Bayangan seorang pria kini menutupi tubuh Ethan yang sedang melakukan perlawanan.
Darah yang di balas darah dan juga gigi yang di balas dengan gigi.
Ethan mulai memukul badan besar itu, meskipun keyakinan Ethan setipis tisu tapi dia tetap pada pendiriannya.
"Aku tidak mau." Ethan mulai menarik lengan bajunya sendiri dari tangan preman itu.
"Kamu berani melawan?" tanya pria berbadan besar itu.
" Aku tidak mau," lanjut Ethan.
Ketiga preman itu memukul badan Ethan, anak kecil yang melihatnya mencoba untuk memberikan sangat kepada Ethan tetapi nihil,semuanya tetap kembali ke jalannya.
"Ayok bang, lawan mereka supaya kita bisa bebas dari penjara ini, kami tidak mau mengemis bang."
Yah, Ethan tadi nya di suruh mengemis, mungkin karena rupanya yang sedikit menawan mungkin ini akan membawa rezeki bagi mereka.
Bugh... Ahk...
Beberapa bogeman itu mendarat di pipi, dan di bagian perut Ethan, tak perlu apa yang terjadi Ethan kini memberikan pukulan terbaiknya pada Bos preman itu.
Bugh...
"Rasakan itu, apa kau kira hanya kau yang bisa memukul aku?"
Ethan akhirnya berlari dan begitu juga bersama anak kecil yang selebihnya, mereka langsung berpencar, Bos yang tadi telah tergelatak begitu saja kini bangun dan menyuruh anak buahnya mengejar Ethan sampai dapat.
"Apa kalian lihat-lihat? cepat cari dia, bawa dia hidup-hidup ke depan ku atau tidak kalian yang akan mati."
Mereka berdua langsung pergi saat Bos nya mengamuk, Ethan yang sudah berlari kencang dan sesekali melirik ke samping kiri kanan kini menghembuskan nafasnya lega.
Ethan sudah jauh dari kerumunan tadi, dia sudah berada di dekat rel kereta api. Beberapa saat kemudian dia berjalan melangkah beberapa saat, namun keberuntungan belum ada di pihaknya.
"Awwww." jerit nya.
Dia melihat ke bawah dan ternyata sendal dia pakai telah di tembus oleh paku yang berada di sekitar rel kereta api itu, dia menunduk melihat bahwa kakinya kini mengeluarkan darah.
"Sendal rusak, dan juga kaku terluka." Ucapnya pasrah kini berjalan perlahan menelusuri jalanan sepi itu.
"Ethan, Ethan aku kira dirimu akan berhasil menjadi milyader ternyata tidak, dasar lelaki." ucap Ethan membenci dirinya sendiri.
"Tapi bagaimana pun juga, ini hidupmu kau yang harus mengatur nya."
Ethan berjalan ke depan depan tatapan lurus kedua tangannya memegang satu persatu sendalnya dia berjalan telanjang kaki.
Beberapa saat ketika dia menoleh ke belakang tak sengaja dia melihat kedua preman itu, reflek Ethan langsung bersembunyi di bawah got yang sangat bau.
Ethan menahan nafas sembari menunggu mereka pergi.
"Dimana dia, dasar b******k kenapa dia bisa pergi dari kawasan ini dengan begitu cepat?"
Preman itu berada di atasnya, sedangkan Ethan kini bersembunyi di bawah papan yang kini di injak oleh kedua preman itu.
"Ah, bagaimana kalau kita pergi saja, kita bilang saja kepada boss kalau dia sudah kita pukuli." ucap lelaki yang sedikit nampak kurus itu.
"Ah, bisa juga dari pada kita capek mencarinya."
Mereka akhirnya pergi dan kini Ethan bisa bernapas dengan lega.
Malam kini telah tiba, Ethan sudah pusing lagi ketika dia harus memikirkan di mana dia tidur.
Ethan berjalan menelusuri jalanan yang ramai itu, semua orang yang melihatnya berusaha menjauh dari dia.
Ethan mencium aroma badannya sendiri, dia saja jijik dengan aroma tubuhnya bagaimana dengan yang lain?
Ethan berjalan menunduk dia terus saja menunduk sampai nanti menemukan tempat yang pas untuk beristirahat.
Wanita yang kini keluar dari toko es krim bernama kan Eleven itu tak sengaja bersentuhan dengan Ethan.
Wanita itu tak melihat jalannya dia yang tertawa bersama temannya dan juga Ethan yang sedari tadi berjalan menunduk.
Ethan terdiam dan wanita itu kini sudah mengeluarkan amarah panas, es krim yang dia beli tidak apa-apa kalau jatuh tapi kalau kali ini bau Ethan mungkin membuat wanita itu merasa jijik.
"Astaga, makanya kalau jalan pake matamu pengemis, bau sekali," ucap wanita itu sembari menutup hidungnya.
"Maafkan saya, Nona." Ethan mengambil sisa es krim yang telah dia jatuhkan tanpa sengaja tadi.
Ethan memberikannya dan tanpa dengan hati bersalah wanita itu mengambil dan langsung saja dia mengucek-ucek wajah Ethan dengan es krim itu.
"Nah, makan itu es krim, orang miskin mana tahu rasanya es krim bukan?"
Kedua wanita itu tertawa, Ethan hanya tertunduk dia hanya mendengarkan suara senang dari sekeliling orang yang berada di samping nya.
Ethan menghapus es krim yang ada di wajahnya dan mencoba untuk pergi, namun kata-kata wanita itu membuat Ethan bertindak lebih dalam lagi.
"Dasar orang tidak tahu diri, mending saja kamu mati dari pada menyusahkan diri di dunia yang fanatik ini." Tegas wanita itu
Langkah kaki Ethan terhenti, dia berpikir mungkin apa kata wanita itu benar, dia harus melakukan apa yang di minta oleh wanita itu, mungkin itu yang terbaik bagi dia sekarang.
Ethan kini berjalan menuju jembatan yang ada di pinggir kota, tatapan mata kosong, perut kosong dan semuanya kosong tentu membuat dia semakin yakin bahwa ini adalah jalan yang benar.
"Aku rasa ini adalah yang terbaik, di samping ayah dan ibu." Ethan mulai menghayal.
"Tapi apakah Tuhan nanti akan menerima aku?" dia kembali bingung lagi.
"Aku tidak sanggup hidup tidak sanggup juga untuk mati, lantas bagaimana nasib ku nanti?"
Ethan menghembuskan nafas tetapi sebelumnya dia melihat ke bawa, bulu kuduknya merangkak naik melihat kedalaman itu.
"Ah, aku tidak mau hidupku seperti ini tetapi Tuhan maunya aku seperti ini, bagaimana Tuhan? Apakah aku lebih baik menghakiri ini semua di sini?" Ethan mulai depresi dia menangis sejadi-jadinya.
"Tuhan, aku mohon jangan buat aku seperti ini, aku sudah cukup menderita."
Kali ini Ethan sudah membulatkan tekadnya dia akan segera melompat dan masalahnya akan segera selesai.
"Ampuni aku Tuhan." ucap Ethan saat akan melompat.
Tiba-tiba saat dia ingin melompat ada seseorang yang memegangi tangannya.
Ethan yang tersadar langsung melompat ke tempat semula nya.
Ethan melihat dari bawah sampai bagian d**a wanita itu.
Wajahnya yang belum dilihat Ethan membuat dia takut. Takut nanti ya berjumpa dengan orang seperti di Indomaret tadi.
"Kenapa kamu melakukan hal yang dibenci Tuhan?"
Ethan masih terdiam, mungkin Tuhan tidak suka kepadanya, segala hal yang menyakitkan membuat dirinya ingin mengahakiri hidup ini.
"Tidak ada yang istimewa di dunia ini." ucap Ethan dengan keputusasaan.
"Itu kalimat bodoh, dasar lelaki," wanita itu mencoba mencairkan suasana dia tertawa dan melihat wajah Ethan.
"Jadi kamu memilih untuk mati?"
Mati? Sengsara? Menderita? Hidup dalam neraka?
Ethan terdiam dengan beribu ekspresi.