4. KECEWA

1081 Words
Aku memutuskan untuk menyusul Mas Rega ke tempat kebugaran yang tak jauh dari rumah. Sebelum ke sana, aku kembali pulang untuk mengambil ponsel dan uang tunai. "Awas kamu, Mas! Bisa-bisanya kamu melarangku datang ke sana. Ternyata ada Nadya di sana." Sesampainya di sana, aku melihat beberapa pria sedang berkumpul di depan tempat kebugaran itu. Tak ada suamiku di sana. Mungkin dia sudah di dalam bersama Nadya. Nyaliku untuk menemui Mas Rega menjadi ciut melihat sekumpulan pria itu. "Kok, aku jadi takut gini, sih?" tanyaku dalam hati saat melihat delapan pria bertubuh besar dan kekar. "Valencia?" Aku berbalik ketika seseorang menyapaku. Pria bertubuh kekar itu berjalan mendekatiku. "Ngapain di sini?" "Aku ... aku ...." "Kamu cari Rega? Kenapa di sini? Kenapa nggak masuk saja?" "Aku mau belanja di minimarket. Ini aku baru sampai." "Oh, mau belanja? Kenapa masih di luar? Nunggu Rega, nih, pastinya. Aku panggilin, ya?" "Em ... bolehlah," kataku. Pria yang entah siapa namanya itu masuk ke tempat kebugaran tersebut. Seluruh teman Mas Rega mengetahui namaku dan mengenaliku, tetapi aku tak satu pun mengenali mereka. Mungkin mereka tahu dari cerita Mas Rega dan foto di media sosial kami. Aku memang aktif mengunggah swafoto dan menandai akun milik Mas Rega. "Sayang? Ngapain di sini?" "Aku mau belanja saja, Mas. Aku bosan di rumah." "Kok, nggak masuk ke minimarket kalau mau belanja? Kenapa malah berdiri di luar? Kamu mencari aku? Ada apa?" "Nggak ada apa-apa, Mas. Aku cuma lihat-lihat tempat kebugaran ini. Penasaran kamu ada di mana." "Aku di dalamlah, Sayang. Kalau dari luar mana kelihatan?" Mas Rega merogoh saku dan mengambil dompetnya. Dia menyerahkan kartu debit miliknya. "Kamu sudah tahu pinnya, 'kan? Pakai buat belanja sesukamu," katanya. Aku menerima kartu debit Mas Rega dengan senang hati. Kaum hawa mana yang tak suka jika diperintah untuk belanja sesuka kami? Apalagi kaum-kaum doyan jajan sepertiku. Berat rasanya jika menolak. "Aku masuk dulu, ya! Kamu pulangnya hati-hati!" ujarnya. "Eh, tunggu dulu, Mas!" "Apa, Sayang?" "Kamu ke sini sama siapa tadi?" "Sama teman-teman. Kamu tahu sendiri di sini banyak laki-laki. Makanya, aku melarang kamu ke sini." "Terus kenapa Nadya ada di sini juga?" tanyaku langsung. "Nadya?" Mas Rega menatapku bingung. "Iya, Mas. Nadya ada di sini juga, 'kan?" "I–iya, dia memang anggota di sini. Dia rajin ke sini." "Apa itu alasan kamu nggak ngajak aku ke sini?" "Bukan, Sayang. Lagi pula, Nadya ke sini juga sama pacarnya." "Pacar?" "Iya, Sayang. Kamu tahu pria yang berkaus hitam itu? Yang orangnya botak pakai kacamata." Mas Rega menunjukkan pria yang dimaksud. "Itu pacarnya Nadya. Mau aku panggilin?" Aku melihat pria sangar yang memiliki tato di sekujur lengannya yang kekar. "Uwih, mengerikan," batinku. "Nggak usah, nggak usah," tolakku. Melihatnya saja aku sudah takut. Tubuhnya benar-benar besar. Tawanya menggelegar. Dari tempat aku berdiri pun, terdengar jelas suara tawanya. "Ish!" "Ya sudah, kamu belanja saja! Aku mau masuk dulu. Sudah ditunggu sama teman-teman." "Mas, tapi jangan macam-macam, loh! Awas saja kalau kamu berani dekat-dekat sama Nadya," kataku sambil menatap tajam bola mata Mas Rega. "Pacarnya saja kayak gitu. Mana mungkin aku dekati Nadya?" "Ya sudah, Mas." Aku berlalu dan masuk ke minimarket. Awalnya aku tidak memiliki niatan untuk berbelanja, tapi jika sudah diberi kartu debit begini, siapa yang mau menolak? Lumayan, aku bisa stok beberapa camilan, s**u, dan bahan dapur di rumah. *** Lagi-lagi aku sibuk menyiapkan diri untuk malam ini. Siapa tahu Mas Rega akan meminta haknya kepadaku. Aku harus tampil cantik dan wangi dari biasanya. Kali ini aku mengenakan gaun malam berwarna merah yang lebih menantang. Sudah pasti Mas Rega akan sangat menyukainya. "Halo, Mas? Kenapa belum pulang juga?" tanyaku melalui sambungan telepon. "Sebentar lagi, Sayang." "Nanti makan malamnya keburu dingin, loh. Aku juga sudah menyiapkan kejutan yang spesial untuk kamu malam ini, Mas." "Iya, Sayang. Tunggu, ya!" Aku bersabar menunggu suamiku. Memangnya selama itukah berolahraga? Sudah pukul delapan, tetapi ia masih memintaku untuk menunggunya. Enam puluh menit berlalu, Mas Rega tak kunjung pulang. Makan malam yang kusiapkan juga sudah dingin. Suasana hatiku mulai berubah. Sudah kuhubungi ia berkali-kali, tetapi tak ada jawaban. Ingin menyusul, tetapi aku begitu malas untuk bergerak dan berganti pakaian. Aku sudah nyaman mengenakan gaun malam ini. "Sayang?" Kudengar suara Mas Rega memanggilku. "Huh! Akhirnya yang ditunggu datang juga," ujarku seraya berjalan menuju pintu. Kusembunyikan tubuh di balik pintu ketika membukanya. Aku takut jika ada orang lain di luar sana yang melihatku mengenakan gaun malam yang menimbulkan aura panas ini. "Kamu?" Mas Rega terpaku menatapku. Aku tersenyum melihatnya. Sudah kuduga ia akan terpesona dengan penampilanku malam ini. Aku hendak memeluknya, tetapi ia menahanku. "Kenapa, Mas?" tanyaku bingung. "Kamu nggak lihat aku banyak keringat, Sayang? Aku bau keringat, nih. Aku mandi dulu, ya." "Hmm ... ya sudah, Mas. Cepat, ya! Aku angetin dulu lauknya." "Oke." Aku tak sabar menunggu malam ini. Setelah lauknya hangat, aku sajikan kembali di meja makan. Lebih baik aku menunggunya di sini saja. Sebentar lagi, Mas Rega juga akan datang. Lama. Tak biasanya Mas Rega mandi selama ini. Aku menghampirinya ke kamar. Tak kuduga jika ia sudah tidur dengan pulasnya. Kuendus aroma tubuhnya juga sudah wangi. "Kok, nggak bilang aku, sih, kalau ternyata tidur?" gumamku seraya melihat matanya yang terpejam rapat. Sudahlah! Sepertinya apa yang aku lakukan ini tidak berguna. Percuma saja aku repot menyiapkan diri untuk malam pertama, tetapi tak pernah ada gunanya. Apalagi Mas Rega juga tidak bilang kepadaku jika akan tidur. Apa susahnya jika memanggilku sebentar saja agar aku tidak menunggu? Malam ini aku tidur membelakanginya. Aku sungguh kesal kepada Mas Rega. Dia seperti tidak menghargai apa yang sudah aku siapkan. *** Esok harinya aku memutuskan untuk mendatangi rumah Nadya. Aku tidak bisa hidup dengan penuh pertanyaan seperti ini. "Nadya?" panggilku sambil mengetuk pintu rumahnya. "Hai, Valen? Ayo, masuk!" pintanya ramah. "Duduk!" pintanya lagi. "Oh, ya, kemarin kamu ke sini, ya? Bu Ratna cerita sama saya. Ada apa, ya?" tanyanya. "Saya cuma sekedar ingin main saja. Saya bosan di rumah terus. Ternyata kamu lagi olahraga." "Iya. Memang sudah jadwal saya olahraga. Maaf, ya, kalau kemarin saya nggak ada." "Nggak apa-apa. Omong-omong, kamu sudah lama olahraga di sana?" tanyaku penasaran. "Lama banget. Malah saya dan Mas Rega pertama kali bertemu di sana," kata Nadya dengan santainya. "Eh, em ... maaf. Saya nggak bermaksud ...," lanjutnya. "Nggak apa-apa, santai saja," kataku sambil tersenyum. Entah aku harus percaya kepada siapa. Mas Rega berkata jika sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Nadya. Mustahil rasanya jika sering bertemu, tetapi tidak komunikasi. "Kemarin kamu sama pacar kamu, ya?" tanyaku iseng. "Pacar?" tanyanya bingung. Aku mengangguk. "Saya nggak punya pacar," katanya yang membuatku terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD