WARISAN

1051 Words
Ethan seketika membelalak matanya, dia tidak mungkin mendapatkan hal itu, seingat Ethan yang ditinggalkan kedua orang tuanya kepada dia adalah hutang hang sangat banyak. "Apakah kamu tidak salah mengatakan itu?" tanya Ethan menatap mata Vera. "Hahahah, kamu pasti bercanda bukan?" gurau Ethan dan kembali lagi menatap mata Vera, saat Vera tak memberikan reaksi tadinya. Ethan ternyata hanya bermimpi tadinya, dia kira dia mendapatkan tamparan dari Vera, ternyata tidak. Vera berdiri dari duduknya dia membelakangi Ethan. "Sebenarnya aku ingin memberitahu mu segera waktu pertama kali kita berjumpa, namun aku pikir kamu sudah mengetahui bahwa akan ada wanita kepercayaan ayah dan ibumu datang, tapi ternyata kamu benar-benar tidak dekat dengan kedua orang tuamu," ucap Vera dengan nada datar. Ethan kembali terdiam, bagaimana dia mau dekat dengan kedua orang tuanya, orang tuanya saja selalu sibuk ke sana ke mari tanpa melihat bagaimana kondisi dia. Ethan lagi dan lagi melamun. "Kenapa? Apakah kamu baru sekarang sadar?" hina Vera sembari tertawa. "Tidak, aku hanya ingin tahu kenapa mereka membuat aku se jatuh ini," ucapnya kepada Vera. "Tidak ada alasan, yang terpenting Ayah dan ibumu meninggalkan harta warisan yang sangat besar kepadamu, yaitu restoran yang menjadi tempat kamu bekerja," ucap Vera dengan senyum tipis tergambar di wajahnya. "Apakah kamu serius?" Tanya Ethan dengan wajah yang serius. "Aku sudah mengatakan apa yang menjadi milik mu itu akan kembali kepadamu, jangan khawatir." ucap Vera dan keluar dari kamar Ethan. Memberikan Ethan sedikit ketenangan pikiran, Vera langsung pergi menuju restoran. Ethan yang ada di dalam kamar nya kini mencoba untuk menetralkan semua isi pikirannya, ternyata ada hal yang lebih menarik di balik penderitaan yang dia lalui selama ini. "Apakah ini kejutan yang kalian sediakan untuk Ethan? Ma, Pa?" tanya nya pada diri sendiri. "Aku tahu aku anak yang tidak tahu diri, tetapi kalian terlalu membuat aku heran dengan kebaikan kalian," Ucapnya lagi. Kini Ethan mulai tegak duduknya dan mengatakan sepatah kata yang membuat dia sadar akan terus semangat ke depannya. "Ma, Pa aku berjanji akan membangun restoran ini dengan baik, meskipun kalian pergi meninggalkan aku tapi terimakasih tetap menjadi ayah dan ibu yang terbaik bagimu." ucap Ethan dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya. Tiga hari telah berlalu dengan sangat cepat, kini Ethan sudah bisa pulang dari tempat yang beralaskan warna biru itu semua. Ethan kini di jemput oleh bodyguard yang telah di sediakan oleh Vera kepadanya beberapa waktu yang lalu. "Ayok, apakah kita sudah bisa berangkat?" tanya Ethan saat dia sudah keluar dari pintu kamar mandi dengan pakaian biasa. "Belum bisa, Tuan. Nona Vera belum datang, kita harus menunggu dia sekitar sepuluh menit lagi, Tuan." Bodyguard itu memang badannya besar sepertinya ini akan menjadi teman bagi Ethan. Ethan melirik ke samping saat dia sudah duduk di ranjang tempat tidurnya. Dia melihat bodyguard nya masih tetap berdiri akhirnya Ethan mengajak dia untuk duduk di sampingnya. "Sini," panggil Ethan. "Iya ada yang bisa saya bantu tuan?" tanyanya dengan suara yang tegas. "Apakah kamu tidak capek berdiri, bagaimana kalau kamu duduk saja di sampingku, lagian tidak akan ada penjahat yang datang," ucap Ethan dengan senyum tipis kepada bodyguard nya. "Maaf, Tuan ini sudah menjadi perintah bagi saya, agar menjaga Tuan." dia menolah untuk duduk. " Iya, kamu harus duduk agar bisa menolak saya," ucap Ethan. Ethan melihat ke depan tepatnya jendela yang kini gordennya telah di buka, Ethan melihat ada yang asing di balik pot bunga yang ada di depannya. "Kamu, cepat duduk." Perintah Ethan dan langsung di turuti oleh bodyguard nya. Ethan mendekat ke arah kupingnya dan itu membuat bodyguard nya sedikit takut. Ethan mendekat dan membisikkan sesuatu kepada bodyguard nya. "Kamu harus siap siaga dalam hitungan ketiga kita harus melompat dari atas sampai ke bawah," ucap Ethan membuat takut lelaki itu. "Tapi tuan, kita harus keluar dari pintu depan,_" ucapnya terpotong saat Ethan memegang dagunya dan menunjukkan lampu kecil merah yang berkedip-kedip dekat pot bunga itu. "Apa?" heran bodyguard nya. "Kita harus segera pergi sebelum bunyi nya semakin cepat, mungkin itu adalah Bom, sebelum nyawa kita melayang kita harus pergi," ucapnya dan segera di patuhi oleh bodyguard nya. Mereka berjalan ke arah jendela itu membuka perlahan dan mata Ethan terkejut ternyata hanya hitungan 5 detik lagi maka akan terjadi ledakan. "Gawat kita harus segera melompat, satu, dua, tiga." ucap Ethan dan mereka melompat. Dari lantai 15 mereka melompat semua orang melihatnya dan benar saja bom itu meledak mengikuti arah Ethan. Vera yang kini baru sampai reflek melihat ke atas kedua orang itu membuat dia jantungan siapa lagi kalau bukan bodyguard nya dan juga Ethan. Api menyala dan begitu juga dengan Ethan sebentar lagi dia akan mendarat, entah bagaimana nasib mereka nantinya. Semua orang berteriak dan petugas rumah sakit segera memanggil ambulans dan pemadam kebakaran. "Aku harus ada ide, bagaimana ini?" tanya Vera memikirkan bagaimana nanti kepala mereka. Mata Vera segera melihat ke arah tong sampah yang berisi plastik besar itu, Vera langsung menyeret dan benar saja itu waktu yang tepat. Blush .... Krek .. "Kalian tidak apa-apa?" tanya Vera melihat kondisi Ethan. "Tidak apa-apa semua baik-baik saja," ucapnya tenang. Mereka di kerumuni oleh semua orang dengan wajah yang panik, Ethan segera berdiri dan begitu juga dengan bodyguard nya mereka langsung pergi sebelum nanti petugas medis datang, beberapa detik setelah mereka memasuki mobil kini pemadam kebakaran telah bekerja. "Bagaimana ini bisa terjadi? apakah kamu tidak melihat sekeliling mu!" Marah Vera kepada bodyguard nya. "Maafkan saya, Nona." ucap lelaki itu. "Kamu minta maaf tentu tidak akan saya terima Biru." ucap Vera menahan amarahnya. "Biru? apakah itu nama kamu?" tanya Ethan dengan senyum. Vera bingung kenapa Ethan masih bisa tersenyum padahal nyawanya hampir saja pergi untuk yang ketiga kalinya. "Iya nama yang di berikan Nona kepada saya adalah Biru," ucap Biru membalas senyuman itu. Ethan mencubit tangan Vera dan bertanya. "Apakah nama itu nama aslinya?" tanya Ethan penasaran. "Tidak, setiap bodyguard akan mendapatkan nama samaran, identitas mereka tidak boleh bocor," ucap Vera dengan nada netral. "Baiklah biru, lain kali kamu harus lebih hati-hati,_" ucap Vera terpotong karena Ethan langsung menyambungnya. "Apa yang menjadi milik kamu akan kembali kepada kamu jangan menyalahkan orang lain, sebab Tuhan memberikan nyawa yang berlipat ganda kepadaku, dan itu adalah milik ku, dan tidak akan pergi dari ku," ucap Ethan membuat Vera tersenyum sekilas. Vera dan juga Ethan kini saling melemparkan senyum. Apakah Ethan dan Vera akan menanamkan benih cinta? Senyum adalah permulaan cinta bukan? Ikuti kisah Ethan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD