Pagi harinya masih di meja makan yang sama. Namun dengan keadaan yang berbeda.
Yeji yang kemarin sumringah sekarang terlihat murung dengan wajah agak membengkak membuat Jeno merasakan tinjuan tak kasat mata di hatinya. Gadis itu menangis sepanjang malam.
Beberapa kali pria itu mencuri pandang dengan rasa bersalah pada gadis di sebelah kirinya.
Jeno menghela nafas berat.
Ck...
Seharusnya dia tidak perlu peduli.
Tapi..
Ah, sudahlah.
Sekarang Jeno tidak membawa motornya. Dia sedang tidak mood.
Wah... Hebat sekali... Dia bisa bad mood dan gelisah karena pertengkaran kemarin malam.
Rasa bersalah itu menyiksa. Dia juga merasa seperti pengecut. Tadi dia ingin meminta maaf tapi tidak mungkin saat mereka di meja makan, kan?
Setelah pertengkaran mereka, Jeno berdiri lumayan lama di depan pintu kamar gadis itu. Menyandarkan kepalanya pada pintu kayu jati berwarna putih itu diiringi dengan isak tangis dari dalam kamar.
Tapi Jeno yang dikenal berani berubah menjadi pengecut. Dia terlalu ragu untuk masuk.
Well, alasannya karena dadanya sudah cukup sesak karena kejadian di gudang dan nyatanya berdiri di pintu itu juga hanya menambahkan sesak.
Saat ia tak mampu lagi mendengar tangisan itu, Jeno memilih masuk ke kamarnya.
Pagi harinya Jeno yang tidak bisa tertidur sama sekali, sudah bersiap ke sekolah sejak matahari baru muncul malu-malu hingga hanya rona orange nya yang terlihat di cakrawala.
Pria itu membuka pintu kamarnya lebar. Satu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Lalu duduk sambil mengalihkan pikirannya dengan bermain gitar.
Menunggu pintu di seberang kamarnya terbuka melalui melodi merdu namun abstrak senar gitar yang ia petik.
Klek!
Begitu pintu kamar di seberang kamarnya terbuka, ia melanjutkan bermain gitar nya sambil terheran-heran karena jantungnya tiba-tiba berdentum heboh.
Ia melirik sedikit pada gadis yang sempat melihatnya sebentar. Sebentar sekali. Mungkin hanya satu detik. Sebelum berlalu.
Bagaimana caranya untuk meminta maaf jika terlihat sekali gadis itu akan ada dalam fase menghindar dari-.
"Hyung!!!!"
Jeno terkesiap dari lamunannya lalu menatap tajam pada Jisung. "Jangan teriak!"
"Kalo Hyung ngedengerin, gue juga ga akan teriak." Bela adiknya yang Jeno jawab dengan decakan.
"Ada apa?"
"Hyung yang ada apa? Lamunin apa pagi-pagi gini?" Jisung berbalik nanya.
Jeno lagi-lagi menghela nafas beratnya. "I f****d up."
"Maksudnya?"
"We fight."
"Who?"
"Me and Her."
"Her?"
"Ck Yeji!! Pinteran dikit kek. Masih pagi lo udah bikin mood gue makin jelek."
Jisung tertawa sambil menghindari cubitan Jeno di pinggangnya.
"Kok bisa berantem? Kayak udah deket aja sampe berantem segala." Cibir Jisung.
"Entahlah."
Jisung melirik kakaknya yang menumpukan siku pada jendela mobil sambil mengurut pelipisnya.
"Siapa yang salah?"
Jeno hanya mengendikkan bahu.
"Kayaknya Hyung yang salah deh." Melihat gelagat kakaknya yang seperti itu jelas Jisung paham yang terjadi.
Kakaknya pasti merasa bersalah.
Tapi tidak tau kalau karena Yeji, Kakaknya bisa uring-uringan seperti ini.
Jisung melirik lagi pada Jeno yang memundurkan jok mobilnya lalu meringkuk setelah lagi-lagi berdecak.
Beberapa kali erangan terdengar dari mulut Jeno sampai mereka tiba di sekolah.
"Hyung! Uda nyampe." Ujar Jisung lalu menepuk b****g kakaknya.
Jeno bangkit dari posisi meringkuknya dengan rambut dan seragam berantakan. Bibir pria itu mencebik lalu langsung keluar dari mobil.
Jisung yang ingin menghentikan kakaknya malah urung karena mau seberantakan apapun kakaknya itu tetap tampan.
"Kenapa Jeno?" Tanya Jaemin yang bergidik ngeri karena melihat pria itu seperti sedang merajuk lantas melewati anggota phoenix yang berkumpul di mobil Haechan.
"Gegana dia."
"Kenapa?" Tanya Ryujin sambil mendekati sambil membawakan kopi kaleng untuk Jeno yang segera membuka kaleng itu dan meneguknya hingga setengah.
"Lo deket sama Yeji?"
"Tiba-tiba banget?" Ujar Ryujin sambil mengerjap dan merapihkan rambut Jeno yang berantakan.
"Yuna tau? Lo kan fans nya dia." Jeno menggelengkan kepalanya untuk sedikit mengacak rambut yang Ryujin bereskan terlalu rapi.
Yuna yang mendengar tanya Jeno dan menyebut dirinya fans Yeji hanya tergelak tawa. Tumben sekali Jeno terlihat lucu dengan alis sedikit terangkat dan melengkung turun terlihat gelisah.
"Ga ada yang deket ama dia di Sekolah ini. Terlalu pendiem anaknya." Jaemin menarik Ryujin yang masih sibuk merapihkan baju seragam Jeno yang dasinya miring.
"Ada kok!" Ujar Renjun yang duduk bersila di atas kap mobil.
"Siapa?" Jeno segera menegapkan tubuhnya menghadap Renjun.
"Bomin, lah. Siapa lagi?" Jawab Renjun lalu turun dari kap mobil setelah mengikat tali sepatunya. "Kenapa? Tumben banget nanyain Yeji."
"Iya. Biasanya juga cuek." Tambah Haechan.
"Ck.." Jeno segera meninggalkan member Phoenix yang menatapnya aneh. Pria itu segera mengeluarkan ponsel di saku bajunya dan menelpon Bomin.
Dia akan mencari tahu lebih banyak tentang gadis itu terlebih dahulu baru setelahnya ia akan meminta maaf.
"Jeno? Ada apa, Bro?" Suara Bomin terdengar.
"Ada waktu gak nanti pulang sekolah?"
"Ada kok. Emang mau apa?"
"Ke Bluefire, ya? Ada yang pengen gue omongin."
"Okay."
?
"
Yeji! Sini!" Teriak Shuhua memanggil Yeji yang mengernyit heran. Belum sempat Yeji menjawab, tubuhnya yang membawa nampan makanan sudah ditarik terlebih dahulu oleh Yuna yang datang dengan senyuman lebar.
"Ayo, Eonnie!" Chaeryeong juga ikut mendorongnya pelan dari belakang.
Yeji mau tidak mau ikut kedua adik kelas itu menuju meja dimana ada dua saudaranya juga disitu. Tatapannya lagi-lagi bertemu dengan pualam hitam pekat yang agak terbelalak kaget.
Dia bingung harus bersikap seperti apa karena setelah kejadian semalam semuanya terasa canggung dan serba salah.
Ada rasa bersalah mengingat bagaimana Bunda Jeno mengakhiri hidupnya karena perselingkuhan yang ibunya lakukan. Tapi perselingkuhan itu tak bisa hanya menyalahkan salah satu pihak, karena ayah Jeno sendiri juga ikut andil.
Astaga Yeji... Mencari pembenaran lagi...
Yeji memutuskan pandangannya pada manik hitam itu lalu menunduk karena ia entah mengapa jantungnya berdetak tak karuan.
Ck.. Selalu seperti ini. Kalau sudah seperti ini dia harus apa? Dia tidak bisa memulai percakapan terlebih dahulu.
"Weh, Yeji udah duluan aja. Padahal biasanya bareng." Bomin datang sambil menepuk pundak Yeji yang tersenyum tipis.
"Pulang sekolah jadi, Jen?"
"Hah?" Jeno yang mendengar tanya Bomin mengerjap saat tanpa sadar dia memperhatikan gadis yang menunduk karena tahu ia perhatikan.
"Pulang sekolah mau kemana emang?" Haechan bertanya sambil mengunyah hashbrown.
Jeno megerdarkan sorot matanya pada teman-teman yang sudah menatapnya dengan mulut yang sibuk mengunyah. "Bluefire. Ada yang harus di omongin."
Chenle mengernyit. "Dan gak ngajak kita?"
"Bukan masalah penting."
"Terus kenapa cuma berdua kalo gak penting? Kenapa juga harus di bluefire kalau gak penting." Cerca Somi.
Jeno menghela nafas yang kesekian kali. Pria itu menaruh sendoknya dan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Memberikan sorot jengah pada seluruh mata yang melihat padanya, kecuali satu orang yang masih menunduk. "Tinggal ikut doang ribet amat sih. Lagian tanpa gue ngajak kalian, pastinya kalian nimbrung kalo gue ngobrolnya di markas."
"Gak usah nyengir! Jelek!" Jeno melempar tomat ceri pada Shuhua.
"Eh, ngomong-ngomong jelek ya, Jen. Kemarin kan lo gak pulang, ada kejadian lucu di Markas." Shuhua melipat tangannya di meja dan memajukan tubuhnya siap untuk bercerita heboh.
"Jadi Jaemin itu kemarin lagi nyoba kamera baru dia dan nyoba bikin vlog gitu. Kita semua tuh biasa kayak orang gila, semua pose aneh kita keluarin. Sampe pas Renjun kan emang lagi sombong mode tuh. Dia maen billiards sama Chenle dan ternyata menang terus dia ceremony sambil muter-muterin stik billiardsnya tanpa sadar ada Haechan lagi duduk maen catur dibelakang. Akhirnya si stik itu kena kepala Haechan dong! Pas banget Jaemin videoin itu semua. Sumpah! Itu lucu banget. Muka Haechan jelek banget waktu ketabok stik billiards."
Meja itupun riuh dengan tawa tak terkecuali Yeji yang tersenyum.
"Sakit ya i***t! Bukan lucu! Liat nih, masih ada bekasnya!" Haechan menunjuk garis kemerahan itu di pipinya.
Jaemin lalu mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Jeno. "Liat deh! Ngakak sumpah mukanya." Jeno melihat video Jaemin hanya tertawa.
Memunculkan dua bulan sabit telungkup yang khas. Membuat Yeji tertegun karena untuk pertama kalinya dia melihat senyuman indah itu.
Sangat indah. Tidak menyangka Jeno akan punya sisi semenggemaskan itu dibalik sikap dinginnya.
"Ih lo sendirian aja liatnya. Yeji juga kasih liat tuh." Renjun menaik turunkan alisnya pada Jeno yang melotot kesal.
Jeno beredeham dan melihat gadis itu yang mengerjap juga. Canggung sekali dua korban orangtua ini. Akhirnya Jeno mendekat dan mencondongkan layar ponsel Jaemin agak kearah Yeji agar gadis itu bisa lihat.
Jeno juga ikut melihat lagi karena tadi ia belum sampai saat Haechan kena pukul stik billiard. Baru sampai Chenle yang merajuk karena kalah dan diledek hyung dan noona nya.
Mereka berdua menonton itu sambil tersenyum geli dan gemas lalu saat apa yang Shuhua bicarakan tadi muncul, tawa mereka pecah.
Jeno yang tertawa sambil memukul meja dan Yeji yang tertawa sambil bertepuk tangan membuat orang-orang yang ada di meja itu tertegun kali ini.
Bahkan Jaemin sudah mengeluarkan kamera barunya lagi dan merekam itu semua.
Sadar diperhatikan, mereka berhenti tertawa heboh saling tatap sebentar lalu Jeno bertanya. "Kenapa?"
"Kalian mirip." Ujar Jisung.
Yeji dan Jeno hanya mengernyitkan dahi tidak paham.
Ryujin menambahkan. "Waktu kalian senyum bener-bener mirip."
Jaemin berdiri lalu mengambil ponsel di tangan Jeno dan menggantinya dengan kamera yang ia gunakan untuk merekam tadi.
Jeno dan Yeji yang penasaran pun menonton itu dan ikutan terkejut karena mereka memang terlihat mirip terlebih ketika mereka tersenyum.
"Matanya sama-sama ngilang!" Ujar Yuna.
"Eh, Ji! Tanggal lahir kamu juga kan barengan sama Jeno!" Bomin yang mengerjap takjub.
"Beneran?" Member phoenix begitu antusias.
"Eh iya juga, ya! Baru sadar lho." Yuna, Chenle dan Ryujin juga tersadar.
"Iya.. Soalnya setiap tanggal 23 April gue bingung karena nyiapin kado buat 2 orang."
"Wah!! Kalo orang gak tau pasti kalian di kira anak kembar." Ujar Shuhua tanpa peduli dua orang itu sudah salah tingkah.
Tawa kembali menggema lalu terhenti saat seseorang datang membawa sekotak s**u strawberry.
"Ji, maaf buat yang waktu itu." Theo lah yang datang. Membuat Yeji mengerjap lalu tersenyum kaku.
"Iya, udah gue maafin."
Theo tersenyum dan memberi sorot sengit pada phoenix yang ikut menatapnya sengit.
"Sialan." Batin Jeno.
Sekarang dia benar-benar merasa seperti pengecut.