Bola mata Ethan kini menatap wanita itu ke depan dengan tatapan bersyukur entah angin dari mana ini, ini bisa mendapatkan kejutan yang luar biasa.
"Apa yang membuat kamu heran?" tanya wanita itu.
"Tidak, aku hanya bersyukur karena kamu telah membantu aku." Ucap Ethan sembari memakan makanan.
"Hmm, tidak apa-apa semuanya akan berjalan dengan baik." lanjut wanita itu sambil memakan nasi yang ada di depannya.
Untuk pertama kalinya lelaki itu merasakan kehangatan yang setelah sekian lama hilang, Ethan tentu bahagia sekali saat mendapati teman seperti itu.
Wajah Ethan semakin bersinar saat perutnya sudah kenyang, mereka sekarang pergi ke arah selatan, berjalan perlahan demi perlahan menelusuri jalanan yang mulai ramai itu.
Di tengah perjalanan mereka banyak berbicara, tentu saja ini bertujuan untuk membuang keheningan.
"Ethan, apakah kamu tahu apa itu memasak? Sebelumnya kamu sudah pernah memasak?" tanya wanita itu melihat Ethan dari atas sampai bawah.
"Hahaha, kenapa kamu begitu apa sekali kepadaku? aku bisa semuanya meski belum terlatih sekali," dia tertawa sembari memegangi perutnya.
Wajah wanita itu terheran-heran apakah pertanyaan dia begitu lucu sekali?
"Apa yang ingin kamu tanyakan lagi? tanya saja aku pasti mengetahuinya," tantang Ethan dengan rasa pening percaya diri.
"Apakah kamu mengenal napkin?" tanyanya dengan wajah yang cemerlang, pikiran kini mengatakan bahwa dia mungkin tidak mengetahuinya.
"Napkin?" ulang Ethan dia tahu tetapi dia berpura-pura tidak tahu supaya wanita itu bersabar menunggu jawabannya.
"Nah, kamu tidak tahu bukan?" wajah wanita itu mulai cemerlang.
"Aku tahu, napkin itu adalah hiasan di meja itu bukan?"
Mereka berdua tertawa meratapi nasib, sepertinya Ethan mulai nyaman dengan wanita ini. Mereka kini telah tiba wanita itu kini membelikan baju kepada Ethan dan juga keperluan lainnya.
"Ambil saja apa yang kamu butuhkan, semua ada di sini, baik perlengkapan mandi dan semuanya." ucapnya sembari berjalan.
"Ethan, kamu tidak layak mendapatkan semua ini, dia terlalu baik kepada kamu, apakah ada maksud tertentu di balik kebaikan ini?" tanya Ethan dengan suara yang kecil kepada dirinya sendiri.
"Ayok, jangan melamun kita akan pergi ke tempat kerja yang saya janjikan itu, apakah kamu tidak penasaran?" tanya wanita itu saat melihat pergerakan Ethan lambat.
Mau tidak mau Ethan langsung mengambil semua batang keperluannya, dia mencoba untuk membeli pakaian dalam serta sepasang baju untuknya agar bisa merubah penampilan.
Setelah beberapa saat kini Ethan telah siap dan pembayaran akan mereka lakukan.
"Totalnya semua 2.000.000 juta, Ibu." Ucap kasir yang berada di depan itu.
"Banyak sekali?" heran Ethan dia tidak tahu ini bermerek semuanya.
Saat memberikan kartu rekening atau atm nya kasir yang di depan itu heran dan bertanya siapa nama dari wanita itu.
"Kalau boleh tahu nama ibu siapa? Soalnya nama rekening ini agak berbeda sedikit," kasir itu tersenyum sedikit takut nanti membuat kecewa hati pelanggan.
"Baiklah, itu memang bukan kartu saya, itu kartu milik bos saya," ucapnya sembari minta mempercepat pembayaran itu.
"Wah, kamu bekerja sangat rajin dan jujur rupanya, bos kamu sampai mempercayai kamu kartu ini," bola mata Ethan terkejut dan dia bangga melihat wanita itu.
"Kamu tidak perlu terkejut seperti itu, nanti juga kamu akan mendapatkan apa yang hilang dari mu." Ucapnya membuat Ethan ambigu.
Malam kini telah tiba akhirnya setelah berjalan-jalan satu harian restoran mewah yang sangat ramai kini telah dihadapan Ethan.
"Kenapa kita berada di sini? apakah kamu salah tempat?" tanya Ethan menoleh melihat ke arah wanita itu.
"Tidak, memang ini adalah restoran yang akan kamu tempati," ucapnya membuat Ethan takut.
"Bagaimana ini, aku belum pernah bekerja," takutnya sembari memegang baju yang dia beli tadi.
"Jangan takut, nanti kamu akan berada di posisi yang paling melelahkan biar kamu cepat tanggap," ucapnya membuat Ethan merinding mendengarkan kata melelahkan.
Kini mereka masuk semua waiters dan manajer di situ langsung tunduk kepada wanita itu tentu saja itu membuat Ethan bingung siapa sebenarnya wanita ini kepada dia mendapatkan penghormatan seperti itu?
"Siapa sebenarnya kamu, kenapa kamu diperlakukan istimewa dimana pun kamu berada?" tanya Ethan berhenti saat berjalan.
Waiters yang melihatnya kini mencoba mendekatinya dan menatap mata Ethan, Ethan terdiam dan kembali lagi berjalan di belakang wanita itu.
Ethan mendengarkan banyak bisikan, baik itu buruk dan juga baik untuknya, Ethan hanya mengikuti perintah saja.
Ethan di bawa masuk ke mess dan kini wanita itu meminta dia agar lebih baik istirahat dan besok mereka akan mulai bekerja.
"Kamu lebih baik tidur, dan ini kamar kamu, selebihnya nanti kamu tanya kepada teman-teman mu di mana kamar mandi dan segalanya," ucap wanita itu.
"Baiklah, terimakasih atas bantuan mu selama ini," ucapnya dengan rendah hati.
"Baiklah Ethan, mungkin suatu saat nanti aku yang akan berterima kasih kepadamu, namun sebelumnya aku ingin bertanya kepada kamu," ucapnya membuat Ethan terdiam lagi.
"Kenapa?" tanya Ethan.
"Apakah kedua orang tuamu pernah menitipkan warisan kepada kamu? atau membahas tentang apapun itu yang berkaitan dengan Harta?" tanya wanita itu dengan mata yang menyelidiki.
"Aku! Harta warisan? kekayaan?"
"Ya itu semua," ucap wanita itu dia mengharapakan sesuatu yang mutlak semoga saja ada keajaiban.
"Tidak," ucap Ethan saat dia berpikir selama beberapa saat.
"Tidak?" tanya wanita itu seakan dia tidak percaya.
"Iya, dan sekarang aku sudah jatuh miskin jatuh sejauh-jauhnya," ucapnya tersenyum miris.
Kerutan wajah Wanita itu berubah seketika, dia harus bagaimana nantinya jika harus mengatakan ini, hal ini adalah perjanjian mereka, berarti apakah ini sebuah teka-teki?
"Kenapa? apakah kamu keberatan jika aku bekerja di sini?" tanya Ethan takut membuat pusing wanita itu.
"Tidak, hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu biarkan aku bertindak, kamu boleh istirahat." ucap wanita itu.
"Baiklah, kamu akan datang besok pagi menjemput aku bukan?" tanyanya dengan sedikit suara yang bernada tinggi saat melihat wanita itu semakin jauh.
"Baiklah," ucapnya membuat Ethan tenang.
"Apakah aku salah orang? ini warisan untuk dia bukan?" bingung wanita itu sembari berjalan menelusuri koridornya.
Seorang waiters datang kebetulan dia dekat dengan wanita ini.
"Ibu, apakah dia orangnya, yang selama ini kita cari?" tanya dia dengan suara yang sangat pelan takut nanti banyak pelayan yang mendengarkannya.
"Yah, aku rasa dia tapi aku masih bingung, ini semua seperti teka-teki yang sangat sulit untuk ku jawab," ucap wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Antara dia dan orang tuanya atau boss kita, boss kita sepertinya membuat dia jatuh sejatuh-jatuhnya, tidak memberitahu tentang warisan dan kekayaan yang mereka tinggal kan?" ucap wanita itu dan membuat Ethan yang baru saja lewat terdiam.
"Ethan?"
Ekspresi wajah wanita penolong itu dan juga waiters yang satunya kini terlihat pucat seperti mayat hidup.
Begitu juga dengan Ethan, kini dia tersenyum miris dengan tatapan bola mata yang kosong.
Ethan dan warisan kini menjadi teka-teki dalam kehidupannya.