BAB 18

1911 Words
Ervin Kiel, Pengusaha Muda Terjerat Cinta Dengan Maura Kenesia, Mantan Tunangan Dari Asraf Regan Ervin Kiel Penyebab Dari Hancurnya Hubungan Maura Kenesia Dan Asraf Regan Bermain Di Belakang Tanpa Sepengetahuan Asraf Regan, Maura Nekat Selingkuh Dengan Ceo Of Hotel Piramidaya Dikabarkan Setelah Putus Dari Asraf Regan, Maura Kenesia Berciuman Dengan Ervin Kiel Semalaman Tidur Bersama, Maura Kenesia Tidur Seranjang Dengan Ervin Kiel Ketangkap Basah Maura Dan Ervin Berciuman Di Sebuah Danau ••••• Kini berita tentang hubungan antara Maura dan Ervin menjadi perbincangan se-Indonesia, berawal dari acara gossip di televisi hingga kini mulai tersebar di sosial media, bahkan Negara tetangga juga mengetahui gossip ini, contohnya; Malaysia, dan Brunei Darussalam. Pagi ini Maura dipanggil oleh Alice untuk datang ke kantor. Maura yang tidak tahu masalah apapun terkejut saat Alice mencampakan sebuah majalah ke arahnya. Terpampang nyata, foto dirinya dan Ervin yang sedang berciuman menjadi cover majalah tersebut. Bahkan di setiap majalah foto mereka, lah, yang menjadi covernya. "Ervin Kiel dan Maura Kenesia penyebab dari hancurnya pesta pernikahan Asraf Regan. Menurut kabar, setelah putus dari Asraf, Maura nekat bercinta dengan Ervin hanya untuk meluapkan kekesalannya," ujar Maura yang sedang membaca paragraf pertama—berita tentang dirinya dan Ervin. "Maksudnya apa Mba? Ini berita hoax!" bantah Maura seraya mencampakan majalah tersebut di atas meja Alice. "Kamu itu gimana sih, Ra? Kelakuan kamu itu kelewat batas, tau nggak?! Nama perusahaan saya jadi jelek, dan asal kamu tau, dari semalam saya dikejar-kejar wartawan mulu cuma mau bertanya tentang hubungan kalian." Alice membuang kasar pernapasannya dan kembali menatap Maura. "Saya enggak mau tau, pokoknya berita ini harus kamu klarifikasi yang sebenarnya atau nggak kamu akan saya pecat!" Alice melangkah menuju ambang pintu—meninggalkan Maura dari ruangannya. Langkah Alice terhenti saat Maura memanggil namanya. "Mba, sebentar." Maura berjalan mendekati Alice lalu menggenggam tangan wanita tersebut. "Mba jangan main asal pecat dong. Saya, 'kan, nggak salah Mba, beritanya doang yang berlebihan." "Makanya buruan kamu selesaikan." Alice kembali mengatur pernapasannya sedemikian rupa. "Dan jangan kamu salahkan beritanya, tetapi salahkan diri kamu sendiri!" "Saya enggak ada hubungan apa-apa sama Ervin, Mba, serius!" balas Maura mantap dengan bola mata yang berbinar. "Terus foto kamu ciuman dengannya? Enggak ada apa-apa? Atau cuma khilaf?" Alice diam sesaat—menatap iba melihat Maura. "Ck. Saya kasihan lihat kamu, Ra ... tapi, saya enggak bisa berbuat banyak. Kesalahan ini kamu yang memancing Wartawan, maka dari itu kamu juga yang harus membuang umpan tersebut agar tidak terpancing." Alice terkekeh lalu meninggalkan Maura. Maura terdiam. Perkataan Alice tadi memang benar adanya. Ini juga kesalahan dirinya yang nekat berciuman di tempat umum. Tapi, sampai sekarang pun Maura masih tidak mengerti dengan semua berita hoax ini. Mendadak Maura merasa kepanasan—padahal suhu temperatur di ruangan Alice 16°. Ia terus berjalan mondar-mandir seraya mengaruk-garuk kepala. Maura yang biasanya memiliki banyak ide kini otaknya mendadak buntu. Kenapa beban hidup gue terus nambah sih, kenapa Tuhan itu selalu kasih gue cobaan kek gini? Kenapa posisi gue jadi terpuruk kek gini? Bukannya masalah habis tapi malah nambah satu lagi. Hufth ... Batin Maura. * "Josh, siapin data-data untuk menuntut semua perusahaan media yang sudah menyebar gossip tentang saya, setelah itu data-datanya kamu serahkan kepada Pengacara saya," ujar Ervin melalui speaker ponselnya setelah Joshepin menjawab panggilan teleponnya. "Baik Bos." "Good." Ervin sedikit berdeham guna mentralisirkan kerongkongannya. "Dan jangan lupa jemput Maura lalu bawa ke kamar saya, jika dia tidak mau, paksa saja." Tuut ... tuut ... Ervin baru saja bangun dari tidur paginya namun ia langsung disuguhkan dengan berita hoax mengenai hubungannya dengan Maura. Seumur-umur baru kali ini ia terlibat dalam berita bodoh seperti itu. Ervin bangkit dari duduknya dan menatap pemandangan luar dari jendela besar yang ada di kamarnya. "Anjiiing ...!" teriak Ervin—seraya mengacak-acak rambutnya. Berita ini tidak mungkin terjadi kalau tidak ada orang ketiga. Tetapi siapapun itu orangnya, mungkin dirinya hanya iri dengan apa yang sudah diperoleh Ervin sejauh ini. Belum lagi sebulan yang lalu ia baru saja meresmikan bangunan Hotel Piramidaya di London. Hal seperti ini selalu menjadi tameng bagi orang yang ingin menjatuhkan reputasi Ervin sebagai Pengusaha Muda terkaya nomor dua di Indonesia. Maka dari itu, sebisanya ia akan segera menuntut semua pihak media yang telah menerbitkan berita hoax tentang dirinya. Kini ia memutuskan untuk mandi, mendinginkan pikirannya dari masalah bodoh ini. Untung saja Ervin memiliki Pengacara yang paling terkenal dan paling berpengaruh di Indonesia, jadi masalah seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari Pengacara tersebut. Air dari shower mulai membasahi tubuhnya yang kekar. Ervin hanya melamun, tidak melakukan apapun setelah duapuluh menit tubuhnya terguyur air. Hingga akhirnya ia tersadar saat mendengar suara derikan pintu pada kamarnya. "Siapa?" teriak Ervin dari dalam kamar mandi. "Maura, tadi Jhos nyuruh gue nunggu lo di kamar." "Oke sebentar, gue lagi mandi." Ervin mempercepat menyikat tubuhnya dengan lumuran busa sabun, hingga aroma sabun dan samponya dapat Maura hirup dari dalam kamar. Maskulin banget, deh, aroma sabunnya, batin Maura. Ervin melilitkan handuk pada pinggang berototnya—hingga lekukan V pada kedua sisi pinggangnya terpampang dengan jelas. Kesan pertama melihat Ervin shirtless seperti ini; seksi. Superseksi. Setelahnya Ervin keluar dari kamar mandi dengan menyunggingkan seulas senyuman kepada Maura. Ervin? Seksi. Banget. Gue. Tergoda. Kenapa ciptaan Tuhan yang satu ini selalu bikin iman gue luntur. Pekik Maura dalam hati. Mata Maura terus terfokus pada satu arah saja—Ervin—hingga ia dapat melihat dengan jelas betapa seksinya badan Ervin. Bahkan kalau saja ia tidak bisa mengendalikan nafsunya, mungkin Ervin sudah ditelanjanginya. Untung saja Maura masih waras. "Bentar, gue pake baju dulu." Maura hanya mengangguk sambil menatap punggung Ervin yang sedang membungkuk—mencari sesuatu di dalam lemari. Tanpa rasa perduli sama sekali, Ervin melepaskan handuknya begitu saja, Maura yang melihatnya kontan langsung menutup matanya dan mengalihkan pandangannya menuju foto yang tergeletak di atas nakas. "Lo kenapa? Kok gugup gitu?" tanya Ervin tanpa merasa bersalah setelah membuat mata Maura tidak perawan lagi. Sebab, dengan jelas Maura sempat melihat b****g Ervin yang seksi seperti Scott Eastwood, namun disayangkan ia langsung berpaling. "Lo yang kenapa, tuyul! Lo gak lihat gue ada di sini? Main buka-buka aja, untung iman gue kuat!" pekik Maura kesal. Hanya senyuman yang dibalas Ervin, namun meskipun hanya sebuah senyuman—tetapi hal itu cukup menenangkan hati Maura. Senyuman yang selalu menjadi ciri khas pria itu adalah senyuman yang selalu berhasil membuat masalah Maura hilang seketika. Satu senyuman yang berhasil membuat segalanya ikut tersenyum saat melihatnya. Sangat berpengaruh. * Kini keduanya sedang berada di sebuah ruangan yang sangat senyap, bahkan seberisik apapun keadaan di luar—tidak akan dapat didengar dari dalam sini. Ervin mengajak Maura untuk membicarakan masalah ini di ruangan kerjanya. Awalnya Maura tidak percaya kalau kenyataan yang ia hadapi saat ini sungguh di luar jangkauan otaknya. Masalah ini sudah mencoreng nama baiknya, dan masalah ini juga berdampak buruk dengan kelangsungan karirnya—begitu juga yang Ervin rasakan saat ini. Ervin mencampakan sebuah majalah kepada Maura, dan lagi-lagi foto mereka menjadi cover majalah tersebut hanya saja gambarnya berbeda dari yang Maura lihat tadi pagi. Cover yang ini menunjukan sebuah foto—disaat Ervin dan Maura sedang tidur seranjang—entah darimana Wartawan tersebut bisa mengabadikan foto mereka saat tidur. Ervin semakin curiga kalau masalah ini pasti sudah direncanakan. Sebab, tidak mungkin saja para Wartawan itu berani untuk mengikuti kegiatan Ervin seharian bersama Maura. Pasti para Wartawan itu dibayar berkali-kalilipat dari gaji mereka selama sebulan. "Maura Kenesia mantan tunangan dari Asraf Regan nekat tidur bersama CEO of Hotel Piramidaya setelah mengetahui Asraf menikah dengan wanita lain." Maura mengacak rambutnya lalu merobek majalah tersebut setelah membaca judul besar dari majalah itu. "Lo, sih, pake tidur sama gue segala." "Eh, kalo enggak ada gue mungkin lo udah mati dicincang sama tuh cewek yang gaunnya jorok karena kena muntah lo!" timpal Ervin membela diri. "Tapi lo enggak mesti tidur seranjang sama gue, kan? Lo-nya aja yang genit, pengin nempel mulu sama gue." "Eh, krempeng, pede banget lo! Itu jalan satu-satunya, dan sejujurnya gue nyesal udah ngelihat d**a lo yang rata!" Kontan saat itu juga Maura langsung menutupi dadanya dengan bantal sofa. Setelahnya ia melempar pandangan penuh kebencian kepada Ervin. "Erviiin ... ta—" suara Maura terhenti saat mendengar ponsel Ervin berdering dan pria itu menjawab panggilan teleponnya. "Halo? Gimana Josh?" "Semuanya beres Bos, sedang dalam persidangan dan kemungkinan besar besok atau lusa akan ada berita tentang permohonan maaf dari semua perusahaan media yang anda tuntut," jelas Joshepin. "Good." Ervin tersenyum penuh kemenangan. "Ohiya, Josh ... kalau bisa mereka meminta maaf melalui semua media komunikasi, dan satu lagi tolong cari tau dalang dari semua ini, setelah kamu mengetahuinya segera tuntut dan miskinkan dia!" "Baik Bos, semua perintah akan saya laksanakan." Ervin mematikan sambungan teleponnya dan kembali melemparkan senyuman kepada Maura. Ervin berjalan mendekati Maura yang masih menatapnya sengit, setelahnya ia duduk tepat di sebelah wanita bergaun biru dongker itu. Menggenggam tangan wanita yang berada di hadapannya adalah pilihan yang tepat. "Semuanya akan baik-baik aja," ucap Ervin. Sedetik aja enggak usah senyum, bisa nggak? Senyuman lo itu bikin jantung gue berhenti berdebar Ervin. Batin Maura gemas. "Lo kenapa? Kok, mandangin gue begitu amat, sih?" tembak Ervin yang menyadari kalau Maura sedang menatapnya intens—bukan tatapan sengit itu lagi. Lantas, Maura langsung membenarkan posisi duduknya dan melepaskan genggaman tangan Ervin. Ia menunduk malu saat Ervin kembali menatapnya curiga. Saking tidak memiliki pilihan lain, Maura hanya bisa memilin ujung gaunnya untuk menutupi rona merah pada pipinya. "Gu-gue? Ma-mandangin lo? Enggak ada, tuh, perasaan lo aja kali." "Terus kenapa lo enggak berani natap mata gue?" "Ma-malas aja, muka lo sepet." Ervin mengangkat dagu Maura agar bisa menatap matanya, namun saat pandangan mereka saling bertemu satu sama lain, lantas Ervin langsung mencium buku-buku tangan Maura—hingga membuat wanita itu semakin salah tingkah. "Semua masalah akan terasa lebih mudah kalau ngejalaninya dengan orang yang lo sayang. Dan sekarang gue akan mempraktikkan kalimat mutiara itu kepada lo," ucap Ervin seraya mengelus rambut Maura. "Are you kidding me?""I'm seriously. Gue pengin ngubah gaya bicara kita dengan membiasakan pakai kata 'aku-kamu'." "Tapi untuk apa? Bukannya lo pernah bilang kalau kata-kata itu terlalu tua buat gue?" Ervin tersenyum, lalu mengelus lembut pipi tembam Maura. "Itu dulu, sebelum aku mengenal cinta. Tapi sekarang, kata 'aku-kamu' lebih pantas untuk kita." Maura mengernyitkan dahinya tidak paham. "Kita? Maksudnya?" "Iya ... kita, kita yang akan memulai segalanya. Ini buka—" ucapan Ervin terhenti saat jari telunjuk Maura menempel pada bibir pria itu. Setelahnya Maura tertawa. "Aku paham maksud kamu." Ervin hanya membalasnya dengan senyuman. "Vin." "Hmm?" "Senyum-senyuman siapa yang bisa bikin jantung seseorang berhenti mendadak dan setelahnya bekerja lebih cepat?" Ervin terlihat sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Maura. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya dengan seulas senyuman—yang mengartikan bahwa ia tahu jawaban dari pertanyaan itu. "Senyuman malaikat pencabut nyawa!" Lantas Maura langsung mengusap wajah Ervin seraya tertawa geli. Jawaban Ervin sama sekali salah. "Salah!" jeda tiga detik. "Senyuman yang mampu membuat detak jantung seseorang berhenti berdetak lalu bekerja lebih cepat dari biasanya adalah senyuman kamu." Kini bergantian Maura yang mengelus sekujur pipi Ervin. "Senyuman yang selalu berhasil membuat segalanya terasa lebih indah." Ervin mendekatkan telinganya pada d**a Maura, tepat pada d**a sebelah kiri, hingga membuat Maura semakin salah tingkah. Setelah Ervin mendengar irama detakkan jantung Maura, lantas ia kembali mendongakkan kepalanya. "Jantung kamu kok kayak musik dangdut? Dag ... dig ... dug ... duar!! Kamu kenapa, ada sakit jantung, ya?" tanya Ervin berpura-pura tidak mengerti. Sial! Maura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu tandanya aku sedang gugup." "Tapi aku enggak pernah gugup untuk nyium bibir kamu." Ervin yang sedari tadi menahan nafsunya kini tidak tertahankan lagi, ia langsung menggigit bibir bawah Maura, dan berakhir dengan saling bertukar ludah—sama seperti biasanya, ciuman panas sudah dimulai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD