BAB 9

1090 Words
Sampai di Vila yang di inapi oleh Alessia, Daniel langsung masuk begitu saja. Samar-samar ia mendengar suara Alessia dan beberapa orang yang tak asing. Sampai disana, Daniel terkejut melihat Alessia sedang melakukan acara barbeque dengan teman-temannya. Daniel dengan perasaan yang sangat buruk langsung memangil namanya dengan keras. Alessia dan ketiga temannya terkejut melihat Daniel ada disana. “Lo itu punya otak nggak sih?” omel Daniel ke Alessia. Alessia dan ketiga temannya terkejut melihat Daniel yang begitu terang-terangan memaki Alessia. “Kenapa lo selalu nyusahin gue terus? Setidaknya lo sadar kalo lo sedang isi dan jangan bego! Asal pergi gitu aja nggak pamit!” makinya kasar. “Ayo balik.” ajaknya kesal. Alessia diam saja. Daniel mendekati Alessia dan menariknya kasar. Michael yang melihatnya tak terima. Ia menapik kasar tangan Daniel dan menyembunyikan Alessia di belakangnya. “Ya lo jangan kasar!” Daniel tak terima. “Lo yang jangan ikut campur Anjing! Ini urusan gue sama istri gue!” “Istri lo itu sahabat gue! Gue nggak bisa biarin lo kasar seenak lo sendiri!” bantah Michael. “Alessia!” bentak Daniel. Alessia kaget. Ia takut melihat wajah marah Daniel. Anehnya, tiba-tiba saja air mata Alessia turun. Wanita itu terisak pelan. “Kok kamu bentak aku sih?” tanya Alessia. "Papaku aja nggak pernah bentak aku, hisk," Daniel terkejut. Ia tidak mengerti kenapa Alessia hobi bikin drama menangis begitu. “Nggak usah bikin drama!” “Aku nggak bikin drama! Aku juga nggak mau nangis! Tapi aku ga tau kenapa aku malah nangis kayak gini!” teriak Alessia tak terima. “Kamu tuh kayak gitu terus. Aku nggak suka kamu marahin. Papa aku aja nggak pernah marahin aku.” rengek Alessia dengan tersedu-sedu. “Cara ngomong kamu ke aku kasar banget. Aku nggak suka.” lanjutnya lagi. “Ya mangkanya lo jangan bikin gue kesel.” balas Daniel. “Lo lagi hamil, kalau ada apa-apa sama lo, gue juga yang repot. Sini, ayo pulang.” ucapnya melembut. Alessia langsung mendekati Daniel hingga membuat ketiga temannya bingung tidak mengerti. Mereka tau betul bahwa Alessia, membenci Daniel. Tapi kenapa sekarang perempuan itu mau di ajak pulang bersama Daniel. Sampai didepan Daniel, Alessia langsung memeluknya erat. Daniel sempat terkejut tapi kemudian membalas pelukannya dengan mengusap rambutnya lembut. “Udah jangan nangis.” kata Danie. “Ya kamu jangan suka marah-marah.” Daniel hanya diam saja. Ketika ia menarik tangan Alessia hendak pergi, Alessia berkata ia membawa barang-barangnya. Daniel hanya bisa menahan napasnya agar tidak emosi kembali. Jika ada yang bertanya, siapa yang paling merepotkan diantara semua perempuan yang ia kenal, maka jawabannya adalah Alessia. Daniel menyuruh salah satu teman istrinya itu untuk mengantarkan barang milik Alessia ke kontrakan mereka. Setelah itu ia langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, Daniel melihat rumah sakit. Ia menghentikan motornya dan langsung mengajak Alessia masuk ke sana. Alessia sempat takut dan khawatir Daniel mengajaknya ke rumah sakit. Tapi, ketika melihat Daniel mendaftarkan check up kandungannya, senyumnya terbit. Alessia merasa Daniel memperdulikannya. Ia pikir Daniel berubah karena kepergiannya. Sementara itu Daniel melakukannya karena ia tak ingin dipermasalahkan oleh Alessia nanti. Ketika nanti ia bercerai dengan Alessia setidaknya, ia diingat sebagai orang yang tak memperlakukan calon anaknya dengan buruk. Hanya ini yang bisa Daniel berikan kepada calon anaknya itu. Ketika mereka nanti bercerai, ia yakin 100% ia tak akan bisa bertemu anaknya lagi. Yah, setidaknya hanya ini yang bisa Daniel berikan sebagai ayah dari calon anaknya itu. Setelah menunggu kurang lebih dua jam, mereka pun masuk bersama. Daniel memperhatikan pemeriksaan Alessia. Ia rasa ini akan menjadi pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan. Sayangnya, hasil pemeriksaan mengatakan yang sebaliknya dari harapan pasangan tersebut. Kandungan Alessia lemah. Jika sampai Alessia mengalami pendarahan karena stress ataupun terjatuh. Dapat dipastikan, mereka tidak akan bisa bertemu calon anak mereka lagi. Dokter tersebut menyuruh Daniel agar membuat Alessia selalu senang dan tak banyak pikiran. Dan jangan lupa untuk selalu kontrol ke rumah sakit. Daniel menganguk sebagai jawaban lalu pergi pulang. Sampai dirumah mereka, Daniel memberikan makanan yang tadi ia beli bersama dengan Alma. Setelah itu ia berpamitan pergi kepada Alessia. Alessia melarang Daniel pergi. Ia ingin ditemani dan tak sendirian lagi. Daniel mengabaikannya dan langsung pergi begitu saja. Hati Alessia di patahkan kembali. Alessia, menyalakan laptopnya dan lebih memilih mengerjakan Skripsi sebisanya sembari memakan makanan yang diberikan oleh Daniel. *** Dua bulan berlangsung sejak saat itu, Alessia dan Daniel tak memiliki kenangan berharga menurut mereka. Daniel sering pergi meninggalkan Alessia dan hanya pulang untuk tidur ataupun memasakan sesuatu untuk dimakan oleh Alessia. Alessia mencoba menghubungi papanya, dan masih tidak ada responnya. Ia terkadang menangis diam-diam karena papanya atau Daniel suaminya mengabaikannya begitu saja. Tapi Alessia sadar, bagaimanapun ia memang tidak pernah ada dalam rencana Daniel. Kini kandungan Alessia masuk bulan ke-6, untuk pertama kalinya ia nyidam ingin makan buah Kiwi. Alessia pun mengatakannya kepada Daniel. Daniel hanya merespon jika ia tidak lupa ia akan membelikan Alessia nanti. Tapi sayang, Daniel tak pernah membelikannya. Pada akhirnya Alessia mencoba mencari pekerjaan yang cocok ia kerjakan. Sayangnya, banyak yang menolaknya karena ia sedang hamil. Akhirnya ia harus merepotkan temannya Mahesa dengan meminjam uangnya. Mahesa tak banyak tanya dan langsung mentransfer Alessia sebesar 1 juta. Akhirnya Alessia bisa membeli apa yang ia mau yaitu buah Kiwi. Ketika ia hendak membayar Kiwi yang ia beli di kasir, ia harus menerima kenyataan pahit ketika melihat Daniel sedang berjalan dengan perempuan lain. Ia kenal perempuan itu. Alma mantan pacar Daniel. Jadi, selama ini Daniel masih berhubungan dengan perempuan itu? Perasaan Alessia sangat terluka namun ia hanya bisa diam saja dan kemudian pulang. Sampai dirumah, Alessia menangis terisak. Buah Kiwi yang ia beli tadi, tak ia ia makan. Alessia mendadak tak nafsu makan. ia lebih memilih mengirimkan pesan suara ke papanya. “Pa, Alessia mau pulang. Alessia minta maaf.” ucapnya ke sekian kalinya. “Pa, rasanya Alessia mau mati aja sekarang. Alessia nggak punya siapa-siapa selain papa. Jangan ninggalin Alessia kayak gini. Alessia salah. Alessia minta maaf. Alessia janji, Alessia akan nurutin omongan Papa. Maafin Alessia. Alessia mohon. Maafin Alessia. Alessia hanya punya Papa.” ujarnya dengan terisak. Tapi lagi-lagi semua pesan yang ia kirim hanya terkirim tanpa dibaca ataupun di balas oleh papanya. Melihat hal tersebut Alessia semakin terisak. Ia mencoba menelfon papanya namun, telfon tersebut di reject. Alessia semakin terisak. Ia ingin pulang. Sangat ingin pulang ke rumah papanya. Ia masih tak percaya, bagaimana bisa hanya karena calon kehadiran kehidupan yang baru kehidupannya jadi seperti sekarang. Ia masih ingat dengan jelas, ia bisa melakukan apapun yang ia mau beberapa bulan yang lalu, tapi sekarang tak ada yang bisa ia lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD