Pria itu

579 Words
"Assalamualaikum, Afifah aku sudah sampai di terminal Rawa Mangun" ucap Zahra saat menghubungi kerabat jauhnya. "Waalaikum salam wr, Zahra tunggu aku sebentar ya... Kamu tunggu di halte bus dekat situ saja. Saat ini jalanan cukup macet, jadi mungkin agak lama. Maaf ya..." "Iya tak apa-apa Afifah. Terima kasih ya. Maaf ya aku merepotkan mu." Ucap Zahra melemah, sungguh dia bukan sosok yang suka merepotkan orang lain. Bahkan dia adalah sosok yang selalu ingin membantu orang lain. Tapi saat ini, apalah daya. Menopang hatinya yang rapuh pun rasanya amat sangat sulit. "Ok Zahra... Pokoknya kamu cari tempat yang ramai dan jangan terima makanan atau minuman dari orang, walaupun kelihatannya dia orang baik. Ini kota metropolitan yang penuh tipu muslihat... Ok? Ingat pesan aku... Tunggu ya? Jangan kemana-mana." Ucap Afifah terdengar sangat mengkhawatirkan Zahra. Afifah tahu persis Zahra adalah wanita polos dari desa yang mungkin saja mudah ditipu orang kota yang licik. "Iya iya Afifah. Terima kasih ya..." "Sabar ya.. Assalamualaikum." "Waalaikum salam wr.." Zahra pun memutus panggilan telepon nya. Netra coklat pekatnya terlihat berkelana mencari tempat ramai. Namun sayang dalam kondisi terik seperti ini, jalanan tampak sepi. Zahra merapalkan doa dalam hati agar selalu dilindungi. Namun sayang seorang pria berpakaian lusuh dan bertato bergerak mendekat ke arahnya. "Duit... Duit..." Ucap pria itu kasar. Zahra pun merogoh tasnya. Dan mengambil 1 lembar uang 10 ribuan. "Enak aja cuma segini!!! Buat makan aja kurang neng. Tambahin!!!" Ucap pria itu kembali dengan kasar membuat Zahra bergidik ngeri. "Maaf Pak. Uang saya tinggal segini." Ucap Zahra memelas. Karena nyatanya dia memang hanya memegang uang 10 ribu saja. Selebihnya sudah dia gunakan untuk makan dan membayar angkutan umum. "Boong banget lu." Pria itu membentak Zahra. Tubuh mungil Zahra terlihat menggigil karena terlalu takut. Apalagi saat ini dia berada di jalan yang cukup sepi. Menyadari Zahra yang ketakutan, pria itu pun menyambar tas selempang Zahra. "ASTAGFIRULLOHALADZIIM." Pekik Zahra terkejut. Gadis itu terlihat berusaha mempertahankan tas selempang miliknya. Sehingga terjadi tarik menarik di antara mereka. "JANGAN PAK. SAYA CUMA PUNYA INI." Ucap Zahra berteriak namun tetap tidak menghilangkan kesan memohon dalam untaian kata yang diucapkannya. "LO PASTI PUNYA BARANG BERHARGA DISINI KAN?" Ucap pria itu menghentak lengan Zahra. Karena tubuh Zahra dalam kondisi lemah dan sejak pagi belum makan. Zahra merasa lemas hingga akhirnya tas itu berhasil pindah kendali. Saat pria itu berlari, Zahra hanya bisa berteriak lemah. "TOLONG!!!" Tepat saat itu, Seorang pria dengan wajah yang paling di ingatnya selama sebulan terakhir berdiri foy hadapannya. "Ada apa nona?" Ucap pria yang entah siapa namanya. Tapi Zahra yakin pria di hadapannya adalah pria yang sama dengan pria yang sudah merebut kehormatannya. Zahra merasa amat sangat terkejut hingga dia tak mampu berbuat apa-apa. Gadis itu hanya terdiam menatap wajah pria di hadapannya. "Mba... Ada apa? Tadi Mba teriak tolong?" Ucap pria itu membuat lamunan Zahra buyar. "Tas saya dijambret pria yang lari ke sana Mas, tolong saya." Ucap Zahra panik. "Tunggu di sini!!!" Zahra hanya bisa mengangguk. Sambil terus menatap pria yang segera berlari mengejar preman. Zahra terduduk lemas. Rasa terkejut membuat jantungnya tak mampu memompa darah hingga ke syaraf pusatnya. Dia bertemu pria itu lagi... Pria pemilik wajah yang selalu membayangi mimpi buruknya. Wajah yang mampu membuat wanita bertekuk lutut karena ketampanannya. Wajah setampan dewa namun berhati iblis. Zahra tak menyangka bisa menemukan pria itu. Secepat ini... Apakah ini jalan yang ditunjukkan Sang Maha Kuasa. Untuk menyelesaikan masalah nya? Seharusnya tadi dia menampar pria yang sudah menghancurkan hidup nya. Memukul pria yang sudah mengacaukan masa depannya. Seharusnya tadi dia menendang pria yang sudah membuang impiannya. Seharusnya tadi dia mencakar wajah pria yang dengan paksa menitipkan benih dalam rahimnya. Tapi tadi dia hanya bisa diam. Terpaku... Dan menatap wajah brengseknya... Zahra merasa begitu bodoh...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD