Devil's Tears

1618 Words
Seperti yang dijanjikan, Jeno malam ini berkumpul di Devil's tears. Devil's tears merupakan danau dipinggiran kota. Biasa digunakan untuk duel banyak geng. Konon katanya, dibawah danau yang tenang itu, banyak jasad manusia yang dibuang dan tak bisa muncul di permukaan akibat diberi pemberat. Phoenix sendiri sudah menggunakan tempat ini 5 kali. Untuk Jeno, ia baru 2 kali kesini. Sedangkan Hawk sudah tak terhitung karena geng itu sudah lama berdiri dan selalu membuat konflik, jadi Devil's tears sudah menjadi tempat bermain mereka. Terlihat beberapa anggota sudah menyambut kedatangan Phoenix dengan hidupnya obor-obor api sekitar danau. Seluruh member ikut datang dan menunggu dibawah sebuah pohon cemara tinggi. Duel dimulai jam 8 malam, jadi tak boleh ada yang memasuki arena sebelum jam 8. Member Phoenix dan Hawk tak henti-hentinya saling menatap dengan pandangan sinis. Beberapa senior Hawk bahkan secara terang-terangan mencibir Phoenix yang mereka anggap munafik dan sok suci. Bah! Suci your ass! Penilaian mereka tentang Phoenix memang baik sekali. Ditengah riuh obrolan banyak manusia di pinggiran Devil's tears, si ketua Phoenix masih setia dengan kesunyiannya. Jeno yang duduk di atas motornya sambil menatap danau indah itu sedangkan otaknya memutar kejadian sebelum ia berangkat kesini. "Kamu bener-bener mau nemuin Theo?" Gadis itu ternyata duduk di ruang tamu hanya untuk menghadangnya pergi. Tak menggubris, Jeno melanjutkan langkah untuk keluar rumah tapi lagi-lagi dihentikan oleh gadis itu yang menarik tangannya. "Jangan pergi." Pintanya dengan tatapan memohon. "Aku tidak pernah mengganggu urusanmu, nona Hwang. Jadi bisakah kamu juga tidak mengganggu urusanku?" Ujar Jeno setelah menyentakkan tangannya. "Cukup ibu jalang mu yang merasa berhak atas hidupku, kamu tidak perlu ikut-ikutan merasa berhak. Kita orang lain dan akan selamanya seperti itu." Terdapat riak amarah di mata hazel yang terus mengusik sesuatu dalam diri Jeno. Namun Jeno enggan berhenti mengucapkan kalinat kasarnya. Ada sesuatu di mata hazel yang mulai dilapisi cairan bening tersebut. Jeno tidak tahu apa. Tapi ia tahu mata itu bisa mempengaruhinya. Dan ia menolak terpengaruh oleh keindahannya. Sial! Apa Jeno baru saja bilang indah? Jeno pasti mulai tidak waras. "Dan aku minta tolong untuk tidak menyentuhku dengan tanganmu itu. Anggap aku tidak ada disini. Karena aku tidak pernah menganggapmu ada dirumah ini." Setelah melihat rona merah muncul dimata unik itu usai Jeno menyebut ibunya jalang, Jeno langsung pergi kesini. Ah, apa dia sekarang sudah menjadi jahat karena tak ada penyesalan sama sekali usai mengatai seorang wanita dengan begitu kasarnya? Tapi apa pedulinya? Wanita itu pantas mendapatkan predikat jalang. Tidak ada sebutan yang lebih pas bagi seorang w*************a selain jalang gila. Lamunan Jeno buyar saat sebuah tepukan menghampiri pundaknya. Ia lihat Jisung mengarahkan dagunya kearah arena duel. Jeno melirik jam tangannya dan sudah menunjukkan jam 8 malam, karena itu ia turun dari motornya. Masuk ke Arena melihat semua anggota Hawk yang datang ikut mendekat dan berkumpul dilingkaran luar arena yang digambar dengan tumpukan batu setinggi lima sentimeter. Theo, si ketua Hawk, ikut melangkah masuk ke arena dan memberi sambutan. "Selamat datang lagi, Jeno. Wah, lo udah gak betah di AS rupanya-?" "Langsung ke topik. Jangan pakai Yeji sebagai umpan pancing lo. Dia bukan bagian dari Phoenix. Jadi jangan buang-buang waktu lo." Keduanya berdiri tepat ditengah arena berdiameter tiga meter itu. "Udah gue duga kalian ga dekat." Theo tersenyum lebar. "Tapi gimana kalo gua rekrut dia ke Hawk?" Ujar pria tinggi itu sambil mengelilingi Jeno dengan seringaian. Jeno mendengus lalu tersenyum geli. "Terserah lo. Selama dua tahun ini lo udah bujuk dia, kan? Tapi apa hasilnya?" Gantian Jeno yang memberikan seringaiannya lalu menatap Theo penuh cemooh. Ia akan bersenang-senang untuk malam ini."Dia gak mau, kan? Lo mau tau kenapa?" "Karena dia pinter. Dan cuma orang bodoh yang cuma mau gabung sama klan Hawk. Termasuk lo, ketuanya. Rekrut satu orang aja butuh bertahun-bertahun. Apa gak malu?" Ujar Jeno lalu tertawa. Tawa yang terdengar begitu menjengkelkan dikuping Theo yang matanya sudah memerah karena malu atas ucapan Jeno yang menyulut emosinya. "Klan Hawk itu bukan geng orang-orang penting, lo tau? Lo itu cuma pedagang, dan anggota lo yang lain itu cuma tim marketing lo. Selama hampir tiga tahun di Seoul International Empire School, lo udah berhasil rekrut berapa orang? Gak laku-laku, kan? Kenapa gak gulung tikar aja? Ah, bukan gak laku. Segakbecus itu lo sampe benda haram yang lo selundupin selalu ketauan sama kita yang gak punya koneksi seperti yang selalu lo bangga-banggain," Jeno sengaja memancing emosi Theo. Dan menaikan emosi Theo adalah hal paling mudah di Dunia. Sentil saja sedikit harga dirinya, dan dia akan langsung mengangkat tinjuannya. BUGH! Sudah Jeno bilang, kan? Begitu kontak fisik terjadi Phoenix menyebar tidak mengumpul disatu tempat. Berpencar untuk memperhatikan kalau-kalau ada yang membawa senjata. Jeno membiarkan Theo menghajarnya terlebih dahulu. Dia tak melakukan balasan selain menghindar dan blocking. "Siberian Husky, Attack!" Ujar Haechan si game strategy di earpiece nya saat Theo terlihat mulai kelelahan dan lengah. Jeno baru memberikan balasan dan bertubi-tubi. Suasananya semakin panas saat keduanya sudah semakin mendekat ke bibir danau. Phoenix menajamkan mata mereka karena biasanya disaat ini lah Hawk akan menggunakan rencana liciknya. Theo dan Jeno masih saling pukul. Theo berhasil melumpuhkan Jeno ke tanah dan mengunci pergerakan pemuda Lee itu. "Siberian Husky, Head lock! Pake kaki." Haechan memberi arahan lagi. "Phoenix Red code! Arah Jam 9 dibelakang Siberian Husky, ada yang ngeluarin pisau." Ujar Renjun yang memantau lewat kejauhan tepatnya diatas sebuah pohon bersama Chenle. "Siapa?" Tanya Ryujin. "Lady nya Hawk, Heejin." "Lion Queen on the move." Ujarnya. Somi dan Shuhua maju untuk menutupi Ryujin yang mundur untuk kearah Heejin siap melempar pisau kecil itu ke arena. "Snowball rabbit and Mochi cake. Protect Lion Queen." Perintah Haechan. Haechan, Jaemin dan Jisung langsung mengikuti ke arah Ryujin karena pastinya Hawk tak akan tinggal diam. Dengan susah payah, Jeno yang merasa agak pening berhasil membalik keadaan. Dengan cepat ia mengunci leher pria itu dengan tangannya. dan menahan kedua tangan Theo dengan kedua kakinya. Cukup lama sampai pria itu hampir kehabisan nafas dia melepaskannya dan langsung memberikan sebuah tendangan diwajah Pemuda Choi itu. Terus menendangi dan memojokkannya semakin mendekati danau. Tanpa mempedulikan Ryujin yang juga terlibat duel dengan lady Hawk. Renjun dan Chenle bahkan harus turun dari pohon untuk bergabung melindungi sahabatnya yang lain. Suasana semakin tak terkendali jadi Jeno dengan cepat menginjak perut Theo kuat lalu mendorong tubuh tinggi itu ke air. Duel kali ini Jeno menangkan. Tapi yang lain tak melihat dan masih sibuk dengan perkelahiannya masing-masing jadi Jeno berjalan ke arah obor, mengambil nya dan membakar mobil Theo yang terparkir lima meter dari arena, menciptakan ledakan hebat yang mengalihkan atensi mereka. DUAR!! Beberapa member Hawk sadar dan langsung membantu Theo keluar dari danau. "Phoenix assemble!" Perintah Jeno yang melenggang santai ke motornya. "Semuanya gak ada yang luka parah?" Tanya Jeno sambil mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Member phoenix menggeleng karena mereka hanya mengalami luka biasa. Menatap Theo yang menatap kearahnya dengan tubuh basah kuyup, Jeno tersenyum penuh makna. "Terimakasih untuk pesta penyambutannya, Theo." Jeno naik ke mobil yang Jisung bawa karena tangannya lumayan sakit. Sedangkan motornya dibawa oleh Somi. "Ah, by the way, jangan lupa pesan gue tadi. Lo cuma ngabisin waktu lo doang kalo pakai Yeji sebagai alat buat ngusik Phoenix. Cause we don't care." Ujarnya melalui jendela mobil setelah itu kembali ke Bluefire. ? "Yeji kenapa tidur disini, nak?" Tanya Tuan Besar Lee saat melihat putrinya itu tertidur diruang tamu. Yeji mengerjap lalu melihat sekelilingnya dan sadar ia ketiduran. "Abis baca, Pa. Eh, ketiduran." Bohongnya sambil menyunggingkan senyuman. "Yaudah pindah ke kamar sana. Badan kamu sakit kalau tidur disini." Mengangguk sambil menatap Ayah tirinya melimbai masuk ke kamar, Yeji meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Dia melihat jam di tangannya menunjukkan jam 02:00 AM dan yang ia tunggu belum pulang. Apa saudaranya itu baik-baik saja? Jisung juga apa ikut ke tempat bernama Devil's tears yang Yeji tidak ketahui keberadaannya. Eh, tunggu. Ryujin sepertinya bagian dari perkumpulan Jeno yang dinamakan Phoenix, kan? Mengambil ponsel di saku celananya, ia menelpon Ryujin sambil berjalan ke lantai atas ke kamarnya. "Halo, Eonnie?" "Ryujin, maaf.... Apa aku mengganggu waktu kamu istirahat?" "Enggak, Eonnie. Kenapa?" "Ehm..." Dia merasa meragu untuk menanyakan. Apa ia terlalu ikut campur? Tapi apakah ia harus diam saja ketika tahu saudarannya akan terlibat perkelahian yang entah dimana tempatnya. Ah, tapi tetap saja kenapa ia harus sekhawatir ini? Dia bahkan tak dianggap. "Eonnie?" Menghela nafas Yeji menjawab. "Cuma mau nanya tadi ikut ketemu Theo?" Tak ada jawaban dari Ryujin beberapa detik. "Kenapa?" "Nggak, cuma mau nanya. Jeno sama Jisung masih disana?" "Ah, Jeno Oppa pasti datang kesana karena dia yang ngundang. Sekarang orangnya... Ehm.. Nginep dirumah Haechan. Iya nginep. Gak usah khawatir." "Oh, okay. Please jangan bilang kalau aku nanya soal dia. Just, keep it as secret between us." "Hahaha.. Oke Eonnie. Don't worry." "Yaudah. Makasih Ryujin." "Sama-sama." Yeji lebih memilih untuk mengganti dengan piyama lalu melanjutkan tidurnya. Setidaknya ia merasa agak sedikit lega. Di lain tempat, "Oh wow, Brother. She's a super caring sister." Ujar Ryujin. Nyatanya ia sedang berkumpul di markas sambil makan dan mengobati luka-luka bekas duel tadi. Haechan menyuruh Ryujin untuk Loudspeaker panggilannya jadi mereka bisa mendengar pembicaraan antara Ryujin dan Yeji. "I told you, she's kind." Ujar Chenle. Jeno hanya memutar bola matanya malas lalu beranjak untuk tidur. "Chan, lo malem ini tidur di kamar Somi aja. Gue gak mau luka gue lo tendang pas tidur." "Dengan senang hati, Jen." Ujarnya yang dihadiahi lemparan kacang oleh member yang lain. Sedangkan Jeno hanya tersenyum geli sambil melimbai santai masuk ke kamar. Jeno menyandarkan diri ke pintu kamar. Kembali mengingat ucapannya pada gadis itu. Apa terlalu kasar? Jeno hanya tidak habis pikir. Setelah ia kasari kenapa gadis bermata cant- salah! Bermata unik itu masih khawatir? Menghela nafasnya lagi lalu mendengus. Jeno langsung merebahkan dirinya di kasur empuk. Astaga nikmat sekali. Tak butuh waktu lama, ia sudah tertidur karena tubuh yang sudah terlalu lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD