Dalam perjalanan pulang Yeji mengistirahatkan kepalanya di bahu Jeno. Sedangkan tangannya memeluk erat tas Jeno dengan senyum yang entah kapan mau luntur. Dia terlalu bahagia dengan semua ketenangan ini. Tanpa ada sorot kebencian yang ia dapat lagi.
"Tidur?" Jeno menoleh sebentar pada kepala berbalut helm di bahunya.
"No." Jawab Yeji lalu menolehkan wajahnya pada wajah Jeno yang juga berbalut helm. Gadis itu mengangkat kepalanya lalu melihat ke sekitar. Biasanya ia akan ketakutan ketika malam datang, tapi saat ini ia bisa menikmati angin malam berhembus tanpa perlu di ganggu oleh cemas berlebihan.
Yeji mengedipkan matanya saat sadar ia sudah ada di garasi rumah.
Turun dari motor Jeno tanpa perlu kesulitan karena kaki jenjangnya, Yeji menggigit bibir bawahnya sambil mencoba membuka kaitan helm yang macet.
"Susah." Gumamnya tanpa sadar Jeno yang sudah meletakkan helm di atas jok motor mendengar dan segera mengambil alih kaitan tersebut.
Yeji yang terkejut menunduk saat Jeno membukakan kaitan helmnya yang agak susah dibuka. Tapi.... Wajah mereka terlalu dekat. Bahkan hembusan nafas hangat Jeno juga ia rasakan di wajahnya. Aroma permen mint yang mereka makan usai menghabiskan semangkuk ramen itu menguar membuat Yeji membatu di tempat.
Dengan jantung yang berdegup begitu kencang, Yeji mundur satu langkah takut jika suara detakan itu terdengar oleh Jeno. Tapi sayang ia lupa kalau di belakangnya adalah ujung ubin. Lantai garasi dibuat lebih tinggi agar air hujan tidak masuk dan membuat sebagian permukaannya seperti tanjakan untuk kendaraan masuk sedangkan yang lainnya seperti tebing setinggi satu meter.
Pekikan keluar dari mulut Yeji yang sudah memejamkan matanya erat siap menahan malu dan sakit.
"Hati-hati. Kamu bisa saja jatuh."
Eh......
Mendengar suara itu Yeji yang tubuhnya tidak jadi jatuh membuka mata. Mengedipkan mata beberapa kali menyadari sebuah tangan membelit di pinggangnya dan melihat kedua tangannya yang ternyata refleks berpegangan erat pada almamater Jeno yang tidak Jeno kancingkan.
"Makasih." Cicitnya yang setengah lega tidak jadi jatuh namun menjadi begitu sakit pada dadanya yang berdetak seolah tak ada hari esok. Astaga Yeji jadi semakin salah tingkah.
Dengan kikuk dia mencoba lepas dari belitan tangan Jeno. Dan pria yang sadar ada yang tengah salah tingkah itu tersenyum miring lalu menarik Yeji menjauh dari ujung lantai baru setelahnya ia melepaskan belitan tangannya.
Jeno melanjutkan melepaskan kaitan helm di kepala Yeji dan langsung melepaskannya. Dahi gadis itu dipenuhi oleh keringat karena panas didalam helm dan juga keringat dingin karena gugup, yang membuat tangan Jeno refleks terangkat untuk mengelap beberapa bulir air yang membasahi anak rambut Yeji.
Saat Jeno sadar apa yang ia lakukan sekarang ia yang gantian salah tingkah. Segera menjauhkan tangannya dari dahi Yeji lalu mengepalkannya erat di sisi tubuh.
"Y-you okay?" Jeno bertanya pada Yeji yang benar-benar terlihat membatu. Jeno ingin tertawa tapi tawa itu tidak keluar dan yang keluar hanya kernyitan geli melihat tubuh Yeji yang tidak bergerak dan terlihat sedang menahan nafasnya.
"Hey, breath." Jeno malah jadi khawatir saat rona memerah itu menguasai wajah dan leher dan telinga Yeji. Pemuda Lee itu menggoyangkan bahu Yeji yang membuat Yeji tersadar dan mempertemukan dua manik yang berbeda begitu kontras itu.
Daripada memalukan diri lebih lama lagi disini, Yeji mengerjap sambil berkata. "Y-ya.. A-aku masuk duluan. Night." Lalu gadis itu berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Jeno yang tertawa kecil.
Kenapa ia terlihat seperti Jisung dan Yuna saat awal kencan mereka?
Tuh kan! Kencan lagi! Jeno harus mandi dan menyadarkan diri.
Ck..
Dikamarnya, Yeji segera masuk lalu menutup pintu kamar dan langsung melompat ke kasur. Menggelengkan kepalanya beberapa kali, Yeji malah jadi berguling-guling di kasur, membuat seprei berwarna putih itu berantakan.
Tapi jantungnya tidak mau tenang. Sama berantakannya seperti seprei putih ini.
Segera duduk dengan wajah mencebik, Yeji mengedarkan pandangan pada lemari tempat kumpulan koleksi novel romansa yang ia punya.
Yeji menyentuh dadanya dengan pikiran melanglang buana. Apa yang ia rasakan sekarang, sama seperti apa yang sering di deskripsikan oleh penulis di buku-buku itu.
Tapi bukankah ini salah? Mereka baru saja berdamai dan memulai semuanya dari awal.
Lagipula kalaupun mereka sudah dekat, hubungan yang ada di kepala Yeji jelas salah.
Ck... Lo mikir apa sih, Ji.
Yeji memukul kepalanya sendiri lalu memilih untuk mandi daripada memikirkan hal yang aneh-aneh tentang saudara tirinya yang kelewat tampan itu.
Tapi jantungnya tidak pernah santai bersama Jeno.
Untuk bilang apa yang ia rasakan ini adalah cinta juga sepertinya terlalu cepat.
Yeji menghela nafas lalu berdiri sambil melepaskan seragamnya melanjutkan niatannya untuk mandi.
?
Hal yang sama terjadi di kamar bernuansa hitam di seberang kamar putih terang dengan dekorasi merah muda.
Jeno terduduk di sofa hitam kamarnya dengan gitar sudah ia pangku dengan manis. Mood nya sedang baik terdengar dari alunan nada gitar yang ia mainkan.
Sesekali tersenyum tipis ketika mengingat bagaimana gadis itu menyandarkan kepala di bahunya tanpa sadar hal itu membuat Jeno tidak fokus mengendarai motor dan beberapa kali harus sedikit mengurangi kecepatan kala jantungnya menggila.
Lucunya adalah, kenapa gadis itu malah memerah seperti kepiting rebus ketika di garasi tadi?
Terkekeh geli, Jeno terlihat seperti sedang sangat amat dimabuk cinta. Sepertinya ia mendapat karma karena meledek adiknya seperti orang di mabuk cinta kemarin.
Jeno larut dalam lamunannya dengan isi pikiran oleh senyuman yang ternyata memang mirip dengan senyumnya, mata yang juga ikut tersenyum, lalu rona merah muda yang menghiasi wajah putih pasi itu.
Drrt Drrt!
Terkesiap, Jeno mengambil ponsel nya yang bergetar di saku kemeja putih yang ia pakai. Ternyata Jisung yang menelpon.
"Hyung!!!!"
Jeno segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya ketika Jisung dan Chenle teriak bersamaan. Dengan raut yang sekarang kesal Jeno segera mematikan sambungan tersebut. Jeno yakin kedua adik durhakanya itu sedang tertawa puas.
Drrt Drrt!
Jeno mengangkat panggilan yang kini beralih menjadi video call. Benar saja dugaan Jeno. Di layar persegipanjang itu Jisung dan Chenle tertawa dan membuat suara-suara aneh. Mau tak mau Jeno mengembangkan senyumnya tipis.
Bagaimana bisa mereka yang masih terlihat seperti anak kecil itu sudah memiliki kekasih?
"Hyung?"
"Hmm?"
"Abis darimana?"
"Mau apa?"
"Kita lagi kumpul nih di markas."
"Mau pulang jam berapa?"
"Mau nginep."
Jeno mengernyitkan dahinya.
"Ih! Papa sama istrinya lagi ada bisnis ke luar negeri."
"Oh ya? Gue gak tau."
"Yaudah tidur sini aja buruan! Kita mau nobar nih. Shuhua Noona juga lagi bikin kukis!"
"Okay I'll go. Wait for-"
Jeno menautkan alisnya ketika nomor ayahnya muncul. Segera memutuskan panggilan dari Jisung, Jeno lalu mengangkat panggilan ayahnya.
"Ya?"
"Papa sama Mama berangkat ke Australia sekitar semingguan. Kamu sama Jisung jagain Yeji di rumah. Bik Min lagi jadwal libur soalnya."
"Hmm."
"Nanti Papa transfer uang lagi buat makan. Pokoknya jangan tinggalin Yeji sendirian."
"Iya."
Jeno berpikir sebentar. Tadinya dia ingin berkumpul di markas.
Tunggu dulu, Yeji bisa ikut ke Markas, kan?
Jeno langsung berdiri setelah menaruh gitarnya di kasur. Mengetuk pintu putih yang segera di buka namun yang membuat Jeno terkejut adalah gadis itu muncul dengan handuk kimono yang.....
Astaga .....
Keduanya melotot kaget sebelum saling berbalik.
Ya tuhan!!! Cobaan apalagi ini!!
Jantung mereka baru saja berdetak normal kenapa harus seperti ini lagi?
Yeji menutup wajahnya karena malu hingga ia mau menangis. Ia kira yang mengetuk adalah Bik Min! Makanya ia buka pintu walau dalam keadaan seperti ini. Siapa sangka kalau ternyata yang berdiri di pintunya adalah Jeno?!
Mamaaa!!!!!
Sedangkan Jeno memejamkan mata dan mengambil nafas banyak-banyak mencoba mengenyahkan apa yang ia lihat barusan.
Kimono itu agak terbuka sehingga leher jenjang dan d**a gadis itu terekspos bahkan sedikit belahannya bisa Jeno lihat.
Sialan!!!
Otak Jeno malah memperjelas apa yang ia lihat tadi.
Jeno membuka matanya dan berpikir kenapa reaksinya seperti ini? Di AS, ia sering melihat wanita dengan bikini sangat seksi ketika ia berselancar di Malibu. Tapi reaksi tubuhnya biasa saja.
Sedangkan ini? Hanya sebagian itu saja membuat seluruh bulu remang Jeno berdiri. Tubuhnya memanas juga dengan tenggorokannya yang tiba-tiba kering.
Sadar, Jen! Tahan! Jangan lepas kontrol!
Gumamnya dalam hati. Jeno menarik nafas pelan lalu menghembuskannya lewat mulut. Beberapakali hingga jantungnya mulai tenang.
Pikirin senyumnya, Jen. Matanya juga cantik. Jangan inget apa yang lo liat barusan!
Okay.. Jeno memfokuskan dirinya pada senyuman indah itu. Senyumnya. Mata hazelnya.
"Gak ada orang di rumah. Mereka lagi ada kerjaan di LN. Bik Min juga jadwalnya libur." Akhirnya Jeno mampu bersuara.
"O-oh." Yeji masih belum bisa mengeluarkan banyak suara. Gadis itu memeluk erat handuk kimononya sambil menekan jantungnya yang berdentam tak karuan. Sungguh Yeji tidak akan pernah terbiasa dengan jantungnya yang selalu mengalami gempa bumi dengan skala richter besar setiap berhadapan dengan Jeno.
"Aku rencananya mau ke Markas. And I don't want to leave you here all alone. Mau ikut?"
Saat makan ramen, entah bagaimana, Yeji berhasil membuat Jeno menuruti permintaannya dengan panggilan aku-kamu.
Tak masalah bagi Yeji maupun Jeno. Mungkin karena itu Jeno langsung menurut.
Mendengar tawaran Jeno, Yeji pelan-pelan membuka matanya. "Apa boleh?"
Jeno mengangguk sebelum menggelengkan kepalanya heboh saat sadar Yeji tidak mungkin melihat gerakan kepalanya. Hah! Konyol sekali dirinya. "Boleh."
"Nginep?"
"Iya."
"Okay. A-aku pa-ppakai baju dulu."
"Sure. Jangan lupa pake jaket tebel karena kita bawa motor ke sana."
"Okay."
Kikuk dan canggung kembali menyelimuti. "Aku tunggu di garasi." Jeno segera berlalu masuk ke kamarnya untuk mengambil kunci motor dan jaket setelah itu keluar untuk mengambil udara banyak-banyak.
Karena kepalanya pening sekali akibat kejadian barusan.
Sialan.
Sepertinya setelah sampai di Markas ia benar-benar harus mengguyur tubuhnya dengan air dingin.