6. BUKAN WAKTU YANG TEPAT

1082 Words
Mas Rega mendorong tubuhku ke kasur kemudian ia mengambil jaket yang menggantung di belakang pintu. Dia pergi begitu saja tanpa melanjutkan ucapannya tadi. Aku tak berniat menyusulnya karena tubuhku sangat lemas. Aku terkejut melihat sikapnya yang sekasar ini. Mengadu kepada orang lain pun tak mungkin. Kami masih baru menikah dan langsung merasakan konflik. Akan malu jika sampai orang lain tahu. Sejujurnya aku ingin mencari tahu dengan bertanya kepada tiga kakak iparku, tapi rasanya tak mungkin. Masalah kecil nanti bisa membesar jika seluruh keluarga tahu. Sudah hampir tengah malam, tetapi Mas Rega tak kunjung pulang. Entah ke mana perginya dia. Sudah kukirim pesan juga, tetapi tak ia balas. Berulang kali aku menelepon juga tak dijawab. "Halo?" Aku terkejut ketika panggilanku yang terakhir dijawab olehnya. "Halo? Kamu di mana, Mas?" tanyaku. "Rega lagi tidur. Siapa, nih? Telepon mulu dari tadi." "Loh, kamu siapa? Kenapa HP suami saya ada di kamu?" "Oh, kamu istrinya? Rega lagi tidur. Mabuk berat dia. Ada perlu apa?" "Mabuk? Di mana dia sekarang?" Sambungan telepon terputus tiba-tiba. Setahuku Mas Rega bukan orang yang pemabuk. Tidak mungkin Mas Rega berbuat seperti itu. Kuputuskan untuk mencari Mas Rega walau aku tak tahu di mana ia sekarang. Pertama, aku harus mencari tahu dulu ke mana Mas Rega biasanya pergi. Nadya pasti tahu banyak hal. Saat akan keluar, pintu rumah terkunci. Sial. Mas Rega menguncinya dari luar. Pintu belakang dan garasi pun terkunci semua. Dia mengurungku di rumah sendirian. Jendela di rumah ini juga terpasang besi ukiran yang sudah paten. Aku benar-benar terjebak di dalam rumahku sendiri. *** Aku membuka mata secara perlahan. Televisi di hadapanku masih menyala. Aku tertidur di ruang tengah ketika menunggu Mas Rega pulang. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi. "Mas?" "Mas Rega?" Aku mencarinya di kamar, tetapi tidak ada. Semua pintu juga masih terkunci. Ini sudah jam lima pagi. Bisa-bisanya Mas Rega belum pulang dari semalam. Aku juga sudah menggeledah seisi rumah, tetapi tak kudapati kunci cadangan. Entah di mana Mas Rega meletakkannya. Pukul enam pagi, kudengar suara deru mobilnya. Kubiarkan ia masuk terlebih dahulu. Jalannya sempoyongan seperti orang yang sudah mabuk berat. Berarti benar jika Mas Rega adalah seorang pemabuk dan aku baru mengetahuinya. "Dari mana kamu, Mas? Semalam nggak pulang dan mengunci istrinya di rumah." "Diam kamu! Berisik tahu, nggak?" Mas Rega berjalan melaluiku dan masuk ke kamar. "Hanya karena aku ingin lihat isi HP-mu, kamu semarah ini, Mas." Mas Rega tidak mempedulikan aku. Pintu kamar juga terkunci dari dalam. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Akan tetapi, cara jalannya juga masih sedikit sempoyongan. "Kamu mau ke mana, Mas?" "Ya kerjalah. Kamu nggak lihat ini jam berapa?" "Kamu kerja dalam kondisi seperti ini?" "Minggir!" Mas Rega menyingkirkan tubuhku dan berlalu begitu saja. Ada banyak tetangga berlalu lalang di depan rumah. Tak mungkin jika aku akan melanjutkan perdebatan ini di sana. Lebih baik kubiarkan saja Mas Rega pergi. Namun, Mas Rega tidak sendirian. Ternyata ada seorang pria yang menunggunya di dalam mobil. Pantas saja Mas Rega seperti terburu-buru. Mungkin itu adalah teman kantornya. *** Hari sudah petang, tetapi Mas Rega tak juga pulang. Nomornya sama sekali tidak bisa dihubungi. Aku juga sudah mencari tahu informasi teman-temannya di media sosial. Mereka mengatakan jika tidak tahu keberadaan Mas Rega. Aku pergi ke rumah Nadya dan meminta bantuan kepadanya. Siapa tahu saja ia tahu ke mana Mas Rega biasanya pergi. "Nadya!" "Iya? Ada apa? Sini masuk!" "Kamu lagi sibuk nggak?" "Enggak, tuh. Kenapa?" "Saya mau minta tolong. Mas Rega biasanya ke mana, ya, kalau nongkrong? Dari tadi sampai jam segini belum pulang juga." "Sibuk di kantornya kali." "Tapi saya hubungi dari tadi nggak bisa. Nomornya nggak aktif." "Masa', sih? Coba saya telepon dulu, ya." "Halo, Mas? Kamu di mana?" tanya Nadya yang membuatku terkejut. Perasaan aku telepon dari tadi tidak bisa. "Oh, enggak. Ini istri kamu di rumah. Nyari kamu, kenapa nggak pulang juga?" lanjut Nadya lagi. "Oh, oke." Nadya menutup sambungan teleponnya. Padahal, aku ingin berbicara dengannya. Aku segera menghubungi Mas Rega melalui ponselku sendiri. Namun, nomornya tidak aktif. "Kok, nggak aktif lagi nomornya?" tanyaku pada Nadya. "Coba sini saya lihat!" Nadya mengambil ponselku dan berkata, "Oh, pantas saja. Saya telepon ke nomornya yang ini." Nadya menunjukkan nomor telepon Mas Rega yang lain. "Loh, nomor Mas Rega ada dua?" Aku terkejut bukan main karena selama ini Mas Rega tak pernah memberitahuku. "I–iya. Ini nomornya yang lama." Nadya menatapku bingung. Mungkin ia tak percaya jika aku tak tahu Mas Rega memiliki dua nomor telepon. Ke mana saja aku selama ini? Hal seperti ini pun aku tak tahu. Entah berapa banyak lagi rahasia yang Mas Rega sembunyikan dariku. Sudah pasti dia bermain api di belakangku. Aku pun meminta nomor Mas Rega yang lain kepada Nadya. Setelah itu, aku pamit pulang. Di rumah, aku menghubunginya, tetapi ia menolak panggilan dariku berkali-kali. "Kenapa jika Nadya yang telepon langsung dijawab? Sedangkan panggilan dariku, kamu tolak?" tanyaku kepada diri sendiri seraya membanting ponsel karena kesal. Kupikir berpacaran selama tiga tahun sudah cukup mengenal Mas Rega. Aku tak tahu jika ia pandai sekali membungkus dirinya dengan kelembutan. Ternyata begini sifat aslinya. Saat berpacaran dulu, ia begitu dewasa dalam menyikapi apapun. Sekarang ada masalah sedikit, ia sudah kabur-kaburan. Ini masih awal dari pernikahan kami. Entah bagaimana jika nanti sudah sepuluh tahun menikah. Rasanya aku benar-benar kecewa. Masih tidak percaya jika Mas Rega begini. Ponselku berdering. Kupikir dari Mas Rega, ternyata dari ayahku. "Ha–halo?" "Halo, Nak. Bagaimana kabarmu?" "Valen baik, Yah. Bagaimana dengan Ayah dan ibu? Apa kalian sehat?" "Kami sehat, Nak. Oh, ya, kami sedang dalam perjalanan menuju rumah kamu." "Apa?" Aku terbelalak mendengarnya. "Kenapa, Nak?" Ayah terdengar tertawa dari seberang sana. "Nggak apa-apa, Yah. Kenapa Ayah tidak mengabari Valen dulu? Valen, kan, bisa siap-siap." "Memangnya mau siap-siap untuk apa? Kami sengaja karena mau membuat kejutan untukmu. Sejujurnya kami tidak ingin meneleponmu. Kami ingin langsung tiba-tiba berada di rumahmu, tapi karena kami takut kamu tidak ada di rumah. Jadi, kami memastikan dulu kalau kamu di rumah." "I–iya, Valen memang di rumah. Ayah sampai mana sekarang?" "Sampai taman kota. Palingan setengah jam lagi sampai." "Apa?" "Kenapa? Kamu jangan kaget gitu, Nak! Sudah, kamu jangan menyiapkan apa-apa. Justru ayah dan ibu membawakan sesuatu untukmu dan suamimu. Ya sudah, ayah tutup dulu teleponnya." "Iya, Yah. Hati-hati!" Aku takut. Di saat seperti ini kenapa ayah dan ibuku harus datang ke rumah? Aku bisa saja menutupi perkaraku dengan Mas Rega. Namun, bagaimana jika Mas Rega pulang dalam keadaan mabuk lagi? Apalagi ayah pernah mengatakan kepadaku jika tak menyukai pria pemabuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD