BAB 6

1023 Words
Setelah dirawat selama seminggu, Alessia pun diizinkan pulang. Daniel juga begitu, ia langsung kembali ke Jakarta untuk mengejar maaf dari Alma. Keluarga Daniel berkata bahwa mereka akan bertanggung jawab kepada Alessia ketika ayahnya pulang nanti. Alessia menganguk. Ia rasa menikah dengan Daniel tidak buruk. Laki-laki itu juga bersikap baik dengan merawatnya. Yah, Alessia baper karna Daniel merawatnya di rumah sakit. Tiga minggu berlalu, kandungan Alessia memasuki minggu ke 14. Perutnya mulai membuncit tapi masih bisa di tutupi. Ayahnya pun sudah pulang. Alessia menghubungi Daniel memberinya kabar. Namun Daniel tak membalasnya, ia pun memberitahu Gina sahabatnya. Ia bertanya dimana Daniel karena papanya sudah pulang. Setelah itu, ia mematikan telfonnya dan berjalan mendekati papanya. Ia bertanya sampai kapan papanya akan ada dirumah, mendemgar jawaban papanya bahwa papanya akan ada di rumah untuk 2 bulan Alessia lega. Esoknya, pada malam hari keluarga Daniel beserta Daniel sudah datang. Nenek Daniel memberitahu tujuannya datang malam ini. Mendengar bahwa putri kesayangannya tengah hamil, Arva sangat ingin nenampar putrinya yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Terlebih Daniel, melihat tak ada penyesalan maupun cinta di matanya untuk putrinya Arva langsung memukulnya. Arva tidak peduli, Alessia mau dinikahkan dengan Daniel atau tidak. Tapi yang jelas malam itu, Alessia di usir oleh papanya dari rumahnya. Tentu saja Alessia menangis tidak mau. Tapi Arva seolah tuli dan tidak peduli dengan putri semata wayangnya. Ia sangat kecewa tehadap Alessia. Jika Alessia diperkosa ia bisa mengerti, tapi ini karena ONS. Arva harus memberi putrinya pelajaran. Arva langsung menelfon mantan istrinya dan memberitahu keadaan putrinya. Mantan istrinya itu sangat syok. Ia lalu menyalahkan Arva yang tidak bisa menjaga maupun mendidik putrinya. Alessia menelfon mamanya. Sayangnya telfonnya sama sekali tidak di angkat. Alessia menelfon lagi. Hingga di panggilan ke 20, mamanya mau menerima panggilannya. Tanpa basa-basi ibunya langsung mengatakan bahwa ia tidak bisa datang ke pernikahan putrinya maupun tidak bisa menerima Alessia di rumahnya karena suaminya. Alessia pun memberitahu Gina apa yang terjadi padanya. Gina memeluknya dengan sangat erat menghiburnya. Sementara Daniel cuek saja. Laki-laki itu masih berusaha menghubungi Alma, mantan kekasihnya untuk mengajak balikan. Sampai di Jakarta, Alessia memang langsung di nikahkan dengan Daniel. Tapi yang tidak Alessia ketahui adalah, Daniel juga turut di usir dari rumah orangtuanya oleh neneknya. Tentu saja Daniel marah. Itu rumahnya. Rumah orang tuanya, bagaimana bisa neneknya mengusirnya. Neneknya lalu memberitahunya bahwa rumah tersebut sudah di ganti nama menjadi nama Gina. Daniel yang mendengarnya sangat marah. “Anjing!! Sial banget gue nikah sama lo.” maki Daniel ke Alessia. “Kok kamu ngomongnya gitu sih Dan, aku juga di usir tapi nggak nyalahin kamu. Ini kan emang salah kita berdua.” kata Alessia lembut. “Positif thingking aja. Siapa tau nenek pingin kita lebih mandiri.” ujar Alessia yang kini menyentuh bahu Daniel untuk menenangkannya. Daniel menepis kasar tangan Alessia. Ia lalu berjongkok dan mengacak rambutnya kesal. “s**t!! Sialan!” “Mending kita cari kontrakan aja dulu.” ajak Alessia. Daniel mendecak. Ia lalu menarik koper miliknya. Alessia mengikutinya sembari membawa koper dan tasnya. Sampai diluar rumah Daniel langsung menelfon seseorang. Tak butuh waktu lama ada mobil yang berhenti di depan mereka. Daniel membuka bagasi dan memasukan koper miliknya. Setelah itu ia masuk kedalam mobil mengabaikan Alessia. “Dan,” panggil Alessia. “Yaudah cepetan masukin barang-barang lo deh. Jangan manja!” omel Daniel. Perasaan Alessia terluka, mengingatkannya kepada mantan ayah tirinya yang sering menyiksanya dulu. Meski begitu, Alessia diam saja dan menuruti permintaan Daniel. Ia lalu membuka pintu mobil dan duduk dibelakang. “Kenalin, Ardi. Sahabatnya Daniel.” kata Ardi sembari berbalik dengan mengulurkan tangannya. Alessia segera menjabatnya. “Alessia. Istrinya Daniel.” jawab Alessia ramah. “Udah tau. Hamil duluan kan.” Senyum Alessia hilang. Ardi tertawa. “Becanda! Ga usah dimasukin hati!” katanya yang kemudian mengemudikan mobilnya. “Jadi, lo gimana Dan sekarang?” tanya Ardi. Daniel memijit pelipisnya. “Ga tau.” jawabnya pusing. “Mau ditempat gue dulu?” tawar Ardi. “Ada anak-anak yang lain juga tuh.” “Terus dia?” tanya Daniel malas. Alessia sangat merepotkannya. “Ajak aja gapapa. Kenalin ke yang lain.” “Nggak. Anterin gue cari kontrakan aja. Kalo udah dapat baru deh gue ke tempat lo.” “Yaudah. Gue tau tempat yang oke buat kontrakan.” Alessia hanya bisa diam mendengarkan mereka bicara. Dan sesuai kata Ardi, mereka langsung datang ke kontrakan yang dibicarakan Ardi. Alessia kurang nyaman dengan tempat itu, tapi mau gimana lagi, jika ia protes bisa-bisa Daniel makin marah. Daniel langsung membayarnya untuk 3 bulan. Ia membawa barang-barangnya masuk. Setelah itu ia berbalik dan hendak pergi bersama Ardi. Alessia segera mencegah. “Jangan pergi. Aku takut sendirian disini. Mana aku nggak familiar sama tempat ini. Temenin ya, lagian aku juga hamil tau.” Alessia memelas. Berharap Daniel mau menemaninya. Tapi Daniel langsung menarik tangannya dan pergi. Alessia mengejarnya. “Dan, please...” mohon Alessia. “Ajakin aja.” suruh Ardi tak tega. “Ogah. Biar aja dia disini.” tolak Daniel. “Tapi dia lagi hamil.” kata Ardi. “Bacot!” Alessia memegang tangan Daniel. “Mas Daniel, jangan pergi ya.. Aku ga mau sendirian.” mohonnya lagi. Tapi Daniel mengabaikannya. Ia membentak Alessia agar Alessia mau kembali ke kontrakan dan tidak menganggunya. Alessia langsung menangis mendengar suara bentakan itu. Daniel tidak peduli. Dia pergi begitu saja meninggalkan Alessia yang menangis. Alessia dengan gontai kembali ke kontrakannya. Sejak ia hamil moodnya naik turun. Terlebih Daniel yang tidak memperlakukannya dengan baik. Alessia duduk di atas tempat tidurnya. Ia mencoba menelfon papanya. Tapi nihil papanya tidak menjawab panggilannya seolah Alessia memang benar-benar sudah diabaikan dan dibuang oleh papanya sendiri. Alessia lalu memberikan pesan suara yang isinya ia meminta maaf pada papanya. Alessia menyentuh perutnya. Sepertinya ia tidak akan bisa bertahan jika Daniel tetap seperti ini padanya. Sementara itu, Daniel sedang pesta minuman bersama teman-temannya yang lain. Beberapa temannya penasaran dengan istri Daniel alias perempuan yang saat ini sedang mengandung anak Daniel. Mereka penasaran bagaimana bisa Daniel kecolongan alias kebobolan karena selama ini tidak pernah ada sejarah perempuan mengaku sedang hamil anaknya. Daniel sendiri cuek dan lebih memilih tidak menanggapinya. Ia merindukan Alma. Sangat merindukannya. Harusnya saat ini, ia merencanakan pernikahan dengan Alma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD