Papa

1358 Words
Keadaan dalam mobil ford ecosport hitam itu tegang dengan mata Jeno yang tak henti-hentinya melirik ke spion depan untuk melihat si pengendara motor yang masih setia mengikuti mereka. Siapa? Theo, kah? Jeno rasa manusia yang punya terlalu banyak waktu untuk mengikuti ia dan saudarinya ini hanya Theo. Keadaan jalan masih ramai dan otak Jeno harus bekerja lebih keras karena gadis di sebelahnya sudah menangis dengan isakan tertahan. Ketakutan yang melanda Yeji membuat gadis itu bahkan takut untuk bernafas. Mencengkram erat kaos bagian dadanya, Yeji beberapakali memukul dadanya sendiri untuk meredakan sesak yang menyiksa. Jeno yang tidak sanggup lagi menahan sesak yang ikut melanda saat Yeji menangis tertahan, bersuara. "You will be fine, Yeji. Sekarang ambil tas aku di kursi belakang." "Gak m-mau. Takut." "Dia gak akan bisa masuk kesini." Yeji menggelengkan kepalanya mencengkram sabuk pengaman erat namun kali ini dengan tangis yang tak bisa ia tahan lagi. "He'll hurt me." Jeno yang melihat ada celah diantara dua mobil di lajur kiri segera mengambil tempat itu dan akibatnya diberi klakson keras dan juga umpatan dari mobil yang hampir saja menabrak mobil Jeno yang tiba-tiba berpindah lajur secara serampangan. Tapi Jeno tak peduli dan itu rencananya. Mobil pick up putih itu menutup akses mobil Jeno dengan sepeda motor si penguntit. Merasa sedikit berjarak dari motor itu, Jeno melepas pegangannya pada persneling mobil lalu meraih tangan Yeji. "I will never let him hurt you. So, ambil tas aku. Biar kita bisa cepet lepas dari dia." Ujar Jeno meyakinkan dengan mata masih fokus ke jalanan. Yeji menatap mata Jeno dengan wajah basahnya masih ragu. "Harus sekarang karena dia lagi gak di belakang kita." Jeno melirik sebentar pada gadia di sebelahnya lalu mengusap rambut berwarna hazel senada dengan manik mata Yeji berusaha menyalurkan keberanian dan ketenangan. "Close your eyes kalau masih ragu. Raba aja." Perintahnya lagi namun kali ini sambil mengangkat dagu Yeji yang menunduk. Yeji mengambil nafas beberapa kali lalu dengan keberanian yang tersisa, Yeji menutup matanya erat dan meraba kursi belakang. Saat merasa menemukan tas itu, Yeji segera membawanya ke depan. "Buka, ambil kotak hitam di bagian paling depan." Jalanan mulai lengang sehingga si pengendara motor itu semakin mendekat jadi Jeno membawa mobilnya ke daerah sepi karena tidak mungkin membiarkan pria itu ikut ke Markas. "Ini." Suara parau Yeji membuat Jeno menoleh lalu tersenyum dan berucap. "Pegang dulu." Belok ke arah daerah lahan kosong di tengah kota Seoul, Jeno meminta kotak itu pada Yeji. Ketika dibuka Yeji melihat Jeno mengeluarkan benda bulat pipih berwarna hitam. Saat mencoba menerka benda apa itu Yeji dikagetkan saat suara dentuman terdengar. "Aargh!!" Pekik Yeji yang refleks menoleh ke arah suara dan menemukan pengendara motor itu ada disisi mobil Jeno dan mengetuk pintu keras. Jeno yang terlalu fokus mengotak-atik benda pipih itu tak sadar kalau si penguntit sudah bersejajar dengan mobilnya. Tubuh Yeji yang baru saja sedikit tenang kembali menegang. Menutup telinganya dengan kedua tangan, Yeji terisak lagi membuat umpatan Jeno mengudara. "Son of a b***h!" Ia benar-benar akan menghabisi siapapun itu. Jeno menginjak pedal gasnya membuat jarak sekitar 3 meter dengan motor itu. Saat tiba di lahan yang benar-benar sepi dan gelap tanpa penerangan sama sekali, Jeno tiba-tiba mereverse persneling nya sehingga mobil itu manuver dengan cara mundur. Suara gesekan karet ban dengan aspal rusak berbatu terdengar. Yeji yang kaget dengan pergerakan tiba-tiba Jeno membuka mata dan menemukan mereka sekarang sudah berhadapan dengan pria berpakaian serba hitam itu. Melihat ke arah Jeno, Yeji sadar pria disampingnya sudah benar-benar muak. Air muka nya datar dengan sorot tajam merendahkan dan rahang mengencang. Membuat Yeji seketika kehilangan rasa takutnya diganti dengan kewaspadaan. Wajah Jeno terlihat seperti ia benar-benar akan 'menghabisi' orang yang mengikuti mereka. Tanpa melihat Yeji, Jeno merebut tas hitam yang Yeji peluk dan mengambil tongkat baseball yang ia bawa. Rencananya akan Jeno gunakan untuk main di markas tapi sepertinya harus ia buang jika darah dari pecahan kepala pria bertopi hitam itu mengotori tongkat baseballnya. Yeji melihat Jeno turun dari mobil, segera terfokus pada si pengendara motor yang membuka kaca helm nya. Seketika jantungnya serasa terhenti melihat mata yang begitu ia kenal. Tanpa melepas masker hitamnya Yeji tau siapa pemilih mata bermanik coklat itu. "Papa." Lirihnya tak menyangka. Ia pikir ia sudah terbebas dari ayahnya. Pandangan Yeji beralih pada Jeno yang sudah mendekat kearah motor itu membuat ketakutan menyergap Yeji yang tanpa sadar mengalirkan airmatanya lagi. Dengan panik takut Jeno benar-benar akan menghabisi ayahnya, Yeji ikut turun dan berteriak. "Don't hurt him!" Jeno yang akan melayangkan tongkat baseball nya terhenti lalu menoleh pada Yeji dengan sorot tak mengerti. Ia melihat gadis itu menggeleng dengan tatapan memohon. Mau bagaimanapun, selama 15 tahun Yeji hidup, ayahnya lah yang mengurusnya ketika sang ibu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ya, dia takut. Dia marah. Tapi tolong jangan Jeno yang harus menghabisi ayahnya. "Pergi." Yeji menatap pria yang ikut mengernyit aneh padanya. Jeno yang tak mengerti kembali mengayunkan tongkat baseball nya namun pria itu lebih dulu menghidupkan motornya dan pergi menjauh. Tak melepaskannya begitu saja, Jeno mengejar dan berhasil meraih spakboard motor itu lalu menempelkan benda pipih hitam tadi. Hening menyergap ketika melihat lampu belakang pria yang belum Jeno ketahui identitasnya itu bergerak menjauh. Jeno berbalik untuk mempertanyakan keputusan gadis itu untuk melepaskan orang yang jelas-jelas ingin menyakiti dirinya. Tapi kekesalan yang ia punya menguap ketika ia berbalik gadis itu sudah terjongkok di tanah dengan kepala menelungkup dilutut. Khawatir menguasai. Jeno segera berlari mendekat dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil. ? Jeno duduk di kursi kemudi dengan Yeji yang Jeno terka masih menangis ada dipangkuannya. Jeno menghela nafas dan mengusap punggung Yeji dengan tangan kanannya dan tangan kirinya membelit dipinggang Yeji. Gadis itu memeluk erat leher Jeno membagikan basah di kerah kemeja Jeno. Aroma kopi yang bercampur oleh keringat entah bagaimana membuat Yeji merasa nyaman menghirupnya. Lagi-lagi Jeno harus menahan diri yang seketika meremang karena hembusan nafas di lehernya. "Who is he? Kenapa kamu minta aku lepasin dia?" Jeno membuka suara sambil melerai pelukan mereka saat tak lagi mampu menahan geli sekaligus gelisah hanya akibat hembusan nafas. Yeji terlihat ragu untuk memberitahu Jeno. "Tell me. Atau akan nyari dia kemanapun dia pergi untuk nyelesaiin apa yang tadi mau aku lakuin ke dia." Terpaku pada Jeno yang menatapnya dalam dengan sorot peringatan, Yeji menjawab dengan parau. "Papa." Jeno mengangkat alisnya. "I should've kill him." Amarah menguasai Jeno. Harusnya tadi ia tidak pedulikan Yeji dan langsung menghajar pria itu. "No." Yeji menggelang dan merangkum wajah Jeno. "Jangan." "Dia nyiksa kamu, Yeji." Jeno menjauhkan wajahnya dari tangan Yeji. "Aku yang mungkin bikin salah." "Dan itu bukan alasan bagi dia buat nyakitin kamu." Menggeleng takut ketika mata hitam pekat itu kembali mengeluarkan sorot ingin 'menghabisi', Yeji kembali memeluk Jeno. "Don't hurt him." Lirihnya. Jeno menghela nafasnya berat lalu mengambil handphone nya di dashboard tanpa memindahkan Yeji dari pangkuannya. "Hal-" "Lo di markas, kan?" Jeno langsung menyela. "Iyap." Jawab Renjun. Ya, Jeno menghubungi Renjun. "Tracker device no. 7 gue aktifin. Lo lacak dimana." Yeji menjauhkan wajahnya dari leher Jeno. Benda pipih itu alat pelacak? Lalu apa yang akan Jeno lakukan jika sudah menemukan ayahnya? Ia menatap Jeno dengan raut meminta penjelasan. "Mesti sekarang? Gue lagi nyiapin buat nonton nih." "Sekarang, Jun. Emergency." Jeno membalas tatapan Yeji sebelum membuka satu aplikasi di ponselnya sebentar dan membawa ponsel itu kembali ke telinganya. Terdengar suara decakan dan keluhan di seberang telpon dari Renjun yang kegiatannya terganggu. Kegiatan yang dimaksud adalah mengganggu Shuhua yang sedang memasak dengan terus memeluk kekasihnya dari belakang tidak peduli Shuhua beberapa kali mengomel dan mengusirnya. "Nomor tujuuuuh.. Harus gue apain?" Melihat lagi sorot khawatir di mata Yeji yang masih setia menatapnya, Jeno mau tidak mau menjawab. "Gue juga ngidupin tracker di Hp gue. Lo lacak juga. Pastiin tracker nomor 7 gak ngikutin gue ke markas. Sekiranya mulai ngikutin gue, lo kasih tau." "Copy that, sir." Ujar Renjun dengan nada sok seperti di film hollywood. Jeno mengangguk walau tahu Renjun tak akan melihat lalu mematikan ponselnya. "Kita harus balik ke markas sebelum eskrim nya meleleh." Ujar Jeno sambil menggendong Yeji dan membawa gadis itu kembali duduk di sebelahnya. Usai mendudukan Yeji di kursinya, Jeno menyempatkan diri menghapus air mata yang tersisa di wajah bulat Yeji sebelum ia berjalan mengitari sisi mobil untuk kembali ke tempat duduknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD