Keadaan di Bukit Rubah sedikit kacau setelah si Gumiho melakukan kekerasan fisik terhadap si Jeoseung Saja. Tak lagi duduk berhadapan, semua orang kini berdiri masih di tempat yang sama.
Dae Hyeon sejenak mengusap wajahnya yang baru saja menghantam lantai sembari memandang si Gumiho yang sama sekali tak menunjukkan penyesalan.
"Harus bagaimana sekarang?" Young Jae bersuara.
Dae Hyeon menjawab dengan kesal. "Aku sangat sibuk, aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main dengan kalian."
"Tidak akan ada yang mati malam ini," celetuk Chang Kyun.
Dae Hyeon langsung menyahut, "aku lah Jeoseung Saja di sini. Bisa-bisanya kalian mempermainkan Jeoseung Saja."
"Kau mau bagaimana sekarang?" Young Jae menengahi.
"Buka gerbangnya." Chang Kyun memberikan jawaban ketika pertanyaan itu ditujukan untuk Dae Hyeon.
Dae Hyeon hampir putus asa. "Jangan bercanda. Manusia tidak bisa memasuki Lembah Hwangcheon."
"Kalau begitu kau hanya perlu mengatakan apa yang terjadi di hari kematian Nona Kim Si Hyeon." Young Jae memberikan solusi yang sama sekali tak berguna bagi Jeoseung Saja.
Dae Hyeon kemudian berkata, "entah membuka gerbang Lembah Hwangcheon ataupun memberitahukan rahasia langit, keduanya sama-sama melanggar peraturan. Kenapa kalian begitu keras kepala?"
Young Jae menyahut, "Pangeran Yi Tan memerlukan bukti yang jelas. Dia tahu bahwa kau berada di pihak kami, kau bisa saja menipu tanpa ada bukti yang nyata."
"Aku Jeoseung Saja, Jeoseung Saja!" Suara Dae Hyeon tiba-tiba meninggi. "Aku tidak bersekutu dengan siapapun di dunia ini."
"Hyeongnim."
"Ada apa?" Dae Hyeon langsung memandang Chang Kyun dan tiba-tiba bersikap canggung setelah menyadari raut wajah Chang Kyun saat ini.
"Bukalah gerbangnya ... aku meminta bantuan," ucap Chang Kyun yang kemudian melompat dari gazebo dan masuk ke dalam kegelapan.
Ketiga orang yang tersisa memandang kepergian si Gumiho. Young Jae kemudian berkata, "suasana hatinya pasti sedang buruk hari ini."
Dae Hyeon menghela napas panjang sebelum memandang si Roh Gunung. "Aku tidak bertanggungjawab atas apa yang akan terjadi nantinya."
"Jangan katakan itu padaku, katakan langsung pada Pangeran Yi Tan."
Dae Hyeon mempertemukan pandangannya dengan Yi Tan dan berbicara pada sang Pangeran. "Lembah Hwangcheon bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh manusia. Aku tidak akan menjamin keselamatan Pangeran di sana, begitu pula aku tidak bisa menjamin bahwa Pangeran bisa bertemu dengan jiwa bangsawan itu ... masihkah Pangeran ingin pergi?"
Dengan pertimbangan singkatnya Yi Tan menjawab, "tolong tunjukkan jalannya padaku. Aku akan meninggalkan Baekdusan tanpa tuntutan apapun setelah ini."
Dae Hyeon bertukar pandang dengan Young Jae dan saat itu sebuah anggukan ringan Dae Hyeon berikan. Tiba-tiba saja Young Jae memukul tengkuk Yi Tan dan membuat tubuh Yi Tan tersentak ke depan.
"Jangan melihat ke bawah," Young Jae memperingatkan.
Bukannya ingin memberontak, namun Yi Tan refleks mengarahkan pandangannya ke bawah. Tapi saat itu si Roh Gunung segera mengangkat serulingnya dan menggunakan ujung serulingnya untuk menahan dagu si Pangeran.
"Pangeran tidak akan bisa menghindari nasib buruk jika menentang ucapan Roh Gunung."
Young Jae menarik kembali serulingnya dan memandang Dae Hyeon dengan lebih serius. Sebuah anggukan lantas diberikan oleh si Roh Gunung.
Dae Hyeon kemudian menarik pedangnya dan menacapkan pedang itu pada lantai gazebo. Tak berselang lama muncullah sebuah gerbang misterius yang kemudian terbuka secara perlahan. Menunjukkan kegelapan yang lebih gelap dibandingkan dengan langit malam Joseon.
"Jika Pangeran ragu, lebih baik mundur sejak awal." Dae Hyeon kemudian melangkahkan kakinya melewati gerbang Hwangcheon.
Yi Tan sempat ragu, namun pada akhirnya ia mengikuti si Jeoseung Saja. Sementara Young Jae menjatuhkan pandangannya ke lantai gazebo, di mana raga si Pangeran tengah berbaring.
Benar, yang masuk ke Lembah Hwangcheon sebelumnya hanyalah jiwa dari si Pangeran. Dan pukulan yang diberikan oleh Roh Gunung sebelumnya adalah upaya untuk memisahkan jiwa si Pangeran dengan raganya.
Young Jae kemudian mengarahkan pandangannya ke dalam kegelapan. Dia berkata, "jika kau tidak sibuk, pastikan bahwa gerbangnya tidak tertutup."
Young Jae kemudian menyusul kedua orang yang telah pergi. Berjalan melewati gerbang menuju Lembah Hwangcheon. Sementara itu di dalam kegelapan itu sendiri, Chang Kyun masih berdiri di sana. Memperhatikan raga si Pangeran dari tempatnya berdiri saat ini.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Chang Kyun meninggalkan Bukit Rubah setelah menggunakan sihirnya untuk melindungi tempat itu, dan karena sihir si Gumiho, manusia tidak akan bisa melihat Bukit Rubah untuk sementara waktu.
"Aigoo! Kenapa pohonnya semakin tinggi saja?" protes Eun Kwang yang masih bersusahpayah di atas pohon.
Chang Kyun datang dan berhenti di bawah pohon, mendongak dan menemukan si rubah tua berada di atas pohon.
"Paman Seo," tegur Chang Kyun.
"Oh!" Eun Kwang langsung memandang ke bawah. "Tuan Muda? Kenapa Tuan Muda datang kemari?"
"Turunlah sekarang."
Eun Kwang kemudian melompat dan mendarat tepat di hadapan Chang Kyun. Si rubah tua segera berdiri.
"Kenapa Tuan Muda ada di sini? Aku mencoba memetik buahnya, tapi aku rasa pohonnya semakin tinggi."
Eun Kwang kembali memandang pohon yang baru saja ia panjat, dan saat itu si rubah tua terkejut ketika pohon yang semula tinggi kini terlihat lebih pendek.
"Eh? Apa yang terjadi?" Eun Kwang kemudian memandang Chang Kyun. Dia curiga jika Chang Kyun sudah mempermainkannya.
"Tuan Muda—"
"Pergilah ke Hanyang." Chang Kyun langsung menyela sebelum Eun Kwang mengutarakan maksudnya.
"Hanyang? Ada apa?"
"Pergilah sebagai utusan dan sampaikan pada Sungkyunkwan bahwa aku tidak bisa mengikuti pembelajaran."
Dahi Eun Kwang mengernyit. "Tuan Muda akan menetap di Baekdusan?"
"Roh Gunung melarangku pergi. Pergilah sekarang."
"Tapi bagaimana dengan buahnya?"
"Tinggalkan saja."
Meski memiliki kecurigaan dan merasa berat untuk pergi, pada akhirnya Eun Kwang menuruti perkataan Chang Kyun. Tengah malam itu juga si rubah tua menempuh perjalanan menuju Hanyang. Sementara Chang Kyun kembali ke Bukit Rubah.
Menjaga jarak dari gazebo, Chang Kyun duduk bersandar pada Pohon Penyangga Surga. Sejenak menggantikan sang pemilik gunung untuk menjaga tempat itu. Sementara itu gerbang menuju Lembah Hwangcheon masih terbuka, begitupun dengan raga sang Pangeran yang tergeletak di lantai gazebo.
Seekor kunang-kunang menghampiri Chang Kyun, hinggap pada salah satu jemari si Gumiho. Pandangan Chang Kyun lantas menemukan hewan yang membawa cahaya tersebut.
Chang Kyun kemudian berkata seperti tengah berbicara pada kunang-kunang itu. "Berapa lama lagi?"
Kunang-kunang itu kembali terbang di sekitar Chang Kyun sebelum terbang mengarah ke gazebo. Pandangan Chang Kyun mengikuti pergerakan kunang-kunang itu dan si Gumiho juga melihat ketika kunang-kunang itu memasuki gerbang Lembah Hwangcheon.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//
Suara kicauan burung saling bersahutan menyambut pagi yang cerah di Baekdusan. Yi Tan terbangun dari mimpi panjangnya dengan tubuh yang terasa berat. Dengan wajah yang mengernyit, sang Pangeran bangkit dan mengarahkan pandangannya ke sekitar.
Perlahan ingatannya menemukan bayangan yang terjadi padanya semalam. Namun semua terasa seperti mimpi ketika ia tak mendapati siapapun begitu ia membuka mata.
Yi Tan duduk dengan punggung yang sedikit membungkuk. Wajahnya kini terlihat pucat setelah menerobos Lembah Hwangcheon. Namun meski terasa seperti mimpi, Yi Tan mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Dia menyusuri Lembah Hwangcheon bersama si Jeoseung Saja dan juga Roh Gunung. Namun pada akhirnya ia justru tersesat dan tak berhasil menemukan jiwa Kim Si Hyeon.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan di sini?" gumam Yi Tan.
"Manusia membutuhkan makan dan minum untuk bertahan hidup," suara itu datang dari arah tebing.
Yi Tan langsung mengarahkan pandangannya ke arah tebing dan menemukan Young Jae yang sudah berdiri di sana.
Young Jae kembali berbicara. "Apa yang Pangeran cari tidak ada di sini, sudah waktunya bagi Pangeran untuk pergi ... seperti yang Pangeran katakan sebelumnya."
Yi Tan kemudian beranjak dan turun dari gazebo untuk memghampiri si Roh Gunung. Keduanya kemudian kembali berdiri berhadapan dan saat itulah Young Jae menyadari bahwa tubuh Yi Tan benar-benar lemah saat ini. Namun Young Jae masih melihat harapan dalam sorot mata Yi Tan yang tidak bisa ia abaikan.
Young Jae kembali berbicara. "Aku akan memberikan Pangeran satu kesempatan lagi, ini adalah yang terakhir ... satu hal yang ingin Pangeran ketahui sebelum meninggalkan Baekdusan. Pikirkanlah baik-baik."
Tak menunggu waktu lama, Yi Tan segera menyahut. "Ada satu hal yang ingin aku tanyakan."
"Kalau begitu Pangeran bisa mengatakannya sekarang."
"Para prajurit yang dikirim oleh Baginda Raja tidak menemukan jasad Nona Kim Si Hyeon di Baekdusan. Siapakah orang yang membawa jasadnya?"
"Pangeran mengambil kesempatan terakhir yang aku berikan untuk jawaban atas pertanyaan itu?"
Yi Tan mengangguk tanpa keraguan. Dia tak bisa lagi menuduh Gumiho milik Roh Gunung ketika bahkan Jeoseung Saja sendiri telah bersaksi.
Young Jae menjatuhkan pandangannya pada pemukiman di bawah sana dan berucap, "dia adalah salah satu orang yang tinggal di bawah sana."
Yi Tan turut memandang pemukiman. "Siapakah dia?"
Keduanya kembali bertemu pandang. Young Jae menarik satu tangannya yang terkepal dari balik punggung dan menyodorkannya ke arah Yi Tan, berniat memberikan sang Pangeran sesuatu.
Dengan ragu Yi Tan mengulurkan telapak tangannya di bawah tangan Young Jae yang terkepal. Dan ketika genggaman tangan Roh Gunung terbuka, tiga kelopak bunga berukuran kecil jatuh ke telapak tangan sang Pangeran.
Young Jae kembali menarik tangannya dan pandangannya kembali bertemu dengan tatapan bertanya sang Pangeran.
"Apa ini, Roh Gunung?"
"Pangeran hanya perlu turun ke pemukiman. Kelopak bunga itu yang akan membimbing Pangeran menemukan orang yang aku maksud."
Yi Tan memandang kelopak bunga di tangannya. Terdapat rasa tak percaya hingga ia pertemukan kembali pandangannya dengan si Roh Gunung.
Young Jae kemudian berkata, "ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan di dunia ini. Hari ini Pangeran bertemu dengan Roh Gunung, Gumiho dan bahkan Jeoseung Saja. Kiranya apa yang akan Pangeran temui besok? Tapi tentu saja jika Pangeran mengatakan pertemuan ini kepada manusia lain, Pangeran akan dianggap berbeda."
"Aku mengerti maksudmu, Roh Gunung."
Young Jae tersenyum hangat sebagai sebuah salam perpisahan dari sang pemilik gunung untuk tamu yang hendak pergi.
"Kalau begitu, kembalilah pada kehidupan Pangeran sebelum datang kemari. Kembalilah menjadi seseorang seperti saat Pangeran belum datang kemari. Aku tidak akan memberikan sambutan meski Pangeran kembali singgah di tempat ini."
"Terima kasih, dan juga ... sampaikan permintaan maafku pada Tuan Shin Chang Kyun."
Sebelah alis Young Jae terangkat. Itu adalah kali pertama ia mendengar Yi Tan menyebutkan nama Chang Kyun. Dan setelahnya si Pangeran meninggalkan Bukit Rubah dengan membawa hadiah dari si pemilik gunung.
Memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh si Pangeran, Young Jae berucap, "kau mendengarnya, Shin Chang Kyun?"
Young Jae menjatuhkan pandangannya pada Pohon Penyangga Surga, di mana Shin Chang Kyun bersembunyi di balik pohon sakral itu sejak sebelum sang Pangeran terbangun dari mimpi panjangnya.
Chang Kyun tak merespon. Tatapan teduhnya mengarah ke atas, menemukan seekor burung hitam yang terbang di atas Baekdusan.
Chang Kyun kemudian bertanya, "apakah mereka bertemu?"
"Tidak, jiwa Nona Kim Si Hyeon tidak pernah datang ke Lembah Hwangcheon."
Pandangan Chang Kyun terjatuh ke samping. "Kenapa?"
"Menurut Jeoseung Saja, kemungkinan besar ada seseorang yang tengah menahan jiwanya di dunia ini."
"Bukankah Dae Hyeon Hyeongnim sendiri yang menjemput jiwa bangsawan itu. Itu berarti dia sendiri yang membuka gerbang untuk bangsawan itu."
Young Jae tersenyum tipis. "Dia hanya bersedia berbagi setengah dari rahasia langit. Siapa yang tahu di mana jiwa bangsawan itu sekarang."
"Apakah ..." Chang Kyun memberikan jeda ketika ia merasa ragu akan pertanyaan yang ingin ia ucapkan. "Apakah Pangeran itu juga mengetahui hal ini?"
Young Jae kemudian menghadap Pohon Penyangga Surga. "Kau pikir Jeoseung Saja akan membiarkan manusia mengetahui rahasia langit? Bagi Pangeran itu ... jiwa wanita yang dia cintai telah sampai ke dunia bawah dan menerima pengadilan di sana. Itulah yang seharusnya menjadi kepercayaan manusia."
Chang Kyun menjatuhkan pandangannya, tak lagi merespon ucapan Young Jae. Dan wajah sedih itu kembali terlihat. Perasaan terluka dan kesepian, sesuatu yang muncul ketika tak ada orang yang berdiri di hadapan si Gumiho.
THE PRECIOUS KING AND THE NINE TAILED//