8. MENGIKUTI SUAMI

1072 Words
Aku mengikuti Ayah yang menghampiri Mas Rega di kamar. Ayah menarik tubuh Mas Rega dan kembali menghantam wajahnya dengan pukulan keras. "Ayah, sudah, Yah!" kataku. Kupeluk Mas Rega yang kini tak berdaya. "Kemasi barang-barangmu, Valen! Kita pergi dari sini malam ini juga." Ayah terlihat sangat murka kemudian melangkah keluar dari kamar kami disusul oleh Ibu. Aku menangis sambil membantu Mas Rega bangun. Hatiku bimbang saat ini. Ingin ikut Ayah dan Ibu pulang, tetapi tak sanggup meninggalkan Mas Rega dalam kondisi seperti ini. "Valen!" Mas Rega menggenggam jari-jemariku dengan erat. "Jangan pergi!" ucapnya lirih. Aku semakin bingung untuk saat ini. Mengapa Mas Rega harus menahanku? Dia membuatku menjadi lemah dan berubah pikiran seketika. "Valen! Ayo!" seru Ayah dari luar kamar. Namun, Mas Rega menahan tanganku sambil menggelengkan kepala. "Aku butuh kamu." "Tapi kamu tega, Mas," kataku." "Aku butuh kamu. Tolong, tetap di sini!" Ayah masuk ke kamar dan menarikku. Namun, tanganku dan tangan Mas Rega masih saling bertautan. Berat hati rasanya meninggalkan Mas Rega yang lemah seperti ini. Kuputuskan untuk melepaskan tanganku dari Ayah dan kembali mendekap Mas Rega. "Valen!" "Yah, biarkan Valen di sini dulu! Valen tahu apa yang harus Valen lakukan," kataku. "Bukannya kamu ingin pulang bersama kami?" "Memang, tapi ...." Aku melihat ke arah Mas Rega dan menatap matanya yang sayu. "Valen akan berusaha memecahkan masalah ini dan berbicara baik-baik dengannya," ujarku sambil melirik Mas Rega. "Ayah dan Ibu tolong di sini dulu, ya! Valen mohon!" kataku memohon. Mereka terdiam dan tak menjawab. Ayah dan ibu pergi begitu saja dari kamarku. Aku merasa sangat bersalah karena telah membuat orang tuaku kecewa. *** Keesokan harinya, kudapati Mas Rega sudah rapi dan wangi. Dia sedang duduk di tepi ranjang sambil termenung. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. "Valen, sini!" Aku yang sedang menyisir rambut pun segera menghampirinya. "Ada apa, Mas?" Mas Rega meraih tanganku dan mengecupnya. "Maaf, ya," katanya. Hatiku luluh seketika. Aku mengangguk kemudian ia memelukku yang masih berdiri. Kuusap punggungnya dengan lembut. "Maafkan aku," katanya lagi. "Iya, Mas." "Di mana Ayah dan Ibu? Aku ingin menemui mereka." "Masih di kamar tamu, Mas." Mas Rega mengajakku untuk menemui Ayah dan Ibu. Saat ini kami sudah berkumpul di ruang tengah untuk menyelesaikan masalah. Kuakui Mas Rega pandai berbicara hingga ia dapat meluluhkan hati Aah dan Ibuku lagi. Permintaan maaf Mas Rega pun diterima oleh Ayah dan Ibu. Mas Rega berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Semoga saja itu bukan hanya sekedar janji. Berharap setelah ini Mas Rega akan memperbaiki sifatnya yang buruk itu. "Saya sudah serahkan putri saya sama kamu. Saya percaya penuh sama kamu. Kali ini tolong jangan kecewakan saya lagi! Buktikan kalau kamu memang benar menyayanginya. Saya selalu memberikan kasih sayang yang tulus sejak ia kecil. Saya ingin kamu memberi lebih dari yang saya berikan," ujar ayah yang membuatku sedih. "Saya berjanji. Tolong beri saya kesempatan untuk membahagiakan putri Ayah. Saya janji tidak akan menyakitinya lagi. Ke depannya saya akan mengubah segala sifat dan sikap saya yang buruk," jawab Mas Rega meyakinkan ayah. Kutatap Ayah penuh haru. Kasih sayang Ayah memang tiada batas untuk anak perempuannya. Aku sudah membuktikannya sendiri. Ayah selalu menjadi yang terdepan untuk melindungi putrinya. "Maafkan aku yang dulu pernah berdebat denganmu hanya karena Mas Rega, Yah," batinku. "Jika suatu saat kamu kembali marah dengan Valen, jangan lakukan kekerasan fisik! Lebih baik kamu kembalikan saja Valen kepada saya! Saya akan menerimanya dengan senang hati." "Ayah!" Aku meremas rok yang kukenakan. Entah mengapa ucapan Ayah seperti menusuk ke ulu hati. "Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi," balas Mas Rega dengan sangat yakin. Damai yang kami rasakan saat ini. Ayah dan Ibu pun kembali ke kota asal mereka. Pekerjaanlah yang menjadi alasan mendasarnya. Napasku terasa lega karena masalah yang kuhadapi akhirnya usai sudah. *** "Mas Rega!" Aku menyuguhkan segelas teh hangat untuknya yang sedang bersantai di teras rumah. Kulihat ia begitu sibuk dengan ponselnya. "Makasih, Sayang." "Ya, Mas. Lagi chatting sama siapa, Mas? Seru banget," kataku penasaran. "Nih." Mas Rega menyerahkan ponselnya kepadaku secara tiba-tiba. Hal yang tak biasa ia lakukan. "Kenapa diam? Ayo lihat saja!" ucap Mas Rega seraya tersenyum menatapku. Aku meraih benda pipih berwarna hitam itu dan memeriksa isinya. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di dalamnya. Semua pesan dan riwayat panggilan dari teman prianya. Aku yakin jika Mas Rega sudah jujur dalam hal ini karena melihat foto profil mereka juga seorang pria. "Gimana? Ada yang aneh?" tanya Mas Rega tenang. Aku menggeleng pelan dan berkata, "Nggak ada, Mas." Mas Rega meminta ponselnya kembali. Aku menyerahkannya begitu saja. Namun, aku teringat sesuatu. Galeri dalam ponselnya belum aku periksa. "Mas, pinjam lagi, dong!" kataku memelas. "Sebentar, ya, aku disuruh telepon orang—penting. Besok kita ada janji untuk ketemu. Biasa, masalah pekerjaan," ucapnya sambil menunjukkan ponsel yang tertera nama 'Pak Bagus'. Aku mengangguk. Mas Rega sedikit menjauh ketika menelepon pria itu. Aku mencoba mempertajam indra pendengaran. Samar-samar, kudengar suara pria di seberang sana. Berarti kali ini Mas Rega memang jujur. Sebenarnya ada satu hal yang membuat hatiku mengganjal. Mas Rega memiliki dua nomor aktif dan aku tidak mengetahui salah satunya. Nadya bilang jika itu adalah nomor lamanya. Jika memang tidak ada apa-apanya, seharusnya Mas Rega memberitahuku soal itu. Usai menelepon seseorang, Mas Rega menghampiriku. "Sayang, aku keluar sebentar, ya?" tanyanya. "Ke mana, Mas?" "Ke kafe di depan sana, loh." "Sama siapa? Ngapain? Aku ikut, ya?" "Jangan, Sayang. Aku sama teman kantorku. Kita mau membahas soal pekerjaan." "Loh, katanya ketemunya besok?" "Iya. Ketemu Pak Bagus memang besok. Sekarang ketemu sama teman aku buat persiapan besok." "Kenapa aku nggak boleh ikut, Mas? Cewek atau cowok temannya?" "Cowoklah, Sayang. Teman aku ini agak buaya orangnya. Aku takut dia nanti ngelihatin kamu terus karena dia selalu muji-muji kalau lihat fotomu." "Oh, ya?" Aku sedikit tak percaya. "Iya, Sayang. Aku cuma sebentar, kok. Boleh, ya? Jam sembilan nanti pasti sudah di rumah." "Bener, ya?" "Iya, Sayang." "Ya sudah, Mas. Hati-hati!" Setelah Mas Rega pergi, Mas Rega pikir aku akan diam di rumah. Tidak, itu salah besar. Masih banyak rasa penasaranku yang belum terjawab hingga saat ini. Diam-diam aku membuntutinya hingga sampai di sebuah kafe. Kulihat Mas Rega duduk di dekat jendela. Aku yang masih berada di atas motor ojek yang kupesan—terus memantaunya. Aku ingin memastikan seseorang yang sedang ia temui saat ini. Beberapa saat kemudian, kulihat seorang wanita masuk dan mencari-cari seseorang. Setelah melihat Mas Rega, wanita itu berlari kecil menghampirinya. Mereka duduk berhadapan. Mendadak hatiku panas seketika. "Beraninya kamu, Mas! Katanya sama teman cowok. Tahunya ketemuan sama Nadya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD