Chapter 22

2148 Words
Malam yang panjang tak kunjung menemui fajar. Chang Kyun telah berpindah duduk di sudut gazebo, Young Jae di dekat tangga, Eun Kwang di anak tangga. Sementara Yi Tan duduk bersandar pada sebuah pohon yang tidak jauh dari ketiga makhluk beda alam tersebut. Tak ada yang berbicara dan hal itu berlangsung cukup lama. Namun Young Jae sesekali memperhatikan Chang Kyun di saat si Gumiho sendiri tengah memperhatikan sang Pangeran. Eun Kwang tiba-tiba berbicara dan menarik perhatian Young Jae. "Apakah Tuan Jeoseung Saja akan datang?" "Dia akan datang jika tidak sedang sibuk." Eun Kwang memandang Young Jae. "Kenapa Tuan begitu yakin?" "Dia berhutang padaku." Eun Kwang menggaruk wajahnya dan kembali berpaling. Pandangan si rubah tua kemudian menemukan si Pangeran. Eun Kwang berkata, "aku belum melihatnya makan sejak datang ke Baekdusan." Young Jae turut memandang Yi Tan. "Maksudmu Pangeran itu?" Eun Kwang mengangguk. "Apakah dia tidak lapar? Sudah tiga malam dan dia tidak makan apapun." "Kalau begitu pergilah." "Eh?" Eun Kwang langsung memandang Young Jae. "Ke mana lagi sekarang?" "Aku melihat pohon di dekat air terjun sudah berbuah, ambilah beberapa dan berikan pada Pangeran itu." Mendengar perkataan Young Jae, Chang Kyun segera memandang si Roh Gunung. Dan seakan sudah memperhitungkan reaksi yang diberikan oleh Chang Kyun, Young Jae kemudian balik memandang si Gumiho. Young Jae kemudian berkata, "bisakah kita memetik satu atau dua saja?" Chang Kyun berpaling. Bukan hanya wajahnya, namun si Gumiho memunggungi si Roh Gunung. Dan Young Jae kembali memandang Eun Kwang. "Petiklah empat buah." "Bukankah tadi Tuan mengatakan satu atau dua?" "Aku berubah pikiran." Eun Kwang sekilas menatap punggung Chang Kyun dan berucap dengan ragu. "Tapi bagaimana dengan Tuan Muda? Dia tidak pernah membiarkan manusia memetik buah di sana." "Apakah kau manusia?" "Eh?" Young Jae menatap sinis. "Aigoo ... kau benar-benar mejadi rubah tua sekarang. Dia tidak membiarkan manusia memetiknya, tapi bukan berarti dia melarang manusia untuk memakan buah itu. Kau benar-benar tidak bisa mencari celah?" Eun Kwang menggaruk tengkuknya. "Pangeran itu datang kemari untuk mencelakai Tuan Muda, kenapa Roh Gunung justru memberikan buah itu kepadanya?" Young Jae tiba-tiba terlihat kesal. "Kau ingin aku yang mengambil buah itu?" Chang Kyun menoleh dan berucap dengan dingin. "Jangan pernah menyentuhnya." Perkataan itu ditujukan sebagai peringatan untuk si Roh Gunung. Pasalnya jika Young Jae yang memetik buahnya, si Roh Gunung pasti akan mencabut sampai akarnya dan memindahkan pohonnya kemari. Chang Kyun tidak menyukai hal itu. Pohon yang sudah ia jaga selama ratusan tahun itu, si Gumiho ingin agar pohon itu tetap berada di dekat air terjun. Young Jae kembali bertemu pandang dengan Eun Kwang. "Kau sudah dengar? Tunggu apa lagi? Cepat pergi." Eun Kwang menatap sinis dan beranjak berdiri. Namun detik itu juga sosoknya langsung menghilang dalam satu kedipan mata, meninggalkan angin yang sempat berhembus dengan kasar dan menarik perhatian Yi Tan. Yi Tan yang tak mengetahui apa yang terjadi kemudian memandang ke arah gazebo, menemukan si Roh Gunung dan si Gumiho yang masih berada di sana. Dan setelah kepergian Eun Kwang, ribuan kelopak bunga yang sempat meninggalkan Baekdusan kembali pada sang pemilik gunung. Young Jae mengangkat telapak tangan kanannya dan kelopak bunga itu berkumpul di atas telapak tangan Young Jae. Sekilas memancarkan sinar putih sebelum ribuan kelopak bunga itu kembali menjadi sebuah seruling. Young Jae kemudian berdiri seakan ingin menyambut kedatangan seseorang. Dan saat itu dari dalam kegelapan seseorang datang mendekat. Yi Tan juga menyadari hal itu namun tak beranjak sedikitpun. Si Jeoseung Saja menampakkan diri. Namun langkahnya terhenti di dekat tempat Yi Tan duduk. Si Jeoseung Saja merasa bingung dan tampak bertanya-tanya. Kenapa ada manusia di tempat itu sementara ia juga melihat si Roh Gunung beserta si Gumiho. "Kau tidak ingin memberi salam padaku, Jung Dae Hyeon?" Teguran bernada sinis itu datang dari Young Jae. Si Jeoseung Saja mengabaikan si Pangeran dan mendekati si Roh Gunung setelah namanya disebut. Ya, Jung Dae Hyeon adalah nama dari si Jeoseung Saja. Sebenarnya si Jeoseung Saja tidak memiliki nama. Namun Jeoseung Saja yang satu ini memiliki sebuah nama yang dihadiahi oleh si Roh Gunung. Dan karena si Jeoseung Saja tak bisa menolak hadiah itu, si Jeoseung Saja harus terikat dengan si Roh Gunung dan datang kapan saja saat Roh Gunung memanggilnya. Si Jeoseung Saja yang mulai sekarang akan kita panggil sebagai Jung Dae Hyeon, berdiri di hadapan Young Jae. "Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Dae Hyeon tanpa basa-basi. Bukannya menjawab, Young Jae justru menatap sinis. Seakan-akan Dae Hyeon telah berbuat kesalahan. Dan menyadari tatapan si Roh Gunung, Dae Hyeon sedikit gugup. "K-kenapa melihatku seperti itu? Aku tidak melakukan apapun." Young Jae menyunggingkan senyumnya. "Memangnya kau tahu apa yang aku pikirkan saat ini?" "Sudah aku katakan bahwa aku tidak ikut campur terhadap kelahiran, aku—" "Tutup mulutmu dan jangan bicara jika aku tidak meminta." Young Jae menyela dengan nada bicara yang malas. Dae Hyeon menghela napas dan memandang Chang Kyun yang belum beranjak dari tempat sebelumnya. Dae Hyeon kembali memandang Young Jae. "Ada apa dengannya?" "Seorang manusia datang dan menuduhnya telah membunuh seseorang." Young Jae menjatuhkan pandangannya pada Yi Tan. Dae Hyeon turut memandang Yi Tan dan sebelah alisnya terangkat. "Maksudmu ..." "Kau harus bersaksi." Dae Hyeon kembali memandang Young Jae dengan tatapan bertanya. "Tentang apa?" "Duduklah." Young Jae meninggalkan Dae Hyeon dan menghampiri Yi Tan. Di saat si Roh Gunung berbicara dengan sang Pangeran, si Jeoseung Saja menaiki gazebo dan duduk di dekat Chang Kyun. Dae Hyeon kemudian menegur. "Apakah terjadi sesuatu, Tuan Muda?" Chang Kyun tak menjawab. Namun tak ada lagi perasaan kesal ataupun marah yang terlihat di garis wajahnya. Tatapan dingin itu juga kembali teduh. Perhatian Dae Hyeon teralihkan oleh kedatangan Young Jae serta Yi Tan. Dan keempat laki-laki dari dunia berbeda itu duduk berhadapan, kecuali Chang Kyun yang tak mau berbalik. Dan di sisi lain, saat itu Eun Kwang tengah bersusah payah untuk memetik buah. Bahkan hingga detik ini Eun Kwang tak bisa mendapatkan satupun buah. Entah perbuatan si Gumiho atau si Roh Gunung, yang jelas sepertinya salah satu dari mereka ingin agar Eun Kwang tetap berada di tempat itu untuk waktu yang telah ditentukan. Kembali ke Bukit Rubah. Young Jae menegur Chang Kyun. "Tuan Gumiho, masalah ini tidak akan selesai jika kami harus berbicara dengan punggungmu." Dae Hyeon memandang Young Jae, hingga detik ini dia tidak tahu apa yang tengah terjadi di sana. Bagaimana si Pangeran bisa sampai di tempat itu dan harus melihat sosoknya seperti ini. Chang Kyun pada akhirnya mendengarkan ucapan Roh Gunung dan berbalik. Namun sorot matanya kembali terlihat kesal ketika bertemu pandang dengan Yi Tan yang duduk tepat di hadapannya dalam jarak kurang dari dua meter. Young Jae kemudian memulai pembicaraan. Namun alih-alih melibatkan si Gumiho dan si Pangeran, Young Jae justru melakukan pembicaraan hanya berdua dengan Dae Hyeon. "Jung Dae Hyeon," teguran pertama yang manarik perhatian si Jeoseung Saja. Young Jae kemudian bertanya, "kenapa kau tidak menemuiku sebelum pergi?" Dahi Dae Hyeon mengernyit. "Apa yang sedang kau bicarakan?" "Sekitar satu minggu yang lalu kau datang ke Baekdusan dan pergi begitu saja." Dae Hyeon terlihat bingung. Inilah taktik si Roh Gunung yang sebenarnya. Young Jae tahu bahwa Dae Hyeon tidak akan menjawab dengan benar jika dia bertanya langsung tentang kematian Kim Si Hyeon, dan untuk itu si Roh Gunung harus memainkan beberapa trik agar dia mendapatkan jawaban yang dinginkan. "Aku tidak pernah datang ke Baekdusan sejak pertemuan terakhir kita tiga bulan yang lalu. Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Roh Gunung?" Young Jae pura-pura bingung. "Benarkah? Tapi sekitar satu minggu yang lalu aku menemukan jasad seorang wanita muda di dekat sini. Bukankah seharusnya kau juga berada di sini saat itu?" "Tidak. Wanita muda itu tidak mati di sini, untuk apa aku datang kemari?" Dengan begitu mudahnya Dae Hyeon memberikan jawaban yang diinginkan oleh Young Jae. Si Roh Gunung tersenyum simpul dan sekilas bertemu pandang dengan Yi Tan yang tampak terkejut dengan ucapan Dae Hyeon. Tapi sebenarnya Yi Tan tidak tahu jika yang berada di hadapannya saat ini adalah Jeoseung Saja. Young Jae kembali berbicara. "Ah ... jadi Nona Kim Si Hyeon tidak mati di sini? Kalau begitu di mana kau menjemput jiwa Nona Kim Si Hyeon waktu itu?" "Tunggu sebentar." Dae Hyeon mulai merasa ada hal yang janggal di sana. Memandang Yi Tan, Dae Hyeon mengingat perkataan Young Jae sebelumnya tentang manusia yang menuduh Chang Kyun sebagai pembunuh. Dae Hyeon kembali memandang Young Jae. "Apa maksudnya ini, Roh Gunung?" Young Jae tiba-tiba tersenyum lebar. "Aku datang untuk menanyakan beberapa hal padamu, tapi kau baru menjawab satu." Dae Hyeon terkejut dan tampak gugup ketika berucap. "Ya! K-kau ... apa yang baru saja kau lakukan, Roh Gunung?" Dae Hyeon menyadari bahwa dia baru saja membocorkan rahasia langit kepada manusia, dan itu disebabkan oleh Roh Gunung Baekdusan. Dae Hyeon berucap tak terima. "Bagaimana kau bisa melakukan hal ini padaku? Kau ingin aku mendapatkan sanksi? Bisa-bisanya kau membuat aku mengatakan hal itu di hadapan manusia!" Young Jae menyahut dengan santai. "Kau lah yang sudah membocorkan rahasia langit, aku hanya bertanya." "Aku tidak akan mengatakannya jika kau tidak bertanya!" ucap Dae Hyeon setengah berteriak. Young Jae tetap acuh. "Mau bagaimana lagi? Roh Gunung, Gumiho dan manusia. Kami semua sudah mendengar bahwa Nona Kim Si Hyeon tidak mati di sini." "Ya! Kenapa kau melakukan hal ini padaku, Roh Gunung? Kau benar-benar sudah berlebihan." Young Jae tak peduli dan menjatuhkan pandangannya pada Yi Tan. "Bagaimana, Pangeran Yi Tan? Apakah kau bisa percaya sekarang setelah mendengarnya langsung dari Jeoseung Saja?" "Jeoseung Saja?" gumam Yi Tan yang kemudian bertemu pandang dengan Dae Hyeon. Terlihat tak percaya jika yang berada di hadapannya saat ini adalah si Dewa Kematian. Young Jae menyahut. "Benar. Dia adalah Jeoseung Saja, orang yang sudah membawa jiwa Nona Kim Si Hyeon meninggalkan dunia ini." Yi Tan terlihat ragu. Namun ia tidak bisa mengabaikan ucapan Young Jae begitu saja. Menjadi sedikit serakah, Yi Tan ingin mengetahui rahasia langit langsung dari si Jeoseung Saja. "Tuan Jeoseung Saja. Ada hal yang ingin aku tanyakan." Dae Hyeon menyahut tanpa berpikir. "Aku belum diberikan tugas untuk menjawab pertanyaan Pangeran. Simpanlah pertanyaan itu sampai—" Dae Hyeon menghentikan ucapannya dan perlahan memandang Chang Kyun yang juga tengah memandangnya seperti dugaannya. Dae Hyeon menjadi sedikit gugup dan kembali memandang Yi Tan. "Seperti yang Pangeran ketahui, aku adalah Jeoseung Saja. Aku tidak memiliki wewenang untuk ikut campur dalam kehidupan manusia." "Hanya satu pertanyaan." Yi Tan terkesan memaksa. "Apa yang terjadi pada Nona Kim Si Hyeon? Aku tidak akan bertanya siapa yang membunuhnya, tapi tolong katakan padaku apa yang terjadi padanya di hari itu." Dae Hyeon terlihat serba salah. Biasanya dia tidak seperti ini. Dia seharusnya bersikap kejam di hadapan manusia, namun dia tidak bisa melakukannya di hadapan sang Pangeran karena suatu alasan. Young Jae kemudian menengahi. "Kau akan membuat Jeoseung Saja berada dalam kesulitan jika dia menjawab pertanyaan yang kau ajukan, Pangeran." "Lembah Hwangcheon," celetuk Chang Kyun dengan cara yang dingin dan menarik perhatian semua orang. Dae Hyeon menyahut, "apa yang baru saja kau katakan?" "Dihitung dari tanggal kematiannya, jiwa wanita itu pasti masih berada di Lembah Hwangcheon. Jeoseung Saja Hyeongnim bisa membuka gerbang menuju Lembah Hwangcheon dan manusia itu bisa menemukan jawabannya sendiri." Sebuah ide yang luar biasa tercetus oleh si Gumiho, membuat si Jeoseung Saja menatap tak percaya namun memberikan harapan yang besar bagi si Pangeran. Young Jae tiba-tiba berkata, "itu terdengar tidak buruk. Kalau begitu mari kita pergi ke Lembah Hwangcheon." "Ya!!!" Dae Hyeon tiba-tiba membentak si Roh Gunung. "Kau kira kita akan pergi piknik? Kalian tidak tahu seperti apa Lembah Hwangcheon itu, bagaimana mungkin aku membiarkan Roh Gunung, Gumiho dan juga manusia memasuki tempat itu? Hentikan pemikiran gila kalian." Young Jae menyahut dengan santai. "Aku sudah mati ratusan tahun yang lalu. Jika langit tidak mengangkatku, aku sudah pasti bisa melihat Lembah Hwangcheon." "Kau sudah menjadi Roh Gunung yang agung. Kau pikir masuk akal jika kau pergi ke Lembah Hwangcheon?" "Kau sering melanggar peraturan, kenapa sekarang kau menjadi taat sekali?" "Jangan berbicara denganku dan jangan meminta apapun dariku." "Bisakah kita pergi?" celetuk Yi Tan, menarik perhatian Dae Hyeon Dae Hyeon menentang dengan tegas. "Tidak akan pernah. Kecuali Gumiho menerkam Pangeran dan Pangeran mati malam ini, baru aku bisa membuka gerbang menuju Lembah Hwangcheon." Saat itu netra Young Jae melebar ketika ia melihat ekor si Gumiho yang tiba-tiba muncul. Young Jae ingin mencegah sesuatu yang buruk terjadi malam itu. "Ya! Ya! Jangan lakukan itu." Dae Hyeon memandang si Roh Gunung. Namun semua terlambat. Ekor mata Dae Hyeon menangkap sesuatu berada di sampingnya, dan ketika ia menoleh, saat itu ekor si Gumiho langsung menghantam wajahnya dan membuat wajahnya langsung bertemu dengan lantai gazebo. Young Jae menatap prihatin dan bergumam, "eih ... aku sudah melakukan yang terbaik untuk menahannya." Dae Hyeon tampak kesakitan. Jika manusia yang melakukannya tidak akan masalah, namun hasilnya akan berbeda jika makhluk jadi-jadian itu yang melakukannya. "Buka gerbangnya sekarang ... " Pandangan si Gumiho kembali bertemu dengan si Pangeran. Namun tak ada lagi kekesalan yang terlihat dalam tatapan dinginnya. Hanya ada sebuah kesedihan yang tak mampu dimengerti oleh si Pangeran untuk saat ini. THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD