BAB 9

2077 Words
Meja nomor 30 terdapat dua Ice Chocolate Cincau dan beberapa sajian makanan utama lainnya. Maura sudah menghabiskan dua porsi makanan yang sebelumnya sudah ia pesan, sedangkan Ervin masih terus memandangi Maura tanpa menyentuh sedikitpun makanannya. Hati Ervin merasa dipenuhi jutaan kelopak mawar yang segar, ia merasakan suatu ketenangan dan kebebasan karena kini Maura sudah tidak marah lagi padanya. Entah sejak kapan, ia merasakan ada sesuatu yang aneh setiap kali Maura memandangnya. Tepat di pupil mata wanita itu. Ervin selalu merasakan ada yang tidak beres dengan dirinya setelah memandang pupil mata itu. Suasana kafe sedang sangat ramai, tetapi hal tersebut tidak menjadi halangan bagi Ervin untuk terus memandang Maura. Wanita itu seperti magnet-yang terus menarik Ervin agar memandangnya tanpa henti. Dan seperti apa yang pernah Ervin baca dalam suatu artikel, kalau 'orang yang sesungguhnya mencintai kamu adalah orang yang membenci dirimu' dan Ervin merasakan hal itu sekarang. Mengingat betapa bencinya ia kepada Maura-saat pertama kali mereka bertemu di bandara, terutama ketika Maura terus mengganggu waktu penerbangannya. Dan yang kedua, saat Maura menumpahkan kopi panas miliknya tepat pada jas dan kemeja yang Ervin kenakan untuk menghadiri rapat saat itu, dan masih banyak lagi kecerobohan yang Maura perbuat-mulai saat itu Ervin yakin kalau dirinya semakin membenci Maura, meskipun tidak secara terang-terangan. "Makannya pelan-pelan, Ra ...." Ervin membersihkan sudut bibir Maura yang sedikit kotor akibat saus yang berlebihan. Sesaat Maura terdiam dan menatap Ervin beberapa menit, keadaan semakin tegang ketika Ervin kini mengelus puncak kepala Maura. Untuk mencegah wajah merah meronanya yang akan timbul setelah ini, Maura mencoba untuk menyesap Ice Chocolate Cincau miliknya hingga bersisa setengah gelas. "Gue laper banget, Vin. Nambah lagi boleh?" ungkapnya setelah selesai minum. "Boleh kok, boleh, pesan aja." "Serius?! Lo enggak bercanda, 'kan?" wajah Maura drastis berubah sumringah meskipun perutnya sudah terasa kenyang. "Mas," panggil Maura kepada Pelayan yang kebetulan lewat dari hadapan meja mereka. "Ada apa, Mba? Ada yang bisa saya bantu?" balas sang Pelayan sopan. Maura mulai membaca sederetan daftar makanan yang tertera di dalamnya, sedangkan Ervin masih tetap memandangi Maura. "Emm ... saya pesan Chicken Steak Blackpaper satu, terus Big Burger satu, sama satu lagi ...," jeda beberapa detik dan ia membuka halaman selanjutnya. "Nah! Sama Kentang Goreng satu." Maura berpaling dari buku menu dan menatap Ervin-yang ditatap sontak terkejut. "Lo mau pesan apa, Vin?" Ervin hanya menggeleng tanpa memperindah pertanyaan Maura. "Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar ya ... pesanan akan datang dalam waktu limabelas menit. Terimakasih ...," pamit Pelayan itu. Pelayan itu meninggalkan meja mereka dan membawa beberapa piring kotor milik Maura sedangkan Ervin sedari tadi belum menyentuh makanannya sama sekali. Masih utuh, tanpa ada sedikitpun posisi makanannya yang berpindah. Berbeda dengan Maura yang sudah menghabiskan dua porsi makanan dan kini menambah tiga porsi makanan lagi. Niatnya untuk diet sepertinya akan gagal. Sejujurnya Maura sudah kenyang, tetapi guna menghindar dari pergerakan Ervin selanjutnya-yang akan membuatnya semakin salah tingkah-Maura mencoba dengan cara lain, yakni; nambah porsi makanannya. "Makannya banyak banget, enggak takut gendut?" tanya Ervin seraya tertawa geli. "Ihh ... Ervin, kok lo bawa-bawa gendut sih?! Lo tau nggak? Cewek itu paling sensitif kalo dikatain gendut." Maura kembali menyesap minumannya. "Yaudah, kalo gitu gue gak jadi pesan. Entar makin gendut." Ervin menghela napas pasrah seraya memutar bola matanya jengah. Kalau sudah seperti ini kejadiaannya, Ervin yakin bahwa Maura akan bertingkah berlebihan. Karena hal tersebut sudah menjadi hukum alam, di mana seorang wanita akan terus kepikiran saat teman atau kerabatnya mengatakan kalau dirinya gemukan. Dan itu fakta. "Udah, lo kagak gendutan Maura." "Lo gak liat pipi gue, Vin? Udah kayak bakpauw bantet, tau nggak?" Maura menoel-noel pipinya sendiri untuk diperlihatkan kepada Ervin. "Bener, 'kan? Gue gendutan?" Untuk yang kedua kalinya Ervin menghela napas berat. "Sekalipun lo gendut, lo itu tetap kelihatan canik." Ekspresi Maura langsung berubah murka. Secara tidak langsung Ervin sudah membenarkan perkataannya kalau Maura benaran gendut. "Tuh kan! Lo ngatain gue gendut udah dua kali, lho? Gue malas ah, nggak mau makan pesanan itu deh, entar lo malah ngatain gue gendut untuk yang ketiga kalinya." Maura membuang wajahnya ke arah lain dengan bibir yang tertekuk. Dengan geram, Ervin langsung mencubit kedua pipi tembem Maura dengan gemas, setelah itu ia mengacak rambut Maura-membuat sang empunya semakin marah, namun Ervin menanggapinya dengan senyuman. "Mau gimana pun bentuk badan lo, wajah lo, apapun keadaan lo ... bagi gue, lo itu tetap istimewa. Gue bisa mengatakan hal tersebut karena menurut gue lo itu berbeda dengan wanita pada umumnya. Lo itu istimewa." Setelah Ervin menyelesaikan kalimat terakhirnya, Maura langsung berpaling. Semburat merah tidak mungkin bisa disembunyikan lagi. Bahkan Ervin bisa melihat rona merah itu dengan jelas. Entah mengapa Maura merasakan kalau Ervin mengatakan kalimat tersebut dengan sungguh-sungguh, tanpa ada unsur keterpaksaan agar Maura berpaling padanya. Namun ada yang mengganjal hati dan pikirannya, perkataan tersebut persis seperti yang dikatakan Asraf beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat perpisahan anak kelas duabelas. Setelah acara perpisahan anak kelas duabelas telah usai, Maura tiba-tiba ditarik oleh seseorang dari arah belakang dan menggiringnya menuju taman belakang-yang dulu sering Maura kunjungi. Di taman belakang adalah tempat yang paling Maura suka. Ada satu bangku yang didesain khusus untuk dua orang dan satu pohon mangga yang berukuran sangat besar. Maura biasanya menghabiskan waktunya untuk membaca atau sekadar melamun di sana. Dan yang paling penting kalau taman belakang sama sekali tidak pernah dijamah oleh orang lain kecuali Maura dan Vani. "Lo ngapain bawa gue kemari, Raf?" "Ssst ... udah, diam dulu deh." Maura dipersilahkan Asraf untuk duduk. Setelah keduanya duduk, kini Asraf menggenggam tangan Maura erat. "Mau bagaimana pun bentuk badan lo nanti, wajah lo sekalipun, dan apapun keadaan lo ... bagi gue, lo itu tetap istimewa. Gue bisa mengatakan hal ini karena gue cinta sama lo, bukan sama Vani." "Tapi, Raf ... lo udah janji sama gue, kan? Kalo lo enggak boleh nyakiti Vani ...." Asraf mengusap wajahnya secara kasar. "Gue ngelakukan itu demi lo, Ra. Demi orang yang gue cinta." Asraf menghela napas panjang. "Gue sama Vani setelah ini bakalan pindah ke Amerika buat kuliah di sana. Gue bakal rindu sama lo, dan gue janji bakal ngejagain Vani demi lo." Setelahnya Asraf pergi meninggalkan Maura yang sudah meneteskan airmata. "Berkorban demi orang yang kita sayang, itu rasanya seperti luka dibasuh dengan air hangat. Pedih, tapi bisa menyembuhkan." "Udahlah, Vin. Kok lo malah jadi mellow gini. Kayak bocah labil," ungkap Maura lalu tertawa getir. Belum sempat Ervin membalas ucapan Maura namun tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri meja mereka. Anak perempuan yang kemungkinan berumur sekitar enam tahunan. Anak kecil yang sangat cantik, wajahnya masih polos dan lugu. Anak kecil itu memakai kaos bewarna biru muda dan rok mini bewarna merah muda. Anak itu menarik tangan Ervin, hingga membuat mereka berdua terkejut, terutama Ervin. "Ayah ...," pekik anak kecil itu seraya menarik-narik lengan Ervin. Kontan Ervin jadi semakin canggung dan gelagapan. "Hai ... ka-kamu, sama siapa?" tanya Ervin. Wajahnya panik, entah mengapa kehadiran anak kecil ini mampu membuat Ervin ketakutan. Jantungnya berdegup sangat cepat, takut sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. "Ayah, itu Mama. Ayo Yah, kita pulang, Ica kangen main sama Ayah," ungkap anak kecil itu yang ternyata bernama Ica. Matanya berbinar, menyorotkan betapa bahagianya anak kecil itu melihat kehadiran Ervin. "Ayah? Itu anak lo Vin?" kini Maura yang bertanya dengan raut wajah bingung. Maura curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ervin. Lantas, bagaimana Maura tidak curiga? Raut wajah Ervin yang sebelumnya berseri-seri kini berubah total menjadi raut wajah yang ketakutan akan sesuatu. Entah apa yang membuatnya takut kepada anak kecil tersebut. "Ooh ... em, eng-enggak kok. Dia keponakan gue, anak Kakak gue. Dia memang manggil gue Ayah," balas Ervin sangat gugup. Gerak-gerik Ervin semakin membuat Maura curiga, terutama gelagat Ervin yang tidak seperti ini biasanya. "Beneran Vin? Tapi anak itu wajahnya mirip dengan lo deh," tembak Maura tepat sasaran. Meskipun hanya mata dan hidung anak itu saja yang mirip dengan milik Ervin, tetapi setidaknya Maura kembali melontarkan pertanyaan yang akan membuat Ervin berkata jujur. "Ayah ... ayo buruan, ayo kita pulang. Kasihan Mama, tiap malam nangis karena rindu sama Ayah. Ayo Yah, ayo ...," rengek Ica. "Eeemm ... kamu ke tempat Mama kamu dulu deh, nanti saya susul," ucap Ervin sedikit berbisik kepada anak itu. Setelah Ica pergi menjumpai Mamanya yang sedang memesan makanan, justru Ervin langsung menarik tangan Maura, dan juga tidak lupa meletakkan beberapa lembar uang seratus ribu di atas meja. Dengan sekuat tenaga, Maura mencoba untuk membrontak perbuatan Ervin, tetapi lagi-lagi Maura lupa kalau tenaga Ervin lebih kuat daripada dirinya. Dengan wajah yang masam, Maura hanya mengikuti kemauan Ervin untuk masuk ke dalam mobil. Ervin menginjak pedal gasnya hingga hanya bersisa beberapa senti. Kelajuan mobil yang Ervin kendarai sudah melebihi batas kecepatan jalan raya. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan Maura yang kini sedang menatapnya sinis. Berbeda dengan suasana di kafe. Gadis kecil itu menghampiri Mamanya yang sudah selesai memesan makanan. "Ma, tadi Ica ketemu sama Ayah," ucapnya penuh binar. "Ayah? Dimana sayang? Dimana kamu ketemu sama Ayah? Kenapa enggak panggil Mama?" timpal Dinar-Mama Ica-seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ervin. "Tadi Ayah duduk di situ sama Tante cantik. Tapi tadi Ayah megang tangan Tante itu, Ma." * Ervin dan Maura telah sampai di tempat tujuan yang berada di atas puncak. Tempat di mana dulu, Ervin bercerita sedikit tentang kehidupannya. Mereka duduk di kursi yang terletak pada pinggir danau. Sekitaran danau ditumbuhi dengan ratusan bunga, dari berbagai jenis bunga. Membangun kesan yang sendu. Maura masih menatap sinis ke arah Ervin, ia masih tidak percaya dengan pengakuan Ervin tentang anak kecil tadi. Maura butuh penjelasan yang tepat dan masuk akal. Meskipun Maura sadar kalau dirinya tidak perlu seover ini bertanya mengenai anak tersebut, karena Maura sama sekali tidak memiliki hak untuk mengetahui keseluruhan perjalanan hidup Ervin. Pada saat Ervin hendak menyenderkan kepalanya di pundak Maura namun langsung ditepis oleh wanita itu. Maura memberi jarak dengan Ervin. "Lo kenapa?" tanya Ervin sambil memegangi pelipisnya. "Anak kecil tadi siapa?" Maura kembali melontarkan pertanyaan yang sama tetapi dengan nada yang sedikit berbeda, penuh penekanan disetiap kata. "Keponakan gue Maura. Dia ditinggal Ayahnya sejak lahir, jadi apasalahnya kalo gue nyuruh dia manggil gue, Ayah." "Gak percaya! Yang jujur, terlalu basi alasan lo." "Dia anak Kakak gue, mereka tinggal di Medan dan mungkin barusan datang ke Jakarta," jelas Ervin sedikit lebih tenang. "Terus kenapa lo nyeret gue keluar dan enggak nyuruh gue kenalan dengan Kakak lo? Kenapa?" timpal Maura mengintimidasi. "Gue belum berani ngenalin lo ke keluarga gue." Kini Ervin menggenggam tangan Maura, meyakinkan wanita yang kini berada di hadapannya. "Lo dan gue cuma sebatas rekan kerja, kenapa lo enggak berani! Ketahuan banget lo bohongnya." Maura melepaskan genggaman Ervin dan bangkit dari kursi. Ia berjalan sedikit lebih dekat dengan danau, hingga Maura dapat melihat pantulannya di genangan air danau yang tenang. Ervin menghampiri Maura dan memeluk Maura dari belakang. Tangan kekarnya merangkul pinggang Maura yang kecil, hingga membuat Maura susah bernapas. Ervin juga menompangkan dagunya di pundak Maura, hembusan napas Ervin langsung menyeruak ke tengkuk Maura-membuat wanita itu sedikit bergidik geli. "Gue enggak bohong sama lo. Gue enggak pernah percaya sama semua wanita tapi setelah ketemu sama lo, gue ngerasa ada yang berbeda. Gue selalu beranggapan kalau wanita itu cuma butuh harta kekayaan gue, tapi lo itu beda, gue tau ketulusan lo. Plisss ... percaya sama gue." Jeda tiga detik, "bukannya suatu perbedaan yang akan menyatukan dua insan?" Ervin memang paling pandai merayu, terutama membuat jantung Maura berdegup sangat cepat, tetapi sepertinya rayuan itu tidak berhasil untuk kali ini. "Gue enggak percaya sama lo. Gue tau kalo lo itu cuma pria b******k yang bebas one night stand dengan wanita random. Dan gue juga tau kenapa lo bilang gue berbeda dengan wanita pada umumnya? Karena gue wanita aneh? Benerkan?" Maura tertawa getir. "Lo enggak perlu bohongi diri lo sendiri, karena kita belum terkait hubungan apapun selain rekan kerja. Jadi, pertanyaannya, Ica itu anak lo, 'kan?" timpal Maura seraya melepaskan pelukan Ervin-tetapi apadaya, tenaga Ervin lebih kuat darinya. Kini Ervin memutarkan badan Maura hingga berhadapan dengannya. Tubuh mereka sama sekali tidak memiliki berjarak, pelukan Ervin semakin erat. Kontan, Maura kembali tercengang saat pria di hadapannya kembali mendaratkan bibirnya, tetapi bukan di dahi melainkan di bibir. Ervin menempelkan bibirnya pada bibir Maura, tidak ada perlawanan dari Maura tetapi lidah Ervin mencoba untuk terus menerobos deretan gigi Maura. Hingga akhirnya lidah Ervin berhasil bertemu dengan lidah Maura. Sekitar satu menitan Ervin menikmati bibir Maura tanpa ada perlawanan, setelahnya Ervin melepaskan ciumannya dan mendekap tubuh Maura ke dalam pelukannya. "Percaya sama gue, kalo Ica bukan anak gue dan lo tetap yang paling spesial di kehidupan gue." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD