LUAR KENDALI

1050 Words
Ethan terdiam, bunyi grusuk-grusuk perutnya membuat dia malu, kenapa kehidupannya seperti ini? Ditinggal oleh kekasih, di tinggal ibu dan makan pun kesusahan sekarang. "Apa maksud ibu?" Ethan mendengarkan suara itu, dia menoleh ke samping dan melihat anak kecil lelaki membuang makanan yang diberikan oleh ibunya. Ethan tidak tahan lagi saat dia melihat ibu dan anak kecil itu pergi dia berlari seperti anjing kelaparan dan merenggut sisa makanan itu. Ethan menangis sesenggukan sembari memakan sisa makanan jalan tadi, air matanya bertetes an. Dia Makan seperti anjing yang kelaparan. Seorang wanita melihat dia dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sedih, namun satu menit kemudian dia langsung tertawa dengan lelaki yang ada di sampingnya. Hahahah "Sayang makanya kamu harus bekerja dengan giat, supaya nantinya kita tidak seperti dia, sudah kumuh, miskin, hidup lagi?" Mereka berdua tertawa dan segera pergi dari tempat itu, Ethan memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Malam sudah tiba Ethan yang kedinginan kini mencoba mencari tempat tidur, dia melihat ke samping kiri dan kanan tetapi tidak ada tempat semuanya berisi sampah. Beberapa menit berjalan lagi, dia melihat ada Indomaret di depannya, hatinya sangat senang karena mungkin dia bisa beristirahat di sana. Kakinya melangkah tetapi hanya beberapa langkah masih kakinya kembali berhenti. "Kenapa?" "Kenapa harus ada dia di sini?" Ethan mencoba menahan rasa sakit hatinya saat melihat wanita yang dia cintai sampai sekarang ini berada di depan Indomaret yang akan dia tuju. Dia ingin pergi dari tempat persembunyiannya itu namun ada beberapa kata yang membuat dia ingin menghentikan langkahnya. "Bagaimana nasib Ethan yah, sayang?" Wanita itu berkata kepada lelaki di sampingnya siapa lagi kalau bukan Angelina. Mantan pacar Ethan. "Apa? Kenapa kamu masih mengingat dia, bukannya kamu sudah move on dari dia?" Bentak lelaki itu membuat Ethan ingin menampar mulutnya tetapi Ethan masih menahannya. "Sayang, aku hanya menyinggung sedikit tentang doa, aku sudah move on darinya tetapi aku masih kasihan kepada dia." Ethan seketika senang saat mendengar itu, namun bagaimana pun juga dia sudah sempat benci kepada wanita itu, dia meninggalkan diri nya sendirian di saat keterpurukan ini menimpa dia. Plakk Tamparan itu berhasil mendarat di pipi kanan Angelina, kaki Ethan reflek melangkah danencoba untuk memberikan tamparan untuk lelaki biadab itu. "Hush, sialan kamu." Bogemam itu berhasil mendarat pada pipi lelaki itu, tetapi Al hasil Ethan juga yang kena. Plak ... Tamparan itu kini membuat Ethan terdiam, ini kali pertamanya dia mendapat tamparan dari Angelina. "Kenapa kamu mengangu dia?" "Dasar kurang ajar, kamu tidak tahu diri, cepat pergi dari sini, atau aku akan memberikan kamu sekali lagi tamparan." Angelina benar-benar berubah sejak bersama orang yang asing, Ethan akhirnya pergi dengan tatapan mata yang kosong, dia melamun sepanjang perjalanan dengan baju kumuh dan juga langkah kaki yang lemas. Pagi kini telah tiba dengan cahaya matahari yang sangat terik dan juga kicauan burung Syurrrr... Air mengalir deras tepat di wajah Ethan, Ethan langsung berdiri dia mengira telah terjadi sesuatu ternyata benar, wajahnya di sirami oleh preman-preman sekitar itu air kencing. "Kenapa kamu tidur di sini? Ini komplek kami, minta bayarannya 50 ribu cepat." Ethan terdiam bagaimana ini? Dia tidak punya apa-apa sekarang, semuanya mik dia telah habis terjual. "Kenapa kamu malah diam?" Preman yang kini melihat dia dengan tatapan mata emosi semakin mendekati tubuh Ethan. Ethan mencoba untuk mundur tetapi langkahnya langsung di hambat oleh preman yang wajahnya sangat hitam dan itu membuat dia tambah seram. "Tolong ampuni saya, saya benar-benar tidak ada uang." Ethan berharap tidak terjadi hal buruk kepada dia, namun siapa sangka para preman itu langsung kembali memukuli wajahnya sampai babak belur. Ethan kembali pingsan, air matanya menetes berharap Tuhan segera menjemput dirinya. Para preman itu membawa Ethan ke brangkas mereka dan memikirkan sesuatu agar Ethan bekerja bersama mereka. Satu jam mereka menunggu dan Ethan belum juga bangun ketiga preman itu langsung membuka celananya dan yah apa yang terjadi. Blurbbbb .... Syurr .... Air itu mengalir dari atas sampai bawah dan mengenai wajah Ethan, Ethan langsung membuka matanya dan dia tidak bisa lagi melakukan perlawanan. "Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian begitu jahat kepada aku?" Ethan yang kini sudah lemas bagai mayat hidup mencoba untuk berbicara. "Apakah kamu kira kamu akan lolos dari tangan kami bertiga?" "Hahaha." Lanjut lelaki dengan wajah hitam itu, dia tertawa membuat Ethan menderita. "Apa yang kalian mau dari aku? Aku orang miskin, tidak punya apa-apa." Ethan mulai memberontak. "Diam, mulai besok kamu akan bekerja bersama kami." Mendengarkan kata bekerja membuat Ethan terdiam, apa yang akan dilakukan oleh ketiga preman ini kepada dirinya, dia hanya bisa berpasrah karena tangannya kini telah di borgol dan kakinya juga telah ikut di borgol. Di sisi lain kini Angelina sedang menangis di kamar mandi, dia di kurung oleh pacarnya sendiri karena ulah Ethan satu hari yang lalu. "Apa yang kamu lakukan sayang, kamu harus membuka ini, kalau kita aku bisa mati." Angelina berteriak berharap semoga ada kebaikan hati dari pacarnya untuk membuka pintu. Lima menit berlalu, dia mengira akan ada keajaiban dunia tetapi nihil, Angelina masih tetap di kurung tidak makan dan tidak minum, bibirnya yang pucat pasif kini membuat dia terlihat jelek seperti kurang nutrisi. Di sisi lain kini Ethan kembali membuka mata karena suara dari preman yang ada di depannya. Ethan mencoba untuk mencari cara bagaimana caranya agar dia bisa pergi dari sini, namun nihil sepertinya tidak ada cela bagi dirinya untuk bisa kabur dari tempat ini. "Ayok ikut kami," ucap nya sambil membuka borgol kaki Ethan. "Kemana?" Tanya Ethan dengan raut wajah yang khawatir sekali. "Jangan banyak tanya, kalau kau mau hidup, kau harus ikut kami, jangan banyak melawan," ucapnya sembari membuka borgol tangan Ethan. Ethan melangkah dan kakinya terasa berat tetapi walaupun berat ini sudah menjadi ujian bagi nya, dia melangkah sesuai arahan dari para preman itu. Akhir nya Ethan di masukkan ke dalam mobil tetapi Ethan terkejut karena melihat sangat banyak anak kecil di dalamnya. "Siapa mereka?" Tanya Ethan, namun tidak ada yang menjawab. Ethan melihat anak kecil itu membawa kantong plastik, baju mereka yang kumuh dan gitar yang kecil serta kaki yang telanjang. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di tujuan, yah tepatnya di bawah tol ternyata hal yang belum pernah terpikirkan oleh Ethan kini telah terjadi di depan matanya. Bak bunga yang mekar tiba" tanpa ada sentuhan embun air di pagi hari. "Aku tidak mau." Kata Ethan sembari berteriak. Ekspresi wajahnya memerah, bola matanya melotot, tak sanggup menatap bahagia kehidupannya untuk kedepannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD