Meskipun Maura tidak menyukai hujan tetapi malam ini ia menyukai apapun. Kejadian di pinggir danau masih terekam jelas di memorinya, terlebih lagi saat lidah Ervin bergelut di dalam mulutnya—mencoba untuk merebut suatu kenikmatan. Finally Maura bisa merasakan bibir seksi itu, bibir yang sejak lama ingin dikecupnya. Malam ini sedang turun hujan, dan kemungkinan besar hujan akan turun selama seminggu ke depan. Maura tidak mempermasalahkan soal hujan, semuanya akan terasa indah bagi seseorang yang sedang jatuh cinta. Maura telah jatuh cinta dengan Ervin.
Drrrt ... drrt ... drrtt ...
Maura yang sedang menyesap coklat panas merasakan ada suatu getaran di meja kerjanya. Dengan sigap ia mengambil ponselnya yang berlambang apel—yang sudah digigit setengah. Ada notif LINE dari Ervin. Maura menggigit bibir bawahnya, mendekap ponselnya beberapa saat lalu berteriak.
"Aaw ... Ervin kuuuh ...."
Ervin Kiel:
Malam cantik.
Maygattt ... dia bilang gue cantik. Oh shiit, demi apa? Ervin bilang gue cantik? Batin Maura setelah ia membaca pesan singkat itu.
"Ervin bilang gue cantik ...! Awww, Ervin bilang gue cantik!!" teriak Maura tidak jelas seraya lompat-lompat di atas kursi kerjanya. Hingga akhirnya ia sadar atas tingkah konyolnya. Maura kembali duduk lalu tertawa pelan.
Dengan jari yang gemetaran, Maura mencoba membalas pesan dari Ervin.
Maura Kenesia:
Malam Nin.
*Bin
Anjjirrr... typo lagi.
Malam Vin.
Saking bahagianya, Maura sampai tidak bisa mengontrol jari-jarinya untuk membalas pesan dari Ervin. Ini kali pertama Ervin mengatakan ia cantik, dan ini kali pertama Ervin bersikap manis dengannya.
Ervin Kiel:
Pasti lo gemetaran balas pesan gue.
Derita orang cakep mah memang gitu.
Maura Kenesia:
Pede banget lo!
Siapa yang gemetaran.
Ervin Kiel:
Yaudah kalo gitu jempol lo kebesaran.
Wkwkwk :D
Maura Kenesia:
Erviiin... jempol gue sekseh tauuk. Emang kayak jempol lo, persis mirip pisang goreng!
Ervin Kiel:
Hahaha, garing:v
Ra, ada yang mau gue bicarain. Penting.
Maura Kenesia:
Apaan Vin? Jangan buat gue penasaran dong. Masalah Ica?
Ervin Kiel:
Bukan itu. Tapi...
Ervin sengaja menggantungkan pesannya agar membuat Maura semakin penasaran. Maura yang setia menunggu kelanjutan pesan dari Ervin—namun tak kunjung dapat balasan. Maura bergidik emosi dan mengacak rambutnya frustasi. Ervin kembali dengan sifatnya semula. Sifat yang super egois dan ingin selalu dimengerti.
Maura Kenesia:
Apaan sih Vin? Lo bikin gue penasaran. Udah satu jam gue nungguin balasan lo. Cepetan jangan buat gue mati penasaran.
Erviiinn!!! Ervin taiik!!
Entah sudah berapa kali Maura mengirim pesan ke Ervin tetapi sampai sekarang belum ada respon sama sekali. Maura membanting ponselnya dan kembali mengacak rambutnya. Ia sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan perkejaannya, Maura mematikan komputer lalu berjalan gontai menuju dapur.
Perutnya terasa lapar setelah sampai di dapur. Maura meletakan mug Teedynya ke dalam wastafel dan beralih pada lemari es. Maura mencari bahan untuk makan malamnya, ternyata ia hanya menemukan sosis, telur dan mie instan. Yaudah, apalagi yang bisa dimasaknya kecuali mie instan pakai sosis dan telur. Tipe anak kost, bukan?
Sekitar setengah jam ia beroperasi di dapur dan kini ia sedang menikmati semangkuk mie di ruang tamu. Dingin-dingin seperti ini memang enak kalau makan yang anget-anget. Nasib anak yang tinggal sendirian, tidak ada yang merhatiin jadwal makannya, tidak ada yang bisa dijadikan teman curhat sampai tertidur.
*
Maura yang sedang berdandan di meja rias menyadari kalau ponselnya bergetar. Ia meraih ponselnya lalu mengangkat panggilan telepon tersebut tanpa melihat caller ID terlebih dahulu.
"Halo, saya Maura? Ada yang bisa saya bantu?" sapa Maura ramah setelah ia mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo cantik. Gue udah di depan pintu apartemen lo, dan sekarang bukakan pintu buat gue," balas sang penelepon dari ujung speaker. Kontan Maura terdiam, ia seperti mengenali suara orang ini, sedetik kemudian ia langsung melihat caller ID untuk memastikan kalau dugaannya benar.
Lajang Tua? Ervin?! Astaga ... dia mau ngapain sih? Benak Maura.
Make upnya baru selesai 45 persen, dan ia harus segera membukakan pintu untuk Ervin sebelum pria itu marah, Maura merutuki kecerobohannya dalam memakai make up. Ia membanting ponselnya ke atas kasur lalu berjalan menuju pintu utama.
Wajah Maura benar-benar berantakan, make up yang tidak teratur, belum lagi raut wajah cemberutnya—semakin terlihat seperti badut t***l yang tidak pandai memakai make up.
Maura membuka kenop pintu dengan memasang wajah kesal, namun Ervin malah menanggapinya dengan tertawa geli. "Hahaha ... sumpah gue nggak tahan lihat muka lo. Make up trend masa kini ya? Hahaha ...," ujar Ervin disela-sela tertawanya. "Lo kayak badut ancol kejebur got, tau nggak?" saking lucunya, sudut mata Ervin sampai mengeluarkan sedikit airmata.
"Apaansih. Emang make up gue ada yang salah, ya? Kampungan banget lo Vin, kagak tau trend." Kini Maura ikutan tertawa seraya merendahkan Ervin dengan nada angkuh seperti biasanya.
Lantas Ervin langsung berhenti tertawa lalu merogoh ponselnya dan membuka aplikasi kamera, setelahnya Ervin menyodorkan ponsel tersebut tepat di hadapan wajah Maura. Kontan wanita itu langsung menjerit hingga membuat tetangganya menoleh dari balik pintu mereka masing-masing.
"Aaarrgghh ... Erviiin ...!!" teriak Maura setelah ia melihat wajahnya dengan make up yang belum sempurna. Lipstick yang cuma menghiasi bibir atasnya saja, eyeshadow yang hanya ada di kelopak mata sebelah kiri dan alis mata yang masih separuh dilukis.
"Ooh ... ini toh namanya trend masa kini. Tapi ... lo cantikan begitu deh," goda Ervin seraya menahan tawa.
"Erviiin ... ngeselin deh. Gue nggak mau berangkat kerja sama lo!" Maura membanting pintunya lalu berjalan menuju meja rias.
"Siapa yang ngajakin lo berangkat bareng, gue cuma mau nanya, ciuman gue semalam nikmat, 'kan?" teriak Ervin dan berhasil membuat tetangga Maura kembali menoleh dari balik pintu mereka masing-masing. Ervin yang menyadari kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian langsung berlari menjauhi koridor lantai duapuluh tiga sebelum dilempar dengan batu bara oleh tetangga Maura.
*
Maura dan Ervin baru saja hendak pergi makan siang tetapi pada saat di lobi Maura kembali bertemu dengan seseorang dari masa lalunya, bukan Asraf, tetapi Papanya. Kini pria paruh baya itu tengah mengunjungi Hotel Piramidaya bersama sang istri dan seorang anak lelaki. Tyo datang bersama keluarga barunya, ia sudah memiliki anak lelaki dari perkawinannya dengan wanita jalang itu. Tanpa sengaja Maura menabrak Tyo yang tengah sibuk mengecek ponsel.
"Aaw ... kalo jal—" ucapan Maura terhenti saat ia mengetahui kehadiran Tyo di hadapannya. Seluruh badannya mendadak mati rasa, bibirnya kaku, matanya terpaku melihat sosok itu. Sosok yang sudah beberapa tahun ini menghilang dari kehidupannya.
Penampilan Tyo kini sudah berubah, tidak seperti dulu—waktu ia mengusir Maura dari rumah. Beberapa rambut Tyo sudah memutih, kerutan di wajahnya juga semakin tampak dengan jelas. Maura baru menyadari bahwa Papanya kini sudah beranjak tua. Tidak seperti Tyo yang ia kenal dulu, Tyo yang menemaninya bermain boneka, Tyo yang merelakan waktu tidurnya hanya untuk membacakan sebuah cerita dongeng agar Maura bisa tertidur, melainkan kini Tyo yang ada di hadapannya bukan sosok Papa yang selalu Maura banggakan kepada semua teman-temannya.
Tyo yang Maura ketahui saat ini adalah Tyo—sang Papa yang tega mengusir anak semata wayangnya demi wanita jalang, dan yang lebih parahnya lagi, Tyo yang Maura ketahui saat ini adalah seorang suami yang tega melakukan making love di depan istrinya sendiri. Seperti pembunuh berdarah dingin.
"Maura? Anakku, kamu apa kabar sayang," balas Tyo yang mencoba memeluk Maura. Kontan Maura langsung menolak dekapan Tyo, hingga pria paruh baya itu sedikit terhuyung ke belakang namun untung saja berhasil ditahan oleh sang istri.
"Aah ... sayang," teriak Poppy—Istri baru Tyo. "Anak durhaka! Papa kamu datang ke Jakarta cuma ingin bertemu denganmu, dia sedang sakit parah dan dia selalu mengigau menyebut namamu. Tidak adakah sedikit ruang maaf dihatimu untuk dirinya?"
Detik itu juga Maura tidak bisa menahan bendungan airmatanya. Buliran bening berhasil meluncur dari kelopak matanya, dan membasahi pipinya dalam sekejap. Maura menangis bukan karena terharu dengan ucapan Poppy tetapi detik itu juga memori tentang kematian Mamanya terputar ulang dibenaknya. Dan tanpa Maura sadari, kini mereka menjadi pusat perhatian di lobi, tidak hanya itu saja, karena Ervin yang berada di situ juga semakin bingung dengan keadaan saat ini, ia tidak tahu kalau Maura memiliki masalah dengan Papanya.
"Dia bukan Papa saya. Papa saya udah mati! Dan dia adalah pembunuh dari kematian Mama saya! Saya benci sama orang ini! Saya benci! Usir mereka Vin," pekik Maura sambil menangis. Suara isakannya membuat Ervin terhanyut dalam permasalahan yang sedang Maura hadapi. Namun, Ervin masih belum melakukan perintah yang Maura pinta, ia masih mencerna semua perkataan Maura barusan. Yang Ervin lakukan saat ini hanya diam dan menyaksikan pertengkaran tersebut.
Tyo merapikan posisi kemejanya yang sedikit berantakan lalu ia menghampiri Maura dan menggenggam tangan wanita itu, "sayang, Maafin Papa. Bukan maksud Papa untuk membuat Mama meninggal tetapi itu udah takdir Tuhan, sayang. Maafin Papa, Papa ingin disaat-saat terakhir sisa hidup Papa ada kamu di sisi Papa."
Maura langsung melepaskan genggaman Tyo. "Coba aja waktu itu anda tidak berbuat m***m dengan wanita jalang ini, apakah Mama akan meninggal? Apakah anda tau perjuangan saya untuk bertahan hidup? Sejak umur 17 tahun saya mulai mencari nafkah sendiri, dan betapa hancurnya hati saya ketika anda lebih memilih wanita jalang ini daripada saya, ANAK ANDA SENDIRI?!" tutur Maura penuh penekanan pada kalimat yang terakhir.
Tarr ...
Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Maura. "Papa tidak pernah mengajarkan kamu untuk berkata kasar seperti itu!"
Detik itu juga Maura mengingat kalimat yang pernah dikatakan Tyo saat ia mengetahui Mamanya meninggal. Dengan kasar Maura mengusap airmatanya, lalu ia tersenyum sinis. "Dan sekarang saya sudah mengerti betapa kerasnya hidup! Ini tamparan terakhir anda dan mungkin saat ini juga pertemuan terakhir kita. Anda bukan Papa saya! Anda hanya seonggok daging yang sudah membusuk!"
Ervin langsung menarik tangan Maura untuk keluar dari lobi. Ia tidak ingin reputasi Maura hancur hanya karena masalah masa lalunya. Sesampainya di depan pintu utama hotel, ternyata mobil Ervin sudah terparkir dengan sempurna, dengan cekatan Ervin langsung membantu Maura untuk masuk ke dalam mobil.
Setelahnya di dalam mobil, tangisan Maura semakin pecah—membuat Ervin khawatir dengan keadaan Maura saat ini. Serpihan memori itu masih terputar di benaknya, Maura tidak sanggup jika harus mengingat kejadian dulu.
Ervin mengendalikan setir kemudi dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat telapak tangan Maura. "Semuanya akan baik-baik aja, Ra ... calm down."
Ervin melajukan mobilnya menuju puncak, tempat paling nyaman untuk mencurahkan isi hati. Tempat paling tenang dari segala emosi. Tumbuhan-tumbuhan di sana mampu membuat kadar emosi menurun. Itulah yang Ervin harapkan setelah sampai di puncak, semoga keadaan Maura membaik.
*
Maura masih menetralisirkan pernapasannya. Ervin memberi sedikit waktu agar Maura lebih tenang sebelum ia menceritakan semuanya. Sekitar sepuluh menit suasana pinggir danau hening, dan hanya terdengar suara sesenggukan dari Maura.
Setelah melihat Maura sedikit tenang, Ervin langsung mengusap lembut pipi Maura. "Pria tadi siapa? Lo kenapa enggak cerita sama gue?"
Maura mendongakan kepalanya, lalu menutup matanya sejenak sebelum ia menatap pupil mata Ervin. "Dia penyebab Mama meninggal. Dia pria terjahat yang pernah singgah di kehidupan gue." Maura menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Dulu, sebelum dia kenal sama wanita jalang itu, dia sosok Papa yang selalu gue banggakan sama teman sekelas. Tetapi apa? Dia sudah menghancurkan semua kepercayaan gue demi wanita jalang itu!"
Ervin mengecup dahi Maura penuh kelembutan. "Mau bagaimanapun dia tetap Ayah lo. Dia tetap orangtua lo. Mungkin kejadian itu biarlah jadi pelajaran buat lo, tapi apa salahnya kita memaafkan orang yang sudah mengakui kesalahannya?" nasihat Ervin lalu mendekap tubuh Maura. "Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan masalah baru, Ra. Lo harus mengubahnya meskipun lo yang duluan meminta maaf." Jeda tiga detik, "mengalah bukan berarti kalah, bukan?"
"Lo nggak tau apa-apa Vin. Jika lo diposisi gue mungkin lo akan ngelakukan hal yang sama dengan gue. Hidup sebatang kara diumur 17 tahun, tidur di pinggir jalan, cari uang demi kebutuhan sekolah, dan masa muda gue terenggut hanya karena waktu itu gue terlalu fokus bekerja demi mendapatkan uang untuk kelangsungan hidup gue Vin, dan gue juga enggak mau kelak pernikahan gue akan bernasib sama dengan Mama." Maura menghapus airmatanya yang kembali meluncur dengan bebas. "Gue udah lama pengin bunuh diri, tapi percuma, bunuh diri hanya menambah masalah." Maura menyenderkan kepalanya pada bahu Ervin.
"Semenderita itukah?"
Maura mengangguk lalu menarik napas dalam-dalam. "Sangat menderita." Jeda tiga detik, "gue perempuan Vin, gue tau gimana rasanya lihat suami sendiri ML dengan wanita lain di hadapan istrinya sendiri. Itu yang dirasain nyokap gue, dia ngelihat bokap gue ML sama wanita jalang itu."
Ervin merasa terpukul mendengar cerita singkat mengenai kehidupan keluarga Maura. Jadi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut mengenai masalah ini, karena sesungguhnya yang Maura butuhkan saat ini hanyalah kasih sayang. Maura butuh perhatian dan Ervin akan melakukan itu demi melihat Maura bahagia.
Ervin menarik tubuh Maura ke dalam pelukannya, lalu ia kecup berkali-kali puncak kepala wanita itu. Maafin keegoisan gue, Ra. Batin Ervin.
***