BAB 12

1187 Words
“Anjing, nggak kurang lama lo? Lo ngapain aja didalem?” tanya Ardi sahabatnya. “Kepo!” balas Daniel cuek. “Oh ya, si Anin ngajakin bakaran ikan tau besok. Itu ajakin aja istri lo. Anak-anak pingin tau wajah istri lo. Penasaran kata mereka.” “Kenapa penasaran?” tanya Daniel bingung. Pasalnya para sahabatnya itu udah tiap hari stalking sosmed milik Alessia. “Mereka penasaran, cewek mana yang bisa buat cowok b***t kek lo tobat.” jawab Ardi dengan tertawa. “Tobat apaan?” tanya Daniel bingung. “Tobat dari n***e sembarang ga jelas.” jawab Ardi. Pasalnya, Daniel itu kerjaannya tiap hari n***e sama cewek yang entah di kenal atau tidak dikenal. Kalau dia cantik dan tipe Daniel. Daniel pasti akan merayunya, kadang si perempuan yang merayu Daniel karena wajah tampannya. Untungnya saja sahabatnya itu nggak kena penyakit kelamin karena sering sembarangan main dengan perempuan yang nggak dikenal. Coba aja jika kena, pasti bakal diketawain sama gengnya. Tapi, sejak pulang dari Gili Daniel seolah tobat. Daniel tak pernah merayu perempuan lagi. Dan jikapun dirayu, Daniel akan menyingkir. Seluruh teman-temannya awalnya mengira Daniel kualat dan kena impoten. Tapi ketika Daniel curhat bahwa perempuan yang terakhir kali bermain dengannya selalu membuatnya kepikiran dan adiknya bangun. Mau tak mau, perempuan itu membuat seluruh sahabat Daniel penasaran. Belum lagi Daniel yang selalu meminjam handphone mereka untuk mencari sosmed perempuan itu. Kenapa nggak di handphonenya sendiri? Alma menyadap beberapa sosmed Daniel. Dan jika ingin aman, Daniel meminjam ponsel temannya. “Bangke!” Ardi tertawa lagi. Daniel memutar matanya jengah. Tak lama mereka sudah sampai ditempat yang mereka tuju. Selesai menyelesaikan kesibukannya dengan temannya, Daniel sampai rumah pukul sepuluh malam. Ketika sampai dirumahnya, Alessia sudah terlelap. Daniel langsung berbaring disampingnya dan memeluknya dengan erat. Setelah itu ia membangunkan Alessia dengan ciumannya. Alessia tentunya merasa sangat terganggu. Tapi, ketika membuka mata dan melihat Daniel menghujaninya dengan ciuman mau tak mau Alessia membuka matanya. Daniel tersenyum lalu mencium leher Alessia. Alessia mampu mengerti maksud Daniel melakukan hal tersebut. Ia pun membiarkan Daniel melakukan apapun yang ia inginkan. ***❤*** “Sa, temenku ngajakin kamu bakar ikan mau nggak?” tanya Daniel dengan memeluk Alessia erat. Panggilan Daniel sudah berubah. “Mau, kapan?” “Nanti jam 10.” “Ini udah jam 9 Dan. Ayo bangun terus siap-siap, ntar telat lagi.” “Mau bareng nggak?” goda Daniel. “Apanya yang bareng?” “Mandinya.” jawab Daniel. “Enggak!” tolak Alessia yang kemudian mendorong Daniel agar melepaskan pelukannya. Barulah ia mengambil handuk dan memakainya lalu pergi ke kamar mandi. Daniel memakai boxernya lalu mengikutinya dibelakangnya. “Sa, mau makan apa?” tanya Daniel yang ada didapur. “Sandwich aja gapapa.” saut Alessia dari kamar mandi. “Oke.” jawab Daniel yang kemudian langsung menyiapkan makanan tersebut. Tak butuh waktu lama, mereka sudah siap. Daniel memperhatikan Alessia dari atas sampai bawah. Terlebih pakaian yang dikenakan Alessia. Pakaian itu baru dan berasal dari merek mewah. Pasti papanya kemarin yang beliin dia baju. -batin Daniel. Tak hanya itu, wajah Alessia juga terlihat sangat cerah. Tinn Lamunan Daniel terbuyarkan ketika mendengar suara klakson. Daniel langsung mengajak Alessia keluar karena Ardi sudah menjemputnya. Ardi langsung menyapa Alessia. Begitu pula dengan Alessia. Sementara Daniel bersikap cuek. Ardi dan Alessia berbicara sepanjang jalan hingga mereka sampai di kediaman Anin. Alessia sebenarnya sedikit penasaran melihat teman-teman Daniel yang begitu banyak dan terlihat sangat luang padahal hari ini adalah weekday. Hari orang bekerja ataupun berkuliah. Terlebih ketika mereka semua menyambut Alessia hangat. Tak jarang pula, Ardi maju menyuruh mereka mematikan rokok ataupun Vape mereka. Alessia melihat kesekelilingnya dan ia menemukan botol alkohol yang cukup banyak. “Dan, temen kamu nganggur semua ya?” tanya Alessia dengan berbisik kepada Daniel. “Enggak kok. Beberapa dari mereka kuliah di luar negeri. Sekarang kan liburan.” “Terus yang lainnya nganggur?” “Enggak lah.” saut Ardi. “Kita punya usaha sih. Contohnya kayak gue sama Daniel.” Alessia yang mendengarnya terkejut. “Kamu punya usaha apaan Dan?” “Klub malam.” jawab Daniel. “Diem aja ya kamu, jangan bilang Gina atau keluarga yang lain.” “Kenapa?” “Ribet ntar urusannya.” Alessia menganguk. Pantas saja, Daniel selalu punya uang padahal kelihatan pengangguran. “Kalau yang itu yang lagi meluk cewek pengedar. Sampingnya yang kelihatan culun itu Bandar.” bisik Ardi pelan. Alessia terkejut mendengarnya. “Narkoba?” tanyanya pelan tanpa suara. Ardi langsung menganguk dan menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya seolah mengisyaratkan untuk diam. Daniel langsung memukul kepala Ardi. Mulut Ardi lemes. “Kamu make juga?” tanya Alessia ke Daniel. Daniel menggeleng. “Nggak percaya.” “Ya gapapa.” jawab Daniel cuek. “Gue juga nggak make!” saut Ardi lagi. “Kenapa?” “Sama kek Daniel takut kecanduan.” “Terus kok kak Ardi ngasih tau aku sih? Kalau misalnya aku ember gimana dengan ngasih tau orang lain atau pihak berwajib gitu?” “Nggak bakal. Gue percaya sama lo. Kalo lo sampe ngadu, entar si Daniel juga bakal ketangkap.” “Kenapa?” “Mereka ngedarinnya di klub milik kita.” Alessia syok mendengarnya. Daniel langsung memukul Ardi agar mulutnya diam. Tapi Ardi langsung tertawa. Ia memberitahu Alessia segalanya. Hari itu, Alessia tau apapun tentang Daniel. Entah itu rahasia besar, kecil ataupun hal privasinya. Ardi adalah sahabat dekat Daniel yang mengetahui apapun tentang Daniel. Daniel langsung ikut membakar ikan, sementara Alessia duduk ditemani Ardi. “Jadi kak Ardi kenal Alma juga?” “Kenal. Kenapa?” “Teman-teman Daniel kenal semua?” “Iyalah. Siapa yang nggak kenal Alma coba?” Alessia mendecak sebal. “Penipu!” “Kenapa emang?” tanya Ardi penasaran. Alessia langsung menjawabnya bahwa Daniel berkata bahwa Alma tidak mengetahui teman-teman Daniel ataupun mengajak Alma nongkrong disini. Ardi langsung membenarkan. Itu memang benar. Daniel tak pernah mengajak Alma untuk kumpul bermain dengan mereka. Alma sendiri tak mengenal sebagian dari mereka, hanya beberapa saja yang kenal dengan Alma. Selebihnya hanya tau Alma adalah pacar Daniel tanpa pernah bertemu. Sebagian dari mereka (teman-teman Daniel) kasian dengan Alma karena Daniel yang sering tidur dengan perempuan lain. Dan pada akhirnya Daniel membuat rekor menghamili perempuan asing padahal selama ini tak pernah ada perempuan yang datang padanya mengaku sedang mengandung anaknya. Selain itu sebagian dari mereka juga membenci Alma yang sangat posesif dan suka ngambek jika Daniel tak menuruti permintaannya. Dan yang paling penting, Alma sering melarang Daniel untuk bermain dengan mereka. Menurut Alma, mereka membawa pengaruh buruk untuk Daniel. Itulah alasan mereka membenci Alma. Padahal mah yang ngajarin mereka b***t itu Daniel. Ardi harap, Alessia akan tetap seperti ini dan tidak sering mengatur Daniel. Karena jika Alessia melakukannya Ardi dan yang lainnya pasti akan membenci Alessia. “Tapi bukannya, itu artinya Alma sayang sama Daniel karena nggak mau Daniel kenapa-kenapa?” “Sayang apaan? Sayang mah nggak buat orang risih!” “Tapi Daniel kelihatannya nggak masalah tuh.” “Otaknya udah dicuci kali.” “Ye.. Mana ada kayak gitu,” “Kelihatannya aja yang nggak risih, tapi sebenarnya dia juga risih.” Alessia hanya diam saja. Lalu ia kembali mendengar cerita tentang Daniel lebih lanjut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD