BAB 17

1770 Words
Pagi ini adalah pagi yang paling berkesan bagi Maura, pagi yang memberikan dirinya sebuah kejutan dan pagi yang tidak akan pernah terlupakan. Ia terbangun dari tidurnya saat pernapasannya terganggu, detik pertama saat ia membuka mata, Maura menemukan sebuah rawa-rawa, bukan hutan tetapi itu bulu ketiak Ervin. Dan tanpa sadarnya lagi, Maura-lah yang memeluk pinggang Ervin semalaman, mengendus-ngendus di ketiak Ervin dan meninggalkan jejak iler pada pinggiran ketiak Ervin. "Ervin taiiik! Kenapa lo ada di samping gue?! Kenapa ketek lo ada di muka gue? Lo habis memperkosa gue?!" pekik Maura lalu mengambil posisi duduk dan menyelimuti sebagian tubuhnya. Mengantisipasi kalau Ervin akan berbuat macam-macam. "Perawan gue hilang dong ...," keluhnya. Ervin yang masih bermimpi, sontak terbangun saat suara melengking Maura memenuhi gendang telinganya. Ia bangkit dari kasur dan melepaskan selimut dari tubuhnya, memperlihatkan lekukan tubuhnya dan tonjolan k*********a yang sedang mengeras. Melihat tonjolan itu, Maura langsung melempar tatapan sinis kepada Ervin, dan semakin membuatnya curiga kalau Ervin telah merebut perawannya yang selama ini selalu ia jaga. "Ervin taiikk!!! Gue belum nikah, lo mau ngapain? Mau perkosa gue?" pekik Maura seraya mencampakan bantal yang ada di hadapannya kepada Ervin. Dengan gesit Ervin menangkis dan menangkap bantal-bantal tersebut. Jari telunjuknya menyentuh bibir Maura, lalu ia mendekatkan bibirnya pada daun telinga Maura—hingga pernapasannya menerpa permukaan kulit leher Maura. "Punya lo enak, sempit," lontar Ervin dan berhasil membuat Maura membulatkan matanya. "Erviin ... jadi lo udah rebut perawan gue? Terus kalo gue hamil gimana? Ervin ...." kini suara Maura terdengar pelan, sebab airmata tidak dapat lagi dibendung. Semuanya terasa terhunus dengan ribuan belati. Maura tidak menyangka kalau Ervin tega melakukan itu terhadapnya. Melihat Maura menangis tersedu seperti itu, Ervin malah mentertawakan Maura. Wajah wanita itu persis seperti anak kecil yang meringkuk meminta uang jajan kepada Ibunya. "Lo lucu juga, ya ... Siapa juga yang memperkosa lo?" Ervin mendekatkan tubuhnya dengan Maura—hingga membuat wanita di hadapannya semakin mengantisipasi. "Maura, mana mungkin gue tega menyetubuhi orang yang gue sayang, kalo masih enggak percaya lo boleh cek, masih perawan atau enggak." Ucapan Ervin tadi berhasil membuat Maura merutuki dirinya sendiri. Bego banget gue, kenapa enggak gue cek aja ..., batin Maura sebelum ia melakukan perintah Ervin. "Hadap sana. Jangan ngintip! Awas kalo ngintip, mata lo gue congkel!" pekik Maura seraya melempar bantal ke arah Ervin. Ervin membalikan badannya sambil tersenyum genit. Pria itu merasa puas sebab bisa membodohi Maura seperti ini. Ternyata lo lucu juga ya. Batin Ervin. Berbeda dengan Maura, ia semakin mengantisipasi agar Ervin tidak mengintip saat ia sedang mengecek vaginanya. Maura sedikit membungkukkan kepalanya, melihat ke dalam selimut dan sesekali melihat Ervin. "Iya lo benar, gue masih perawan ...," gumam Maura lega yang diakhiri dengan helaan napas. "Tapi ... kenapa gue pakai kemeja lo? Terus gaun gue dimana? Jangan bilang lo yang buka gaun gue? Atau jangan-jangan lo kesempatan grepe-grepe tubuh gue?!" tuding Maura dengan berbagai pertanyaan yang sulit dicerna Ervin. Hening. "Vin, jawab dong!" "Gimana mau dijawab, pertanyaan lo banyak banget," keluhnya. "Gaun gue kemana? Terus pasti lo kesempatan buat grepe-grepe badan gue, 'kan?" ulang Maura dengan raut wajah yang sama. "Gue terpaksa buka gaun murahan lo itu karena gaunnya jorok, terus semalam lo joged-joged kayak orang kesurupan, muntah, lalu kena gaun lo jadi lebih bagus gue buka dan gue ganti pake kemeja itu," jawab Ervin dengan satu tarikan napas. Setelahnya ia diam sejenak, mengingat pertanyaan Maura yang kedua. "Ohiya, dan gue sama sekali enggak ada grepe-grepe badan krempeng lo." Maura menatap Ervin tidak percaya. Enggak mungkin cowok m***m kayak dia enggak grepe-grepe badan gue. Pasti dia bohong. "Lo enggak percaya? Yaudah! Yang jelas, semalaman yang grepe-grepe badan gue itu elo!" cetus Ervin. "SERAH!" sanggah Maura mencoba menutupi rasa malunya. "Terus gaun gue sekarang di mana?" "Gaun lo? Itu di sana ...." tunjuk Ervin seraya bangkit dari kasurnya, berniat untuk mandi. "Oh, iya, tadi Jhos udah beli gaun baru buat lo, itu yang warna peach." Ervin merenggangkan otot leher dan tangannya agar tidak pegal. "Sekarang gue mau mandi, atau lo mau kita mandi berdua? Biar hemat waktu," ujar Ervin seraya membalikan badannya menghadap Maura. "Siapa tau lo penasaran sama dedek gue ...." Detik pertama jantung Maura berdegup sangat kencang, tenggorokannya terasa seperti disumbat tumpukan pasir, ia melihat Ervin yang sedang shirtless. Matanya tidak bisa berhenti fokus pada d**a bidangnya, dan kembali menelan ludah saat melihat cetakan kemaluan Ervin dari balik celananya. Gede banget... pantes para p*****r senang sama penisnya, kalo gue mah, ogah! Bisa jebol berapa senti? Ih... kok jadi mikirin p***s dia sih. Batin Maura. "Lo kenapa? Selera sama dedek gue?! Setelah semalam lo grepe-grepe dedek gue, dan sekarang lo pengin lihat langsung?" tembak Ervin dengan devil smirk. "Erviin!! m***m banget sih lo!" Maura menutup matanya saat Ervin mulai melucutkan celananya. "Ervin gue nggak sudi lihat batang pendek lo! Pergi dari hadapan gue! Ervin taiiik ...," teriak Maura kencang dengan nada suara yang berapi-api, namun dibalas Ervin dengan tertawa terbahak. "Siapa juga yang mau nunjukin ke elo?! Ini dedek ... mau gue samak setelah semalaman lo grepe! Dan asalkan lo tahu, tangan lo itu sama kayak kotoran kucing, NAJIS!" ejek Ervin lalu berlari ke dalam kamar mandi sebelum Maura kembali menjerit. "ERVIN... GUE ENGGAK PERNAH GREPE-GREPE p***s LO! MENJIJIKAN!" teriak Maura melengking dan berhasil membuat Ervin tertawa sangat keras di dalam kamar mandi. "Gue benaran nyentuh kelamin Ervin? Ya Tuhan ... kenapa itu terjadi? Kenapa nggak gue remes aja, biar juniornya putus," gumam Maura pelan—lebih tepatnya pada diri sendiri—setelahnya ia memukuli kepalanya sendiri karena telah berpikir kotor mengenai p***s Ervin. Gila! Besar banget. * Kini Ervin sudah terlihat rapi dengan kaos hitam polos dan celana jeans yang bewarna sama dengan sepatu sportnya, putih. Tidak lupa, kacamata hitam sudah tergantung sempurna pada batang hidungnya. Pria itu terlihat lebih fresh. Semua keperluan pakaian dan uang, sudah diatur oleh Jhosepin. Pagi tadi, Jhosepin mengantar semua yang Ervin butuhkan ke hotel ini. Kalau Jhosepin ditanya betah atau tidak bekerja dengan Ervin tentu saja jawabannya tidak, tetapi karena Ervin menggajinya 17 juta perbulan maka semuanya akan terasa indah. Why? Karena kerja ia hanya mengawal Ervin dan menuruti semua permintaan Ervin. Derikan pintu toilet terdengar mendecit di pendengaran Ervin, entah kenapa ia bisa tidur di hotel murahan seperti ini. Ervin mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, ia melihat Maura yang baru saja selesai berpakaian. Cantik. Banget. Kecantikan Maura memikat sedikit perhatian Ervin, membuat pria itu menelan ludahnya beberapa kali, dan kini Ervin terlihat persis seperti keledai bodoh. Maura mengikat rambutnya asal, dengan mini dress yang terlihat sederhana—karena tidak ada aksesoris ataupun corak pada gaun tersebut. Semuanya terlihat indah saat Maura memperlihatkan kakinya yang mulus dan jenjang. Ia memberi devil smirk kepada Ervin, sejenis balas dendam. "Kenapa? Lo terpikat sama gue? Terpesona?" tembak Maura. "Pede banget lo! Cih, kulit hitam kayak buah kurma aja bangga lo!" cetus Ervin membela dirinya yang ketahuan sedang berdecak kagum kepada Maura. "Biarin, yang penting manis!" Maura berjalan keluar kamar mendahului Ervin. Ternyata benar, perempuan kalo rambutnya diikat kadar kecantikannya nambah. Benak Ervin sambil tersenyum sendiri lalu mengikuti langkah Maura menuju parkiran hotel. * Sepanjang perjalanan menuju danau di puncak, Ervin menyetel lagu band metal yang terkenal di Negera Eropa. Hanya alunan musik band Blink 182 yang memenuhi atmosfer diantara mereka. Setiap lirik dan suara bass yang terdengar, serasa ingin membuat keduanya ikut berteriak—bernyanyi bersama dengan sang vokalis. Ngomongin soal Blink 182, itu adalah band favorit Ervin, dan tidak disangka ternyata Maura juga menyukainya. Maura sedikit berbeda dari wanita yang sering dikencani Ervin—sebab sebagian besar Ervin memiliki kesamaan dengan Maura. Mereka bernyanyi bersama, mengangguk-anggukan kepala bersama, dan siapa yang menyangka kalau ternyata Maura pandai scream—bahkan berhasil membuat Ervin terkejut. "Lo juga suka Blink 182?" tanya Ervin sambil melirik Maura sekilas. "Yoi, suka banget." "Kok bisa?" "Kepo lo!" Ervin memilih bungkam, tidak mau banyak bertanya lagi ketika mendengar kalimat tersebut, kata 'kepo' itu menunjukan kalau lawan bicara sudah tidak mau berbicara lagi dengannya. Tidak terasa kini mereka sudah sampai di tempat tujuan, mobil ceper milik Ervin ia parkir sedemikian rupa. Maura mengambil posisi duduk lalu ia menghadap ke arah danau. Tidak pernah bosan berdecak kagum atas apa yang sudah sering dilihatnya, danau itu, danau yang terlihat bewarna hijau pekat dan ada sebuah perahu kecil di sudut kanan. "Ngomong-ngomong, danau secantik ini kenapa enggak ada pengunjungnya, Vin?" tanya Maura. "Karena danau ini punya gue, ini taman pribadi gue, dan cuma lo orang pertama yang gue ajak kemari." Maura terkejut bukan main atas pernyataan Ervin, namun setelahnya ia paham kalau danau ini milik Ervin—mengingat kekayaan yang dimiliki pria itu. "Gila! Keren banget lo, punya taman pribadi, ada danaunya lagi." Jeda beberapa detik untuk mengambil napas. "Ohiya, kenapa cuma gue yang lo ajak kemari? Emangnya ada yang spesial dari gue?" "Biasa aja. Gue bosen denger pujian kayak gitu." Ervin memejamkan matanya, dengan senyuman yang terukir saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Maura di bandara. "Karena pertama kali Alice nyuruh lo buat desain Hotel Piramidaya, dari situ gue percaya kalo lo itu cewek yang berbeda dan bisa diandalkan." Kini Maura mengalihkan pandangannya ke arah Ervin, dan langsung dibalas dengan genggaman tangan dari Ervin—meskipun masih dengan mata yang tertutup. "Dan lo orang pertama yang berhasil merenggut keperawanan bibir gue," cetus Maura dengan sedikit senyuman. Ervin membuka matanya lalu menghadap Maura dan mengelus wajah wanita itu, merapikan rambutnya yang selalu berantakan. "Karena gue enggak mau first kiss lo jatuh di bibir yang salah. Dan gue yakin kalo prinsip wanita kayak lo itu, 'my first kiss for my husband', and after that I will register to be your husband." Ervin mencium bibir Maura setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, lalu ia sedikit menggigit bibir bawah Maura hingga akhirnya wanita itu sadar dan membalas ciuman Ervin penuh gairah. Maura melepaskan ciumannya dan kembali menatap Ervin. "Kenapa lo seyakin itu kalo lo pantas menjadi suami gue?" Jari telunjuk Ervin menyentuh bibir Maura, membersihkan sisa ludah yang menempel, setelahnya ia mengisap jari telunjuknya dan kemudian tersenyum. "Jawabannya karena gue terlahir untuk lo." Mereka kembali berciuman namun kali ini lebih lama dari yang sebelumnya. Dan ciuman itu harus terhenti saat Ervin menyadari ada sebuah flash kamera yang sedang mempotret dirinya dengan Maura dari arah belakang, bahkan ada banyak kamera di sini. Ervin langsung menarik tangan Maura—membawa wanita itu ke dalam mobilnya. Setelah sudah sampai di dalam mobil Ervin langsung menancap gas mobilnya dengan kecepatan yang maksimum. Entah sejak kapan taman pribadi Ervin dipadati dengan kamera paparazzi. Ini sudah kelewatan, dan para Wartawan itu harus membayarnya. Ervin akan menuntut perusahaan-perusahaan media yang nantinya membuat berita hoax tentang kedekatannya dan Maura. "Vin kenapa?" tanya Maura yang masih tidak mengerti apa yang telah terjadi. "Maura mereka tadi Wartawan, dan mereka berhasil mengabadikan foto kita saat berciuman." "s**t ...!" Maura mengacak rambutnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD