Bab 7 Syafea – Gelisah Tidak MenentuAku sedang memasukkan beberapa camilan ringan ke dalam tas punggung sesuai permintaan Nia. Kurasakan hawa dingin menyelusup sampai ke tulang meski hoodie besar sudah melekat pada tubuh. Tentu saja hawa dingin masih menyelimuti. Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB, sedangkan aku dan Nia harus berangkat tepat pukul 05.00 mengingat jarak sekolah Nia yang cukup jauh. “Cepetan sitik iso enggak, sih? Lelet banget jadi orang! Pak Darman wis nunggu suwi tuh! Nek telat ya piye, je?” Nia bersungut-sungut sembari memasuki kamarku dan melempar tasnya ke hadapan. Apa maksudnya? “Nia, kalau minta tolong yang bener, dong,” kataku sembari mendesah lelah. Sungguh tidak sopan main lempar begitu saja. Nia bukannya merasa bersalah, dia justru berkacak pinggang seolah mena

