Tiga bulan kemudian ... "Ahhh!! Aduh, sakit! Aduh!" teriak Maura sekeras mungkin sebab ia menahan sakit yang tak tertahankan pada perutnya. Ususnya terasa seperti terbelit, rasa mules yang luar biasa menghampirinya, tetapi rasanya berbeda, ini lebih menyakitkan. "Bi Tiam! Tolong aku!" teriak Maura kembali, namun kali ini dengan nada suara yang meningkat satu oktaf. Ia terduduk lemah di atas kasur. Rasanya tidak sanggup jika harus berdiri. Anak di dalam kandungannya sudah berontak ingin segera keluar, tetapi rasanya sulit. Maura tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Apa harus ia keluarkan anak ini sekarang, atau ia tahan dulu sebelum Ervin datang? Sudah hampir sembilan bulan Ervin tidak kembali pulang. Padahal, dalam surat yang terakhir kali ia beri, tertulis dengan jelas bahwa ia aka

