“Gara-gara lo Anjing! Alma mutusin gue!” maki Daniel ke Alessia.
“Oh bagus dong,” jawab Alessia.
Daniel kesal. Ia langsung mencekik Alessia. Tentu saja Alessia memukul tangan Daniel minta di lepaskan.
“DANIEL!”
Daniel menoleh melihat neneknya.
Plakkk...
Daniel hendak melawan, tapi omnya langsung datang dan memukul wajah Daniel. Ia memaki Daniel yang bersikap sangat kasar dengan Alessia yang seorang perempuan. Terlebih Alessia sedang mengandung anak Daniel juga. Ia menyuruh Daniel bertanggung jawab kepada Alessia. Daniel menolak. Ia tidak mau. Ia tidak percaya anak yang dikandung Alessia adalah anak kandungnya.
Alessia jelas marah, ia menendang kemaluan Daniel. Dan Daniel merintih kesakitan.
“Gue juga ogah lo nikahin b******k!” yah, Alessia lebih tidak mau punya suami yang kasar seperti Daniel.
Daniel yang mendengar hal tesebut semakin tersulut amarahnya. Ia akan menikahi Alessia. Dan selama itu ia akan menyiksa Alessia hingga perempuan itu meminta bercerai darinya. Lihat saja, beraninya Alessia mengagalkan rencana pernikahannya dengan Alma.
Alessia lebih memilih pulang ke Malang dibanding menetap di tempat Gina. Ia bisa stress melihat wajah Daniel. Tanpa sadar, Alessia mengusap perutnya, berharap agar anaknya tidak mirip seperti Daniel.
Sampai dirumahnya, Alessia hanya bisa mematung didalam kamar. Ia bingung harus berbuat apa sekarang. Ia tak menginginkan anak yang sedang ia kandung. Tapi, ia juga takut untuk melakukan aborsi. Bukan takut mendapat dosa. Tapi ia takut dengan resiko setelahnya seperti pendarahan hebat dll. Tapi, jika ia tak melakukan aborsi, bisa dibunuh mama dan papanya jika ketahuan nanti.
Ia beruntung papanya pergi keluar negeri selama sebulan. Ia berharap papanya mendapat kerjaan yang bisa membuatnya tidak pulang selama setahun. Dengan begitu ia bisa melahirkan anak ini lalu membuangnya. Ia tidak mau menikah dengan Daniel. Sama seperti kisah Gina selama ini, Daniel itu psycopath.
Alessia berpikir kembali. Jalan satu-satunya di otaknya agar bisa selamat dari tragedi ini adalah lebih baik ia sengaja membuat tubuhnya sendiri mengalami keguguran daripada menguvurkan kandungannya. Cara yang pertama, Alessia memakan Nanas.
Ia langsung pergi ke supermarket dan membeli 4 kilo nanas. Setelahnya, Alessia langsung memakannya. Bukannya keguguran, ia malah mengalami sakit perut yang luar biasa hingga harus di opname. Gina yang mengetahuinya langsung memarahi Alessia sehingga membuat geng Uno mengetahui berita kehamilan Alessia.
Arabella mendecak dan menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Alessia seceroboh ini. Sementara Sofia mulai memberikan tausiyah kepada Alessia.
Klek..
Geng Uno langsung menatap ke arah pintu. Ada Daniel. Daniel berjalan santai mendekati bangkar Alessia. Sementara para geng Uno menatapnya tajam. Terlebih Michael, ingin rasanya ia menghajar Daniel.
Daniel tersenyum mengejek menatap Alessia.
“Lo kalau pingin gugurin anak lo nggak usah susah-susah makan nanas, langsung aja dateng ke klinik.”
Bug...
Bruk...
Daniel terjatuh karena tiba-tiba Michael memukulnya.
“b*****t!” maki Daniel.
Daniel bangun, ia hendak membalas pukulan Michael tapi tangan Daniel di pegangi oleh Alessia. Tangan wanita itu terasa dingin.
Daniel mendecak, ia menoleh menatap Alessia. Wajah Alessia sangat pucat dan berkeringat dingin. Ia memegangi perutnya kesakitan.
Daniel tak merasa iba. Malah bagus jika janin itu, gugur. Lagipula ia dan Alessia juga tidak ingin anak itu ada.
“Lagian ya Niel, anak dalam kandungan itu bisa dengerin suara orang tua dan sekitarnya! Jangan sembarangan kalo ngomong!” omel Gina adiknya.
Daniel cuek saja. Remasan di tangannya semakin terasa menguat. Alessia sudah memejamkan matanya seolah menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia memegangi perutnya.
Daniel lalu menyentuh perut Alessia. Ia mengusapnya pelan. Ekspresi Alessia mulai membaik.
“Sepertinya anakmu tau, kalau papanya lebih baik daripada mamanya.” kata Daniel sembari masih menyentuh perutnya.
“Shut up!”
“Ya kan nak? Mamamu emang stress, ga waras. Mana ada ibu yang tega nyakitin anaknya kecuali emang dia gila. Ga ada otak!”
Alessia diam saja. Meski sangat ingin membalas perkataan Daniel. Ia tidak ada tenaga untuk berdebat dengan Daniel sekarang. Lebih baik ia membiarkan Daniel saja. Daniel masih memaki Alessia dengan dalih mengajak anaknya berbicara.
Ketika Alessia sudah tidur, Daniel menarik tangannya dan bersiap pergi. Gina diam saja membiarkannya. Ia ogah menegur kakaknya. Daniel mengeluarkan handphonenya sembari berjalan pergi.
“Mau kemana?” tanya Sofia.
Daniel mengabaikannya dan tetap pergi. 10 menit berselang, Alessia terbangun dari tidurnya. Ia menyentuh Perutnya yang terasa perih kembali.
“Daniel,” panggil Alessia.
Gina mendekatinya. “Dia pergi.”
“Suruh kesini Gin, perut gue sakit banget.” rintih Alessia.
“Tunggu bentar,” Gina langsung menelfon neneknya, meminta tolong untuk menelfon Daniel menyuruhnya kembali segera ke rumah sakit karena Alessia mencarinya.
20 menit berselang, Daniel kembali. Wajahnya terlihat sangat kesal.
“Apa lagi sih?” tanya Daniel.
“Sakit tau!”
“Ya mangkanya besok lagi itu di pikir, jangan bego-bego.” omelnya yang kini berjalan mendekat ke arah Alessia.
Alessia meraih tangan Daniel lalu menaruhnya di perutnya.
“tangan lo bisa ngilangin rasa sakit, mangkanya gini aja dulu.” pinta Alessia.
Daniel diam menurut. Meski sebenarnya dia tidak mau melakukan hal ini juga.