Hari pertawa di awal pekan sungguh sibuk apalagi untuk Yeji. Apakah kalian tahu kalau gadis bermata indah ini mantan ketua OSIS?
Yang membuat heran adalah walau sudah menjadi mantan, Yeji masih sibuk karena memang ketua OSIS yang baru masih butuh pelatihan.
"Chenle! Kenapa masih ada disini?! Kamu mimpin apel pagi hari ini!" Tegurnya. Yeji benar-benar kesal penggantinya ini begitu pelupa dan harus terus diingatkan.
"Tapi yang telat ini juga harus ada yang jaga, kan?" Jawab pria tinggi dengan jam Rolex super mahal itu.
Terlihat sekali dia berada dalam keluarga kaya raya dari setiap benda yang melekat ditubuhnya.
Tapi jawaban yang di berikan Chenle nyatanya bukan jawaban yang ingin gadis bermata tajam itu dengar. "For Godsake, Chenle! Kamu punya wakil ketua! Dimana Shin Yun-." Yeji menghentikan ucapannya saat orang yang ia cari ternyata ada di barisan siswa terlambat.
Menghela nafas lelah, Yeji menenangkan diri sebelum benar-benar meledak.
Selalu seperti ini setiap senin. "Just go Chenle. Pimpin apel pagi." Ujarnya memejamkan mata lalu menatap Shin Yuna gadis tinggi yang tak berhenti menyengir.
Chenle ikut meringis melihat wajah Yuna dan tatapan sengit Yeji sebelum langsung berangkat ke lapangan karena takut Yeji benar-benar meledak dan menghukumnya membersihkan sekolah.
Menatap siswa yang telat, Yeji menghitung ada 10 siswa yang telat. Mengibaskan tangannya lalu Yeji member perintah.
"Lapangan tenis outdoor. Now!" Beberapa siswa bagian keamanan dan ketertiban memimpin siswa telat itu diikuti Yeji yang berada di paling belakang memastikan tak ada yang kabur.
Masih berkutat dengan tab ditangannya, Yeji memanggil satu persatu siswa telat lalu memasukkan poin minus mereka.
Siswa telat yang sebelumnya berjumlah 10 orang berkurang menjadi 7 karena mereka mempunyai alasan yang kuat kenapa mereka telat dan ada buktinya.
Ada yang menunggu adiknya siap, ada yang kendaraannya bermasalah dan ada yang harus darurat bolak-balik kamar mandi karena diare.
Yeji terkejut karena siswa yang diare itu memberikan foto dinding kamar mandinya dan juga obat yang ia konsumsi. Sampai yang terakhir, si wakil ketua OSIS, yang entah bagaimana begitu sering telat.
Menatap lelah pada Yuna, "Apa yang membuatmu telat hari ini, nona Shin?"
"Hehehe... Aku semalem begadang karena teman lamaku datang setelah 1 tahun ga ketemu."
Ya, lebih baik jujur daripada memberi alasan yang monoton yang pasti akan terus didebat oleh mantan ketua OSIS yang pintarnya keterlaluan ini sampai benar-benar menyebutkan alasan sebenarnya.
"Shin Yuna, orangtua kamu pasti gak akan datang lagi, kan? Jadi gimana?"
"Bersihin lab. Biologi aja Eonnie. Yuna ikhlas." Tawar Yuna.
Mendengus pelan, Yeji menatap tab lagi lalu memasukan poin 5 untuk Yuna yang ternyata sudah punya poin 47.
"Berdiri 1 kaki sambil jewer telinga sendiri selama 3 menit." Perintah Yeji pada seluruh siswa telat dan menjadikan Yuna sebagai contoh.
Baru hendak menyalakan stopwatch, bel tanda apel pagi usai terdengar tapi tetap tidak mengganggu kegiatan siswa telat ini yang menahan malu karena menjadi bahan tontonan. Cekikikan dan siulan mengejek terdengar riuh. Tapi sayangnya masih tersisa 1 menit lagi untuk bebas dari pose menggelikan itu.
"Done." Ujar Yeji lagi membuat desah lega terdengar sebelum kembali terdengar protes saat wakil kedisiplinan datang membawa dumbell seberat 3 kg.
Mengangkat alisnya mendengar protesan siswa yang terlambat. "Kenapa? Gak suka? Makanya jangan telat. Maen game gak dilarang tapi berlebihan jangan. Nonton drama juga bisa di tunda atau bisa nunggu hari libur. Kamu, Yuna. Sekali lagi terlambat, akan ada rapat disipliner untuk kamu." Ujar Yeji sambil membagikan dumbell itu ke masing masing siswa.
"5 putaran. Seperti biasa yang sudah selesai bisa langsung ke kelas." Yeji menaruh stik dihadapannya agar setiap satu putaran, siswa bisa mengambil 1 stik begitu terus sampai 5 stik.
Yeji yang selalu tak sempat sarapan setiap senin mengistirahatkan dirinya dibawah sebuah pohon rindang sambil terus memperhatikan siswa yang mengambil stik.
Begitu focus sampai tak sadar sejak awal ia memaki Chenle ada sepasang mata hitam pekat memperhatikannya dengan sorot tak percaya.
Apa itu gadis yang sama dengan gadis yang gemetar begitu hebat karena aku menatapnya kemarin dirumah?
?
Setelah mendapat pesan dari kepala sekolah, Jeno yang entah mengapa masih melihat bagaimana gadis yang memperkenalkan diri sebagai Yeji itu segera beranjak karena Jisung menunggunya untuk memilih kelas yang akan dia ikuti.
Masuk ke ruang akademik, Jeno disambut oleh seorang guru tambun cukup tua dengan nama belakang Shin.
Disana ia ditunjukkan jadwal yang sudah dibuat oleh sekolah. Itu belum bersifat permanen karena masih bisa diubah. Jeno menatap jadwal itu tampak tak begitu ambil pusing. Tubuhnya ia sandarkan dipunggung kursi.
Mengubah jadwal olahraga dan konsultasi mental untuk pindah ke hari sabtu, Jeno memilih berkuda dan panahan untuk ekstrakurikuler yang ia ikuti.
Setelah menandatangani jadwal tersebut, Jeno diberi sebuah kertas berisi surat pengantar dan jadwal yang ia masukan ke tas lalu beranjak keluar dari ruangan menyebalkan itu.
Pelayanan nya terlalu bertele-tele. Itu yang Jeno pikirkan.
Membawa kertas jadwal dan pengantar untuk kelas yang akan ia masuki, Jeno berhenti ketika sebuah suara nyaring memanggilnya.
"Mau kemana?" Tanya Chenle.
"Ruang seni 2D. Lo tau dimana?"
"Kan di kertas pengantarnya ada peta ruangan juga."
"Ckk.. Kalau ada yang pasti tahu kenapa harus nyari tau sendiri? Kalau langsung nyampe sih syukur, lah kalo ada acara nyasar dulu kan gak asik."
Chenle tertawa terlebih mendengar ocehan Jeno yang diucapkan dengan wajah begitu datar saat mereka menyusuri lorong dengan loker merah disamping mereka.
"Loker lo nomor berapa, Hyung?"
Jeno merogoh saku celana sebelah kanannya untuk mendapatkan kunci loker yang ia dapat di ruang Sarana yang berada disebelah ruang Akademik. Melihat angka dikunci itu Jeno menjawab. "234."
"Buku paket udah disiapin di loker biasanya. Biar lo gak bolak-balik."
Jeno mendengus. "Sejak kapan gue serajin itu sampe harus bawa buku paket?"
"Well, lo harus bawa karena guru senirupa 2D lo jago nistain orang."
Menghela nafas, Jeno mencari loker 234 yang ternyata berada di ujung. Isi loker itu ada buku paket, kartu siswa, kartu perpustakaan, kartu berbagai lab, seragam lab, seragam olahraga, dan lain-lain.
"Gue harus bawa apa aja?"
"Kartu siswa sama buku paket seni."
Terus menyusuri lorong sampai tiba di lift yang membawa ia dan juga Chenle ke lantai 5 tempat ruang khusus seni berkumpul. Menurut surat pengantar, Jeno masuk ke ruang A2D3.
Ruangan yang pintunya berwarna putih polos berbeda dengan dinding yang berwarna putih namun begitu ramai dengan corak polkadot warna warni dan juga beberapa gambar notasi balok dan hal-hal yang berurusan dengan Seni.
Chenle mengetuk pintu itu dan otomatis terbuka membuat keduanya jadi pusat atensi siswa yang tengah melukis.
"Murid baru, Mam." Ujarnya lalu menyuruh Jeno masuk dan memberi surat pengantar yang ia punya. Tak lama Mrs. Kim membaca pengantar lalu Chenle yang pamit undur diri.
"Bawa kartu Siswa, kan? Kamu scan disana untuk absensi." Mrs. Kim menunjuk sebuah scanner di dekat pintu masuk.
Jeno langsung duduk ditempat kosong setelah diperintahkan oleh Mrs. Kim. Menengok ke samping, Jeno menahan senyumnya melihat kanan dan kirinya ada Jaemin dan Haechan yang sedang tersenyum geli.