Tangan Yama bergetar ketika untuk pertama kalinya ia menggendong anaknya sendiri di pelukannya. Air matanya terus menetes melihat keadaan anaknya yang sangat pucat dengan tubuh membiru dan juga tak ada napas yang terdengar. Yama terus menciumi anaknya dengan sayang. Sungguh, walaupun kehadirannya sama sekali tak ia rencanakan, bahkan hadirnya ia adalah sebuah kecelakaan, tapi Yama selalu menganggapnya sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Ketika pertama kali mendengar kabar kehamilan Tiana, ia sama sekali tak pernah bepikiran untuk menyingkirkan anaknya sendiri. Ia malah ingin anaknya lahir dengan sehat walaupun itu harus mengorbankan kebahagiaan ibunya sendiri. Yama ingin anaknya hidup dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari dirinya. Ya, Yama tak ingin anaknya merasakan ap

