"Ayah, Ibu," ucapku gembira melihat mereka telah tiba dengan selamat.
Kulihat mereka menurunkan barang-barang yang entah apa isinya. "Ini ada oleh-oleh untuk kamu," ujar Ibu.
"Ibu, ini banyak sekali."
"Ini cuma sedikit."
Aku mempersilakan Ayah dan Ibu untuk masuk. Pasti mereka lelah karena telah melakukan perjalanan jauh selama lima jam. Ayah sudah tahu rumah ini karena sebelum aku dan Mas Rega menikah, ayah pernah ke sini. Mas Regalah yang mengajak.
"Mana suami kamu?"
"Em ... lembur, Bu," jawabku berbohong.
"Ayah dan ibu bermalam di sini boleh, ya?"
"Tentu boleh, dong, Bu."
Semoga saja Mas Rega sudah tenang hatinya. Bisa gawat kalau sampai Ayah dan Ibu tahu pertikaian kami.
***
Sudah pukul sebelas malam, tetapi Mas Rega tak juga pulang. Aku terus mencari alasan kepada Ayah dan Ibu. Sebisa mungkin aku menutupi masalah kami.
"Ayah dan Ibu tidur saja. Valen masih nunggu Mas Rega," kataku.
"Ayah juga ingin menunggu menantu ayah. Nggak enak kalau dia pulang, ternyata ayah malah tidur." Jawaban ayah membuatku kian tak tenang.
"Tapi, Yah—"
"Sudahlah, nggak apa-apa. Kamu saja yang tidur sama Ibumu."
Aku melihat ke arah Ibu. Beliau mengangguk dan mengajakku untuk tidur. Kasihan juga melihat Ibu yang sudah sayu matanya karena mengantuk.
Saat sedang menemani Ibu di kamar, aku mendengar deru mobil Mas Rega. Kulihat Ibu sudah tertidur pulas. Bergegas aku beranjak dan keluar.
"Astaga! Mas Rega!" Aku terkejut bukan main ketika ia dipapah oleh temannya. Mas Rega dalam kondisi setengah sadar. Pakaiannya juga berantakan.
"Loh, loh, ada apa dengan Rega?" tanya Ayah.
"Rega minum terlalu banyak hari ini," kata seorang pria yang entah siapa. Aku tidak mengenalnya. Begitu banyak teman Mas Rega hingga aku tak sanggup menghafalnya.
Melihat reaksi Ayah membuatku takut. Ayah menatap Mas Rega dengan tatapan yang sudah bisa aku tebak. Terlihat dari matanya yang sudah sedikit memerah. Begitulah Ayah jika sedang memendam amarah.
"Ini kunci mobilnya. Saya pulang dulu," ucap pria tersebut seraya menyerahkan kunci mobilnya kepadaku.
"Ya. Makasih."
Kupikir Ayah akan menyerang Mas Rega dengan berbagai pertanyaan. Ternyata Ayah masuk ke kamar dan tidak mengatakan apapun lagi. Aku tahu jika Ayah sangat kecewa dengan pria pilihanku. Ayah sempat menentang hubunganku dengan Mas Rega dan akan menjodohkanku dengan pria pilihannya. Namun, aku menolak dan bersikeras ingin tetap bersama Mas Rega.
"Mas, kamu dari mana saja?" tanyaku.
Mas Rega tidak menjawab. Dia justru merebahkan tubuhnya di sofa seraya menutup mata dengan lengannya.
"Mas!" Aku mengguncang tubuhnya itu.
"Berisik!" Mas Rega mendorong tubuhku hingga membentur meja.
"Mas, Ayah dan Ibu ada di sini. Kenapa kamu begini?"
"Diam!" Mas Rega berteriak hingga membuat Ayah dan Ibu keluar dari kamar.
"Ada apa ini?" tanya Ibu bingung.
Sudah, aku tak sanggup lagi menahan air mata ini. Buliran bening itu perlahan mengalir ketika kutatap mata Ayah dan Ibuku.
"Kamu kenapa? Ada apa ini?" Ibu masih bertanya-tanya.
"Seperti yang Ayah dan Ibu lihat," jawabku pelan.
Mas Rega justru bersikap abai. Sikapnya membuat Ayah dan Ibu geleng-geleng kepala. Entah mengapa ia tak memiliki rasa segan sama sekali. Saat berkunjung ke rumah dulu, ia begitu sopan. Berbanding terbalik dengan sikap yang ia tunjukkan sekarang.
"Rega!" tegur Ayah kepada suamiku itu.
"Rega!"
Mas Rega bangkit dan berjalan sempoyongan menuju ke kamar. Dia mengabaikan ayahku begitu saja.
"Mas Rega! Ayahku memanggilmu," sentakku tak terima. Tidakkah ia ingat perjuangannya ketika meminta restu Ayah dan Ibuku?
Suamiku itu terus berjalan dan tak mempedulikan kami. Ayah menghampiri Mas Rega dan menarik tangannya. Diberikannya satu pukulan keras untuk Mas Rega.
"Ayah!" Aku berusaha membantu Mas Rega yang tersungkur. Sedangkan ibu menahan tubuh ayah yang masih ingin menyerang Mas Rega.
"Ternyata begini kelakuan kamu di belakang kami. Kami pikir kamu itu pria baik-baik. Ternyata kami salah menilai. Sudah betul dulu saya tidak merestui kalian. Rasanya menyesal saya telah menyerahkan putri saya kepada pria sepertimu." Ucapan ayah membuatku patah hati. Sesal katanya?
"Mas Rega sedang dalam keadaan setengah sadar, Yah. Percuma kalau berbicara kepadanya panjang lebar," kataku menimpali.
"Kamu juga, Valen. Selalu mengatakan jika Rega ini pria baik. Mana? Katanya dia akan menjagamu? Mana? Kamu bilang bisa membuktikannya. Ini baru awal menikah, sifat asli Rega sudah terbongkar." Kali ini Ayah berganti marah kepadaku.
"Sejauh yang Valen tahu, Mas Rega ini memang pria baik, Yah. Valen juga nggak tahu kalau Mas Rega bakal mabuk-mabukan seperti ini," jawabku sambil berusaha memapah Mas Rega ke kamar.
Ibu menangis. Aku tak sanggup melihat air mata Ibu. Dalam hati aku berucap, "Maafkan aku, Bu."
Setelah mengantar Mas Rega ke kamar, aku menemui Ayah dan Ibu di ruang tengah. Mereka saling diam.
"Ayah, Ibu," panggilku pelan.
Aku jatuh dalam pelukan mereka. Awal pernikahanku sudah dihiasi air mata. Tidak sanggup jika aku harus memendamnya sendiri. Lebih baik aku menceritakan saja duduk perkaranya seperti apa.
Usai menceritakan semuanya, hatiku terasa lega. Hanya satu yang tidak kuceritakan, yaitu kekerasan fisik yang dilakukan Mas Rega. "Valen nggak tahu kalau sifat Mas Rega itu juga seperti ini. Selama ini Valen tahu Mas Rega itu baik," kataku menambahkan.
"Sebenarnya ayah sudah curiga dari awal Rega datang ke rumah. Firasat ayah itu nggak enak. Makanya, ayah waktu itu nggak merestui hubungan kalian. Tapi kamu terus saja memaksa ayah. Bukan maksud ayah nggak suka sama pilihan kamu, tapi ini semua demi kebaikan kamu. Kalau sudah begini, bagaimana? Nasi sudah menjadi bubur. Kamu sudah sah menjadi istrinya. Apalagi kalian baru menikah belum ada satu bulan," tutur Ayah yang membuat tangisku kian menjadi.
"Valen harus apa, Yah?"
"Terserah kamu. Kamu maunya bagaimana? Mempertahankan semuanya? Jika iya, kamu harus mencari tahu rahasia apa yang suamimu sembunyikan. Kamu tidak bisa mengambil keputusan tanpa mengetahui inti masalahnya. Ayah dan Ibu tidak bisa banyak membantu. Entah bagaimana caranya kamu harus bisa memecahkan masalah kalian sendiri. Ayah dan Ibu tidak berhak ikut campur. Kami hanya bisa menasihati saja."
Ayah dan Ibu tertunduk. Memang benar apa yang Ayah katakan. Apalagi Mas Rega adalah pria pilihanku. Saat itu aku juga sempat bertengkar dengan Ayah supaya hubunganku dengan Mas Rega direstui. Sekarang rasanya malu.
"Kalau Valen ikut Ayah dan Ibu pulang bagaimana?" tanyaku.
Ayah menatapku lekat-lekat kemudian menyentuh wajahku. "Pipi kamu ini kenapa?" tanyanya.
Padahal aku sudah menutupi bekas tamparan dari Mas Rega. Mungkin sudah luntur karena air mata yang terus kuusap.
"Rega melakukan kekerasan kepadamu?" tanya ayah geram.
"En–enggak, Yah."
"Sini, lihat!" Ibu mengamati pipiku dengan saksama dan berkata, "Sudah pasti kalau Rega itu melakukan kekerasan. Ini nggak bisa dibiarin, Yah."
"Kurang ajar si Rega!" Ayah berdiri seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Ayah mau apa?" tanyaku mencegahnya.
"Baru awal menikah, dia sudah berani main kekerasan fisik. Gimana nanti kalau sudah lama menikah? Ayah tidak bisa membiarkan putri satu-satunya ayah tersakiti."
"Maksud Ayah apa?"
"Ayah akan membawamu pulang."