BAB 16

2186 Words
Asraf mengejar Maura yang nyaris keluar dari area ruangan pesta, ia menerobos keramaian hingga membuat Vani speechless atas perbuatannya, begitu juga dengan para tamu undangan, mereka tidak menyangka kalau kehadiran Maura bisa membuat semuanya hancur, tidak hanya pesta pernikahannya tetapi keluarga Asraf dan Vani harus menanggung malu, belum lagi pernikahan ini diliputi oleh sebagian banyak Wartawan. Vani menyusul Asraf yang sedang berlari mengejar Maura. Bayangkan saja, Vani memakai sepatu heels 10 senti—dan ia harus mengejar Asraf yang lebih leluasa untuk berlari. Maura berhenti tepat di koridor setelah Asraf berhasil meraih pergelangan tangan Maura. Ia menatap wajah wanita itu, memberi tatapan memohon kalau dirinya tidak ada maksud lain selain minta maaf, wajahnya memelas, dan matanya berlinang—tersirat penyesalan di pupil matanya. "Ra, aku bisa jelasin semuanya, kalo aku cintanya sama kamu bukan sama Vani," ungkap Asraf di depan keramaian orang-orang, di depan kamera Wartawan, di depan kedua orangtua Vani dan di saksikan langsung oleh Vani. Detik itu juga tidak hanya Maura yang menitihkan airmata tetapi Vani juga. Vani memberhentikan langkahnya setelah ia mendengar Asraf mengatakan kalimat itu, kalimat yang mampu menusuk ke dalam hatinya. Seolah seperti jantungnya terlepas dari sarangnya lalu diinjak dengan sepatu heels hingga tak berbentuk. Vani berjalan ke arah Asraf, menahan airmatanya, mencoba menyemangati dirinya sendiri. Kini Vani berlutut di bawah kaki Asraf, memeluk paha pria itu. "Kenapa kamu bisa ngomong seperti itu, Raf? Kita udah ngelewatin semuanya bersama, suka-duka semuanya bersama, tapi selama ini kamu berdusta denganku?" buliran bening itu kini mulai membasahi pipinya, melunturkan maskaranya, begitu juga dengan bedaknya. "Aku sayang banget sama kamu, Raf ... terus untuk apa hubungan kita selama delapan tahun ini?" rengek Vani sambil menggeleng-gelengkan kepala. Asraf menyingkirkan tubuh Vani dari pahanya, membuat wanita itu sedikit terhuyung. Ia kembali menggenggam tangan Maura yang sempat terlepas, mencoba memberi penjelasan melalui tatapannya, "Ra, aku cinta sama kamu dari dulu, dari zaman SMA, aku selalu memberi perhatian kepada kamu tetapi Vani yang menyadari kehadiranku, kamu tidak pernah peka, dan pada saat aku ingin mengatakan yang sejujurnya aku dihalang oleh Vani." Maura melepaskan genggaman Asraf lalu menghapus airmatanya. Ia berjalan lebih dekat dengan Vani, membantu wanita itu bangkit dari lantai. Lalu ia membawa Vani lebih dekat dengan Asraf. "Seharusnya lo sadar Raf, ada cewek yang lebih setia dari gue, cewek yang lebih tau perjuangan lo bisa sampai sukses seperti ini. Lo seharusnya berterimakasih dengan Vani, karena adanya dia lo bisa jadi seperti ini," ujar Maura seraya mengambil tangan Asraf dan meletakannya di atas telapak tangan Vani. Asraf tidak terima dengan apa yang Maura balas, ia masih ingin menjelaskan kalau dirinya mencintai Maura dengan tulus. Ia mengangkat tangannya dari telapak tangan Vani dan beralih pada lengan Maura. "Pliss ... Ra, aku cintanya sama kamu. Aku nyaman banget sama kamu, bukan dengan Vani." Bugh ... Ervin yang sudah muak dengan drama di hadapannya langsung menghamtam hidung Asraf dengan sekuat tenaga hingga cairan kental bewarna merah muncrat dari kedua lubang tersebut. Suasana semakin ricuh, flash kamera langsung menyerbu perkelahian itu. Hal seperti ini adalah peluang besar bagi Wartawan. Semuanya berteriak, takut perkelahian itu akan terus berlanjut. Kericuhan yang ada berhasil membuat sebagian besar Satpam datang untuk menangani suasana yang kini semakin heboh. Ervin melepaskan cengkraman Satpam—pada kedua bahunya—lalu ia menarik tangan Maura untuk keluar dari hotel tersebut. Dalam waktu singkat, para Wartawan langsung mengkerubungi Maura dan Ervin yang hendak keluar dari koridor ballroom. Entah sejak kapan, para Wartawan ini menjadi sangat banyak. "Pak Ervin kenapa anda bisa menonjok saudara Asraf dengan secara tiba-tiba? Apakah anda memiliki dendam yang terselubung?" tanya salah satu Wartawan namun tidak digubris oleh Ervin. Setelahnya ia menyingkirkan orang-orang yang berada di hadapannya. * Di dalam mobil, suasana masih hening, yang terdengar hanya suara isakan tangis Maura, ia tidak mampu menahan perasaan sakit yang mendalam di hatinya. Maura tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah ini, hatinya seolah retak berkeping-keping, tidak menyisahkan satu keping pun—kepingan memori tentang Asraf. Yang semakin menyakitkan hatinya adalah kenangan bersama pria itu. Di mana sikap manisnya yang selalu berhasil membuat Maura tersenyum—kini tidak akan pernah ia dapat lagi. Semuanya terasa mati. Jika ia tahu kalau kehidupannya akan seperti ini, Maura ingin kembali menjadi segumpal s****a. Ia tidak ingin dilahirkan di Dunia kalau seperti ini kejadiannya. Kehidupan emang selalu ada rasa pahit di balik rasa manis. Tetapi ia tidak ingin sepahit ini kehidupannya. Ibarat yang Maura rasakan saat ini, seperti; terbang ke angkasa lalu ditembak mati oleh makhluk alien. Bahkan lebih baik kalau ia mati saat ini juga, jadi ia tidak perlu merasakan kepahitan selanjutnya. "Udahlah ... ngapain juga lo nangis, ahelah ...," ucap Ervin setelah hening sepuluh menit yang lalu. Maura menatap sengit ke arah Ervin. "Lo enggak bakal tau perasaan gue sekarang. Lo enggak tau apa-apa, Vin." Maura menghapus airmatanya lalu menghela napas panjang. "Lo tau nggak, apa yang gue rasakan?" Ervin geleng-geleng sambil memasang wajah serius. "Enggak tau. Kan, belum lo bilang." "Rasanya itu kayak luka bakar disiram pake cairan jeruk lemon ... perih, Vin, perih." Hening. Kemudian Maura kembali menangis saat terbayang adegan ciuman panas antara Asraf dan Vani. "Gue pa-paham maksud lo ap-apa... l-lo cu-cuma enggak mau lihat gu-gue menderita? Iyakan?!" tanya Maura dengan suara parau dan kurang jelas. "Gue nyesel enggak ikutin apa kata lo, Vin ...." Ervin memberhentikan mobilnya di pojokan jalan, tepat di bawah pohon yang cukup besar sehingga menutupi cahya lampu jalanan. Setelah mobil mereka dipastikan berhenti, Ervin langsung mengambil sapu tangan dari saku jasnya, lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Maura. Ia mengahapus sisa-sisa airmata itu. "Lo kenapa berhenti di sini?" tanya Maura ragu seraya menahan gemuruh napasnya yang bergejolak hebat akibat jaraknya dan Ervin hanya beberapa senti saja. Bahkan napas pria itu dapat Maura hirup dengan jelas. "Apa mungkin? Gue tega lihat cewek cantik kayak lo harus nangis karena cinta? Lo itu lebih dari kata sempurna Maura ...." Ervin menyunggingkan senyuman khas miliknya dan berhasil membuat Maura kembali menelan saliva. "Jangan cemberut dong, entar cantik lo berkurang," goda Ervin seraya mencolek hidung Maura. Setelahnya mereka berdua kembali duduk dengan normal. Menatap arah jalanan yang terlihat sangat sepi. Keduanya hanya diam, tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Pandangan keduanya fokus pada tiang lampu jalan yang sedari tadi menampilkan cahaya kedap-kedip. "Vin." "Hmm ...." "Kenapa nasib gue harus kek gini? Kenapa impian gue pengin punya sebuah keluarga harus pupus secepat ini?" tanya Maura yang kini sudah tidak menangis lagi. Lebih enjoy. Terasa hangat saat Ervin menggenggam tangan Maura, ia menoleh ke arah Ervin, menatap lekat pupil mata pria itu. Kini tangan Ervin beralih untuk merapikan sanggulan Maura yang sedikit berantakan. "Ketika perasaan sudah tidak dihargai lagi sama seseorang yang lo sayang, maka jangan pernah lo memaksakannya. Lebih baik lo tinggalkan, walaupun harus terluka." Wajah Ervin kembali mendekat dengan wajah Maura. Sedetik. Dua detik. Dan ... cup. Ervin menempelkan bibirnya pada bibir Maura. Beberapa saat kemudian, Maura menyambut kehadiran bibir Ervin dengan menerobas rongga mulut pria itu. Dan setelahnya ciuman panas, pun, terjadi. Tok ... tok ... Ciuman mereka terhenti saat seseorang mengetuk jendela mobil Ervin. Lantas, keduanya langsung membulatkan mata dengan sempurna saat melihat seorang makhluk dari dunia lain. "Haduuh ... pusying kepala eeike. Ada cogan lagi cipokan di bawah pohon. Cimamak-cipopok, aww ... cipook!!" teriak seorang pria berpenampilan wanita yang sedang mengintip melalui jendela Ervin. "Eh dese, disindang ada bokep. Eh maksud eike ada yang cipokan ...." kini banci itu memanggil sekawannya untuk melihat apa yang ia lihat—namun dengan langkah seribu, Ervin lebih dulu menancap pedal gas mobilnya. Untung saja mesin mobil tidak Ervin matikan, jadi memudahkan ia untuk menancap gas. "Dasar brondong!! Selalu mempermainkan hati eiike!!" pekik pria aneh itu dengan raut wajah penuh penyesalan. Setelah cukup jauh dari sekumpulan banci itu, gelak tawa Maura terdengar membahana. Ia terus tertawa sepanjang jalan, begitu juga dengan Ervin. Itu kali pertama mereka digrebek oleh banci. Saking lucu, keduanya sesekali memegang perut masing-masing. Pengalaman terburuk Ervin sepanjang masa. Tawa Maura mereda, kemudian ia sedikit berdeham, "hhem ... rupanya tadi tempat pangkalan bengkol," gumam Maura membuat Ervin juga berhenti tertawa dan menatap wanita itu dengan pandangan bingung. "Bengkol?" tanya Ervin kembali dengan kernyitan dahi. "Iya bengkol. BENCONG PENGKOLAN. Hahaha ...." "a***y ... pantesan sepi banget, untung gue enggak digrepe-grepe sama tuh banci." "Tadi niatnya gue mau jadikan lo tumbal," ledek Maura namun hanya dibalas dengan senyuman. "Seneng deh bisa lihat lo ketawa kayak gini." Ervin memberi sedikit jeda dan melonggarkan dasinya. Masih sambil menyetir, sesekali ia melirik Maura. "Ciuman lo tadi dahsyat, belajar darimana? Beda dari yang sebelumnya." Dan seketika pertanyaan itu atau lebih tepatnya sebuah pernyataan Ervin tadi berhasil membuat Maura beku seketika, pipinya memerah. Ia tertunduk malu sambil menggigit bibir bawahnya dan memilin tali tas selempangnya. 'Salah tingkah' adalah kata yang tepat untuk keadaan Maura saat ini. "Kenapa diam? Lo pengin nyoba lagi?" tembak Ervin. Dua pertanyaan yang mampu membuat Maura bisu seribu bahasa. Itu seperti ajakan, bukan? Ervin memberhentikan mobilnya di bahu jalan. Tanpa aba-aba, Ervin langsung mencium bibir Maura—yang dibalas dengan lidah Maura yang kini menerobos ke dalam rongga mulut Ervin. Ciuman itu berlangsung selama satu menit lamanya, membuat diantara mereka kehilangan napas. Dan setelah mengambil napas, ciuman itu pun kembali terjadi lagi. * Tempat terkutuk yang selalu dibenci oleh Maura kini ia kunjungi bersama Ervin dengan maksud untuk melupakan semua bayangan tentang Asraf. Saat langkah pertama menginjak pintu masuk, keduanya langsung disambut dengan dentuman musik yang sangat keras, asap rokok, dan bau gas dari minuman keras. Seketika perut Maura terasa mual saat mencium aroma ruangan ini namun semakin lama ia berada di sini maka penciumannya akan terbiasa. Maura dan Ervin duduk di sebuah kursi di samping meja bar. Mereka memesan beberapa minuman keras yang kadar alkoholnya cukup tinggi, ingat itu permintaan Maura bukan Ervin. Dua botol sudah habis diminum oleh Maura, bahkan kini ia meminta lagi, untung saja Ervin masih dalam keadaan sadar. Ia langsung mengambil alih botol Wine ketiga dan mengembalikannya kepada sang Bartender. Ervin menatap Maura dengan sinis. Namun percuma, wanita di hadapannya kini dalam keadaan mabuk parah. "Ra, stop! Segitu aja, entar lo mabuk, gue yang repot." Maura membalas ucapan Ervin tadi dengan gelengan kepala lalu tersenyum bahkan ia sempat meminum satu gelas lagi—milik Ervin. "Maura ... gue bilang stop!" pekik Ervin. "I can't stop, honey!" pekik Maura dengan nada suara yang meningkat tiga oktaf. Setelahnya wanita itu meletakan jari telunjuknya pada bibir Ervin. "Ssst ... diam sayang, mari kita berdansa. Ayo sayang ... ini akan menjadi malam yang hebat," gumam Maura tidak sadarkan diri. Kepala Maura terasa sangat pusing, seperti terbang di atas awang-awang. Mungkin efek dari minuman keras itu. Tetapi ... ada kenikmatan di balik rasa pusing ini. Maura terasa lebih bebas, tanpa beban. Kini mereka sudah berdansa atau lebih tepatnya berjoged suka-suka. Gerakan joged Maura tidak berkelas, ia hanya menggoyangkan pinggulnya asal. Ervin? Dia hanya menikmati gesekan b****g wanita pada k*********a—Ervin Junior. Setiap gesekan yang ia rasakan, benar-benar luar biasa. Hanya dalam waktu semenit k*********a sudah menegang dengan sempurna. Surga dunia. Namun, saat semuanya sedang asik berdansa—Maura malah membuat kekacauan, bahkan sempat membuat musik berhenti karena ia baru saja memuntahkan semua isi perutnya. Cairan bau itu muncrat hingga mengenai gaun salah satu wanita yang berada di sampingnya, bahkan dance floor juga kotor akibat muntah tersebut. "Ra, lo kenapa?" "Kayaknya gue mau pingsan." Kepalanya terasa sangat berat, hingga akhirnya semua menghitam. Bughh ... Ervin segera membawa Maura keluar dari kelab ini dan segera mencari hotel terdekat, sebab saat mereka keluar dari kelab, waktu sudah menunjukan pukul dua pagi dan mata Ervin juga sudah mengantuk. Ia tidak mungkin harus mengantar Maura pulang ke apartemennya dan setelah itu ia juga kembali ke rumahnya. Hanya menghabiskan waktu, dan kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan—karena mengemudi dalam keadaan setengah mabuk. * Ervin sudah memesan satu kamar hotel untuk satu malam saja, itupun memakai duit Maura karena dompetnya tertinggal di rumah. Ervin melakukan check in di hotel berbintang tiga yang letaknya tidak jauh dari kawasan kelab, atau bisa dibilang ini adalah hotel laknat—sebab sebagian besar pengunjungnya hanya untuk berbuat m***m. Sampai di dalam kamar, Ervin meletakan Maura di atas tempat tidur. Ia mundur beberapa langkah, melihat penampilan Maura yang berantakan, Ervin benar-benar tidak tahu harus berbuat apa pada gaun Maura yang sudah basah dan jorok akibat terkena muntahnya sendiri. Ervin berdiam diri sejenak dan kembali menatap Maura yang sedang tertidur. Seketika ada sebuah ilham yang menghampirinya. Ia akan melakukan sesuatu pada gaun Maura—namun hal ini sepertinya ternilai sangat lancang, tetapi mau bagaimana lagi, Ervin tidak punya pilihan lain. Kepalanya juga sudah terasa pusing dan ingin segera tidur—jadi ia tidak ingin mengulur waktu lagi sebelum semuanya terlambat. Ervin melepaskan gaun Maura tanpa persetujuan wanita itu. Setelah ia berhasil melepaskannya dan dapat melihat dengan jelas tubuh setengah telanjang Maura, kini bergantian Ervin yang membuka jas dan kemejanya. Tidak, Ervin bukan ingin melakukan pemerkosaan tetapi ia ingin memakaikan Maura dengan kemeja yang ia kenakan tadi. Setidaknya wanita itu terhindar dari masuk angin. Tidak salah bukan? Melakukan kebaikan dengan cara yang berbeda? Setelah Maura sudah memakai kemeja kebesaran—yang berhasil menutupi celana dalamnya—kini Ervin membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Maura. Kali ini ada yang berbeda, Ervin tidur bertelanjang d**a, dan hanya mengenakan celana pendek sepaha, bahkan k*********a tercetak jelas saking celana itu terlalu ketat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD