Setelah berfikir panjang dan lama, Jeno memutuskan untuk ke Markas menggunakan mobil karena tidak yakin ia bisa menjaga keseimbangan jika naik motor. Masalahnya adalah sekarang tidak ada tas yang menjadi penghalang mereka. Dan Jeno tidak mau otaknya semakin terkontaminasi.
Sungguh sialan!
Kenapa pria harus mengalami yang namanya mimpi basah?
Jeno sekarang terlihat seperti orang yang mudah terpancing oleh banyak hal kecil.
Tanpa harus melihat video dewasa, otak Jeno sudah traveling kesana kemari karena perbekalan yang Tuhan beri lewat mimpi masa pubernya.
Jeno memijat pelipisnya sambil bersandar di mobil hitam ford yang tidak pernah terpakai sebelumnya.
Menunggu sekitar 10 menit, gadis yang ia tunggu akhirnya muncul. Yeji mengenakan sebuah kaos putih panjang agak digulung sampai siku, celana jeans hitam lalu sepatu sneaker hitam putih dipadukan dengan ikat rambut berwarna hijau muda terang. Sebuah jaket tebal berwarna hitam ia bawa ditangannya.
Untuk sesaat gadis itu mengerjap bingung pada Jeno yang masih menggunakan seragam sekolah kecuali almamater. "Gak jadi bawa motor?"
"Bawa mobil aja. Udah malem. Dingin." Jeno memberi alibi lalu membukakan pintu untuk Yeji.
Sebelum masuk, Yeji melepas ikatan rambutnya menciptakan debar yang hanya Jeno rasakan.
"Tau gitu aku gak akan iket rambut aku. But it's okay." Ujar nya lalu melimbai masuk.
Sungguh Yeji bukan berniat menggoda. Tapi memang ia mengikat rambutnya karena mudah berantakan jika menggunakan helm.
Tapi efek dari Yeji yang merapihkan rambutnya dengan jemari sebagai sisir membuat Jeno menelan saliva kelat.
Fuck!
Apa gadis itu sadar kalau yang barusan ia lakukan itu sungguh menggoda iman Jeno?
Menggelengkan kepalanya, Jeno langsung masuk ke kursi pengemudi.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara karena canggung yang masih menguasai. Yeji memeluk tubuhnya sambil mendengarkan musik klasik yang jeno putar di radio musik.
"Aku kira kamu lebih ke tipe yang suka musik rock." Ujar Yeji setelah sekian lama. Gadis itu sudah tidak tahan dengan kecanggungan yang melanda. Kemungkinan dia akan bertahan dengan saudaranya untuk beberapa hari kedepan jadi dia tidak mau menghabiskan waktu itu dengan kecanggungan.
Dari member Phoenix yang ia tahu, ia tidak begitu dekat dengan semuanya. Dia sering mengobrol seputar olimpiade dengan Ryujin tapi dia tidak pernah berbicara santai pada siapapun.
Mendengar pernyataan Yeji, Jeno tersenyum tipis, mengikuti alur yang Yeji buat untuk mencairkan suasana dan melupakan kejadian mengejutkan saat di pintu kamar tadi. "Well, you should never judge book by its cover."
"Agree." Yeji melebarkan senyumannya sambil memeluk erat sabuk pengaman di tubuhnya membuat Jeno yang melirik sebentar ikut melebarkan senyumnya.
"Aku denger kamu takut sama kegelapan." Jeno membuka percakapan.
"Denger dari siapa?" Yeji menautkan alisnya menerka dari siapa Jeno mendapatkan informasi itu.
"Someone."
Yeji terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab dengan senyuman tipis. "Mmm-Hmm. Biasanya kalau udah malem aku bakal gampang kena anxiety attack. Entahlah. Pokoknya takut dan gak tenang aja kalo gelap."
"Sekarang gak takut?"
"I know it's weird. Aku juga gak tahu kenapa dan gimana. Tapi aku ngerasa aman when I'm around you. Setelah kamu nolong aku dari Theo. Walaupun waktu itu aku masih gak bisa sepercaya sekarang. Aneh kan?" Semburat merah muda yang muncul itu mencipta bungah di hati Jeno yang sedang berjingkrak senang.
"Kenapa aneh? Semua orang juga ngerasa aman kalau lagi bareng aku."
"Ih!! Narsis banget ya anda!"
Tawa keduanya memenuhi mobil bahkan mengalahkan music clasik yang masih mengalun lembut dan mendayu.
Tiba-tiba musik itu terhenti membuat perhatian Yeji dan Jeno tertuju pada layar radio mobil dan ketika melihat panggilan masuk dari Chaeryeong, ia mengangkatnya.
" Jeno oppa?!!"
"Kenapa kalian suka banget teriak sih?!" Jeno kesal sekali.
"Hahaha! Jen! Disuruh beli eskrim sama Shuhua!" Suara Ryujin muncul.
Jeno menghela nafas jengkel sedangkan Yeji hanya tersenyum geli menengar antusias orang di seberang telpon.
"Kasih Shuhua telponnya."
"Shuhua Eonnii!!!!!" Sekarang giliran Yuna yang berteriak bahkan suara benda terjatuh yang Yeji tebak adalah handphone itu sempar terdengar menimbulkan pekik dari Ryujin dan entah siapa saja yang sedang berkumpul di markas.
"For God sake they're so fuckin' loud." Jeno mengeluh lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil.
"Jen?" Akhirnya suara tenang terdengar.
"Finally. Tadi nyuruh beli apa aja?"
"Eskrim. Stok minggu ini di abisin sama adek lo. Gila si Jisung rakusnya sebelas duabelas sama Yuna."
"Eskrim doang?"
"Sama buah apa aja. Stok kopi juga abis, roti, selai, butter, pepper paste, noodle, stok permen jeli lo juga abis. Teruuus...."
"Sha, catet aja. Gak bakal inget gue kalo sebanyak itu."
"Aku inget."
Jeno menolehkan wajahnya pada Yeji yang turut melihatnya.
"You do?"
Yeji mengangguk yakin. "Aku punya ingatan yang lumayan bagus."
"Wih! Lagi sama siapa, Jen?" Shuhua bertanya antusias.
"Someone.. Lanjutin aja beli apalagi."
"Wait, you'll bring her here?"
"Yeah."
"Kamu yakin dia 'bersih'?"
Yeji mengernyit mendengar kata 'bersih'. Aku sudah mandi kok. Pikirnya.
"Lo curigain gue Sha?" Ada nada tak suka dari kalimat yang keluar dari mulut Jeno.
Seketika hening dan tegang sebentar. Membuat Yeji deg-deg an tapi kali ini karena takut dan khawatir tidak akan diterima disana. Sebelum helaan nafas Shuhua terdengar. "Sorry. Okay lo sekalian beli selimut kalau dia mau nginep juga."
Jeno bergumam mengiyakan lalu memutus panggilan itu.
"Aku bener-bener boleh kesana?" Yeji mendadak ragu karena memang merasa tempat itu bukan tempat yang bisa dimasuki oleh sembarang orang. Dan dia jelas bukan siapa-siapa.
Hanya memberikan senyuman sebagai Jawaban, Jeno memarkirkan mobilnya di sebuah supermarket untuk membeli pesanan Shuhua. Saat menoleh ke samping ia menemukan wajah gadis sebelahnya terlihat murung dengan alis bertaut khawatir. Hembusan nafas pelan keluar dari hidung Jeno.
Jeno melirik sebentar pada jemari yang terjalin gelisah itu lalu menggenggamnya lembut. Mencoba mengalihkan perhatian Yeji dan berhasil membuat manik hazel itu menatapnya. "Hey, Jangan khawatir. Aku yang berkuasa disana. Cuma aku yang berhak ngizinin siapapun untuk masuk atau pergi dari Markas. So, just ignore them. Okay?" Ibu jari Jeno seolah punya otak sendiri dan bergerak mengelus tangan dingin didalam genggamannya.
"Udah gak usah dipikirin lagi. Sekarang turun dan bantu aku beliin pesanan Shuhua biar aku bisa cepet mandi. Gak kecium apa ini udah bau apek?"
Yeji mau tidak mau tertawa lalu mengangguk.
Yeji yang punya daya ingat sangat bagus membantu Jeno mengisi strolley yang segera penuh oleh stok mingguan Bluefire. Sekarang mereka ada di tempat yang menjual selimut.
Jeno tertarik dengan sebuah kotak musik berwarna putih s**u dan biru muda. Yang membuat Jeno begitu tertarik adalah musik yang mengalun itu adalah musik klasik yang sering ia dan bunda gunakan untuk berdansa bersama.
"Perempuan itu suka banget kalo diajak dansa gini."
"Kok bisa, Bun? Apanya yang spesial?"
"Setiap perempuan itu, walau gak diucap secara langsung, selalu ada keinginan menjadi putri di hati terdalamnya. Dan melalui dansa kayak gini itu serasa terwujud."
"Bunda seneng aku ajak dansa kayak gini?"
Bunda Lee tersenyum lalu mengecup singkat dahi putranya. "Seneng dong. Apalagi diajak dansa sama pangeran ganteng kayak anak bunda ini. Nanti kamu ajarin jisung. Biar pas dansa gak nginjek kaki pasanganya."
Anak dan ibu itu terkekeh bersama. Adiknya itu memang ceroboh.
Nostalgia indah yang menjerat Jeno itu terhenti saat Yeji datang dengan wajah panik yang tak bisa disembunyikan dari Jeno.
"Jen?"
"Kenapa?" Jeno menaruh kotak musik ditangannya.
"Ada yang ngikutin aku." Ujar gadis itu sambil mengambil kotak musik yang tadi Jeno pegang sebagai pengalih.
Yeji tadi ke kamar mandi dan baru sadar ada yang mengikuti dirinya.
"Dimana?"
Saat Yeji hendak menunjuk, Jeno memberi peringatan. "Jangan di tengok. Jangan keliatan cemas. Pura-pura gak tau aja."Pria itu memutar tuas sehingga musik itu mengalun lagi sambil tersenyum untuk mengelabui si penguntit.
"But.."
"Hey, listen. Kamu aman sama aku." Jeno masih berbicara dengan senyuman lebar tanpa pelepaskan pandangannya dari miniatur pasangan yang sedang berdansa di dalam kotak musik. "Tenang. Nafas."
Yeji mulai menenangkan diri saat Jeno menggenggam tangannya setelah benar-benar menaruh kotak musik yang rencananya akan Jeno beli.
"Ada di arah jarum jam berapa?" Pria itu mengambil sebuah selimut berwarna abu-abu berbahan halus.
"Diarah jam 5 kamu." Cicit Yeji.
Pura-pura mencari sesuatu, Jeno sedikit melirik dengan sudut matanya pada arah yang Yeji beri. "Pake baju item? Masker dan topi?"Tanyanya memastikan dan dijawab dengan anggukan oleh Yeji. Tangan gadis itu sudah dingin dan berkeringat parah.
"Ingat. You're safe. Jalan satu langkah didepan aku. Just ignore him."
Jeno walau terlihat santai mengambil dan membayar pesanan Shuhua dengan cepat. Sambil sesekali melirik diam-diam pada pria yang masih mengikuti Yeji.
Segera menarik Yeji untuk masuk kedalam mobil, Jeno memacu mobilnya dengan cepat. Tapi malam ini sedang ramai sehingga ia tidak bisa kabur dari orang yang mengikuti mereka karena pria itu membawa motor sehingga mudah untuk tetap mengejar mobil Jeno.
Ck.. Tau gini Jeno bawa motor saja tadi.