One Step Closer

1260 Words
"Kill him, kill him, kiss me babe~" Jisung menyenandungkan lagu cher lloyd- I wish dan mengganti lirik 'come' menjadi 'kill him'. Sungguh bar-bar. Pemuda tinggi itu ada di mood yang baik setelah berkencan dengan kekasihnya tadi bahkan energi positif itu mengikutinya sampai di rumah besar. Mengetuk-ngetukkan jemarinya pada udara mengikuti ritme lagu yang ia putar diotaknya. Meniti satu persatu anak tangga sambil terus bernyanyi pelan. Tiba-tiba mata sipit itu melotot -walau sebenarnya masih sipit- saat melihat Jeno keluar dari kamar kakak tirinya. Lagu yang ia senandungkan berhenti begitu saja dan dagunya yang jatuh menganga kebawah. "Hyung?" Ujarnya sambil mengerjap. Jeno juga melotot kaget melihat Jisung sebelum meringis saat Jisung menarik tubuhnya masuk ke dalam kamar. Oh, s**t. Jisung menutup pintu kamar Jeno agak keras dan mendudukkan kakaknya di kursi lalu memberikan sorot menghakimi pada Jeno yang malah menyilangkan kakinya dengan sebelah alis terangkat. "Apa?" "'Apa?!!' Setelah gue nangkep basah lo keluar dari kamar Yeji Noona dan Hyung masih nanya 'apa?'!!" "Ya terus apa?" "Penjelasan! Ngapain keluar dari kamar gadis malem-malem?!" "Jangan teriak, Jisung." Jeno menegur adiknya. "Jangan ngalihin pembicaraan, Hyung." Jisung duduk bersila di lantai menghadap kakaknya dan melipat kedua tangannya di d**a. Pemuda itu masih memberikan tatapan mencurigai pada kakaknya. Jeno memutar bola matanya malas. "Abis bantuin dia ngambil air minum." Jisung semakin sangsi mendengar jawaban Jeno. "Sejak kapan kalian jadi sedeket itu? Bukannya kemarin abis berantem?" Mengendikkan bahunya, Jeno berdiri dari kursi lalu berbaring di kasurnya. Tubuh pria itu mengembul saat adiknya yang berukuran lebih tinggi itu ikut bergabung ke kasur dengan bar-bar. Huuftt.. Jeno rasanya harus membatasi adiknya ini bermain dengan Renjun, Haechan dan Jaemin. "Hyung yakin? Apa yang bikin hyung berubah?" "Berubah apanya?" Jawab Jeno masih tidak peduli. "Hiris milindingi dii diri iring bringsik ying iti itii ying ini?~" Membuat Jeno menoleh dan mendelik pada Jisung yang barusaja meledek kata-katanya saat di kantin. Astagaaa... Jeno mengambil bantal dan memukulnya ke wajah Jisung yang hanya tertawa. "Gak usah sok introgasi gue, ya. Lo yang abis darimana? Main sama anak gadis sampe hampir tengah malem gini baru pulang?" Jisung hanya diam dan memunggungi Jeno sambil memeluk guling. "Sebenernya... Ada yang mau gue kasih tau." "Apaan?" Jeno menoleh ke punggung adiknya. Meski Jeno sudah tau apa yang akan adiknya itu ucapkan. Ia tidak akan bertanya sampai Jisung bercerita sendiri. "Hyung.... Ehm.. Gue.......... GuepacaransamaYuna." Jisung menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan nafas lalu memejamkan mata erat. Sedangkan Jeno hanya tersenyum miring sambil mendengus geli. "Iya tau." Jisung membuka matanya lalu berbalik ke arah Jeno. "Kok bisa tau?!" "Apa sih yang gue gak tau." Jeno dengan senyum usilnya. "Ih!! Yang bener! Hyung tau darimana?!" "Gue ga akan jawab kalo lo teriak lagi." "Iya maaf." Jisung duduk menuntut jawaban dari Jeno. "Sebulan sebelum kita pulang kesini, lo ketemuan sama Yuna dan gak bilang ke gue. Di LA street lo nembak dia pake cotton candy warna pelangi." Jelas Jeno. Saat itu Jisung selalu terlihat gelisah, tapi saat Jeno tanya ada apa selalu menjawab tidak ada apa-apa. Jadi saat Jisung izin pergi ke LA diam-diam dia mengikuti karena takut adiknya itu terlibat masalah dan takut untuk memberitahunya. Eh malah yang ia temui adalah sepasang remaja yang sedang di mabuk cinta. Jeno bahkan heran, Jisung mengungkapkan perasaannya menggunakan permen kapas belajar dari mana? Jeno tersenyum kecil merasa lucu pada kedua adiknya itu. "Hyung mata-matain gue?" "Ya lo mencurigakan makanya gue ikutin. Kalau tau yang gue liat bikin cringe mendingan gue tidur di rumah." "Ih kok jadi bahas gue? Lo jadi gimana sama Yeji Noona?" "Gak gimana-gimana." "Masa iya Hyung cuma bantuin bawa minum doang?" "Ck.. Nanti juga tau.. Udah sana tidur! Kepo banget jadi orang." Jeno mendorong Jisung dengan kakinya lalu menutup tubuhnya dengan selimut sambil berpikir kemana ia harus pergi besok. ? Keesokan harinya... Jeno melirik jam tangannya sudah jam 6:00 PM dan kelas kimia baru saja selesai. Dengan segera ia berlari ke arah studio musik karena Yeji kemungkinan sudah menunggu sekitar 30 menit disana. Sampai di lantai seni Jeno langsung masuk dan membuka studio. Begitu pintu terbuka, ia dapati gadis itu tengah bermain piano sambil bersenandung lembut. Namun saat ia masuk, gerakan jemari itu berhenti dan seulas senyum mengembang yang membuat Jeno tertegun. Sialan. Senyum itu kenapa begitu cantik? Astaga otak Jeno sudah tidak waras. Segera menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan ribuan pujian untuk senyuman indah itu, Jeno masuk dan lantas meminta maaf. "It's okay. Kamu datang. Itu yang penting." Jawab Yeji. Sekarang seulas senyum itu mengembang diwajah Jeno. "Mau pergi sekarang?" Tanyanya lalu mendekat ke arah piano itu. "Boleh. Ayo." Yeji bangkit dari kursi dan menyandang tasnya. "Emang mau kemana?" Tanya Yeji begitu mereka memasuki lift untuk ke basement. Jeno juga sebenarnya masih bingung harus kemana. Dia tidak terlalu tahu tempat yang bagus di Seoul. "Mmmm.. Udah makan?" Jeno menoleh pada Yeji yang bersandar di dinding lift sambil menunduk memperhatikan sepatunya. Dia bingung kenapa begitu gugup setiap berdekatan dengan Jeno? Yeji pikir gugup itu karena takut. Tapi kini saat suasana nya sudah jauh lebih tenang kenapa ia masih gugup? Jantungnya selalu berdebar aneh. "Belum." Jawabnya. "Suka Ramen?" Tanya Jeno lagi yang entah kenapa ingin terus menerus mendengar suara yang ternyata lembut dan menenangkan itu. Ting! Pintu lift terbuka dan mereka berdua keluar menuju motor sport putih Jeno yang sudah terdapat dua helm. "Suka." Jeno mengangguk lalu memberikan satu helm itu untuk Yeji. Baiklah, Jeno sekarang mencoba mengingat dimana restoran ramen yang enak dan cukup tenang di Seoul. Myeongdong biasanya banyak tapi.. Aori Ramen. Iya. Dia dan sahabatnya pernah kesana dan ramennya lumayan enak. Okay, dia akan kesana. "Mikir apa?" Jeno mengerjap mendengar tanya itu lalu meringis. Pria itu menggelengkan kepalanya lalu naik ke motor diikuti Yeji yang memeluk erat tas hitam Jeno. Tak ada yang berbicara selama di perjalanan karena masing-masing mencoba untuk menenangkan debar yang ada di d**a mereka dan juga menetralkan pikiran yang terus menuju pada kencan pertama. Ya tuhan... Tidak mungkin.. Setengah jam kemudian mereka sudah duduk diruangan bertema gelap dengan lampu kuning yang hangat. Setelah memesan mereka yang duduk berhadapan itu tanpa sengaja saling pandang dan tersenyum canggung. Jeno berdeham. "Ehhmm.. Sebelumnya gue mau minta maaf. Buat semua kata-kata kasar yang pernah gue bilang." Yeji dapat melihat sorot penyesalan dan kejujuran di manik hitam itu, tersenyum lalu mengangguk. "Kamu gak salah juga. Kamu kayak gitu ada alasannya jadi aku gak ambil pusing sekarang. Walau waktu awal itu lumayan sakit karena nerima sorot benci itu dari orang lain setelah 3 bulan ini." Tiga bulan lalu? Otak Jeno langsung tertuju pada Ayah kandung Yeji. Jeno menghela nafas lalu mengunci tatapannya pada pualam hazel yang terus membuatnya terkesima itu. "So. Can we startover again? Kita mulai semuanya dari awal. Bedanya kali ini awal yang baik." Ujar Jeno memastikan kesungguhannya itu sampai pada gadis yang tak kunjung melunturkan senyumnya. Tak apa. Jeno suka. Melihat senyum itu hatinya tak lagi sesak. Yeji menggerakan kepalanya naik turun dua kali lalu mengulurkan tangannya pada Jeno. "Salam kenal, aku Yeji. Hwang Yeji." Gadis itu menunjukkan senyuman yang lebih lebar dan turut menular pada Jeno yang terkekeh geli. "Jeno. Lee Jeno." Pria itu menyambut uluran tangan gadis itu. Lembut. Hangat. Cantik. Tiga kata itu akan Jeno keluarkan jika ada yang bertanya tentang bagaimana ia melihat seorang Hwang Yeji sekarang. Jeno sadar dirinya sudah jatuh pada suatu pengharapan jika teman dan saudara bukanlah takdir bagi mereka berdua. Lebih dari itu. Rasa ingin memiliki dan melindungi yang muncul begitu kuat usai menggenggam tangan lembut, rapuh namun begitu pas di genggamannya itu. Jeno akui ia buta. Jeno akui ia bodoh karena terus menyangkal betapa cantiknya mata hazel dan senyuman itu. Padahal manik dengan binar hangat itu sudah menjeratnya sejak awal pertemuan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD