BAB 10

1074 Words
“Sa, kamu nanti bisa kan pergi ke Dokter sendiri?” tanya Daniel. “Kamu mau kemana?” “Aku ada acara sama temen-temen.” “Temen-temen atau Alma?” “Apa sih Sa,” “Aku tau kamu masih suka ketemu sama Alma. Aku pernah lihat kalian bareng.” Daniel diam mendengarkan. Alessia lalu menatap Daniel memelas. “Dan, aku tau kamu nggak suka sama aku. Tapi setidaknya lihat aku sebagai ibu yang sedang mengandung anak kamu. Aku sama calon anak ini butuh kamu-” “Aku pergi sama temen-temenku. Nggak sama Alma!” tegas Daniel yang memotong ucapan istrinya itu. “Bisa nggak, kamu disini nemenin aku? Lagian kamu kan sering keluar bareng temen-temen kamu.” “Jangan manja deh Sa. Jangan mulai lagi.” “Kalau gitu, aku ikut ya... Aku janji nggak akan ngerepotin kamu nanti,” “Kalau lo ikut, lo udah ngerepotin gue. Jadi meding, lo diem aja disini.” “Kalau kamu pergi, aku bakalan pulang ke Papa.” “Silahkan.” jawab Daniel seolah tak peduli omongan Alessia. Setelah mengucapkan itu, Daniel langsung pergi begitu saja. Alessia, menatap nanar kepergian Daniel. Ia menangis kembali. Dan esoknya, ia baru bisa pergi ke Dokter untuk check up. Alessia berusaha tak banyak pikiran dengan melakukan apapun yang inginkan. Tapi sayangnya ia hanya bisa berbaring dengan menangis. Alessia masih menyimpan uang yang ia pinjam dari Mahesa. Besok teman-temannya wisuda. Sementara ia, masih belum menyelesaikan kuliahnya. Alessia mengirim pesan ke Daniel bahwa ia akan pergi ke Malang. Daniel hanya membalas iya. Benar-benar hanya satu kata 3 huruf itu. Alessia langsung berangkat naik Kereta. Karena tiket Kereta yang mahal, ia hanya tinggal memiliki uang 100 ribu. Alessia merasa malu karena tak bisa membawakan apapun untuk teman-temannya. Tapi meski begitu, ia tetap mencoba menyapa teman-temannya. Teman-teman Alessia terkejut melihat perubahan penampilan Alessia. Bukannya cantik, tapi Alessia terlihat lebih kurus dari terakhir yang mereka lihat. Wajahnya pucat dan penampilannya tidak seperti dulu. “Anjing, Daniel Anjing. Bisa-bisanya buat Alessia kesayangan gue kayak gini.” ujar Mahesa dengan memeluk Alessia erat. “Gin, siapa yang dateng ke wisuda lo?” “Nenek sama om gue.” “Dimana mereka? Gue bisa nggak sih nyapa mereka?” “Bisa kok. Ayo dah kesana.” Ajak Gina dengan mencoba tersenyum. Ia menggenggam tangan Alessia erat. Dalam hatinya, ia meminta maaf kepada sahabatnya itu karena telah membuat kehidupan sahabatnya berantakan karena kakaknya. Alessia menyapa keluarga Daniel hangat. Respon mereka sedikit dingin tapi berusaha ramah ke Alessia. Setelah berfoto bersama dengan teman-temannya dan keluarga Gina. Alessia berpamitan pergi tanpa acara makan-makan bersama mereka karena berkata sudah memiliki janji dengan papanya. Tentu saja ia berbohong. Sampai dirumahnya, papanya sedang tidak ada dirumah. Kemungkinan baru besok ia akan sampai dirumah. Alessia lebih memilih menunggunya dengan tidur di pos satpam rumahnya karena rumahnya terkunci dan hanya ada satpam disana. Yang punya kunci cadangan adalah pembantu yang selalu datang untuk memasak atau membersihkan rumah. Sayangnya pembantu tersebut tidak datang ke rumahnya karena papa Alessia jarang sekali pulang. Beruntungnya, esok malamnya ia bisa bertemu dengan papanya. Alessia segera keluar dan membuka kan pagar untuk papanya. Alessia mampu melihat wajah terkejut papanya. ***❤*** Arva terkejut melihat Alessia putrinya ada di depannya. Ia melihat penampilan putrinya yang berubah dratis. Ia ingat beberapa bulan yang lalu Alessia memiliki wajah yang cerah dan badan yang sangat sehat. Tapi saat ini putrinya, terlihat sangat mengenaskan di matanya. Apa Daniel sialan itu tidak memperlakukan putrinya dengan baik? Bagaimana bisa Alessia terlihat kurus disaat sedang hamil? Arva keluar dari mobilnya dan menyuruh Sopirnya untuk memasukannya kedalam garasi. Ia memperhatikan putrinya yang diam saja. Arva juga diam memperhatikannya. “Papa,” panggilnya pelan. Arva bisa melihat putrinya seperti menahan tangis. Putrinya membuka mulutnya tapi tak ada suara yang keluar dari sana. Putrinya itu terlihat sangat cemas lalu mengalihkan pandangannya. “Kamu sudah makan?” tanya Arva. Alessia langsung mendongak menatap papanya tak percaya. “Belum.” “Ayo makan.” ajak Arva yang langsung berjala menuju pintu utama rumahnya. Alessia mengikutinya dari belakang. Melihat pintu terbuka, ada perasaan yang sangat nyaman. Dalam hatinya, ia seolah mengatakan bahwa ia sangat merindukan rumahnya. “Papa mau mandi dulu, kamu juga sana istirahat ke kamar kamu. Nanti papa panggil kalau makananya udah siap.” suruh Arva lagi. Alessia menganguk dan langsung menurut. Ia naik ke atas kamarnya. Ia sangat merindukan kamarnya hingga ketika masuk kedalam kamarnya, Alessia langsung berbaring. Sementara itu Arva langsung membuka ponselnya dan memesan makanan kesukaan putrinya. Selesai memesan makanan, ia membuka pesan chat putrinya dan membaca maupun mendengarkan suara putrinya itu. Arva menangis mendengar suara putrinya yang memohon maaf dan meminta Arva agar menjemputnya mengajaknya pulang. Arva mengusap airmatanya. Perasaannya sangat sakit karena Daniel yang tidak memperlakukan putri satu-satunya dengan baik. Arva langsung mandi dengan cepat dan menyiapkan makanan diatas meja ketika Satpam rumahnya berkata bahwa pesanan makannya sudah sampai. Ia langsung naik ke atas kamar putrinya dan mengetuknya. Tak butuh waktu lama, Alessia keluar dengan penampilan yang lebih segar. Arva langsung mengajaknya makan. “Kamu masih suka makanan dari Mbok Esih nggak?” tanya Arva. “Masih Pa.” “Bagus, Papa pesen di Mbok Esih tadi.” Mereka langsung duduk dan makan bersama. Alessia merasa mual tapi ia menahannya. Beberapa detik kemudian ia bangun dan memutahkan makananya. Arva mengikutinya dan memijit tengkuk Alessia. “Kamu sakit?” Alessia menggeleng. Arva langsung menyentuh kening Alessia. Badan Alessia panas. Arva hanya bisa diam. Ia ingat betul bahwa Alessia sangatlah rewel ataupun manja jika ia merasa ada bagian tubuhnya yang sakit. Tapi ini, “Kamu mau makan sesuatu yang lain?” Alessia menggeleng. “Sia bisa makan ini kok.” jawabnya yang kemudian meminum air lalu melanjutkan makan. “Ayammya aja makan. Nasinya nggak usah kalau mual.” Alessia menganguk. Arva menyudahi acara makannya dan langsung mengupas buah untuk putrinya. Melihat putrinya yang tersenyum, mau tak mau Alessia juga tersenyum. Arva menelpon Dokter untuk datang ke rumahnya dan memeriksa Alessia. Mendengar diagnosis Dokter lagi-lagi Arva hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi. Setelah Dokter pulang, Arva meyuruh putrinya itu minum obat dan istirahat. Setelah memastika putrinya istirahat, Arva diam berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Hingga keesokan harinya, Arva menyuruh Alessia untuk bercerai dari Daniel dan ia akan mengurus semuanya nanti. Alessia juga tidak perlu menemui Si b******n Daniel itu. Alessia diam. Ia tidak tau harus melakukan apa, Bahkan setelah ia tinggal selama seminggu di Malang, Daniel masih tidak menghubunginya seolah lupa bahwa ia sudah menikah dengan perempuan bernama Alessia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD