5. KEKERASAN

1086 Words
"Nggak punya pacar? Bukannya pria yang berbadan besar di tempat kebugaran kemarin pacar kamu? Yang botak," kataku. "Kamu habis dari sana juga?" Nadya tampak bingung melihatku. "Nggak. Saya cuma ke minimarket yang ada di sebelahnya itu. Kebetulan ketemu sama Mas Rega. Dia juga ngasih tahu kalau pria berbadan besar itu pacar kamu." "Ah, enggak, kok. Pria botak yang ada tato di lengannya, itu, ya?" "Iya, betul." "Dia emang ngejar-ngejar saya terus. Saya, sih, nggak mau karena dia sudah punya istri. Nanti saya dikata pelakor. Meski saya janda, saya nggak doyan sama suami orang," ujarnya yang membuatku tercengang. Apa selama ini pikiran burukku tentang Nadya itu salah? Dari cara bicaranya, sangatlah meyakinkan. Namun, Mas Rega pernah mengatakan jika aku dilarang berteman dengan Nadya. Katanya, Nadya suka adu domba. Sepertinya Mas Rega sedang menyembunyikan sesuatu dariku. "Hei, kenapa melamun?" Nadya melambaikan tangan tepat di depan wajahku. Aku tersentak dan menggelengkan kepala pelan. "Nggak, kok," kataku sambil tersenyum. "Sebelum kamu menikah dengan Mas Rega, kamu kerja apa?" tanyanya. "Staf keuangan." "Terus sekarang?" "Terpaksa berhenti karena harus ikut Mas Rega ke sini." "Sayang banget, ya." "Iya, sih. Omong-omong, kesibukanmu apa? Kamu kerja di mana?" tanyaku. "Saya, sih, buruh pabrik. Kerjanya nggak terus. Kadang tiga sampai enam bulan itu kerja. Setelah itu libur panjang. Nanti kalau ada garapan baru, masuk kerja lagi. Jadi, ya, nggak menentu." "Oh." Aku mengangguk-anggukkan kepala. Pantas saja aku sering melihatnya di rumah. Ternyata kerjanya nggak menentu. "Saya mau tanya, nih, tapi kamu jangan marah, ya! Kamu pacaran sama Mas Rega dulu berapa lama?" tanyaku penasaran. Aku ingin tahu sejauh mana Nadya mengenal suamiku itu. "Berapa, ya? Saya lupa soalnya nggak pernah saya ingat-ingat. Pokoknya dulu kita itu hampir tunangan, tapi enggak jadi," ujarnya. Sedikit sesak ketika mendengarnya bercerita seperti itu, tetapi aku harus tetap mencari tahu. "Kenapa nggak jadi?" tanyaku semakin penasaran. "Karena Mas Rega nggak cinta sama saya dan ...." Nadya tiba-tiba berhenti berbicara. "Dan?" Aku menatapnya lekat-lekat. "Kamu nggak tahu siapa suamimu?" "Maksud kamu?" "Ah, nggak, nggak. Lebih baik kamu cari tahu sendiri saja," kata Nadya. "Memangnya suami saya kenapa? Siapa suami saya sebenarnya? Selama ini kami memang LDR dan jarang sekali bertemu. Bisa kamu ceritakan sama saya, siapa suami saya sebenarnya?" tanyaku. Nadya melihatku sesekali menggerakkan bola matanya ke sana-kemari. Dia seperti sedang mencari jawaban. "Nadya!" tegurku. "Em ... kamu cari tahu sendiri saja. Saya nggak mau ikutan soal ini. Ini menyangkut rumah tangga kalian." Nadya semakin membuatku penasaran. Apa yang selama ini Mas Rega sembunyikan dariku? "Apa Mas Rega sudah pernah menikah? Apa saya ini istri ke dua?" tanyaku. Nadya menggelengkan kepala cepat. "Maaf, ya, saya nggak bisa jawab. Itu bukan hak saya," tolaknya. Walau aku sudah berusaha sekeras mungkin memaksa Nadya untuk berkata yang sejujurnya, tetapi ia tak mau mengatakannya. Aku juga sudah berjanji untuk tidak mengatakan kepada Mas Rega, tetapi Nadya tetap bungkam. Aku memutuskan untuk pulang setelah cukup puas kami mengobrol. Tak sabar rasanya ingin segera menghujani Mas Rega dengan berbagai macam pertanyaan. Menurut pernyataan Nadya, aku menyimpulkan jika Mas Rega memiliki istri lain di luar sana. *** Usai makan malam, aku bersiap untuk menyerang Mas Rega dengan segala pertanyaan. Jika benar ia memiliki istri lain di luar sana, aku tak akan memaafkannya. "Mas?" Aku menghampirinya yang sedang bermain ponsel di ruang tengah. Mas Rega senyum-senyum sambil menatap ponselnya. Tak ia hiraukan aku yang ada di hadapannya. Mata dan tangannya masih fokus dengan benda pipih itu. "Mas!" Aku menegurnya sambil merampas ponselnya itu. "Valen!" Aku tersentak ketika ia membentakku. Mas Rega juga merebut ponsel yang ada di tanganku dengan kasar. Matanya melotot menatapku. "Apa? Aku memanggilmu dari tadi, tapi kamu sibuk dengan HP-mu itu, Mas. Mana HP-mu? Sini aku lihat!" Aku berusaha mengambil ponselnya, tetapi ia menyingkirkan tanganku dengan kasar. "Mau apa kamu? Sudah aku bilang kalau kita punya privasi masing-masing," sentaknya sambil tetap melotot menatapku. "Pasti kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Mas." "Sesuatu apa? Jangan sok tahu kamu!" "Aku emang tahu. Katakan! Apa yang kamu sembunyikan dariku, ha?" "Oh, aku tahu. Pasti Nadya sudah mengatakan macam-macam sama kamu." "Nadya nggak bicara apa-apa sama aku. Semakin kamu begini, semakin menunjukkan kalau kamu memang menyembunyikan sesuatu dariku, Mas." Mas Rega mencengkeram bahuku dengan erat. Dia mendorong tubuhku hingga kurasakan bagian belakang tubuh ini membentur dinding dengan cukup keras. "Sudah berapa kali aku katakan? Jangan pernah berteman sama Nadya! Jangan banyak bicara sama dia! Ujung-ujungnya pasti kamu akan selalu mencurigaiku," ucapnya. "Gimana aku nggak curiga kalau pinjam HP-mu saja aku nggak boleh?" Aku membalas tatapan tajam Mas Rega. Baru kali ini aku melihat sisinya yang lain. "Untuk apa? Kamu nggak ada urusannya dengan HP aku, 'kan?" "Untuk memeriksa isi HP-mu itu. Kalau kamu masih saja melarangku, berarti memang benar kamu punya wanita lain di luar sana." Mas Rega menamparku dengan kencang. Sungguh aku terkejut dengan perlakuannya. Belum satu bulan menikah, sudah terlihat sisi lain dari dirinya. Entah kenapa aku tidak tahu tentang ini sebelumnya. "Kamu menampar aku, Mas?" Aku terus memegangi pipi karena tamparan yang ia berikan sangatlah keras. "Memangnya kenapa? Aku bisa melakukan lebih dari ini. Kamu ingin aku lebih kasar dari ini? Aku akan menunjukkannya kalau kamu mau." Pernyataannya benar-benar membuatku terkejut. Selama ini aku hanya tahu Mas Rega itu penyayang dan lembut memperlakukan wanita. Ternyata aku salah menilai. "Kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan? Kamu sadar dengan ucapanmu itu? Aku ini istrimu, loh, Mas. Apa begitu caramu memperlakukan istrimu, ha?" Mas Rega menatapku dan membisu. Dia memukul dinding dengan kencang kemudian berlalu ke kamar. Tubuhku masih gemetar karena terkejut melihat sikapnya yang seperti ini. Dia seperti bukan Mas Rega. Mengerikan dan sangat membuatku takut. Kuhampiri ia yang sedang berada di dalam kamar. Namun, pintunya terkunci dari dalam. Ketukan pintu tak membuatnya bergegas untuk membukanya. "Mas Rega! Buka, Mas!" teriakku. "Selama tiga tahun berpacaran, kamu nggak pernah kasar sama aku. Hari ini kamu menunjukkan sifatmu yang sebenarnya. Kalau memang ada wanita lain di luar sana, aku lebih baik mundur. Karena apa? Aku tak sudi hidup dengan pria yang suka bermain kekerasan seperti ini," ucapku sambil berbalik badan dan hendak pergi. Mendadak pintu kamar terbuka dan Mas Rega menarik tubuhku dengan kasar. "Apa kamu bilang tadi?" "Aku tidak sudi hidup dengan pria yang suka kekerasan. Lebih baik aku hidup sendiri," ucapku menegaskan. Mengejutkan! Bukannya melunak, Mas Rega justru memberiku tamparan lagi. Air mata ini sudah tak tertahankan lagi. "Tak suka hidup denganku?" tanyanya. Mas Rega menarik rambutku dengan kasar dan berkata, "Aku sudah memberikan segalanya untukmu. Materi dan cinta, semuanya imbang. Bahkan aku rela ...." Mas Rega berhenti berbicara. Napasnya menggebu-nggebu seraya menatap tajam ke arahku. "Rela apa?" tanyaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD