Bluefire First Visit

1312 Words
"Gue bilang pergi!!" Theo berteriak dan melayangkan tinjuan di wajah Jeno karena pria itu berdiri di hadapan Yeji seolah ingin melindungi. Jeno agak tersungkur kebelakang karena tinjuan itu. Sobekan baru muncul di wajahnya. Perkelahian kembali terjadi antara keduanya. Tanpa memperhatikan ada yang sudah membekap mulut dengan kepala semakin pening. "Lo yang pergi." Jeno menarik kerah Theo dan mendorongnya ke mobil. "Stop!" Teriak Yeji yang susah payah menata kekacauan pikirannya.. "Kalian berdua berhenti!" Gadis itu berdiri di tengah-tengah dua pria yang siap beradu jotos lagi. Yeji berdiri menghadap Jeno yang memandangnya sedikit sesak melihat wajah memerah dan air mata mengalir tak terkendali. Wajah itu.... Mengingatkannya pada mendiang Bunda nya setiap habis bertengkar dengan sang Ayah. "Berhenti, Jeno.. Bunda gapapa." Jeno mengerjap untuk meredakan sesak yang mendera tiba-tiba, dan langsung menarik tangan gadis itu menjauh dari Theo yang menatap penuh amarah. "Pake." Ujarnya dingin sambil memberikan helm pada Yeji. Sambil memperhatikan bagaimana tubuh kurus itu gemetar sambil memakai helm, Jeno berpikir kemana ia harus bawa saudarinya ini? Sialan! Dadanya sangat sesak dan jika ia kembali ke rumah besar ia yakin tak hanya sesak, dia pasti akan semakin menggila karena di tempat itu semua penderitaannya, Jisung dan juga Bunda bermula. Jeno menghela nafas lalu memutuskan membawa gadis itu ke bluefire karena ia bisa mengamuk tidak jelas jika harus kembali ke rumah besar. Yeji mengeratkan genggamannya pada almamater yang Jeno pakai. Pemuda Lee ini memberinya helm sedangkan membiarkan kepalanya sendiri tak terlindungi. Yeji mengerjap sekaligus mulai ketakutan lagi saat Jeno membawanya berbanding terbalik dengan arah rumah mereka. "Mau kemana? Rumah kan belok ke kanan." Yang hanya Jeno abaikan tanpa jawaban. "Kita mau kemana?!" Yeji agak berteriak karena mereka memasuki daerah sepi dan sangat jauh dari keramaian. "Ck! Jangan berteriak!" Jawab Jeno. Yeji mendengus karena Jeno juga barusan berteriak padanya. Ini kenapa semakin gelap, sih? Jeno tidak akan meninggalkan ia di tengah hutan, kan? Yeji tahu saudaranya ini tak menyukai keberadaan dirinya tapi tidak mungkin sampai di buang, kan? Atau di dorong ke jurang? Aish sialan! Kenapa ia harus mempunyai skenario aneh di otaknya? Kenapa pula ia menurut ikut bersama Jeno? Gadis itu semakin dibuat panik ketika Jeno menghentikan motor sport hitamnya di sebuah gua tertutup dedaunan. Cengkraman yang ia beri disisi almamater Jeno terlepas dan beralih memeluk tubuh saudaranya erat. "Mau kemana? Jangan pergi." Lirihnya. Matanya kembali memerah karena ketakutan. Jeno menghela nafas. "You're safe with me." Bagaimana mungkin Yeji mempercayai itu dengan mudah? Jelas-jelas saudaranya ini membencinya. Sejelas itu ketidaksukaan tertulis diwajah tampan Jeno. Yeji menggelengkan kepalanya heboh. "Ck.. Keuntungan apa yang bisa gue dapet dengan ninggalin lo? atau buang lo di hutan?" Jeno merasa semakin pening karena ingatannya lagi-lagi datang ke masa sang Bunda memeluk dirinya erat ketika ia melawan sang Ayah yang terus berteriak didepan sang Bunda. "Lepas!" Jeno menaikkan suaranya membuat Yeji terperanjat dan terpaksa melepaskan dengan pelan belitan tangannya di perut Jeno. Tak benar-benar melepas, karena ia ikut turun dari motor dan menggenggam erat lengan almamater Jeno dan mengikuti setiap langkah yang pria itu ambil. Tatapan gadis itu semakin gelisah dan tak berhentinya mengedarkan pandangan dengan sorot ketakutan yang amat sangat jelas. SRREEG! Yeji kembali terperanjat dan memeluk lengan keras itu dengan tubuh gemetar. "Shit.. You're so damn coward." Ujar Jeno sambil menghentakkan lengannya melepaskan belitan tubuh gemetar itu. Mereka lalu kembali naik ke motor itu dan Yeji mengerjap melihat sebuah rumah lumayan luas dan besar dengan banyak mobil dan motor sport mewah terparkir di halamannya. Tempat ini begitu rindang dan tertutup dari dunia luar dan terlihat begitu hangat namun misterius dengan lampu kuning remang yang menguar keluar. "Turun." Perintah Jeno yang membuat Yeji yang masih mengerjap bingung pada sekitar. Dia segera turun dan langsung mengikuti Jeno yang masuk ke dalam pintu ganda setelah membukanya dengan sidik jari. Setelah pintu itu terbuka, ia disambut dengan ruang tamu yang begitu terbuka. Yeji melihat wajah-wajah yang ia tahu begitu tercengang seperti melihat hantu saat melihat ia masuk ke bangunan aneh ini. Aroma pine yang sangat menyegarkan tercium indera penciuman Yeji. Menambahkan vibe alam yang sepertinya ingin diusung di tempat ini. Tawa dan perbincangan santai mereka terhenti begitu saja. Gadis itu melihat Yuna, Chenle, Ryujin, Haechan, Jaemin, Chaeryeong, Jisung,Renjun dan Shuhua diruangan itu. "I'm home." Ujar Jeno membuat orang-orang yang ada diruang tamu itu tersadar dari keterkejutan mereka. Tempat apa ini sebenarnya? Apa ini tempat perkumpulan yang waktu itu ia dengar di kantin? Apa ini tempat geng Phoenix itu berkumpul? Sedangkan Jeno yang malas menjelaskan langsung berlalu tanpa peduli tatapan sahabatnya yang menatap aneh ia dan Yeji yang beralih menuju dapur. "Jisung! Kitchen!" Perintah Jeno. Yeji melihat adiknya itu langsung melepas bantal leher dan earphone di telinganya kemudian mengikuti mereka. Begitu sampai di dapur, Jeno melepas tas dan almamaternya lalu melempar ke meja bar dekat pantry. Pria itu membuka kulkas dan mengambil cola dan menenggaknya sekaligus sampai habis. "Kenapa, Hyung?" Tanya Jisung yang duduk setelah tersenyum canggung pada Yeji yang menunduk takut. Gadis itu lebih tertarik pada detail lukisan mawar di bawah kaca meja makan. Berbanding terbalik dengan ruang tamu, suasana dapur lebih gelap karena cat hitam dan peralatan yang juga berwarna hitam. Hanya ada sedikit warna merah dari detail mawar di piring, kulkas dan kabinet dapur. "Tanyain kotak P3K dulu ke Somi." Jeno agak meringis sambil meraba sudut bibir dan pelipisnya yang kembali sobek. "Gulet lagi?" Kali ini Jisung tidak langsung melaksanakan perintah Jeno tapi bangkit melihat luka diwajah kakaknya. "Sama siapa?" Yeji merasa begitu bersalah melihat luka Jeno yang bahkan belum sembuh namun malah bertambah. "Ck.. Doesn't matter." Jisung menautkan alisnya lalu menatap Yeji yang sempat bertemu pandang dengannya sebelum menunduk karena terlihat dari sorot mata Jisung yang meminta penjelasan. Si bungsu itu menghela nafas lalu pergi setelah memanggil Somi. Suasana kembali hening. Jeno yang fokus membersihkan tangannya lalu membasuh wajah dan membasahi rambut depannya di wastafel. Yeji memandang sekitar dengan canggung sambil mengusap lengannya yang diterpa hawa dingin. Hari ini Jeno terlihat lebih dingin dari biasanya. Taklama Jisung datang dengan kotak P3K ditangan. Ia tahu ada yang salah dengan kakak laki-lakinya. Jeno terlihat menunduk dan mencengkram sisi wastafel keras seperti menahan gejolak dalam dirinya. "Hyung? Ini." Jisung menyodorkan kotak berisi obat P3K. "Taruh di meja. Sekarang lo anterin dia pulang." "K-kalian gak pulang ke rumah juga?" Tanya Yeji. "Jisung!" "I'll take you home." "No! Ini udah hari keberapa kalian gak pulang?" "Go." Perintah Jeno mutlak. Mata pria itu memerah marah dan uratnya yang menyerupai akar pohon itu sudah bermunculan tegas di leher dan lengannya. Yeji menggelangkan kepala arti tidak setuju. Mau terima atau tidak mereka tetap bersaudara sekarang. Dan ia tak mau membiarkan saudaranya tinggal di tempat ini seolah mereka tidak punya rumah yang layak. "No! Kalian harus ikut pulang-." "I said go! Jangan pikir dengan gue nolongin lo, ngasih lo hak untuk ngatur hidup gue! Apa perintah gue sesusah itu? Jangan ikut campur! Mind your own bussiness!" Jeno berbalik dan menatap gadis itu dalam. Yeji terkejut mendengar Jeno yang membentaknya lagi. Hari ini saudaranya itu begitu banyak membentak. Mata Jeno memerah karena marah membuat Yeji semakin ketakutan. Aura kebencian itu menguar keras membuat hatinya berdenyut nyeri tanpa alasan. Sebenci itukah Jeno padanya? "I'll take her home. Hyung istirahat aja." Jisung menengahi saat melihat urat dileher Jeno muncul bersamaan dengan kepalan tangan yang semakin mengetat ditambah dengan mata Yeji yang berkaca-kaca. See, ada yang salah dengan Jeno. Kakaknya terlihat begitu sensitif malam ini. Jeno sangat jarang membentak karena biasanya jika memang tidak suka pada seseorang, pria itu akan langsung pergi tanpa memperdulikan kehadiran orang yang tak ia suka. Hanya satu hal yang bisa membuat Jeno seperti ini. Bunda. Begitu terka Jisung. Dan melihat sasaran kemarahan Jeno adalah Yeji, maka semua itu masuk akal. Jisung memilih untuk tak mengorek info lebih banyak melihat situasi yang menegang dan ia merasa tak perlu menunggu Jeno lepas kendali. Jadi dia bangkit menarik pergelangan tangan kakak tirinya untuk keluar. Meninggalkan Jeno yang meninju meja makan keras dan penghuni markas yang sudah berkumpul setelah mendengar bentakan Jeno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD