Canteen Drama

1470 Words
Setelah melalui kelas seni yang membosankan, akhirnya jadwal makan siang yang ditunggu-tunggu. Duduk di tempat saudara-saudaranya sudah menunggu, Jeno langsung memakan makan siang yang ia pesan. Lalu pandangan Jeno tertuju pada saudari tirinya. Ah bukan. Mendengus, Jeno menertawai dirinya sendiri karena mengakui gadis itu adiknya. Sampai kapanpun tidak akan pernah terjadi. "Yeji Eonnie sakit lagi?" Suara Ryujin menginterupsi pikiran konyol Jeno. "Dia selalu gitu tiap hari senin. Kayak baru sehari dua hari aja lo sekolah disini." Jawab Chenle tanpa berpaling dari makanannya. "Kok gitu? Emang kalo senin kenapa?" Tanya Jisung. "Dia gak pernah sempet sarapan setiap senin. Ditambah masih ngurusin anak OSIS." Kali ini Chaeryeong yang menjawab. "Dia... Sebesar apa pengaruhnya dia di Sekolah ini?" Jeno membuka suara sambil menjadikan gadis yang sekarang sudah duduk dan makan dengan ringisan perih yang begitu ketara sebagai pusat pandangannya. Jangan berpikir Jeno akan iba. Nyatanya tidak. Dia merasa tak perlu menunjukkan iba pada gadis itu. "Lumayan besar. Dia jadi siswa dengan nilai akademik tertinggi. Koneksinya sama guru gak perlu ditanya lagi, apalagi dia mantan Ketua OSIS. Girl crush nya kuat banget pas dia mimpin apel pagi atapun ngasih sambutan acara sekolah." "Dia tuh tipe-tipe yang banyak disukain tapi dianya gak mau tersentuh sama siapapun. Cuma orang-orang tertentu yang berani ngomong ama dia. Fun fact, bukannya mau balik lagi ke jaman dulu, tapi dia satu-satunya murid beasiswa dari kalangan bawah yang punya power seluarbiasa dia disini." Jaemin menjawab sambil mencuri makanan di tray Haechan karena yang punya sedang ikut focus melihat pada Yeji. "Terus baik lagi orangnya. Kalau aja dia bisa lebih open pasti perkumpulan dia lebih gede daripada Phoenix." Imbuh Yuna. Yang diangguki oleh Ryujin, Chenle dan Chaeryeong. "Liatin aja terus. Sekalian aja samperin, ajak pulang bareng, pacaran ama dia aja." Sindir Somi jengah melihat Haechan yang menyengir saat mendengar sindiran kekasihnya. Jeno menaikkan alisnya. Tak hanya Haechan yang memperhatikan, semua yang ada dimeja ini melihat pada gadis itu. Bahkan Shuhua yang terkenal posesif, terlihat biasa saja saat Renjun menatap Yeji. Tapi melihat dari gelagat Somi, Jeno sudah tau jawabannya. "You don't like her, Somi?" Tebak Jeno manatap gadis tinggi yang sudah ada dalam pelukan Haechan. "Kinda. But I don't hate her." Jawabnya melepaskan diri dari belitan tangan Haechan. Ryujin mendengar itu mendengus. "Somi tuh iri sama dia." "Ck.. Bukan iri. Cuma ya gitu." "Gak heran. Aku juga sempat merasa iri sama Yeji Eonnie. Siapa sih yang gak iri ama dia? Role model 3 tahun berturut-turut." Yuna masuk pembicaraan sambil makan salad buahnya. "Iya tau iya. Emang dia itu cantik, pinter, keren. Cuma dia kayak gak mau bergaul kalau gak sesama anak olimpiade atau anak OSIS gitu. Kan mengintimidasi banget." "Dia tuh bingung mau ngomongin apa. Dia tipe yang lebih banyak diem karena emang gak paham bahasan kita ama dia. Yeji Eonnie pinter, tapi di bidang akademik. Buat soal trend, make up, style gitu dia ga paham." Yuna menimpali. "Mana sempet Yeji liat majalah mengisi kegabutan kayak lo pada." Celetuk Shuhua sambil menyuapi kentang goreng ke mulut Renjun. "Ya justru itu. Kudet and ga cocok sama tipe bahasan gue." Ujar Somi. "Tapi dia baik. Baik banget kalo udah kenal." Bela Yuna lagi. "Kayaknya lo salah satu penggemar dia." Komentar Jeno mendengar pembelaan demi pembelaan yang Yuna beri. "I respect her. Selama gue kena masalah dia yang urus." "Kenapa gitu?" "Dia tau orang tua gue sibuk. Makanya kalau gue bikin masalah, dia bakal ngebantu buat lobby guru biar gak panggilan orangtua. Kalaupun harus bener-bener datang dia yang bakal datang langsung ke rumah ketemu ortu." "Dia juga sering bantu kita kalau lagi dikritik pihak sekolah karena acaranya kurang memuaskan. Ya walaupun bakal tetep diomelin lagi sama dia, tapi setidaknya kita gak perlu dapet detention. Dia loyal." Tambah Chenle. Setelahnya Jeno tak ada yang membuka suara lagi tapi ketenangan itu terusik saat ada yang lewat sambil sengaja menyenggol bahu Jeno. Mengangkat kepala, Jeno menatap Theo. Si b******n Theo. Pengecut. Itulah Choi Theo dimata Jeno. Tak mengusik pria yang memberinya seringaian merendahkan, Jeno lanjut makan. "Ck! Gak tau malu emang tu bocah." Gerutu Renjun berhasil mendapatkan atensi Jeno. "Iya emang susah. Pecundangnya udah mendarah daging. Apa faedahnya coba gangguin Yeji gitu? Tinggal bilang sayang doang malah bikin orang makin jauh kalo digangguin gitu." Haechan turut kesal. "Tapi dia udah ketahap obsesi, sih. Dia bahkan ngambil kelas yang sama, sama Yeji sepanjang tahun ini." Jaemin yang mendengar info ini dari salah satu kenalannya. Dan memang separah itu obsesi Theo pada Yeji. Yang terparah adalah saat pria itu mengancam seorang anak olimpiade asuhan Yeji hanya agar Yeji mau makan berdua dengan pria itu. ? Selama pelajaran bahasa Jepang berlangsung, Yeji merasa tidak focus karena selain belum sempat sarapan, mengurus orang telat juga lumayan menguras tenaganya. Menundukkan kepalanya saat perut nya lagi-lagi perih. Yeji hampir menyerah tapi suara bel makan siang terdengar seperti angin kehidupan bagi Yeji. Beruntung Mr. Nakamoto tidak punya kebiasaan menahan siswa dikelas karena selalu on time jadi dia langsung bergegas ke kantin. Berjalan sambil terus memegangi perutnya, gadis itu sampai dikantin dan langsung men-scan kartu siswanya untuk bisa masuk. Yeji mengantri untuk mendapatkan bagian makanannya. Matanya mengedar untuk mencari spot kursi kosong. Tiba giliran Yeji yang sampai di counter untuk lagi-lagi scanning kartu siswanya untuk menunjukkan menu apa yang sudah ia pilih semalam. Sistemnya adalah kamu memilih ingin makan apa untuk esok hari melalui smartphone lalu secara otomatis akan terkirim ke pihak kantin. Kartu siswa hanya untuk konfirmasi agar sesuai pesanan. Setelah mendapatkan makanannya ia langsung menempati tempat yang ia pilih dipojok dekat jendela. Begitu duduk, Yeji langsung menyantap makan siang itu sambil menahan perutnya yang semakin sakit. Bodoh. Seharusnya ia tadi ke UKS dulu untuk minta obat maag. Yeji sekarang merutuki dirinya sendiri. Lanjut makan tanpa harus memperhatikan siapapun karena nyatanya ia tak memiliki siapapun. Yeji terbiasa dengan kesendirian ini. Bukan tidak ada yang mau berteman dengannya. Tapi gadis ini terlalu menutup diri dan terlihat begitu tak tersentuh. Sambil menikmati rotinya yang ia cocol ke sup tomat, Yeji dibuat tersentak dengan suara decitan dikursi depannya. Melirik sebentar lalu memilih untuk tak acuh karena yang duduk di hadapannya ini Yeji yakin memiliki dendam meski ia sendiri tak tahu apa penyebabnya. Mulai merasa ditatap begitu intens, Yeji yang merasa risih langsung mengangkat mata menatap pria dihadapannya. Theo. Pria gila yang tak pernah berhenti mengganggunya. "What?" Yeji mencoba untuk tetap tenang meski denging alarm tanda waspada sudah mendengung ditelinganya. "Kenapa makan disini? Saudara lo kumpul disana." Theo menunjuk meja dibelakang Yeji dengan dagunya. Yeji yang enggan ikut mengikuti arah itu menatap aneh pada Theo. "Apa itu termasuk urusan lo?" Menyeringai seram, Yeji dibuat merinding karena pria dihadapannya berdiri menarik tangannya untuk membawa Yeji yang lemah menubruk tubuhnya. Memberontak kala ia dapati dekapan itu mengerat. Yeji menginjak dengan seluruh kekuatan yang tersisa. "Apa-Apaan?!! Lo Gila?!" Sentaknya membuat ia menjadi pusat perhatian. Lagi-lagi seringaian menyebalkan yang ia dapati. "Kalian ga deket rupanya. Baguslah. Kita bisa bersekutu untuk itu." Yeji mengernyitkan dahinya tidak paham. Saat masih berusaha memahami tangan pria itu terangkat lagi untuk menyentuh wajah Yeji namun gadis itu dengan cepat menepis dan mendorong tubuh besar dihadapannya meski membuatnya mundur barang 2 cm saja tidak. Amarah menguasai air muka Theo saat ia mendapatkan penolakan dari gadis dihadapannya di depan umum, membuat ia akan melayangkan sebuah tamparan pada wanita sok suci itu. Belum sampai tangan kasar itu menyentuh wajah Yeji, sebuah tangan menahannya lalu menghempas begitu saja. Karena merasa tamparan itu tak terjadi, Yeji membuka mata yang sebelumnya menutup takut dan menemukan Bomin berdiri dihadapannya. Dia yang menghalau tamparan tadi. "Ingat disini ada CCTV, Tuan Choi. Gak perlu banyak tingkah kalau mau dikeluarin dari sekolah. Cukup bikin surat pengunduran diri lo dan gue dengan senang hati nyampein itu ke Kepsek." Tegas Bomin lalu menarik Yeji yang terpaku pasalnya ia melihat wajah merah padam kekasih Bomin tertuju padanya. Menghela nafas lelah, Yeji hanya menurut saat Bomin membawa Yeji duduk dan bergabung bersama- Mata gadis itu terbelalak saat ia mendapati sorot dingin tanpa ekspresi itu mengarah padanya. Ya, Bomin membawa Yeji semeja dengan Jeno dan Jisung. Dia duduk diantara Bomin, kekasih Bomin, dan juga adik tirinya, Jisung. Hanya menunduk karena bingung tak tau harus apa. Makanannya masih dimeja tadi, ia juga tak paham dengan topic pembicaraan orang disekitarnya. Tapi satu hal yang ia dapat, mereka sudah kenal lama. Aish Theo sialan! "Lo harus jaga Yeji mulai sekarang, Jen. Si b******k itu tau kalau kalian saudaraan. Pastinya bakal lebih diincar dari sebelumnya. Lo harus lindungin si kucing mulai sekarang." Ucapan Bomin membuat Yeji mengangkat kepalanya yang semakin pusing. Lalu dengkusan keras terdengar membuat atensi Yeji beralih pada saudara pertamanya yang memutar bola malas. Yeji rasa saudaranya ini punya kekuatan Super seperti Elsa Frozen yang selalu berhasil membuatnya menggigil takut karena hawa dingin yang menguar. Untung saja tidak ada lagu Let it Go yang menjadi background musik. "Harus melindunginya dari siapa? Dari si b******k tadi atau dari si b******k yang ini?" Jeno menunjuk dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD