BAB 15

1283 Words
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal dan selesai melakukan pemeriksaan secara langsung di Tobias, Fin beserta Kaiden dan juga Maverick pun kembali ke Istana Tessitura. Seperti yang dikatakan oleh Fin, ia akan membawa buku itu bersamanya dan menyimpannya secara aman karena berpikir buku itu lebih baik ada bersamanya. Selama perjalanan, Fin hanya membaca isi buku tulisan Ezra yang ada di dalam buku itu halaman demi halaman. Semua hal yang ditulis oleh Ezra tak lain berisikan tentang Istana Tessitura dan curahan hatinya dalam mengurus keluarga. Entah itu Marie, Morrigan atau pun Fin sendiri, semuanya ada di dalam sana. "Sepertinya kau tenang sekali membaca buku itu. Kau menikmatinya?" tanya Maverick. Fin mengangkat kepalanya dan menatap Maverick, "Ya, dari buku ini aku tahu banyak hal tentang elf yang selama ini tidak aku ketahui," ujar Fin. "Tentang elf yang tidak kau ketahui? Bukankah di akademi aku sudah meminta pengajar lain untuk mengajarkannya kepada angkatanmu yang lain?" sahut Kaiden. Kaiden sang pemimpin akademi ingat dengan jelas jika dia meminta beberapa rekannya yang pernah minum teh bersama dengan Ezra dan tahu tentang elf di masa beberapa ribu tahun yang lalu untuk diberikan secara khusus kepada angkatan Fin. "Tidak begitu banyak, tapi disini lebih lengkap," ujar Ezra. Maverick menghela napasnya, "Sebenarnya dia tidur sewaktu kelas," sahut Maverick. Fin membulatkan matanya dan tubuhnya kaku seketika. Sedangkan Kaiden yang ada di sampingnya menoleh dengan tatapan mematikan. "Aku lelah setelah latihan beberapa jam sebelumnya. Salah sendiri tidak mengatur jadwal teori dan praktik dengan benar," ujar Fin yang membela dirinya. Dalam hati Kaiden, jika bukan karena Fin adalah seorang Raja yang dihormati oleh bangsa elf, mungkin Kaiden akan memukulnya detik ini juga dengan cukup keras. "Ya sudah, bacalah dari buku itu. Jangan tertidur dan pastikan kau memahami semua sejarah bangsa elf," ujar Kaiden. Fin mengangguk dan membalik halaman selanjutnya, tetapi tiba - tiba saja ia justru menemukan ada yang aneh di sana. "Aneh," gumam Fin. Kaiden dan Maverick sama - sama menoleh ke arah Fin dan melihat buku yang ada di tangan Fin. "Kenapa?" tanya Maverick. "Bukunya robek," ujar Fin dan memperlihatkan halaman yang hilang. Terdapat bekas robekan disana. "Mungkin Tuan Ezra salah menulis sesuatu dan merobeknya," ujar Kaiden. "Bisa jadi," sahut Maverick menyetujui ucapan Kaiden barusan. Beberapa saat kemudian setelah perjalanan yang cukup lama di dalam kereta kuda yang meski besar tetap terasa sempit karena diisi oleh 3 orang di dalamnya, ketiga pria itu pun akhirnya tiba di Istana Tessitura. Penjaga gerbang istana langsung membuka gerbang saat melihat tanda kerajaan pada kereta kuda yang hendak masuk. Memang, setiap angkutan, kendaraan dan benda - benda penting memiliki lambang kerajaan sebagai tanda jika itu adalah milik kerajaan. Selain untuk mudah mengenali, tanda itu kerap menjadi identitas para pekerja untuk bisa dengan mudah keluar masuk istana tanpa konfirmasi dengan penjaga lebih dulu. "Huah! Melelahkan!" ujar Kaiden saat turun dari kereta kuda. Kaiden segera menyingkir dan membantu Fin turun kemudian bersama - sama masuk ke dalam istana. Beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan Fin, Kaiden dan juga Maverick. Tak jarang, pelayan bangsawan elf yang masih berusia muda tampak melirik beberapa kali ke Fin. Mungkin mereka berharap bisa menjadi permaisuri yang selanjutnya dan derajatnya sebagai bangsa elf biasa pun naik menjadi bangsawan elf dengan cara menikah dengan sang Raja elf itu. "Aku akan minum teh di lantai atas. Kaiden, jika kau mau pulang silakan saja, tapi sebaiknya kau makan sebelum pergi," ujar Fin. Kaiden menaikkan sebelah alisnya, "Kau- Maksudku, Tuan apa tidak mau makan?" tanya Kaiden yang langsung merubah kalimatnya karena ia sadar beberapa pelayan menatap ke arahnya karena menyebut Fin dengan istilah 'kau' barusan. "Aku akan makan di lantai atas," balas Fin kemudian berjalan meninggalkan Kaiden. Kaiden pun menundukan kepalanya sebagai rasa hormatnya kepada Fin daan berjalan berlawanan arah dengan Fin. Sedangkan Maverick tetap setia berjalan mengikuti Fin di belakangnya dan bahkan sampai ke balkon di lantai 4. Balkon di lantai 4 adalah salah satu tempat kesukaan Fin. Ia sering kali menghabiskan waktunya di tempat itu dan memilih menikmati makan siangnya sembari melihat pemandangan yang ada di depan mata. "Kau tidak makan, Maverick?" tanya Fin. "Aku bisa makan nanti setelah kau tidur," jawab Maverick. Fin menghela napasnya, "Kalau begitu kita makan siang bersama di balkon," ujar Fin. Akhirnya setelah melewati ratusan anak tangga, Fin dan juga Maverick tiba di lantai 4. Mereka segera pergi ke balkon. Sebelum masuk ke sana, Fin tampak memerintahkan seorang pelayan untuk membawakan 2 cangkir teh hangat dan juga makan siang untuk dirinya dan juga Maverick. Fin mengambil kursi sebelah kiri yang biasa ia tempati sedangkan Maverick duduk di seberangnya. Satu tangan Fin meletakkan buku milik Ezra ke atas meja dan kemudian melempar pandangannya ke arah pemandangan. "Maverick, apa kau pernah sering kali bertanya - tanya tentang masa lalumu?" tanya Fin kemudian menoleh ke arah Maverick. "Masa lalu? Masa lalu yang bagaimana?" tanya Maverick. "Ya, tentang bagaimana Ibumu meninggalkanmu atau hal lainnya." Maverick tampak berpikir sejenak, "Ibuku meninggal karena sakit parah di usiaku yang baru 7 tahun. Itu bahkan sudah ribuan tahun berlalu jadi aku tidak terlalu mengingatnya. Memang kenapa?" "Apa kau pernah merasa ada sesuatu yang rancu dalam ingatanmu?" "Rancu bagaimana?" Tiba - tiba saja seorang pelayan datang menginterupsi dan meletakkan 2 cangkir teh beserta makan siang milik Fin dan juga Maverick di atas meja. "Terima kasih," ujar Maverick. Sang pelayan wanita yang masih muda itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Maverick dan Fin. "Rancu saja. Aku merasa aneh. Aku merasa ingatanku terasa tidak nyata. Jika dipikirkan lagi, aku merasa ada yang janggal," gumam Fin. "Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Fin. Tidak mungkin ada yang bisa merubah ingatan kita kan?" ujar Maverick sembari mengambil secangkir tehnya dan menyesapnya perlahan. Fin membuka buku itu dan menuju ke halaman yang robek, tangannya tampak meraba buku itu sembari berpikir. "Ada apa?" tanya Maverick. "Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan tapi aku tidak tahu apa itu," ujar Fin. "Fin," panggil Maverick. Fin mengangkat kepalanya dan menatap Maverick, "Apa?" "Kau kelelahan dan stress akibat jabatan barumu sebagai Raja sampai kau memikirkan banyak hal seperti ini. Lupakan masa lalu dan hadapi yang ada di depan matamu sekarang. Semua orang menunggu wibawamu sebagai seorang Raja yang akan dicintai oleh seluruh bangsa elf," ujar Maverick. "Kau benar. Aku hanya terlarut saja. Terlebih saat mendengar kata dark elf, itu sangat mengusikku," ujar Fin kemudian ikut menyesap tehnya dan menatap Maverick. Maverick memakan buah - buahan yang disediakan di atas meja kemudian kembali menatap Fin. "Maverick, apa kau tahu sesuatu tentang bangsa dark elf?" tanya Fin. Maverick menggelengkan kepalanya, "Tidak banyak. Aku hanya tahu kekuatan sihir hitam datang pada mereka yang menginginkan kekuatan besar secara instan untuk membalaskan dendamnya," jawab Maverick. Fin kembali terdiam dan memasukkan potongan buah apel ke dalam mulutnya. "Fin, coba fokuskan pandanganmu ke langit. Sepertinya kau akan melihat selubung Amethyst yang disebutkan oleh Tuan Ezra di bukunya," ujar Maverick. Fin pun menuruti perkataan Maverick dan melihat ke langit. Sebelumnya ia tampak mengumpulkan energi sihir di matanya hingga berubah menjadi hijau. Dan benar saja, Fin melihat sebuah lapisan tembus pandang yang tidak begitu tebal tapi tampak seperti pelindung di langit. "Pelindungnya sangat kuat dan juga besar, pasti Kakekku susah payah membangunnya," ujar Fin. "Dan kau harus menjaganya dengan baik," sahut Maverick. "Aku akan mempelajari cara memulihkan selubung itu agar bangsa dark elf tidak bisa masuk. Mungkin perasanku tadi pagi hanya sebagian kecil dari kekuatan bangsa dark elf yang berusaha ingin menembus Amethyst," ujar Fin. "Bisa jadi. Kau harus bertambah kuat lagi, Fin." "Aku akan belajar setiap hari agar kekuatanku bertambah kuat setiap harinya." "Bagus." Setelah pembicaraan mereka, Maverick dan Fin kemudian menyantap potongan telur, daging dan juga roti gandum yang sudah disediakan untuk mereka. Sambil menyantap, Fin dan Maverick menatap ke langit, melihat selubung Amethyst yang menutupi Pulau Amadea agar terhindar dari bangsa dark elf yang hendak masuk ke dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD