Lost it, Damn it

2215 Words
Dengan sangat amat terpaksa, disinilah Jeno berakhir. Duduk di meja makan persegi panjang yang dipimpin oleh Tuan Besar Lee. Jeno duduk di sebelah Jisung dan di hadapannya ada saudari tirinya. Gadis itu terlihat begitu sumringah melihat kehadiran kedua saudara tirinya di meja makan. Terlihat juga kedua orangtua itu mencoba membangun suasana yang hangat. Meski hanya di tanggapi oleh Jisung dan Yeji. Sedangkan Jeno hanya menikmati makanannya sambil sesekali mengangguk pura-pura mengerti. Tubuhnya mulai memanas dan memberontak. Kenapa sarapan kali ini lama sekali?! "Kamu setuju, kan Jeno?" Mendengar namanya dipanggil, Jeno mendongak dan menyadari seluruh pasang mata mengarah padanya. Ia menaikkan alis tanda tak paham. Bagaimana ia bisa paham? Mendengarkan saja tidak! "Kita lagi ngomongin soal acara amal di panti asuhan yang ada di Daegu." Yeji membantu Jeno. "Apa pendapat yang aku kasih penting?" Ujar Jeno tidak peduli dan melanjutkan kegiatannya menyantap smoked salmon sandwich. "Tentu saja pendapat kamu penting, Sayang." Ujar Mama Yeji ramah dengan binar antusias. Namun keantusiasan itu hanya terjadi sebelah arah. Jeno tidak menyukai panggilan yang ibu tirinya beri. Hanya Bunda yang berhak memanggilnya seperti itu. Bundanya. Ibu kandungnya. Berani sekali wanita itu memanggil Jeno demikian setelah apa yang ia perbuat pada Bunda. "Jangan memanggilku seperti itu, Nyonya Hwang. Aku memperingatimu." Kalimat itu ia ucapkan dengan tatapan mata yang menghunus tajam seperti pedang. Suasana hangat yang dengan susah payah dibangun, terkalahkan oleh dinginnya kalimat yang Jeno keluarkan. "Kenapa ga boleh? Harusnya memang seperti itu." Ujar Ayah Lee yang menatap Jeno ikut memberi sorot memperingati. "Apa kalian benar-benar berpikir akan semudah itu aku menerima semuanya?!" Jeno hanya tak habis pikir pada dua orang dewasa di hadapannya ini. Jisung menghela nafas dan menurunkan sendoknya. Dia harus berjaga. Kakaknya lagi-lagi terpancing emosinya. Kakak dan Ayahnya tak pernah tidak berdebat sekali saja. Ribut adalah hobi mereka berdua. "Kalau begitu jangan mempersulit!" Bentak Ayah Lee. "Lalu bagaimana cara aku membuatnya mudah, Tuan?" Jeno sama sekali tak gentar mendengar bentakkan tersebut. "Mulai dari bagaimana kamu memanggil kami. Anak mana yang memanggil ayahnya dengan sebutan 'Tuan'?" Ayah Lee menatap Jeno sengit. Tak bisakah putra pertamanya ini menurut sehari saja? "Karena sejak awal sosok Ayah tidak pernah aku temukan dalam diri anda!" "Lihatlah! Kamu selalu mempersulit keadaan. Apa sesulit itu untuk kamu bekerja sama membuat keluarga yang normal?! Mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi. Dan jangan pernah panggil ibu tiri kamu Nyonya Hwang lagi karena sekarang dia sudah menjadi bagian dari keluarga Lee. Panggil dia Mama." Jeno mencoba tak ambil pusing dan mengambil soft boiled egg untuk mengalihkan amarah yang mengumpul. "Awas saja kalau besok kamu masih menyebut kami-" Sialan! Ayahnya tidak bisakah melihat amarah di wajah Jeno? Kenapa malah melanjutkan dan.. Prangg!! Nafas pemuda Lee itu memberat dan pekikan terkesiap itu terdengar ketika dengan kasar ia memecahkan telur yang ia ambil dengan piring kecil tempat keju hingga telur dan piring kecil itu ikut pecah berantakan. "LEE JEN-" "Hyung-" "Ssshht... Diam." Jeno mengangkat jari telunjuknya lalu membawanya kedepan bibirnya yang tipis tapi sialnya seksi itu. Yeji bisa melihat telinga Jeno memerah dengan urat di leher yang menyembul. Sangat jelas kalau pria itu benar-benar sedang menahan emosinya yang siap meledak lebih dahsyat lagi. Jeno memandangi satu-satu penghuni rumah yang duduk di meja makan dengan senyuman tipis. "Lihat?" Ujarnya lalu menunjuk kekacauan yang ia buat. "Ini yang akan terjadi jika kalian mencoba untuk meruntuhkan penolakan seseorang secara paksa." Lalu mengambil satu telur lagi dan mengambil sendok untuk mengetuknya pelan. "Bisa kalian samakan proses penerimaanku dengan telur ini? Kalian hanya akan menghancurkannya jika memaksa. Karena terkadang yang menghancurkan cangkang terkeras bukanlah kekuatan tapi kelembutan." "Pelan-pelan, perlahan.. Karena kalian tidak pernah tahu serapuh apa isi cangkang itu." Yeji diam-diam tersenyum mendengar perumpamaan itu. Ya.. Pelan-pelan.. Ia hanya butuh waktu. Mereka hanya butuh waktu. "Aku duduk disini berati aku sudah bekerja sama untuk membangun keluarga normal yang kalian maksud." Jeno meletakkan telur dan sendok ditangannya lalu mengambil serbet untuk membersihkan tangannya. "Alasan aku duduk disini sekarang adalah karena adikku ingin. Jadi pastikan kalian juga bekerja sama untuk mengerti. Panggilan Mama terlalu awal untukku. Kejadian itu masih terlalu baru untuk dilupakan." Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya. Sepertinya dia tidak akan ke sekolah hari ini. Mood nya sudah benar-benar hancur. Jadi kini pria itu mengambil jaket kulit hitam dan juga kunci kuda besinya. Karena kejadian tadi, ia jadi rindu Bundanya. ? "Jeno gak ke sekolah?" Tanya Yeji pada Jisung. Saat ini mereka sedang duduk di kantin. Dia tidak melihat pria itu di sekolah. Ia pikir Jeno pergi ke sekolah tadi. "Iya, dia kemana?" Tanya Renjun. "Gue telpon juga ga diangkat." Sambung Haechan Jisung menghembuskan nafasnya lalu mengambil ponsel dan menelpon Jeno. Dia pikir juga kakaknya ke Sekolah jadi dia belum sempat untuk menelpon. Beberapa detik pandangan itu hanya terfokus pada Jisung penasaran diangkat atau tidak. "Halo, Hyung?" Sepertinya Jeno menjawab panggilan Jisung dan menyebabkan Haechan dan Jaemin misuh-misuh tidak jelas karena panggilan mereka tidak di jawab oleh Jeno tadi. "Dimana?" Yeji masih terfokus pada Jisung yang menanyakan keberadaan Jeno. "Busan? Oh.. Ketemu Bunda?" Jisung terlihat mengangguk beberapa kali lalu mematikan telponnya. "Bilang apa si Bos?" Tanya Chaeryeong. "Lagi di Busan. Makam bunda." "Gitu doang?" Ryujin mengerjap tak percaya. "Iya. Cuma minta bawain tas dia aja di Bluefire. Soalnya Jeno Hyung mau langsung pulang ke Rumah nanti malem." Jadilah Yeji duduk di window's bench nya, duduk membaca novel romance sambil menunggu saudara tiri pertamanya datang. Sudah jam delapan malam tapi belum ada motor sport putih itu masuk. Hingga akhirnya satu jam kemudian, Jeno datang yang entah mengapa menimbulkan semerbak suka dalam hati Yeji. Gadis itu sekarang berdiri di pintu kamarnya. Ragu untuk keluar. Dia juga merasa aneh untuk menyambut. Seolah mereka sudah dekat saja. Yeji terlalu antusias pada kenyataan Jeno mau mencoba menerima kehadirannya. ? Yeji melihat Jeno yang baru masuk rumah tidak langsung ke kamarnya. Yeji memberanikan diri dan ikut masuk ke gudang dengan pencahayaan kuning hangat itu. Disana ia melihat Jeno sedang memilih beberapa wine di bagian pojok ruangan dan memasukannya ke dalam tas. "Kamu sudah pulang?" Tanya Yeji agak canggung. Dia tidak akan pernah terbiasa dengan hawa dingin Jeno. "Hmm." "Abis darimana tadi siang?" Yeji mengeluarkan seluruh keberanian yang ia punya untuk berbicara pada Jeno yang tak menoleh sedikitpun ke arahnya. Jeno mengendikkan bahu sebagai jawaban. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tuj-. "Banyak banget. Buat apa?" Yeji mengernyit heran. Ada 7 botol wine di tas Jeno dan pria itu terlihat masih memilih tandanya akan mengambil lebih banyak lagi. "Sebanyak itu mau kamu apain wine nya?" Suara Yeji agak meninggi. Bukan bermaksud apa-apa dia hanya khawatir. "Lee Jen-" "Apa?!" "Mau bawa kemana wine sebanyak itu?!" "Apa itu termasuk urusan lo?" "Bukan.. Tapi buat apa? Kamu gak-" "Harus berapa kali gue bilang untuk gak ikut campur?! Gue harus gimana biar lo paham?!" Jeno tidak suka urusannya diinterupsi seseorang. "Aku cuma khawatir." Bela gadis itu dengan mata memerah. Bentakkan Jeno sekarang menjadi kelemahannya. Ia selalu siap menangis mendengar nada tinggi suara Jeno. "Apa manfaatnya lo khawatirin gue? Apa gue minta itu? Gue bahkan gak butuh rasa khawatir itu dari lo." Yeji mengerjap. Manik hitam pekat yang semakin menggelap itu menggentarkan keberanian Yeji. Sedangkan Jeno yang melihat Yeji hanya diam memilih melanjutkan kegiatan memilih wine nya. Ini untuk stok di bluefire. "Cukup. Itu udah banyak." Tak Jeno dengarkan ucapan saudari tirinya. "Cukup Lee Jeno! Wine sebanyak itu buat apa?!" Teriakan yang berhasil mengalihkan atensi Jeno. Sekaligus memancing emosinya untuk naik lagi ke permukaan. "Mau lo itu apa?!" Yeji merasa jika dia tidak mengeras memberi kekuatan sedikit, cangkang itu akan terbuka untuk waktu yang sangat amat lama. Atau lebih parahnya tidak terbuka sama sekali. Jadi dengan seluruh keberanian dan kekhawatiran yang ada dia mempersiapkan diri untuk mendengar dan mencari tahu apa alasan ia begitu dibenci. Karena jika hanya masalah penerimaan saudara tiri, bukankah kebencian yang Jeno berikan padanya sedikit berlebihan? Jeno juga bukan anak-anak yang membenci ia dan ibunya karena masalah sepele. "Aku cuma mau kita seperti saudara pada umumnya! Apa yang bikin kamu begitu membenciku?! Aku salah apa?!" Sialan!! Yeji tanpa sadar menangis entah karena ketakutan atau memang karena jantungnya yang selalu nyeri setiap menghadapi amarah Jeno. "Lo mau tau lo salah apa?! Alasan kenapa gue benci kalian?! Kenapa gue gak bisa terima lo dan ibu lo gitu aja?!" Jeno mengepalkan tangannya erat untuk menahan emosi yang mencoba mengambil alih kewarasannya. Jangan! Jangan ingat kejadian itu lagi! Tapi.. "Karena setiap gue liat kalian yang ada di otak gue adalah bayangan tubuh Bunda udah bergantung gak bernyawa di kamarnya!" Urat-urat itu menonjol di leher Jeno yang memerah karena amarah. Info baru yang membuat Yeji benar-benar termangu. Yeji tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Dia pikir... Kalau seperti ini maka, "Lo mau gue perjelas karena apa?" Jeno menyeringai lalu mencengkram kuat dagu gadis dihadapannya yang sudah menangis tanpa suara. Emosi kembali menguasainya. Bayangan itu. Bayangan yang selalu menyiksanya. Yang ia coba lupakan namun tak pernah berhasil. "Karena ibu lo! Bertahun-tahun Bunda ngerasain sakit dan selalu nahan semuanya ketika suami yang nikahin dia selingkuh secara terang-terangan di depan dia! Di depan Jisung! Didepan gue!" Ia menatap dalam manik hazel yang memancarkan amarah juga ketakutan itu. "Sekarang lo bayangin jadi gue. Bayangin ibu jalang lo itu mati gantung diri dan lo liat itu dengan dua mata lo sendiri tanpa bisa ngapa-ngapain!" "Dan kamu lampiasin marah itu semua ke aku?! Aku bahkan gak tau apapun! Itu keputusan yang mama ambil-" Balas Yeji yang yang tak kalah menggebu karena sudah tak sanggup lagi menerima penolakan dan sorot kebencian dari Jeno. Hatinya terlalu sakit. Bahkan bisa ia bilang sakitnya berlebihan. "Ya! Karena keputusan yang ibu lo ambil, gue dan Jisung harus kehilangan Bunda-" "Lalu apa aku dan mama harus diem aja saat diperlakukan seperti hewan sama Papa?!" Karena jika hanya di lihat dari sudut pandang Jeno, kehadirannya adalah sebuah kesalahan. Karena itu Yeji mencoba untuk memberikan Jeno sudut pandang hidupnya. Hidup gelapnya. Tanpa ada harapan sama sekali didalamnya. Jeno mengernyit tak paham. Gadis dihadapannya ini dengan wajah memerah melepas cengkraman Jeno didagunya. "Aku tahu, Jeno. Aku tidak pernah membenarkan apa yang mama lakuin! Tapi apa salah kalau aku menyebut itu sebagai cara untuk menyelamatkan diri?!" "Aku gak tau dan aku minta maaf untuk apa yang terjadi sama Bunda. Aku juga sekarang paham kenapa kamu benci aku dan mama." Dua pualam dengan perbedaan warna yang begitu kontras itu saling berpandangan dalam. Memberi sorot kebencian namun tanpa sadar mencoba untuk saling menyelam kedalam dalamnya pikiran masing-masing. Memahami luka yang memunculkan benci. "Tapi Jeno, aku...." Gadis itu mengerjap karena air mata yang mengalir semakin deras mengiringi pertengkaran mereka. "Apa kamu pernah rasain gimana rasanya disiksa sama Ayah kamu sendiri? Ayah yang sebelumnya adalah pelindung, orang yang hibur aku saat aku sedih tiba-tiba tanpa alasan yang jelas mulai memukuliku dan berubah jadi iblis yang begitu aku takuti." Memori akan hari-hari membahagiakan itu masih tercetak jelas diingatannya bahkan saat Ayahnya mulai berubah ia mencoba menyangkal kalau orang yang memukulinya adalah orang yang sama dengan Ayah yang menggendongnya saat ia jatuh ketika berlari mengejar kupu-kupu. "Tidak ada seharipun aku hidup tenang karena setiap harinya aku hanya berdoa untuk tetap hidup dan berharap Tuhan mau ngurangin rasa sakit akibat pukulan-pukulan itu." Terisak, Yeji berjongkok dan membekap wajah basahnya dengan telapak tangannya. Ia sayang pada Ayahnya. Sungguh. Tapi sekaligus membenci. Dia salah apa sampai berhak mendapatkan pukulan-pukulan itu? Dikurung tanpa di beri makan. "Perselingkuhan Mama salah. Tapi aku hanya ingin hidup, Jeno." Lirihnya. Yeji terisak hebat sampai tubuh kurus itu bergetar sedangkan Jeno... Jeno... Pria itu diam. Merasa bersalah. Merasa Bodoh. Ia tidak tahu kalau Ayah kandung Yeji adalah orang yang abusive. Ah, apa yang ia tahu tentang gadis itu? Tidak ada.. Tapi dengan begitu idiotnya ia menyalahkan keberadaan Yeji, terus menyakitinya dengan kata-kata kasar dan sorot kebencian tanpa tahu seberat apa beban yang sebenarnya di tanggung oleh Yeji. Bodoh. Gudang penyimpanan wine yang tadi begitu ramai karena dua insan yang saling mengungkapkan luka menjadi sedikit senyap namun memilukan karena isakan Yeji yang memegangi d**a nya sesak. Cukup lama hingga Jeno kembali tertarik ke dunia nyata saat gadis yang tadinya berjongkok sekarang bangun dengan wajah basah, memerah dan agak sedikit membengkak. Dadanya berdenyut nyeri lagi. Ada apa dengan dadanya? Kenapa selalu sakit melihat kesedihan dan ketakutan di wajah bulat itu? Separuh jiwanya tak pernah rela ada airmata yang mengalir dari mata indah itu tanpa Jeno sendiri ketahui alasannya. Mata indah. Hal yang membuat Jeno terpaku saat pertama kali melihatnya. Sebelumnya ia pikir rasa nyeri dan sesak itu hanya kebetulan. Tapi denyut itu ada hanya untuk Yeji. Jeno yakin hatinya yang sudah kebas kembali normal. Tapi kenapa karena gadis ini? "Maaf kalau aku terlalu memaksa. Harusnya aku dengerin jelas-jelas apa yang kamu bilang di meja makan tadi. Kali ini aku ga akan maksa. Maaf." Senyuman. Gadis itu memberi Jeno senyuman yang tak sama sekali membahagiakan. Lara. Miris. Hanya itu yang Jeno lihat. Gadis itu mengelap wajah basahnya dengan lengan kaos putih yang ia gunakan. Tangan Jeno mengepal karena rasa ingin ikut menghapus air mata itu menguasai tangannya. Tapi tentu Jeno tidak melakukan itu. Yeji menatap Jeno sebentar dan berbalik pergi meninggalkan pemuda yang mematung dengan serangan rasa bersalah. Kata maaf sudah ada diujung lidah. Kaki sudah siap melangkah. Tapi... Entahlah.... Jeno hanya duduk dikursi didalam gudang penyimpanan wine itu dan menyugar rambutnya kasar. Bodoh! Benci membutakan Jeno. Sangat bodoh. Sudah berapa kali ia mengutuk diri sendiri bodoh?? Ada yang mau menambahkan? Jeno siap menerimanya dengan senang hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD