Her Private Life

1132 Words
Tepat malam harinya di bluefire, Jeno duduk di ruang tamu menunggu Bomin sambil memakan pizza yang sudah setengah dingin. "Belum dateng?" Tanya Somi yang muncul dari kamarnya. Jeno mengecek ponselnya untuk bertanya Bomin ada dimana. "Masih di jalan katanya." Jawab Jeno. "Yang lain kemana?" "Lagi nonton." Somi menunjuk theater room dengan dagunya. Jeno hanya mengangguk lanjut makan pizza. Sebelum terhenti ketika Somi bertanya lagi. "Sebenernya lo mau ngomongin apa sama Bomin? Ada hubungannya sama Yeji?" "Kenapa lo mikir gitu?" "You look different. Jangan kira kita buta ya, Jen. Kita liat lo sering liatin adik lo itu diem-diem hari ini." Somi mengerlingkan matanya lalu mengambil potongan pizza di tangan Jeno dan memakannya. Jeno hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Somi. Terlalu jelas rupanya. "Hello everybodyyyy!!!" Seru Bomin yang baru datang dan bertos ria dengan Somi dan Jeno. "Akhirnya datang juga. Ini beneran kita boleh denger? Kalo kalian mau ngomongin yang rahasia gue bakal masuk." Ujar Somi yang Jeno jawab dengan gelengan kepala. "Panggil yang lainnya." Toh cepet atau lambat sahabatnya juga akan tau sendiri. By the way, Bomin adalah anggota kelompok belajar phoenix. Dia sering kesini untuk mengerjakan tugas tapi tidak pernah menetap karena memang Bomin berasal dari orang tua yang harmonis. Bomin awal mengenal phoenix saat ia ternyata sekelompok dengan tiga serangkai dan dekat. Dia memang member tapi Jeno sebisa mungkin tak melibatkan Bomin dalam misi karena ada keluarga yang akan khawatir jika ia terluka. Tak lama, para member phoenix datang memenuhi ruang tamu. "Jadi mau nanyain apa, Jen?" Bomin bertanya setelah ikut memakan sepotong pizza di meja. Jeno meneguk kaleng sodanya dan menjawab. "Soal Yeji." "Kenapa sama Yeji?" Ujar Bomin mengernyit. Setahunya Jeno tidak menerima adik tirinya itu. Dan sekarang malah menanyakan tentang Yeji. Sungguh aneh. Jeno menghela nafas dan melihat wajah bingung sahabatnya sebelum berujar. "Kita berdebat semalem." "Oh wow.. Karena apa?" Reaksi Bomin yang hanya mengerjap lucu. "Parents." "Jadi yang mau lo tanyain apa?" "Waktu kita cekcok semalem, dia bilang Ayah kandungnya dia abusive. Itu bener?" Member phoenix menoleh pada Bomin yang tersenyum tipis menanti jawaban. "Iya.. Buat kalian pasti sadar dulu Yeji sering dateng ke sekolah dalam keadaan gak baik, kan?" Bomin menatap semuanya kecuali Jisung dan Jeno. Member phoenix mengangguk. Tapi mereka sebelumnya tidak pernah mencari tau lebih lanjut karena untuk apa mengorek privasi orang, ya kan? "Separah itu?" Jika iya maka Jeno akan semakin merasa bersalah. "Parah Jen. Lebam, luka sobekan. Dia mulai bersih dari lebam gitu waktu pernikahan ibunya sama ayah lo. Semenjak itu dia gak pernah ada luka lagi. Dan tiga bulan terakhir dia keliatan mulai agak berisi setelah sebelumnya bener-bener kayak lidi." Ujar Shuhua. Hati Jeno mencelus. "Kenapa? Gila kah ayahnya?" "Gak ada yang tau." Ujar Bomin lalu memeluk bantal kursi. "Lo gak nanya?" Jeno bertanya lagi. "Gimana mau nanya. Dia tuh susah di deketin, Jen. Sama kayak dirimu. Tertutup banget pokoknya. Yang gue tau dia ikut OSIS dan ekstrakurikuler lainnya karena dia gak betah di rumah." "Karena kalau pulang ke rumah dia dipukulin?" Sambung Jeno miris. Bomin mengangguk. "Selain itu?" "Dia gak bisa denger bentakkan. Dia bakal ketakutan parah." Jawaban Bomin seperti tembakan anak panah tak kasat mata yang melesat dan menancap langsung di ulu hati Jeno. Gadis itu ketakutan mendengar bentakan. Dan yang dia lakukan selama ini adalah selalu membentak gadis itu. "Dia juga takut naik taxi." Jeno mengernyit. "Kenapa?" "Dia udah gak tinggal sama Ayah kandung nya itu 1 bulan sebelum pernikahan orang tua kalian. Dan saat 3 minggu sebelum pernikahan, ayahnya itu nyulik dia pake taxi dan nyiksa dia lagi. Cukup parah sih itu. Dia bahkan ada luka dibagian kepala. Di dahi kirinya." Siapapun ayah j*****m itu, Jeno bersumpah akan menghajarnya tanpa ampun jika bertemu. Jeno mengerjap. Ia tidak pernah terima ada yang menyakiti gadis itu walau selalu ia sangkal. Walau ia yang justru sering menyakitinya akhir-akhir ini. Hatinya semakin tidak bisa berbohong kalau peduli itu benar-benar ada. "Dia juga punya claustrophobia akut. Dia cerita sendiri saat waktu pelatihan calon ketua OSIS. Punya nyctophobia tapi gak separah claustrophobia nya." Karena itukah gadis itu tak henti memeluknya saat mereka dalam perjalanan ke bluefire? Jeno mengurut pelipisnya seolah bisa meredakan pusing yang tiba-tiba menyerang. "Ayah kandungnya kerja apa?" "Buruh kasar. Dia dari kalangan bawah. Masuk ke sekolah kita aja dia beasiswa." "Kasiaan." Anggota perempuan phoenix mencebik ikut merasa miris pada hidup Yeji. ? Sekarang Jeno ada di dapur rumah besar. Duduk melamum mengulang pembicaraannya dengan Bomin tadi. Mengungkit seberapa besar rasa bersalahnya pada Yeji. Ia dan gadis itu sama. Sama-sama berada di posisi korban orangtua yang gila. Menghela nafas berat, Jeno menunduk dan menoleh ke pintu saat pintu dapur terbuka kesamping memunculkan gadis yang tak berhenti muncul dipikirannya. Mereka saling berpandangan lagi. Cukup lama menikmati canggung dan debar halus yang coba mereka acuhkan. Kenapa mata hazel itu begitu indah? "B-baru pulang?" Yeji menunduk dan menjalin jemarinya gelisah. "Hmm.. Mau minum?" Jawab Jeno. Yeji mengangkat kepalanya lagi kearah Jeno yang sudah memperhatikannya sedari tadi lalu mengangguk. Jeno berdiri dari kursi makan dan mengambil gelas baru. "Dingin? Hangat?" "D-dingin." Yeji menjadi salah tingkah saat Jeno datang membawa segelas air dingin itu padanya. "T-terima kasih." Jeno mengangguk dan menumpukan sebelah tangannya di meja makan. "Minum." Perintahnya yang langsung dilakukan oleh saudarinya. Jeno meniti wajah bulat itu. Rambut gadis itu terikat satu kebelakang dan hanya menyisakan beberapa helai rambut halus membingkai wajahnya. Mata Jeno menangkap bekas luka didahi gadis itu. Itukah bekas luka dari penculikan yang Bomin bilang? Jeno memperhatikan tubuh yang berdiri kikuk di depannya. Shuhua bilang sekarang Yeji sudah lebih berisi. Membuat dengkus halus keluar dari hidung Jeno. Tubuh ini begitu kurus untuk Jeno dan dulu lebih kurus dari ini? Jeno tidak mau membayangkan karena jantungnya akan sesak lagi. Yeji yang merasa diperhatikan begitu dalam oleh saudara pertamanya berdiri canggung dan menghabiskan air minum yang ada ditangannya seolah bisa ikut meluruhkan gugup yang melanda. Helaan nafas Jeno terdengar membuat Yeji refleks melihat ke arah Jeno dengan alis terangkat seolah bertanya 'ada apa?' "Besok ada waktu?" Yeji mengerjap bingung sebelum mengangguk ragu. "Kenapa?" "Can we talk? Sepulang sekolah." Tak langsung menjawab. Jeno menatap manik hitam itu dengan tatapan menelisik mencari kisi-kisi akan apa yang akan pria ini bicarakan besok. Tapi ia tidak menemukan apapun. Ia hanya menemukan keseriusan disana. Yeji mengerjap lagi dan mengangguk. "Besok tunggu di studio musik sekolah." Ujar Jeno yang mengambil gelas kosong ditangan Yeji yang mengangguk. "Mau minum lagi?" Tawar Jeno dengan senyum tipis yang membuat jantung Yeji heboh tak karuan. Yeji menjawab dengan anggukan lalu mengambil teko kaca dan mengisinya penuh setelah Jeno mengisi air di gelas. "Terimakasih." Ujar gadis itu lagi dan mencoba membawa gelas besar penuh dan teko kaca penuh itu bersamaan. Jeno tersenyum lagi melihat ekspresi kesusahan Yeji sebelum mengambil teko kaca dan membantu gadis itu membawanya. "Kamar?" Yeji lagi-lagi hanya bisa mengerjap lalu mengangguk karena gugup dengan sikap tak biasa dari Jeno. Ada apa dengan Jeno?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD