BAB 2

984 Words
Alessia kaget mendengar bahwa mamanya Gina sahabatnya meninggal. Ia berniat langsung pergi ke Jakarta tapi ia dilarang papanya karena besok papanya juga akan sampai di rumah. Oleh karena itu, Lusa Alessia baru boleh berangkat jika sudah bertemu papanya. Tentu saja Alessia kesal. Ia meminta maaf kepada teman-temannya terkhususnya Gina karena tidak bisa langdung datang. Lusa barulah, Alessia bisa berangkat ke Jakarta. Mahesa yang menjemputnya di Bandara. Tak lupa Mahesa memeluk Alessia erat dan mencium puncak kepalanya ketika mereka bertemu. Mirip sepasang kekasih tapi percayalah, Alessia dan Mahesa tidak memiliki perasaan lebih hal ini dikarenakan, kebiasaan Mahesa yang suka memeluk dan mencium orang. Sementara Mahesa sendiri menganggap Alessia dan para geng Uno adalah saudaranya. Mahesa melepaskan rangkulannya. Ada Rudi alias Kribo. Alessia langsung memeluk sahabatnya itu erat. Rudi ini memiliki wajah yang manis. Dijamin pasti betah melihat wajahnya lama-lama. Selain itu Kribo ini sangat kocak. “Sayangku, I miss you.” kata Alessia yang kemudian memeluk Rudi erat. Rudi mendorong Alessia. Alessia mencebikkan mulutnya. “Lo tau nggak sih, Abangnya Gina parah banget Anjing!” curhat Rudi. “Kenapa?” “Wah.. Sumpah. Dia b*****t Anjing. Lo tau, habis mamanya dimakamin bukannya malah ngehibur Gina ia malah ambil mobil milik mamanya dan dua surat tanah.” “Buat apaan?” tanya Alessia. Mahesa membawakan koper milik Alessia lalu merangkul pinggangnya mesra. “Ga tau deh gua. Terus kan si Gina marah-marah tapi abangnya cuek aja Njing!” “Kayaknya mau di jual.” Saut Mahesa kini. “Parahnya ga ada yang misahin mereka waktu Gina sama kakaknya berantem. Keluarganya diem semua. Akhirnya Michael yang misahin mereka. Terus ya, si kakaknya dorong Gina sampe jatuh. Arabel yang lihat itu langsung nampar Kakaknya. Terus kan waktu kakaknya mau balas mukul Arabel, gue tonjok dia.” “Mampus. Coba aja gue disana, gue lempar pake Vas kepalanya. Terus si kakaknya Gina itu gimana?” saut Alessia geram. “Gimana? Pergilah. Nggak bisa di hubungin sekarang.” jawab Rudi. Alessia mengangukan kepalanya mengerti. Tak lama mereka sudah sampai di parkiran. Mahesa memasukan kopernya di bagasi lalu mengemudikan mobil Arabella ke rumah Gina. Sampai di rumah Gina, Alessia langsung memeluk Gina erat dan meminta maaf. Tak lupa ketika ia juga bertanya tentang kakaknya. Gina memakinya kembali dan ketika Alessia meminta di tunjukan fotonya, Gina bilang tidak ada. Ia sudah membakar foto kakaknya yang mirip setan itu. Meski penasaran dengan kakak Gina, namum Alessia tak ambil pusing. Tepat di Seminggu setelah mamanya meninggal anak-anak Uno membantu Gina untuk melakukan pengajian. Selesainya, Michael menyarankan liburan bersama ke Labuan Bajo tapi Arabella menolaknya. Ia lebih mengajak para sahabatnya untuk pergi ke Gili Trawangan. Setelah beberapa rundingan yang panjang, akhirnya mereka sepakat besok pergi ke Lombok selama Seminggu. Gina menitipkan rumahnya ke neneknya dan pergi bersama teman-temannya. Sampai di Lombok, Uno Squad pergi ke Sembalun untuk memetik Stowberry dan pergi Tetebatu dan area sekitarnya. Selama liburan tak pernah sekalipun tak ada tawa. Mereka bertujuh terlihat sangat bahagia. Selesai liburan selama 3 hari di Sembalun, Mereka pergi ke Gili Trawangan selama 4 hari. Baru sampai Gili, mereka langsung ditawari untuk Snorkling. Arabella dan Alessia lebih memilih tidak ikut. Arabella akan ikut party di dekat sini bersama Alessia. Teman-temannya yang lain pun setuju dan membiarkannya. Setelah itu, mereka pergi ke vila tempat menginap mereka. Gina yang mabuk laut langsung tidur sementara Mahesa, Michael, Rudi, dan Sofia lebih memilih untuk snorkling. Arabella dan Alessia pergi untuk jalan-jalan ke sekitar Gili. Malamnya, ketiga anggota laki-laki Uno berenang di Vila bersama dengan Sofia, Gina, dan Alessia. Sementara Arabella pergi party sendirian. Alessia lebih memilih menuntaskan acara berenangnya dan menyusul Arabella nanti. Cerobohnya, Alessia lupa bar yang di datangi oleh Arabella. Alessia yang melihat tempat yang ramai pun ikut join disana. Ia mendengarkan musik sembari memesan segelas alkohol. Kalau nanti ia mabuk ia akan menelpon Mahesa untuk menjemputnya. Alessia turun dari kursinya dan berdiri ikut menari ketika hampir seluruh orang menari. Sampai ada seseorang yang tak sengaja menyenggolnya hingga ia hampir terjatuh. “Sorry.” ucap Alessia ke orang yang menangkapnya. “Oh iya. Gapapa.” Tak ada 5 menit, Alessia terdorong kembali. Kali ini orang tersebut menangkap dan memeluknya erat. Alessia mengucapkan terimakasih lagi. Laki-laki itu lalu mengajaknya untuk menyingkir saja. Alessia menurut. Kini mereka duduk di pojokan dan memesan minunam kembali. “Kuat minum?” tanya laki-laki itu. “Ga tau, lihat aja nanti.” Jawab Alessia. “Daniel. Lo siapa?” tanya laki-laki itu. Alessia menatapnya tanpa kedip. Laki-laki tersebut terlihat sangat tampan dan mempesona. Selain itu proposi tubuhnya juga terlihat sangat bagus. “Alessia.” jawab Alessia. “Cantik kayak orangnya.” “Bisa aja sih, Btw orang mana? Asli orang sini?” “Gue? Enggak. Gue Jakarta. Lo mana?” “Malang. Liburan?” “Iya. Bareng temen-temen nih. Lo juga?” “Iya.” Pembicaraan Daniel dan Alessia berjalan sangat lancar, bahkan sesekali mereka berdua tertawa seolah dunia milik mereka berdua. Alessia sudah mabuk. Daniel hanya merasa sedikit pusing. Ia memiliki tolerensi kadar alkohol yang sangat tinggi. Daniel lalu menawarinya untuk mengantar Alessia pulang. Alessia menganguk seolah lupa kalau ia akan meminta jemput kepada Mahesa. Daniel memeluk Alessia erat karena perempuan tersebut seolah tidak kuat berdiri. Alessia menyentuh wajah Daniel dengan tertawa. Ia memuji paras rupawan Daniel. Daniel tersenyum. Ia juga memuji wajah cantik Alessia. Daniel tak sembarang omong kosong. Alessia, perempuan di depannya adalah tipe perempuan kesukaannya. Mulai dari body badannya hingga wajahnya. Daniel rasanya ingin membawa perempuan dipelukannya ini ke atas ranjangnya dan memasukan barang miliknya. Astaga, bahkan sekarang juniornya ingin sekali memasuki perempuan disampingnya. Daniel mengambil inisiatif. Ia mencium bibir Alessia. Alessia membalasnya. Ia memeluk leher Daniel erat. Ciuman mereka berlangsung lama dan dalam. s**t! Daniel menyukai perempuan di pelukannya ini. Tak hanya Daniel Alessia juga demikian. Ia tak pernah berciuman dengan seseorang sehebat ini. Daniel melanjutkan ciumannya kembali bersama dengan Alessia hingga mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mereka di resort tempat Daniel menginap karena jaraknya lebih dekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD