Daniel memeluk Alessia. Ia menciumi wajah dan leher Alessia. Sementara tangannya sudah bergerak nakal. Begitu pula dengan Alessia yang berusaha mengimbangi Daniel. Daniel mendorong Alessia hingga jatuh di atas tempat tidurnya. Ia melepaskan kaos yang dikenakannya. Alessia menatapnya minat. Ia membelai perut Daniel sementara Daniel membuka baju yang dikenakan oleh Alessia. Ia mulai memainkan, mengulum, dan mengigit buah d**a Alessia. Alessia hanya bisa menahan desahannya. Tapi, ketika Daniel mengusap lembut bagian bawahnya dan memainkannya, Alessia mendesah dan menyebut nama Daniel.
“Dan, pelan-pelan ya.” pinta Alessia ketika laki-laki itu siap memasukan barang miliknya.
Daniel menganguk. Ia mencium bibir Alessia dan mulai memasukan barang miliknya. Daniel cukup kesusahan. Sementara Alessia mencengkram bahu Daniel erat. Ia merasa sangat kesakitan. Daniel menciumnya menenangkannya ketika tau. Ia memuji milik Alessia. Sampai akhirnya Daniel merasakan sesuatu yang berhasil ia robek didalam sana. Ekspresi Daniel kaku. Ia terkejut dan tak menyangka jika Alessia masih perawan. Tapi, meski begitu ia tetap melanjutkan aksinya. Alessia yang awalnya menangis kini hanya bisa menyebut nama Daniel. Begitu pula dengan Daniel. Hanya ada Alessia malam itu di otak dan mulutnya. Bahkan tanpa sadar, Daniel mengeluarkan semua miliknya didalam rahim milik Alessia. Ia sangat puas dengan perempuan disampingnya.
Paginya, Daniel menatap perempuan yang masih terlelap disampingnya. Daniel ingat bahwa semalam ia melakukan hubungan badan tanpa menggunakan pengaman. Tak hanya itu, ia bahkan tanpa sadar mengeluarkannya berkali-kali di dalam wanita disampingnya. ia benar-benar tak sadar. Semalam, perempuan itu ia garap habis karena memuaskannya. Ia belum pernah punya partner seperti wanita disampingnya. Padahal tidak berpengalaman tapi perempuan itu anehnya, mampu memuaskannya. Tidak seperti lawan mainnya selama ini. mungkin ini yang dinamakan bakat bawaan.
Merasakan kasur disampingnya bergerak, Daniel menatap wajah yang mulai mengeliat itu. Menatap wajahnya Daniel ingin lagi. Namun ia menahannya karena takut perempuan itu akan histeris karena ia mengambil keperawananya. Tapi, ketika perempuan itu membuka matanya, perempuan disampingnya hanya membuka matanya perlahan lalu menutup matanya kembali. Daniel pikir wanita itu akan pura-pura tidur tapi ternyata perempuan itu malah merintih.
“Sakit banget.”
“Morning Alessia.” sapa Daniel.
Alessia membuka matanya. “Pagi.”
“Sorry, gue nggak tau kalau lo masih-”
“Kan sekarang udah nggak.” potongnya cepat.
Dari wajahnya, perempuan tersebut tidak punya rasa penyesalan dan itu membuat Daniel terkejut.
“Lo nggak sedih? Atau nyesel gitu?”
“Enggak.”
Daniel tersenyum mendengarnya. Rasa p3nasarannya pada perempuan itu meningkat drastis. Ia lalu mendekati Alessia dan mencium bibirnya gemas. Alessia membalasnya.
Shit!! Daniel menginginkan Alessia lagi.
Alessia tau itu. Ia menolak. Bagian bawahnya terasa nyeri. Ia ingin mandi dan pulang. Ia khawatir dengan teman-temannya. Ia yakin saat ini teman-temannya pasti panik mencarinya sekarang.
Daniel berpura-pura mengalah. Ia membantu Alessia ke kamar mandi. Bukan malah membantu Alessia mandi, ia malah melakukan hal seperti semalam lagi. Meski merasa sangat lelah dan sakit. Tapi rasa enak seperti semalam lebih kuat menguasai tubuhnya. Mau tak mau Alessia meladeni Daniel.
Selesai mandi bersama, Daniel membantu mengeringkan rambut Alessia dengan sesekali memberikan kecupan di pipinya. Alessia menyuruh Daniel berhenti. Ia harus pulang. Namun, ketika ia akan pulang, kakinya tidak mau di ajak kerjasama karena rasa nyeri dibawah sana. Daniel menyarankan agar Alessia mau menginap disini lagi sampai kondisinya benar-benar pulih. Alessia menolak namun Daniel berusaha meyakinkannya. Bahkan ia berjanji bahwa ia tidak akan menyentuh Alessia hari ini jika Alessia tidak ingin.
Akhirnya, Alessia pun luluh, ia berbohong kepada temannya dan mengatakan sekarang pergi Snorkling. Setelah itu ia mematikan paket datanya agar teman-temannya tidak heboh menghubunginya untuk bertanya lokasi snorklingnya sekarang. Sementara Daniel tersenyum senang karena Alessia akan menemaninya.
Liburan di Gili terasa sangat menyenangkan bagi Alessia dan Daniel. Setiap malam mereka akan menghindari teman-temannya dan mengulang kegiatan mereka kembali dengan bertemu di tempat pertama kali mereka bertemu. Sampai hari terakhir Alessia berada di Gili.
Kali ini mereka melakukannya didalam bathup dengan Daniel.
“Jadi, besok kamu pulang?” tanya Daniel dengan memainkan buah d**a Alessia.
“Iya.”
“Aku pasti kangen banget sama kamu.”
ujar Daniel jujur.
“Bohong!”
“Serius.”
“Kamu masih lama disini Dan?”
“Mungkin seminggu lagi. Oh ya, aku lupa aku nggak punya nomor kamu.”
“Kamu mau ngelanjutin hubungan kita?” tanya Alessia terkejut. Ia pikir Daniel cuma lelaki sangean yang tidak akan bertanggung jawab terhadap hubungan mereka.
“Emangnya kamu nggak mau?”
“Enggak. Cukup sampai disini aja.”
jawab Alessia tegas. Bukannya ia tidak menyukai Daniel. ia suka namun..., hubungannya saat ini terasa sangat tidak benar untuknya.
“Yakin nggak nyesel?” tanya Daniel.
“Iyalah.”
“Aku baru ingat, kalau selama kita main kita nggak pernah pakai pengaman dan aku selalu keluar di dalam.”
“Terus kamu takut aku hamil? Tenang aja. Itu nggak akan terjadi.”
“Aku harap begitu.” jawab Daniel dengan tersenyum.
Alessia tersenyum. Ia lalu mencium bibir Daniel agar Daniel melupakannya. Selesai mandi, Alessia langsung bangun dan pergi pulang. Daniel tak mengantarnya. Dalam hati Daniel menyayangkan Alessia yang tidak mau memberikan kontaknya. Ia menyukai perempuan itu. Tentu saja tak lebih besar daripada rasa cintanya ke Alma. Tapi Daniel ingin menjadikan perempuan itu sebagai partner-nya untuk seterusnya. Perempuan itu sangat memuaskan.
****
Beberapa bulan kemudian...
Liburan telah usai, kini geng Uno Squad telah kembali ke rutinitasnya seperti biasa. Mereka masih suka bermain bersama kadang juga mengerjakan Skripsi bersama. Maklum sudah semester tua dan sudah dikejar target kapan lulus? Kapan wisuda?
Alessia yang bersiap akan menemui temannya di Cafe terhenti ketika merasakan mual. Ia berlari ke kamar mandi dan mulai memutahkan isi perutnya.
Baru akan beranjak, Alessia sudah mual kembali. Melihat ponselnya berdering. Alessia langsung menjawabnya. Mahesa sudah ada di bawah. Alessia segera turun dan dibawah ia melihat papanya sedang membenarkan dasi dan jasnya.
“Pa,” sapanya.
“Papa ada dinas ke luar negeri. Mungkin sekitar satu bulan. Papa udah transfer uang jajan kamu. Kamu kalau nggak mau sendirian disini, kamu bisa ke rumah mamamu. Nanti papa beliin tiket.” kata Papanya.
“Iya. Nanti Alessia telfon papa aja.” jawab Alessia. Ia langsung menyalami papanya karena sudah ditunggu Mahesa.
Papanya pun mengajaknya keluar bersama. Karena ia juga harus berangkat.
“Kamu sakit? Wajah kamu pucat banget?”
“Enggak. Aku cuma pusing dikit aja. Kayaknya kecapean.”
“Kalau gitu nanti jangan lupa mampir apotik beli vitamin.”
Alessia menganguk. Mahesa yang melihat papanya Alessia langsung menyalaminya. Mereka berbincang sebentar sebelum Papanya masuk kedalam mobil dan pergi.
Mahesa pun bertanya kemana papanya Alessia akan pergi kali ini dan Alessia menjawab sejujurnya.
“Lama betul, lo nggak kesepian?”
“Mangkanya gue disuruh ke Bali.” jawab Alessia sembari masuk ke dalam mobil Mahesa.
Orang tua Alessia sudah bercerai sejak Alessia masih TK. Dan hak asuh jatuh ke tangan ibunya. Alessia pun dirawat dengan ibunya dan keluarga barunya. Namun tak lama ia malah mendapat penganiyaan dari ayah tirinya. Papanya yang mengetahuinya langsung mengambil paksa Alessia dan mengajukan banding di pengadilan. Sejak saat itu Alessia tinggal bersama papanya. Meski begitu Alessia tidak dekat dengan papanya. Mereka jarang bertemu karena papanya sibuk kerja membangun usaha dan Alessia sering dititipkan ke kakek nenek atau bahkan bibinya.
Saat ini ibunya sudah menikah lagi. Suami barunya ini orang baik dan papanya yang mengenalkannya. Karena itu, Alessia di izinkan pulang ke rumah ibunya hanya jika papanya pergi dan lama pulang.
Tak lama mereka sudah sampai di Cafe yang di tuju. Rasa mual Alessia datang lagi. Teman-temannya hanya bisa menatapnya khawatir. Alessia tersenyum dan menenangkan mereka. Ia hanya masuk angin.
“Gue kayaknya mau pulang deh minggu depan.” kata Gina tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Arabella penasaran.
“You know lah. Abang gue, buat masalah lagi. Pinginnya pulang sekarang tapi gue ada bimbingan.” kata Gina.
“Mau gue temenin?” tanya Alessia menawarkan diri.
“Boleh sama bokap lo?” tanya Gina.
“Boleh. Dia baru aja pergi dinas tadi terus nyuruh gue ke rumah mama. Ntar gue bilang ke bokap aja mau nemenin lo.”
Gina yang mendengarnya tersenyum dan langsung menganguk. Ia senang jika Alessia mau menemaninya pulang. Bagaimanapun ia takut sendirian ketika bertemu kakaknya.