Alessia diam membiarkan papanya memijat kakinya yang bengkak. Tadinya ia menolak tapi Papanya memaksanya. Papanya berkata ia merasa sedih melihat Alessia saat ini.
“Kamu nggak mau nyalon?” tanya papanya.
“Enggak. Nggak ada temennya.”
“Itu Arabella ajak. Nanti biar Papa yang bayar.”
“Iya. Makasih Pa.”
Arva menganguk.
“Aku nggak tau kalau papa bisa mijet kayak gini.” kata Alessia.
“Dulu Papa sering mijetin mama kamu waktu hamil kamu. Si b******n itu gimana?” tanya Arva. Arva sangat membenci menantunya itu.
“Daniel sering masakin sama ngeloundryin bajunya Sia.”
“Masak doang?”
“Iya.”
“Dia nggak pernah nemenin kamu check up ke Dokter?”
“Pernah Pa. Dua kali.”
“Abis lahiran, selesain kuliah kamu terus ikut Papa ke LA aja. Papa ada kerjaan disana. Kita bisa tinggal disana.”
“Anak Sia gimana?”
“Biar dirawat keluarganya Daniel. Kamu juga nggak mungkin bisa ngerawat anak itu. Kalau bisa, papa mau kamu lupain masalalu kamu bareng Daniel itu!”
Alessia hanya menawab iya. Ia tak bisa membantah ucapan papanya. Bukan tidak bisa, Alessia takut membalasnya. Ia takut papanya akan mengusir dan mengabaikannya lagi.
Alessia reflek menyentuh perutnya. Ia merasa kasihan dengan anak dalam kandungannya itu. Sejak kecil Alessia hidup dikeluarga yang broken home. Jadi, ia bisa tau bagaimana rasanya kesepian atau sendirian. Ia juga mengerti rasanya, bagaimana tidak di sayangi keluarganya. Apa anaknya nanti bisa kuat menghadapinya? Jika tidak, bukankah ia sangat kejam karena tega meninggalkannya?
Tidak. Alessia tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Ia tidak mau meninggalkan calon anaknya. Esoknya, Alessia berpamitan untuk pulang. Ia berdusta bahwa Daniel sudah menelponnya dan menyuruhnya untuk pulang. Daniel tidak bisa menjemputnya karena sibuk bekerja.
Arva tidak mengizinkannya tapi pada akhirnya ia membiarkan putrinya pulang ke suaminya itu dengan catatan Arva yang akan mengantarnya.
Arva cukup terkejut melihat tempat tinggal putrinya yang baru. Terlebih ketika mereka sampai, tak ada Daniel disana. Arva tau, Alessia berbohong padanya. Ia yang merawat dan membesarkan putri semata wayangnya itu. Alhasil Arva bisa tau kapan dan bagaimana Alessia membohonginya.
Arva berniat menunggu ditempat itu sampai Daniel pulang, sayangnya, bosnya tiba-tiba menghubunginya karena pekerjaan. Setelah Arva pulang, Alessia berbaring. Tak butuh waktu lama, Daniel datang.
Daniel terkejut melihat keberadaan Alessia. Bagaimanapun ia sudah tidak melihat Alessia selama dua minggu lebih.
“Kamu udah pulang?” tanya Daniel.
“Kamu nggak suka aku balik kesini?” sarkas Alessia.
“Nggak gitu Sa.” balas Daniel yang kemudian duduk disamping Alessia.
Daniel memperhatikan Badan Alessia. Alessia sedikit lebih berisi dibanding terakhir kali mereka bertemu. Perutnya juga terlihat lebih besar.
“Ya ter- akh,” ucapan Alessia terhenti. Ia langsung menyentuh perutnya. Anak dalam kandungannya bergerak untuk pertamakalinya. Padahal selama ini Alessia tak pernah bisa merasakan keberadaannya.
“Kenapa?” tanya Daniel.
“Ini, baby-nya gerak. Coba sini in tangan kamu.” kata Alessia yang kemudian mengambil tangan Daniel dan menaruhnya di atas perutnya.
Daniel bisa merasakan pergerakannya bahkan tendangannya. “Wah, iya bener.”
“Dan, ajakin ngomong. Kemarin waktu aku check up, kata Dokter aku harus sering-sering ngajakin ngomong baby-nya. Karena babynya bisa denger suara kita.”
“Aku harus ngomong apa?” tanya Daniel.
“Terserah.” jawab Alessia.
“Halo nak, uhm... Gi- gimana kabar kamu?” tanya Daniel malu.
Alessia bisa melihat wajah Daniel memerah.
“Sehat papa.” jawab Alessia yang menirukan suara anak kecil. Daniel memperhatikan Alessia.
Seolah bisa mendengar Daniel, anaknya menendang kembali. Reflek Daniel menatap perut Alessia.
“Tuh kan, dia denger. Coba ajakin ngomong lagi,”
Daniel menurut. Semalaman ia mengajak berbicara calon anaknya dengan topik yang random sembari mengusap perutnya sayang.
“Selamat tidur.” ucap Daniel yang kemudian mencium perut Alessia dan langsung berbaring memeluk Alessia itu.
***❤***
Pagi harinya, Daniel masih juga mengajak calon anaknya bicara sembari pergi berbelanja di pasar. Alessia senang, terlebih Daniel yang menjaganya seolah penuh sayang. Daniel memeluk pinggangnya dan terkadang mengusap perutnya. Bahkan Daniel tak segan menegur orang yang merokok disampingnya, karena Alessia sedang hamil.
“Oh ya Dan, kayaknya dulu kamu ngerokok deh. Kok sekarang aku nggak pernah lihat kamu ngerokok ya?”
“Kan kamu lagi hamil. Ya kali aku ngerokok di depan kamu!”
“Jadi masih ngerokok?”
“Masilah.” jawabnya. “Kamu masih mau Kiwi nggak?” tanya Daniel yang melihat buah Kiwi di depannya. Ia ingat beberapa minggu yang lalu Alessia nyidam buah Kiwi. Sayangnya ia selalu lupa membelinya.
“Boleh.”
Selesai belanja, Daniel langsung memasak makanan yang sehat untuk Alessia. Selesai itu, ia mengajak Alessia untuk me loundry pakaiannya.
Ini adalah hal kedua yang dilakukan Daniel untuk Alessia. Daniel selalu me loundry kan pakaian mereka dibanding menyuruh Alessia mencuci. Alessia bahkan bingung kenapa Daniel meloundry-kan pakaian mereka dibanding mencucinya sendiri.
“Kamu hamil soalnya.” jawab Daniel singkat.
“Jauh nggak? Kok kamu ngajak jalan?”
“Nggak sih, kan kamu lagi hamil. Harus banyak gerak juga.”
Senyum Alessia terbit. “Dan, makasih.”
“Buat apa?”
“Perhatian kamu. Aku yakin kamu bakal jadi papa yang baik buat calon anak kita.”
Daniel tak menjawabnya. Ia termenung memikirkan ucapan Alessia. Papa yang baik? Itu sepertinya tidak mungkin. Daniel berniat meninggalkan Alessia ketika anaknya sudah lahir nanti.
“Aku nanti keluar.”
“Hah, kemana lagi?”
“Sama temen-temen.”
“Aku ikut boleh ya?” mohon Alessia.
“Nggak bisa.”
“Pasti bohong, bilang aja mau ketemu Alma.”
“Sama temen-temen.”
“Terus kenapa aku nggak boleh ikut?”
“Soalnya tempatnya nggak cocok buat ibu hamil!”
“Hamil- hamil- hamil terus alasannya.”
“Kan kamu emang lagi isi. Kalau enggak pasti udah aku ajakin.”
Entah kenapa Alessia senang mendengarnya.
“Alma ada disana nggak?” tanya Alessia lagi.
“Nggak ada.”
“Kenapa?”
“Alma nggak tau aku punya temen kayak mereka.”
Mendengar hal tersebut, Alessia langsung mengeratkan pelukannya di lengan Daniel. Ia merasa sangat spesial karena bisa mengetahui hal yang tidak diketahui Alma.
Sementara itu, Daniel tidak mengerti dengan perubahan suasana hati Alessia yang berubah secara mendadak. Setelah meloundrykan pakaian, Alessia langsung menata pakaian yang baru saja dibawa pulang. Sementara Daniel menunggu temannya datang.
Ketika temannya sampai didepan, Daniel langsung berpamitan pergi. Sebelum pergi Alessia mencium bibir Daniel terlebih dahulu. Daniel terkejut dan Alessia tersenyum. Di mata Daniel waktu itu, Alessia terlihat sangat cantik dan menggemaskan seperti saat pertama kali mereka bertemu. Daniel menarik Alessia lalu memeluknya erat dengan tangan kirinya sementara tangan kananya membelai wajah Alessia sebelum menciumnya dalam. Mereka saling bertautan lebih dalam dan intens.
“s**t!!” maki Daniel ketika menyudahi ciumannya.
“Kenapa?”
Daniel melirik ke arah bawah. Alessia mengikutinya. Ketika melihat apa yang dimaksud dengan Daniel, Alessia tertawa kecil.
“Sini, sebentar.” kata Daniel yang kini duduk di atas kursi lalu menarik Alessia agar duduk diatasnya dan menciumnya kembali.