Langit sore membentang di atas Baekdusan. Hingga detik ini si Gumiho belum juga bangun. Sementara sang Pangeran tengah duduk di akar Pohon Penyangga Surga yang mencuat keluar. Bersandar pada pohon sakral yang ia pikir hanyalah pohon biasa.
Si Roh Gunung telah pergi sejak tadi pagi, sementara si rubah tua Seo Eun Kwang tengah menjaga Chang Kyun. Khawatir jika Yi Tan akan melakukan hal buruk pada Tuan Muda yang ia besarkan.
Yi Tan memandang lembah di bawah Baekdusan. Menatap jauh ke depan, ke tempat yang tidak akan pernah bisa ia jangkau. Sang Pangeran kembali merasa kesepian dalam penantiannya terhadap sang Gumiho. Hingga udara dingin yang kembali ketika garis cahaya di ujung barat mulai tercipta, sang Pangeran tertidur.
Eun Kwang yang sedari tadi memperhatikan Yi Tan lantas beranjak berdiri ketika melihat sang Pangeran tak lagi membuat pergerakan. Eun Kwang mendekati Yi Tan dengan langkah yang tampak berhati-hati dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan sang Pangeran.
"Apa dia benar-benar tidur?" gumam Eun Kwang. Sebuah pertanyaan yang dia ajukan untuk dirinya sendiri.
Eun Kwang kemudian mendekat dan berjongkok. Memperhatikan wajah Yi Tan lebih dekat lagi. Namun entah sadar atau tidak, kuku-kuku tajam milik si rubah tua itu keluar.
"Sampai kapan dia akan duduk di sini?"
"Jauhkan kukumu darinya."
Eun Kwang sedikit terlonjak ketika tiba-tiba mendengar suara Young Jae yang datang dari arah samping. Dia pun segera memandang si Roh Gunung.
"Oh! Tuan?"
"Apa yang ingin kau lakukan dengan mengeluarkan kuku-kukumu itu?"
Eun Kwang memandang tangannya sendiri dan sedikit terkejut, menegaskan bahwa si rubah tidak merencanakan hal itu. Eun Kwang kemudian menyimpan kembali kuku rubahnya.
"Kau ingin memakan hatinya?" Young Jae kembali menegur.
Eun Kwang langsung menggeleng. "Tidak ... kenapa Tuan berpikir seperti itu? Mana mungkin aku berani melakukannya?"
"Kau cukup berani untuk melakukan hal itu."
"Eh?" Eun Kwang menatap bingung.
Young Jae kembali berbicara. "Kau cukup berani melakukan apapun jika hal itu mengancam anak rubah itu."
Eun Kwang kemudian bangkit dan menghampiri Young Jae. "Benarkah Tuan tidak akan melalukan sesuatu? Bagaimana jika manusia ini melakukan hal yang buruk pada Tuan Muda?"
"Bisakah manusia lemah ini membunuh Gumiho berusia tujuh ratus tahun?"
Eun Kwang terlihat ragu. "Tapi tetap saja ..."
"Ikuti aku." Young Jae kemudian berjalan ke arah lain.
"Ke mana?"
"Jangan bertanya dan lakukan saja."
Eun Kwang menyusul Young Jae. "Tuan ingin meninggalkan Tuan Muda sendirian dengan manusia itu?"
"Dia akan bangun jika dia menginginkan hal itu." Young Jae tetap bersikap acuh.
"Tapi, Tuan ..."
"Jangan cerewet dan ikuti saja aku."
"Sebenarnya apa yang sedang Tuan pikirkan?" Eun Kwang merasa kesal, namun ia tetap mengikuti si Roh Gunung. Meninggalkan si Gumiho bersama dengan si manusia.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Malam yang kembali datang. Terhitung sudah tiga malam sejak Yi Tan meninggalkan Hanyang, dan tiga malam pula sang Pangeran bermalam di Baekdusan. Tertidur di tempat yang tidak layak. Semua itu Yi Tan lakukan untuk bisa menemui si Gumiho.
Terbangun di tengah tidurnya, sang Pangeran kembali menyadari tempat di mana ia berada. Mengingat apa saja yang terjadi sebelum ia tertidur, Yi Tan mengarahkan pandangannya ke gazebo dan hanya menemukan Chang Kyun yang masih terbaring di gazebo tanpa ada si rubah tua atapun Roh Gunung di sekitar sana.
Yi Tan kemudian bangkit dan berjalan mendekati gazebo. Menghentikan langkahnya di bawah tangga, Yi Tan memperhatikan Chang Kyun yang kala itu tidur dalam posisi meringkuk. Sempat terdiam selama beberapa waktu, Yi Tan kemudian membawa langkahnya menaiki anak tangga dan menginjak lantai yang sama dengan si Gumiho.
Langkah Yi Tan terlihat ragu ketika ia mendekati si Gumiho. Namun pada akhirnya langkah itu membawanya berdiri tepat di hadapan sang siluman rubah. Menemukan wajah Chang Kyun yang tengah terlelap, Yi Tan sejenak memperhatikan siluman rubah yang dikatakan orang-orang telah membunuh mempelai wanitanya itu. Namun perasaan Yi Tan semakin kacau ketika terlalu lama memperhatikan wajah sang rubah.
Yi Tan kemudian berucap, "sampai kapan kau akan tidur seperti ini? Cepat bangun dan jawablah pertanyaanku."
Seekor kunang-kunang datang dan terbang di sekitar keduanya. Hawa dingin Baekdusan di malam itu berhasil menembus pakaian yang dikenakan oleh sang Pangeran. Tak seperti sebelumnya, seakan Roh Gunung tak lagi ingin membuatnya merasa nyaman.
Semakin lama perasaan Yi Tan semakin kacau. Ketika bayangan Si Hyeon kembali mengisi ingatannya, kemarahan yang sempat menghilang itu perlahan mulai kembali. Dan tanpa sadar kedua tangan sang Pangeran mengepal dengan kuat.
Kembali terjatuh pada keputusasaan yang lalu, Yi Tan pergi ke sudut lain gazebo. Menghampiri tempat di mana ia meninggalkan pedang serta panahnya. Saat itu Yi Tan mengambil satu anak panah dan kembali menghampiri si Gumiho. Dengan perasaan putus asa, sang Pangeran menunjukkan kemarahannya yang ditujukan kepada si Gumiho yang tak bersalah atas kematian sang mempelai wanitanya.
Yi Tan kemudian menjatuhkan satu lututnya di lantai. Terlihat sangat ragu, Yi Tan sempat memandang anak panah yang berada dalam genggaman tangannya dan Chang Kyun secara bergantian. Untuk sesaat sang Pangeran menjadi gelap mata, tak lagi bisa menahan diri dan justru mempercayai rumor yang beredar tentang si Gumiho.
Dengan perasaan ragu yang semakin besar di setiap waktunya. Yi Tan mengangkat tangannya yang menggenggam anak panah dan berniat untuk menusuk hati sang rubah. Namun kala itu benang hitam yang mengikat jari kelingking keduanya tiba-tiba muncul dan seperti menarik tangan Yi Tan hingga pergerakan sang Pangeran terhenti di udara.
Tangan itu terlihat gemetar, begitupun dengan tatapan terluka itu. Dia berniat untuk membalaskan kematian Kim Si Hyeon dengan membunuh si Gumiho, namun dia tak sampai hati untuk membunuhnya.
Dengan suara yang lirih sang Pangeran berucap, "aku mohon ... pergilah, pergilah sejauh mungkin hingga aku tidak bisa menemukanmu. Pergilah yang jauh ... jangan pernah kembali meski aku mencarimu. Aku mohon ..."
Saat itu kedua mata Chang Kyun terbuka. Tatapan dinginnya menemukan sosok sang Pangeran yang hendak melakukan hal buruk padanya. Pandangan keduanya saling bertemu, namun hal itu tak berlangsung lama karena saat itu juga satu ekor Chang Kyun tiba-tiba muncul dan menghantam tubuh Yi Tan.
Sang Pangeran terlempar keluar dari gazebo. Beruntungnya saat itu Roh Gunung tiba-tiba muncul di belakang Yi Tan dan menahan punggung si Pangeran. Namun si Gumiho yang terlanjur marah justru mengirimkan sebuah anak panah kepada si Pangeran. Menggunakan serulingnya, Young Jae memukul anak panah itu yang justru menancap pada Pohon Penyangga Surga yang kemudian langsung menelan anak panah itu.
Yi Tan yang mendapatkan serangan tiba-tiba tampak terguncang dan menjatuhkan kedua lututnya pada tanah dengan napas yang terdengar memburu. Sementara itu Chang Kyun bangkit, terduduk di gazebo dan memandang marah ke arah Roh Gunung.
Young Jae kemudian berkata, "kau harus mengambil hatinya terlebih dahulu untuk bisa berbicara dengannya. Kau harus memperlakukannya dengan baik jika ingin mengambil hatinya, Pangeran Yi Tan."
Eun Kwang tiba-tiba muncul dan berlari menghampiri Chang Kyun dengan khawatir.
"Tuan Muda ..."
Melihat kemarahan di wajah Chang Kyun, Eun Kwang tak berani banyak bicara dan hanya berdiri di bawah tangga. Sementara sang Gumiho tetap beradu pandang dengan Roh Gunung seakan menuntut Roh Gunung atas kedatangan manusia ke tempat itu.
Setelah sempat bersikap dingin, Young Jae kemudian kembali pada sikap ramahnya. Si Roh Gunung tiba-tiba tersenyum.
"Aigoo, lihatlah betapa marahnya dia saat ini." Young Jae menjatuhkan pandangannya pada Yi Tan. "Kau baik-baik saja, Pangeran Yi Tan? Apakah kau terluka?"
Yi Tan yang bisa bernapas dengan normal kembali menjawab, "aku baik-baik saja."
Yi Tan mengangkat pandangannya dan melihat ke tempat si Gumiho. Berbeda dengan sebelumnya, kemarahan dalam sorot mata sang Pangeran kembali hilang.
"Bisakah Pangeran berdiri?"
Yi Tan kemudian berdiri dan menyadari bahwa dia telah berhutang budi kepada Roh Gunung. "Aku berterimakasih atas bantuanmu, Roh Gunung."
Young Jae kembali tersenyum. "Aku tidak membantu siapapun, Pangeran Yi Tan. Terlebih lagi manusia yang tidak datang membawa apapun."
Young Jae kemudian meninggalkan Yi Tan, berjalan menuju gazebo. Dan dalam perjalanannya ia menegur Yi Tan. "Mari kita selesaikan apa yang harus diselesaikan, Pangeran."
Yi Tan sekilas menepuk dadanya yang terasa sedikit sakit setelah mendapatkan pukulan dari ekor si Gumiho. Dia kemudian menyusul langkah si Roh Gunung.
Ketika keduanya sampai di depan gazebo, Chang Kyun tetap dalam posisi duduk dengan salah satu lutut yang terangkat dan juga satu tangan yang berada di atas lutut. Tatapan dingin sang Gumiho memperhatikan Yi Tan.
Young Jae kemudian menegur Chang Kyun. "Kau bangun lebih awal dari biasanya, Tuan Muda Shin Chang Kyun."
"Shin Chang Kyun?" batin Yi Tan.
Chang Kyun perlahan memalingkan wajahnya, menunjukkan seberapa kesal dirinya ketika ada manusia yang mengusik tidurnya. Bahkan manusia itu sempat mengancamnya menggunakan sebuah anak panah.
Young Jae kembali menegur untuk meluluhkan hati si Gumiho. "Kau tidak boleh seperti ini. Kebaikanmu dalam tujuh ratus tahun akan sia-sia jika bangsawan ini jatuh dari tebing."
Chang Kyun tak memiliki niatan untuk merespon. Dan saat itu Young Jae kembali tersenyum. Mau tidak mau si Roh Gunung harus berdiri sebagai penengah untuk menyelesaikan kesalahpahaman antara si Gumiho dengan sang Pangeran.
"Shin Chang Kyun, mari kita bicara."
Chang Kyun tetap tak merespon.
Young Jae kembali berbicara. "Pangeran Yi Tan datang kemari untuk mencari Gumiho yang sudah membunuh mempelai wanitanya di Baekdusan."
Mendengar hal itu, Chang Kyun segera memandang Roh Gunung dan menyangkal dengan tegas. "Bukan aku!"
Young Jae tersenyum tipis dan sekilas memandang Yi Tan yang berdiri di sampingnya. "Tapi Pangeran Yi Tan meyakini bahwa kau lah yang sudah membunuh mempelai wanitanya. Jadi harus bagaimana ini?"
"Bukan aku, aku tidak memiliki urusan dengan manusia. Harus berapa kali aku mengatakan bahwa bukan aku yang melakukannya? Bukan aku yang membunuh manusia itu!"
"Kau memiliki bukti?" Yi Tan tiba-tiba menyahut dan menarik perhatian si Gumiho yang tengah kesal. "Tunjukkan padaku jika kau memiliki bukti."
"Lalu apakah kau memiliki bukti jika aku yang membunuh manusia itu?" balas Chang Kyun.
"Ada, aku memiliki bukti."
Jawaban Yi Tan membuat Eun Kwang terkejut, namun rubah tua itu tak memiliki kesempatan untuk ikut dalam perdebatan itu.
"Kalau begitu tunjukkan padaku," tantang Chang Kyun.
"Seluruh orang di Joseon adalah buktinya."
Netra tajam Chang Kyun memicing. Si Gumiho lantas memandang sang Roh Gunung yang tetap bersikap santai meski mendengar perdebatan keduanya.
Merasa bahwa tatapan Chang Kyun ditujukan untuk meminta bantuan, Young Jae lantas menengahi.
"Baiklah ... biarkan aku yang meluruskan semuanya. Pangeran Yi Tan mengatakan bahwa si Gumiho telah membunuh Nona Kim Si Hyeon, tapi si Gumiho menyangkal tuduhan itu ... bagaimana baiknya sekarang?"
Eun Kwang menyahut, "seluruh orang di Joseon tidak bisa digunakan sebagai bukti. Yang mereka dengarkan hanyalah rumor tak berdasar yang terus diperburuk setiap sampai ke orang yang berbeda. Pangeran tidak seharusnya mempercayai rumor semacam itu. Aku yang menemukan jasad bangsawan itu, dan aku tidak menemukan jejak siluman rubah di sana."
"Kau juga siluman rubah, bagaimana aku bisa mempercayaimu?" sanggah Yi Tan.
Eun Kwang menatap sinis dan mencibir, "dasar manusia."
Young Jae kembali menengahi namun dengan nada bicara yang lebih serius. "Itu benar. Mempelai wanita Pangeran tidak tewas di sini."
Yi Tan memandang si Roh Gunung dengan tatapan bertanya. "Apa maksud Roh Gunung?"
"Dia sampai di tempat ini dalam keadaan tidak bernyawa. Dan benar jika bukan Gumiho yang melakukannya."
"Bagaimana aku bisa mempercayainya?"
"Jeoseung Saja."
Dahi Yi Tan mengernyit. "Jeoseung Saja?"
Young Jae mengangguk. "Jika nona bangsawan itu mati di sini, maka Jeoseung Saja akan berada di sini saat itu. Tapi saat itu Jeoseung Saja tidak berada di sini."
"Bagaimana Roh Gunung tahu jika Jeoseung Saja tidak berada di sini saat itu?"
Young Jae tersenyum tak percaya. "Dia tidak akan pergi tanpa memberi salam padaku jika singgah di tempat ini."
Yi Tan terlihat tak mengerti. Namun tanpa ia sadari, si Gumiho selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dan bahkan pergantian garis wajahnya tak luput dari perhatian si Gumiho.
Young Jae kembali berbicara. "Sepertinya masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Haruskah aku memanggilnya?"
"Benar, Tuan." Eun Kwang tiba-tiba menyahut. "Tuan harus memanggil Tuan Jeoseung Saja untuk membuktikan bahwa Tuan Muda tidak bersalah."
Young Jae memandang Yi Tan dan bertanya, "jika Jeoseung Saja sendirilah yang membuat kesaksian bahwa rubahku tidak bersalah, akankah Pangeran Yi Tan mempercayainya?"
Yi Tan tak menjawab. Bukan karena dia tidak ingin percaya, namun keraguan dalam hatinya terlalu besar. Dan karena hal itu Roh Gunung kembali menunjukkan kekuasaannya sebagai si pemilik gunung.
"Aku akan menganggap itu sebagai sebuah persetujuan."
Young Jae mengangkat serulingnya di depan tubuh, setinggi pinggang. Roh Gunung kemudian berkata, "bawalah Jeoseung Saja ke Baekdusan."
Saat itu seruling di tangan Young Jae melebur, berubah menjadi ribuan kelopak bunga berukuran kecil yang kemudian menyebar ke segala penjuru. Dan untuk sesaat Yi Tan terperangah untuk ke sekian kalinya.
Young Jae kemudian mempertemukan pandangannya dengan Chang Kyun dan kemudian tersenyum tipis. Namun tampak kekhawatiran dalam sorot mata si Roh Gunung malam itu.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//