," gumam Young Jae dengan nada mencibir. Chang Kyun seketika memegangi kepalanya. Dan kedua pipi Chang Kyun yang memerah menandakan bahwa si rubah benar-benar tengah mabuk berat saat ini. Namun satu manusia yang berada di sana masih tampak terguncang dengan apa yang ia saksikan di hadapannya. Bagaimana bisa seorang wanita cantik tiba-tiba berubah menjadi seorang laki-laki. "Kenapa memukul kepalaku?" protes Chang Kyun dengan suara yang pelan dan terdengar tak bersemangat ketika matanya terasa berat untuk terbuka. Young Jae kemudian memarahi si Gumiho. "Sudah aku katakan untuk tidak minum-minum. Kenapa kau selalu berubah menjadi wanita cantik ketika sedang mabuk? Lain kali berubahlah menjadi seekor kucing! Kenapa kau sulit sekali untuk dinasehati?" Chang Kyun hanya mengangguk dan meninggalkan ketiganya. Berjalan dengan sedikit terhuyung, Chang Kyun menuju gazebo. Dan setelah sampai di gazebo, si Gumiho langsung berbaring di lantai dan tidur. Seperti itulah keadaan si Gumiho jika sedang mabuk. Jika tidak berubah menjadi wanita cantik dan berkeliaran untuk menggoda para laki-laki, dia akan tertidur dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Young Jae menghela napas. "Dia selalu seperti itu." "Ini pasti karena si Pelajar Hong Joo Chan itu," sahut Eun Kwang dengan kesal dan menghampiri Chang Kyun. Sementara Young Jae lantas menjatuhkan pandangannya pada Yi Tan. Mendapati sang Pangeran masih dalam keadaan yang terguncang. Young Jae kemudian berbicara pada sang Pangeran. "Pangeran sudah melihat sendiri, bukan?" Yi Tan memandang Roh Gunung dengan tatapan yang penuh keraguan. "Mungkinkah ..." Young Jae menyela. "Harus bagaimana lagi? Pangeran harus menunggu hingga anak rubah itu bangun untuk bisa menyelesaikan kesalahpahaman di antara kalian." "Kesalahpahaman?" guman Yi Tan yang kemudian memandang ke gazebo, menemukan dua rubah di tempat itu. Yi Tan kemudian bertanya dalam hati. "Gumiho itu ... dia kah orangnya?" THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD