BEKERJA

1070 Words
Kali ini harus dengan langkah yang berbeda, semua harus dijelaskan secara terperinci. "Ethan?" tanya wanita itu saat melihat siapa yang ada di depannya. Bola mata Ethan membesar, apakah dia tlsalah dengar tadi? Ethan mendekat. "Apa?" tanya dia dengan tatapan mata yang masih tanda tanya. "Maaf, ini semua tidak seperti perkiraan kamu, kamu salah," ucap Wanita itu dengan maksud menjelaskan. Ethan menggelengkan kepala seperti dia tidak percaya dengan perkataan wanita itu. Saat wajah wanita itu mulai bingung Ethan kembali membuka suara dan melihat lelaki yang berada di samping nya. "Kenapa? kenapa kalian berdua?" tanya Ethan dengan wajah kepo. "Ethan, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan," ucapnya. "Tidak perlu," ucap Ethan. "Kenapa kamu memanggil ibu kepada dia? apakah dia bos di tempat ini?" lanjut Ethan lagi. "Huff." Mereka berdua menghembuskan nafas secara bersamaan membuat Ethan bingung lagi. Laki-laki yang berada di samping Ethan tadi kini telah di minta oleh wanita itu untuk pergi biar dia saja yang menjelaskan semuanya kepada Ethan. "Kamu pergi saja, ini akan menjadi urusan aku," ucapnya menyuruh lelaki itu pergi. Lelaki itu pergi, wanita itu kembali menatap Ethan dan ratapan matanya menyuruh Ethan untuk duduk. Kebetulan ada kursi di koridor itu dan mereka akhirnya duduk kembali. "Apapun yang kamu dengar jangan percaya, apapun yang kamu lihat jangan juga percaya, kamu harus percaya pada apa yang kamu alami." Hanya itu saja, dan Wanita itu pergi, dia melangkah beberapa langkah kaki tetapi berbalik arah lagi, melihat wajah Ethan yang masih kebingungan. "Namaku Vera." Dia pergi meninggalkan Ethan dengan seribu pertanyaan. "Vera?" ucap Ethan dengan nada suara yang dingin. Ethan terdiam dia tentu saja tidak tahu harus mengatakan apa lagi di satu sisi dia di suruh diam dan di satu sisi lagi dia harus mengikuti kata hatinya. "Kenapa aku seperti ini? Aku tidak tahu siapa yang sekarang aku bantu dan berada di pihak siapa aku sekarang." ucapnya dan menyenderkan kepalanya pada dinding bernuansa coklat pekat itu. "Aku seharusnya tidak mengikuti mereka berdua." akhirnya Ethan menyesal. Ethan kembali pergi ke tempat tidurnya, dia menyesal karena telah mendengarkan percakapan kedua orang itu tadi. Ethan berjalan sendirian di koridornya, menuju kamar. Dengan kepala yang menunduk sembari memikirkan uang senilai 5M itu. Pagi kini telah datang Ethan sudah siap mandi, dia perlu merapikan rambut dan baju yang di berikan oleh Vera tadi malam kepadanya. "Apakah ini akan menjadi awal aku kembali sukses?" tanya dia pada cermin yang berada di depannya sekarang. "Ah, tidak mungkin, seorang yang sudah bangkrut bangkit kembali, hahahah." Ethan kembali frustasi lagi. Tok .... Tok ... Tok... Suara ketukan pintu itu membuat Ethan terdiam, siapa yang mengetuk pintu kamarnya pagi-pagi buta seperti ini? Ethan berjalan menuju pintunya dia melihat semua sudah sepi, hatinya bertanya-tanya di mana semua orang yang ada di sini? tadi malam dia mendengarkan beberapa suara yang berisik dan mengangu tidurnya. "Hmm." Deheman lelaki yang berada di sampingnya membuat Ethan tertegun. "Hah, kapan anda di sini?" tanya Ethan saat dia tidak sadar sedari tadi lelaki itu berada di belakang pintunya. "Apakah kamu tida berniat bekerja? Sekarang sudah jam berapa?" tanya lelaki memakai jas hitam dan kemeja pink itu. Ethan menoleh ke dalam kamarnya "jam 10," Jawabnya. "Jam 10? Apakah kamu masih bisa bersantai seperti ini? sedangkan semua karyawan lainnya sudah bekerja sedari jam 7 tadi?" tanyanya membuat Ethan terdiam. "Jam 7?" bingung Ethan dan segera memakai bajunya. "Saya tidak peduli yang penting kamu harus lembur malam ini." Lelaki itu pergi meninggalkan Ethan dengan segala kepeningan kepalanya. Malam kini telah tiba, Ethan beraninya bersembunyi di dalam kamar mandi, kakinya terasa pegal kebetulan hari ini di restoran tempat dia bekerja banyak sekali orang yang makan. "Ah, kenapa secapek ini? Aku juga tidak melihat Vera, di mana dia? apakah dia pergi meninggalkan aku begitu saja?" keluhnya sembari memicit kakinya. "Aku harus minum, tapi aku harus keluar dari sini, otomatis nanti aku tidak bisa lagi kembali ke sini," ucap nya dengan gelisah. Dia terlihat capek, mungkin ini adalah efek hari pertama bekerja. Setelah beberapa menit dia keluar dari kamar mandi dan me dapati lelaki yang memarahi dia tadi ternyata ada di depan pintu kamar mandinya dengan tatapan mata merah. "Apakah kamu mengira ini kamar mandi pribadi milik kamu?" tanya dia membuat Ethan kembali terpaku. "Aku rasa, kamu harus mendapatkan hukuman, jangan karena Ibu Vera yang membawa kamu ke sini kamu menjadi asal-asalan bekerja, ini bukan perusahaan kamu," tegurnya dan itu membuat Ethan sakit hati sekali. Ethan pergi dan meninggalkan atasannya sendirian di dalam kamar mandi, Ethan langsung pergi ke bagian mencuri piring, tiba-tiba saat dia melamun seseorang datang dan membuat keributan. Plank .... "Kenapa ini?" ribut semua orang. Plunk .... Huff .... Suara keributan mulai terjadi dan beberapa wanita kini ketakutan mereka memilih untuk berlindung di bawah meja, suara tangisan anak kecil kini memenuhi kepala Ethan. Ethan mengintip dari dapur, dia mencoba untuk mengetahui siapa dan apa yang terjadi, dan benar saja ternyata ada segerombolan perampok datang ke restoran mereka, tanpa pikir panjang Ethan langsung keluar dan mencoba untuk melawan preman itu. "Hey, apa yang kalian perbuat?" tanya Ethan dengan jiwa yang sudah takut. Tap ... Tussss ... Suara ledakan itu kini membuat beberapa anak kecil itu menangis dan juga ketakutan. Ethan juga takut tapi dia harus melawan ini. Ethan mendekati mereka dan mulai melemparkan piring kaca itu satu persatu, preman itu kena dan tentu saja ini adalah kesempatan bagi beberapa orang pergi ke luar dan meminta bantuan. Waiter lainnya hanya menonton dari dapur mereka takut kena, lelaki tadi tersenyum tidak sia-sia dia cepat mengintip di mana saja pergerakan Ethan. Beberapa orang telah keluar dan satu preman telah tergeletak di lantai itu, 2 preman lagi kini masih memegang pistol dan benda tajam mereka. "Kalau kamu berani melukai salah satu dari mereka, maka darah akan di balas darah," ucapnya membuat preman itu tertawa. "Kamu kira kami akan takut?" jawab mereka dan menondongkan senjata itu ke arah jantung Ethan. Ethan masih berjalan dia mengira bahwa itu senjata yang tidak asli. "Apakah kamu tidak tahu bahwa ini adalah pistol yang asli?" tanya lelaki itu dan dia sudah kembali menarik pelatuknya. Tap .... "Apa itu?" lelaki tua itu takut dia mencoba untuk menghalangi ini semua. Plush ... "Arg, jangan," teriak lelaki yang menjadi pemimpin mereka. Namun Ethan tidak sempat menghindar, Ethan tertembak darah berserak di mana-mana. "Ethan!" teriak wanita yang kini baru saja datang dengan baju merah nya. Badan Ethan perlahan mulai tergampar, begitu juga dengan tatapan Ethan, bola mata nya perlahan tertutup, mungkin ini adalah akhir hidup Ethan. "Akhirnya aku mati," ucap Ethan untuk terahkir kalinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD