BAB 4

1325 Words
Keesokannya kepala Alessia berdenyut sakit. Dan rasa mualnya semakin menjadi-jadi. Tak hanya itu badannya juga terasa aneh. Ia tiba-tiba merasa ingin melakukan hubungan seksual. Tentunya ia sadar. Ia tak bisa melakukannya sekarang. Jika di pikir-pikir sudah dua bulan sejak kejadian di Gili bersama dengan Daniel. Sejak saat itu Alessia juga tidak pernah melakukan hubungan dewasa dengan siapa pun lagi. Iyalah, kan dia jomblo. Malam pertamanya saja dengan laki-laki yang tak ia kenal. Ia hanya sebatas tau nama orang itu Daniel dan berasal dari Jakarta. Jakarta itu luas dan yang punya nama Daniel tentunya tak hanya satu atau dua orang aja. Entah kenapa Alessia berharap bisa bertemu dengan Daniel minggu depan ketika ia pergi bersama Gina ke Jakarta. Ah ya, ia lupa untuk memberitahu papanya. Alessia pun mengirimkan pesan. Lagi-lagi rasa mual menghampirinya. Ia pergi ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi Alessia yang hendak naik ke atas tempat tidur melihat pantulan dirinya dari kaca. Alessia pun mengaca dan reflek memegang perutnya. Tunggu, masa dia hamil?? Nggak mungkin. Tapi ia ingat kok beberapa minggu lalu ia mens. Yah meski sedikit dan cuma sehari aja sih. Alessia pun mulai browsing. Membaca artikel yang ada bukannya malah tenang, ia malah panik. Dan akhirnya memutuskan untuk membeli testpack di apotik terdekat. Selesai memebelinya, Ia langsung mencobanya di kamar mandi. Setelah harap-harap cemas agar hasilnya negatif. Alessia dibuat terkulai lemas. Empat testpack yang ia beli hasilnya positif semua. Gila. Hanya satu kata itu yang bisa ia katakan. Alessia heran. Orang-orang yang menikah itu meski melakukan hubungan seks berkali-kali tanpa melakukan pengaman saja mereka susah sekali hamil tapi kenapa ia bisa segampang ini hamil. “Aish, sial!" makinya bingung. Alessia segera pergi ke rumah sakit untuk mengecek kebenarannya. Ia masih berharap tespack tersebut salah. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika hasil tespack tadi tidak berbohong. Ia sedang hamil 9 minggu. Wah, Alessia spechless. Ia kembali ke kamarnya dan langsung tidur sembari memegang perutnya bingung. Alessia tidak tahu siapa ayah dari anak yang ada di dalam perutnya. Belum lagi jika papanya tau. Alessia yakin ia pasti dibunuh papanya. Untung saja papanya pergi. Jadi, ia pasti bisa menyembunyikannya untuk sementara. Apa yang harus ia lakukan sekarang?? Apa ia gugurkan saja anak ini? Tapi bagaimana caranya? Ia paling benci yang namanya rasa sakit. Memangnya aborsi tidak sakit? Baru membayangkannya saja tubuhnya sudah bergetar ketakutan **** Gina memberitahu Alessia agar tidak takut atau kaget melihat kakaknya. Kakaknya itu memang setan. Jika nanti Alessia jengkel dengannya ia mempersilahkan Alessia memukulnya. Alessia tertawa mendengarnya. Ia pun menganguk setuju. Sampai dirumah Gina, Gina disambut neneknya. Neneknya kini menjaga rumah ini karena Gina yang mengadu sudah tidak tahan dengan kelakuan kakaknya yang luar biasa kurang ajar. Setidaknya jika ada neneknya masih ada yang ditakuti oleh kakanya itu. Alessia pun melihat kesekelilingnya, ia melihat seorang perempuan cantik yang terihat sangat anggun sedang duduk di sofa. Alessia tersenyum ketika perempuan tersebut tersenyum. Ketika hendak menyapanya, Gina melarangnya. Alessia pun menurut. Sementara Gina mengalihkan pandangannya tak suka. Ia menyindir perempuan itu lalu berlalu pergi dengan menggenggam tangan Alessia. “Mulut lo Gin, kek nggak pernah di sekolahin aja!” “Suka-suka gue dong, mulut-mulu gue! Ribet lo!” Alessia tak asing dengan suara itu, ia lalu menoleh kebelakang memeriksa siapa laki-laki yang menegur Gina. Ketika melihatnya, alangkah terkejutnya ia. Daniel, Daniel pun begitu, ia tak percaya melihat Alessia perempuan yang memenuhi pikirannya beberapa hari ini ada di depannya. “Daniel,” “Alessia,” Gina memperhatikan kedua orang yang nampak saling kenal itu. “Daniel ini kakak lo?” tanya Alessia ke Gina memastikan. “Gue sih nggak sudi ngakuinya, tapi sayangnya iya.” jawab Gina. “Kenapa?” tanyanya kemudian. “s**t!!” Daniel langsung berlalu pergi. Ia malas berurusan dengan dua perempuan didepannya. Namun Alessia dengan cepat memegangi tangan Daniel. Daniel berbalik dan menatap Alessia seolah bertanya apa yang dilakukan oleh Alessia sekarang dengan marah. “Kita harus bicara!” “Nggak ada yang perlu kita bicarain!” “Ada!! Gue hamil!” Deg... Gina dan Daniel langsung menatap ke arah Alessia. Gina dengan tatapan bingung tak mengertinya. Sementara Daniel dengan perasaan takut dan khawatir. “Terus?” tanya Daniel setenang mungkin. “Kok terus? Gue hamil anak lo Anjing!” Tanpa mereka sadari Alma mendengarkan pembicaraan mereka. “Lo yakin anak yang lo kandung itu anak gue?” “Sure. Gue nggak pernah ngelakuin hubungan itu selain sama lo!” “Nggak mungkin! Jangan ngarang! Itu pasti bukan anak gue!” “b******k! Kalo lo nggak percaya kita bisa tes DNA!” kekukuh Alessia “Apa maksudnya ini?” tanya Alma yang sedari tadi duduk di sofa. Saat ini sudah ada di samping Daniel dan Alessia. Mereka bertiga menatap Alma. Daniel menampik tangan Alessia lalu mendekati Alma. “Stop Dan, jelasin sekarang ke aku, apa maksudnya perempuan ini?” tanya Alma marah. “Aku juga ga tau,” balas Daniel dengan raut wajah yang sangat melas. Alessia tak habis pikir, ternyata apa yang dikatakan oleh Gina dan teman-temannya benar, Daniel memang b******k dunia akhirat. “Ga tau? Gue hamil anaknya Daniel. Udah 9 minggu. Pacar lo ini tidur sama gue waktu di Gili. Kalo lo ga percaya, kita bisa tes DNA.” kata Alessia. “Ga ada sayang, kamu jangan percaya sama dia. Perempuan ini kan temennya Gina, dia pasti-” “Kalau gue tau lo kakaknya Gina, gue juga nggak bakal mau kali ONS sama lo!” potong Alessia cepat. “Anjing!! Lo bisa diam nggak sih?” maki Daniel ke Alessia. Alma langsung menampar Daniel. Daniel diam. “Kamu pernah tidur bareng dia?” tanya Alma dengan menatap mata Daniel. “Aku-” “Jawab jujur Dan!! Kamu pernah nggak tidur sama dia?” bentak Alma. Air matanya turun. “Kita mau nikah Dan, tolong jujur sama aku,” mohon perempuan itu dengan menangis. “Maaf.” Plak.. “Tanggung jawab Dan, perempuan itu hamil anak kamu. Aku nggak mau bahagia dibawah penderitaan perempuan lain.” kata Alma yang langsung berlari pergi. Daniel berlari mengejar Alma. Ia memohon kepada pacarnya itu agar tidak memutuskan hubungan mereka. Daniel akan bertanggung jawab seperti yang diminta Alma. Ia akan membesarkan anak itu nanti jika sudah lahir. Jadi ia mohon Alma agar tidak meninggalkannya. Alma menampar Daniel. Ia sangat kecewa dengan Daniel. Daniel yang ia kenal sangatlah baik dan lembut. Daniel yang tadi, ia tak mengenalnya. Bagaimana bisa Daniel sekejam itu dengan memisahkan ibu dari anaknya. Daniel bukanlah orang b******k, jadi ia mohon kepada Daniel agar tidak seperti ini. Dibanding semua itu, yang paling membuatnya terluka adalah bagaimana bisa Daniel berselingkuh darinya. Ia pun bertanya sudah berapa banyak perempuan yang di ajak ONS dengan Daniel. Daniel pun mengaku. Alma memukulli Daniel. Daniel meminta maaf. Ia salah. Ia janji tidak akan mengulanginya. Sementara itu, Gina menuntut penjelasan apa yang dikatakan Alessia barusan. Akhirnya Alessia pun mengaku dan menceritakannya. Ia tak menyangka partnernya adalah kakak Gina sendiri. Gina menggeleng tak percaya. Ia kasihan dengan Alessia sahabatnya dan langsung mengomelinya, bagaimana bisa Alessia seceroboh itu. “Gue yakin, Daniel pasti ga bakal mau tanggung jawab Sa. Terus lo bakal gimana? Bokap lo gimana?” Alessia menyentuh perutnya bingung. “Gue belum tau. Tapi yang jelas, gue nggak mau bokap gue tau. Gue bisa dibunuh sama dia. Tapi, kalau sampe Daniel nggak mau tanggung jawab, terpaksa gue harus gugurin anak ini.” “Alessia!! Yang bener aja lo??” “Terus gue harus gimana Gin? Gue nggak mungkin ngelahirin anak ini tanpa suami?? Sedangkan lo sendiri yang bilang kalau kakak lo ga bakal mau tanggung jawab. Belum lagi kalau bokap gue tau. Sumpah, gue bakal mati Gin.” Gina diam. Ia lalu bangun dan pergi menuju kamar neneknya. Ia memberitahu apa yang dilakukan oleh Daniel. Gina sebenarnya tidak ikhlas sahabatnya harus menikah dengan Daniel. Tapi ia juga tak mau mengambil resiko yang bahaya untuk sahabatnya. Lagipula biarkan saja Daniel bertanggung jawab. Neneknya yang mendengar hal tersebut sangat syok. Ia tak percaya Daniel akan melakukan hal rendah begitu. Ia langsung mendekati Alessia dan bertanya kebenarannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD