Melihat kepergian kedua saudaranya, Jeno berjongkok dan menyugar rambutnya kasar. Jantungnya berdenyut nyeri melihat ekspresi terkejut Yeji karena bentakan yang ia beri.
Kenapa ia harus membentak?
Ia benci ketika ayahnya selalu membentak bunda. Tapi apakah alam bawah sadarnya justru tanpa sadar mengikuti?
Ck..
Tapi ia tidak pernah bisa mengontrol amarahnya pada gadis itu. Terlebih ibunya. Si wanita jalang.
Katakan Jeno kasar. Tapi itulah yang sesungguhnya terjadi.
Kebencian itu datang bukan hanya karena takut kasih sayang sang ayah terbagi saat ia mempunyai saudara tiri. Karena dari awal kasih sayang itu memang tak ia dapat dari ayahnya.
Kebencian itu juga bukan datang dari sikap defensifnya pada tabiat ibu tiri yang jahat.
Bukan.
Kebencian itu murni karena selama ia hidup dan bernafas, sang bunda selalu menangis.
"Kita pergi aja, Bunda.. Ayo.. Kemanapun Jeno sama Jisung ikut, asal jangan disini. Bunda gak capek nangis?"
Menangisi suami yang tak pernah mencintainya. Tak pernah peduli bercengkrama dengan selingkuhannya walaupun ada Bunda, Jeno dan Jisung.
Sampai bunda tak bisa menahan itu semua dan memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara konyol.
Bodoh!
Jeno mengerjap lalu menggelengkan kepala keras. Kenapa ia harus ingat kejadian itu lagi?!
"Jen, lukanya obatin dulu. Abis itu lo istirahat." Ryujin mendekat dan menepuk pelan bahu Jeno.
Jeno melirik sebentar ke arah sahabatnya lalu menghela nafas lagi.
"Gue bisa obatin sendiri. Kalian juga istirahat aja." Pemuda itu bangkit dan pergi ke kamarnya di Bluefire.
Mungkin tidur bisa menghilangkan sedikit sesaknya. Namun belum kakinya melangkah lebih jauh, ia lebih dulu melihat sesuatu di luar dinding kaca pembatas dapur dan taman belakang.
Kakinya melangkah kesana. Dingin dari rumput yang berembun serta aroma mawar yang bermekaran entah kenapa membuat Jeno kian sesak.
Di hamparan bunga itu ia terus terbayang wajah Bundanya yang menangis juga wajah Yeji tadi. Tanpa sadar matanya sendiri sudah basah siap membuat lintasan di pipinya.
Jeno berlutut di hadalan hamparan mawar merah dan putih itu. "Kenapa nyerah, Bunda? Kalau Bunda capek harusnya Bunda bilang biar kita pergi jauh bareng-bareng. Kenapa malah-"
Tak mampu melanjutkan kalimatnya, Jeno justru tercekat akibat isak yang mendesak keluar.
?
Jisung melihat Yeji yang masih bersendu-sedan di sisinya. Kakak tirinya itu menangis tersedu begitu sampai di mobil.
Jisung paham. Yeji pasti sangat ketakutan melihat Jeno tadi. Jangankan Yeji yang baru pertama kali melihat, Jisung yang sudah berkali-kali melihat saja masih merasa takut.
Tapi mungkin rasa takut yang kakak tirinya itu rasakan lebih banyak karena Jeno memang membentak dia langsung.
Sedangkan Jisung hanya mendengar bentakan Jeno tapi tidak pernah menjadi target bentakan itu.
"Jeno Hyung lagi capek. Dia ga biasanya gitu." Jisung buka suara karena tak tahan mendengar tangisan itu.
Ck..
Trauma yang ia dan Jeno punya memang selalu bereaksi pada Yeji dan ibunya. Jisung masih bisa menahan sedangkan Jeno selalu meledak-ledak.
Lagi. Ada alasan juga kenapa Jeno begitu sensitif jadi Jisung tidak bisa menasehati kakaknya itu untuk sedikit mengatur amarah setidaknya pada Yeji.
Tak terasa ia sudah sampai di rumah besar. Didepan gerbang ia lihat ayahnya dan juga Nyonya Hwang baru pulang.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Nyonya Hwang ketika melihat Yeji yang sudah tak mengalirkan air mata tapi masih menyisakan isak, wajah memerah dan basah.
"Nggak papa, Ma." Bohong Yeji.
Sedangkan Tuan Besar Lee sudah menatap Jisung tajam. "Kamu apain Kakak kamu, Jisung?!"
Jisung menjawab dengan memutar bola matanya.
"Jisung gak ngapa-ngapain aku. Aku tadi jatuh dan tangan aku sakit makanya aku nangis."
"Jangan bohong, Yeji. Atau.... dia ganggu kamu lag-" Yeji menyela ucapan ibunya yang menuduh sang Ayah. Selama tiga bulan ini ia tak pernah lagi melihat ayahnya.
"Bukan. Yeji beneran jatuh."
Tuan Besar Lee menghela nafas dan memegang bahu Yeji dengan tatapan bersalah. "Papa minta maaf, ya? Harusnya tadi papa ga silent hp papa waktu meeting."
Jisung mendengus. Dia dan Jeno bahkan tidak pernah mendapatkan perhatian itu. Merasa muak, Jisung memilih pergi.
"Mau kemana kamu?" Tanya Tuan Lee. "Jangan kira papa gak tau kamu dan Jeno gak pernah ada di rumah semenjak kedatangan kalian."
"Ga ada alasan buat aku dan Hyung pulang kesini."
"Kenapa ga ada?! Ini rumah kalian. Kalian harusnya pulang kesini!"
"Alasan aku dan Hyung tinggal disini adalah Bunda. Sekarang Bunda sudah ga ada jadi untuk apa kami pulang kesini?"
"Hyung kamu yang membuat Yeji menangis?"
"Bukan, Pa. Yeji tadi ketakutan mau pulang tapi ga ada yang bisa Yeji hubungin. Untung ada Jisung yang anter Yeji pulang." Bohong Yeji.
Dia tidak mau dikira tukang adu oleh saudaranya.
Sudah cukup ia dibenci. Tidak perlu menambah kapasitas benci Jeno padanya, kan?
"Tadi kamu bilang kamu jatuh." Ujar Nyonya Hwang.
"Iya. Yeji ketakutan makanya lari dan karena gelap Yeji gak liat ada median jalan makanya keselandung." Alibi Yeji.
Kedua orang tua itu menghela nafas. "Yaudah Yeji kamu istirahat duluan. Ga ada yang luka, kan?"
"Ga ada."
"Yaudah. Masuk kamar."
Yeji berjalan lambat karena ingin mendengar apa yang orangtuanya katakan pada Jisung.
"Papa minta kalian pulang itu artinya tinggal disini. Kalau kalian tinggal diluar apa bedanya dengan kalian waktu tinggal di amerika?" Suara Ayah Lee melembut.
"Sudah Jisung bilang, kan? Aku dan Hyung-"
"Bisa kalian tidak keras kepala?! Kenapa kalian sangat keras kepala?! Kalian sama dengan ibu kalian! Keras kepala!"
"Sayang, sudah. Jangan dibentak." Ujar Nyonya Hwang halus sambil menggenggam tangan terkepal suaminya.
"Kalian masih belum bisa menerima Mama? Apa yang harus Mama lakuin biar kalian mau menerima mama dan Yeji?" Lirih Nyonya Hwang.
Jisung hanya menjawab dengan dengkusan pada wajah mengiba di hadapannya.
"Bilang Hyung kamu untuk pulang besok." Perintah Tuan Lee mutlak.
"Gak ma-"
"Ini win-win solution, Jisung. Papa gak masalah kamu main kemanapun sampai jam berapapun asalkan kalian tetap tidur di rumah supaya bisa setidaknya sarapan bareng. Kita coba buat jadi keluarga normal. Ya?" Bujuknya dengan nada mengalah.
Yeji mendengar itu sedikit lega. Ia bisa menggunakan waktu itu untuk mendekatkan diri dengan saudara-saudaranya.
?
Jeno yang mendengar reka ulang pembicaraan dari Jisung hanya mendengus keras.
"Buat keluarga normal?"
Jisung hanya diam menanggapi. Dia sebenarnya bingung.
"Bertahun-tahun kita hidup dan baru sekarang dia ingin membuat keluarga yang normal? Setelah Bunda mati?"
Kadang Jeno berpikir kenapa ibunya mau menikah dengan pria menyebalkan dan tidak tahu diri seperti itu.
Terlihat sekali tidak ada cinta dihubungan yang mereka punya. Tapi kenapa masih mempertahankan rumah tangga yang tidak bernyawa dan hanya menyakiti anak-anaknya?
Entahlah. Jeno bingung harus mencari jawaban pada siapa. Tidak mungkin ia bertanya pada ibunya yang sudah tenang di atas sana.
"Tapi Jen, ga ada salahnya buat nyoba. Lo gak capek hidup sama dendam dan benci kayak gitu?" Ujar Shuhua yang sedang memotong kuku Jisung.
"Kalian gak nger-"
"Ngerti. Jelas kita ngerti. Kita kenal lo gak sebulan dua bulan Jen." Sela Haechan.
"Ya kalau kalian ngerti, ngapain minta gue buat damai sama mereka?"
"Lo yang bilang, kan? Gue damai sama papa dan setidaknya gue gak perlu punya lebam lagi. Bahkan kita bisa deket dan saling kerja sama." Ujar Renjun sambil memakan choco cookies buatan Shuhua.
"Bener, Jen. Gue juga gitu, kan? Walau masih sibuk setidaknya mereka masih telpon gue sekali sehari walau sebentar." Tambah Haechan.
"Lagian mereka duluan yang ngibarin bendera putih lho, Jen. Coba aja dulu. Siapa tau lo bisa sedikit lebih tenang." Jaemin yang sedang entahlah, memeluk Jisung sambil terus mencoba menciumi wajah imut itu. Tak henti walau beberapa kali kena pukulan Shuhua yang merasa kegiatannya terganggu.
Jeno menghela nafas sebelum tatapannya tertuju pada Jisung yang sedang dipeluk Jaemin, kukunya sedang di urus Shuhua dan sedang di suapi apel oleh Haechan.
Agak tersenyum melihat adiknya mendapat perhatian yang banyak dari teman-temannya.
Jeno menghembuskan nafasnya lewat mulut lalu bertanya.
"Lo mau damai sama mereka?" Tanya Jeno pada Jisung.
Karena jika memang Jisung mau berdamai maka ia akan mengalah.
Setelah bunda meninggal ia merasa Jisung adalah tanggung jawabnya.
Semua keputusan yang ia ambil akan selalu ia pikirkan baik-baik agar adiknya itu tak lagi merasakan sialnya terlahir dan hidup dari orangtua yang tak saling mencintai dan menambah daftar kesialan dalam hidup mereka.
"If I say yes, Hyung gimana?" Tanya Jisung. Ia merasa mungkin, dengan cara ini ia dan Jeno bisa sedikit lepas dari sesak yang selalu menjerat.
Mendengar tanya Jisung, Jeno mengusap wajahnya dan mengistirahatkan kepalanya di sofa ruang tamu bluefire.
"Sebagai kakak kamu harus jadi contoh yang baik buat Jisung. Jisung juga harus nurut sama Jeno Hyung. Tegur boleh tapi jangan dipukul. Kalian harus akur. Pokoknya dua jagoan bunda harus jadi orang baik, bertanggung jawab, dan jujur. Kalian kasian, kan? Liat bunda nangis? Jadi pastiin ga boleh ada yang kayak bunda di hidup kalian."
Seketika ingatannya malah teringat pada saudari tirinya.
Wajah sedih dan ketakutan itu.
Baiklah.
Ia akan mencoba demi adiknya.
Demi bundanya.
Meski ia sendiri tak yakin bisa menjaga sikap dan mengontrol emosinya pada ...
Ck.
Dia sangat ingin mengutuk setiap mengingat wanita itu.
Ya tuhan....
Demi Jisung, Jen. Demi Jisung.