Acara pemakaman Edera berlangsung haru. Tangis Lovinta terus saja terdengar selama proses itu berlangsung. Danial yang melihat sang putri kembali terpuruk pun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa bersedih melihatnya. Semua orang sudah pulang dari pemakaman. Danial melihat Gilang yang sedang duduk menyendiri di depan teras rumah Fatimah, lelaki paruh baya itu melangkah pelan ke arah Gilang. “Ivan.” Danial bersuara lirih. Namun, sukses membuat Gilang terperanjat kaget. “Om.” Gilang menegakkan tubuhnya dan mengusap ke dua sudut matanya yang berair. Ke dua lelaki itu saling duduk berdampingan, namun tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Gilang merasa tidak enak hati kepada Danial karena kepergian Edera. “Maafkan saya, om.” Akhirnya rangkaian kata itu lolos dari bibir Gilang se

