BAB 11

2195 Words
Maura keluar dari kamar mandi dengan kepala yang dibalut dengan handuk putih—melupakan kejadian kemarin berhasil membuat Maura berendam di bathup selama dua jam, seraya menangis tersedu-sedu. Ia berjalan menghampiri kasur saat mengetahui ponselnya sedang bergetar—menandakan ada pemberitahuan masuk. Ia meraih ponselnya dan melihat pemberitahuan itu. Ternyata ada pesan dari Asraf melalui LINE. Asraf Regan: besok ada acara nggak? Maura memejamkan matanya sejenak, mengingat jadwal kosong yang ia miliki. Setelah terpikirkan satu jadwal kosong, Maura kembali membuka matanya dan membalas pesan dari Asraf. Maura Kenesia: gue besok siang kosong kenapa? Asraf Regan: besok meet up di CTS yaakk... abis mkan siang. Meet up dengan Asraf mungkin bisa buat gue lupa sama si b*****t. Batin Maura. * Tepat pukul satu siang, Maura turun dari mobil yang dikendarinya menuju Cilandak Town Square. Setelah selesai memakirkan mobilnya di basement, Maura segera merapikan make upnya dan juga gaun merah muda yang ia kenakan saat ini. Sebelum benar-benar beranjak keluar dari dalam mobil, Maura merogoh tas selempangnya dan mengambil sebuah lipstick bewarna dark pink. Ia mempertebal lipsticknya yang sudah luntur. Setelah merasa puas dengan penampilannya, Maura membuka knop pintu mobil dan berjalan menuju lift yang ada di sudut basement. Sesampainya di lantai satu, tiba-tiba Maura digeret oleh dua orang Bodyguard untuk digiring menuju panggung yang ada di tengah-tengah mall. Panggung itu dihiasi dengan berbagai macam balon bewarna merah muda serta taburan kelopak mawar merah yang dibentuk menyerupai 'love'—terletak di atas panggung. Maura datang ke Cilandak Town Square tanpa sepengetahuan Ervin, karena jika sampai si Bossy itu tahu, maka semuanya akan menjadi masalah. Sebelum berangkat kemari, Maura sudah meminta izin dengan alasan ingin ke kantor Alice untuk mengambil beberapa sketsa yang ketinggalan. Setidaknya hari ini Maura memiliki jam makan siang dengan durasi tambahan. Di atas panggung ada seseorang yang berdiri di tengah-tengah kelopak mawar berbentuk love tersebut. Orang itu memakai jubah bewarna hitam pekat dengan wajah yang ditutupi oleh topi jubah tersebut—layaknya pakaian Malaikat Pencabut Nyawa—sehingga Maura tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Belum lagi ia diapit oleh dua orang pria bertubuh besar. Kehadiran dua orang pria ini berhasil membuat Maura ketakutan sekaligus risih. "Kalian kenapa sih? Kenapa harus nempel-nempel kayak gini?" tanya Maura kepada kedua Bodyguard tersebut namun ia langsung dibalas dengan delikan mata—yang hampir terlepas dari rongganya. Maura bungkam. Tidak berani berbicara lagi sebelum makhluk bertubuh besar ini akan melahapnya hidup-hidup. "Selamat siang semuanya ...," ucap seseorang berjubah hitam itu. Ternyata dia seorang pria dengan suara yang tidak asing lagi di telinga Maura. Suara yang belakangan ini sering Maura dengar. Semua aktivitas di mall mendadak terhenti. Mulai dari kaum muda sampai kaum lansia memperhatikan orang tersebut dengan saksama. Sepertinya Cilandak Town Square akan memberikan kejutan kepada semua pengunjung mall. Seperti Maura yang saat ini masih tertegun dengan suara itu. "Saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat saya cintai. Seseorang yang pernah menghiasi hari-hari saya, namun pada saatnya kami harus terpisah untuk waktu yang sangat lama, dan kini Tuhan sudah mempersatukan kami kembali," ungkap pria itu dengan nada suara yang lantang. Setelahnya ia membuka jubah itu, "dan wanitanya adalah kamu ...," ucapnya seraya menunjuk ke arah Maura. Maura langsung membulatkan bola matanya saat melihat pria itu melepaskan jubahnya, ternyata pria itu adalah Asraf. Maura tertegun saat melihat semua persiapan yang telah Asraf lakukan. Saking tidak tahu lagi untuk berkata apa-apa, Maura langsung menutup mulutnya dengan airmata yang perlahan menetes dari pelupuk matanya. Ia terharu sekaligus bahagia dengan apa yang dilakukan Asraf saat ini. Raut bahagia di wajah Maura tidak bisa dipungkiri lagi. "Kasih ... dengarkanlah aku, kini hatiku yang berbicara ... resah ... yang ada di jiwaku, ingin kulalui bersamamu ...." Suara Asraf yang merdu membuat semua orang takjub mendengarnya, terutama Maura. Lagu dari Adera - Dengarkan Hatiku, sangat cocok untuk menggambarkan perasaan Asraf kepada Maura saat ini, ralat, tidak hanya untuk saat ini tetapi lagu ini menggambarkan perasaan Asraf yang sejak dulu sudah mencintai Maura namun berakhir dengan penyeselan, dan kini Asraf ingin memulainya dari awal tanpa takut dengan adanya kehadiran Ervin. Maura merasa sangat dispesialkan hari ini. Setiap suara yang terlantun mampu menghanyutkan Maura ke dalam pesona Asraf. Suara serak seksinya berhasil membuat setiap kaum hawa terpesona. "Karena kuyakin cintaku, hanya tercipta untukmu ... tak akan pernah sirna, hingga akhir waktu ... sejujurnya ingin kukatakan saja ... dari hati ini, kumencintaimu ...." Asraf terlihat sangat tampan hari ini. Ia memakai kemeja hitam yang dibalut dengan jas bewarna abu rokok—perpaduan warna yang sangat sempurna. Otot bidangnya memberi kesan macho pada dirinya meskipun saat ini Asraf terlihat sedikit gugup. Terlihat jelas dari buliran keringat yang menempel pada dahi dan pelipisnya. Airmata Maura terus mengalir, hatinya terasa penuh dengan jutaan kelopak mawar segar. Entah mengapa ia merasakan ada sesuatu yang luar biasa akan segera menghampirinya. Sesuatu yang mungkin tidak akan bisa dilupakannya. Tubuh Maura semakin bergemetar saat Asraf turun dari panggung dan berjalan menghampirinya. Asraf mengulurkan telapak tangannya kepada Maura untuk membantu wanita itu berjalan menuju atas panggung. Semua orang berteriak histeris karena melihat keberanian Asraf yang diluar kata nekad. Speechless, satu kata yang menggambarkan perasaan Maura saat ini. Bahkan ia sampai tidak mampu untuk berkata-kata saat telapak tangan Asraf yang dingin menyentuh telapak tangannya. Saat hal itu terjadi, mendadak jantung Maura serasa ingin melompat dari sarangnya. Ini kali pertama dalam hidup Maura diperlakukan sespesial ini, dengan orang ia cinta lagi. Bayangan Ervin mendadak terenyah dari pikiran Maura, semuanya karena perbuatan Asraf hari ini. Suara yang dilantunkan Asraf, seolah-olah mampu menyingkirkan semua masalah yang sedang Maura hadapi. "Semuanya kini ... terserah padamu ... terserah padamu ...." Setelah Asraf selesai menyanyikan lafal lirik terakhir, ia langsung mengulum senyum. Suasana mall mendadak hening, menunggu aksi yang akan Asraf lakukan selanjutnya. Ia menggenggam tangan Maura lalu mengecupnya—sontak semua pengunjung mall langsung berteriak histeris. Maura juga seperti merasakan ada sengatan listrik yang menyambarnya saat benda kenyal itu menyentuh punggung tangannya. Asraf menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Dulu aku pernah melakukan suatu kesalahan hingga pada akhirnya kamu memaksa aku agar jadian dengan Vani, namun saat ini kejadian itu tidak akan aku biarkan terjadi lagi." Asraf menyingkirkan anak rambut Maura. "Aku sudah cukup lama menunggu momen seperti ini, momen di mana aku memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku kepada kamu." Asraf mengambil napas panjang, "aku tidak tahu mengapa dulu kamu memaksa aku untuk jadian dengan Vani, bahkan setelah aku mencoba untuk menjalani hubungan dengan Vani selama bertahun-tahun, namun sampai sekarang aku tetap tidak bisa mencintainya." Asraf menggerakan tangan Maura menuju d**a bidangnya yang sebelah kiri, lalu ia menempelkan tangan Maura di dadanya dengan durasi yang cukup lama. "Hati ini sudah memilih siapa takdirnya, dan takdirku adalah kamu ...." Maura menutup mulutnya dengan tangan yang satunya lagi. Ini pernyataan Asraf yang paling dalam selama ini. Airmata bahagia terus mengalir dengan hebat, membuat pipinya sudah basah sejak tadi. Ungkapan Asraf berhasil membuat perasaan Maura kembali merasa bersalah, namun rasa bersalah itu langsung tergantikan dengan rasa bahagia. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengobati rasa bersalah itu. Dengan sigap, Asraf berlutut dengan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisikan cincin emas putih bermata berlian. "Maukah kamu mau menjadi kekasihku yang nantinya akan belajar menjadi Ibu dari anak-anakku?" "Terima!! Terima!! Terima!!" teriak orang-orang yang sedang menyaksikan pertunjukan itu. Mulai dari kaum muda hingga lansia, mereka menikmati pertunjukan yang sudah disusun rapi oleh Asraf dan pihak mall. Semua pengunjung terlihat begitu antusias dengan apa yang dilakukan Asraf kepada Maura—hingga membuat sepenjuru mall bergema dengan sorakan kata 'terima'. Maura kembali meneteskan airmatanya, ia sangat tersanjung dengan perjuangan Asraf hari ini. Tubuhnya bergetar, bulu romanya berdiri saat mendengar respon pengunjung mall terhadap perlakuan Asraf. Setelah cukup ia menetralisirkan pernapasannya, tanpa pikir panjang Maura langsung menganggukan kepalanya. Seulas senyuman terukir manis dibibir keduanya. Asraf kembali berdiri tegak, lalu ia mengaitkan cincin tersebut pada jari manis Maura, setelah berhasil terpasang dengan sempurna Asraf langsung mencium bibir Maura tanpa aba-aba. Ia terkejut sekaligus malu dilihatin banyak orang, namun pikiran itu terenyah saat ia menyadari kalau Asraf sudah miliknya. Maura membalas ciuman itu dengan sangat lihai—hingga beberapa saliva Asraf sedikit keluar pada sudut bibirnya. * Asraf mengajak Maura makan siang di kafe Ice Cream F'lo yang terletak di lantai dua, mereka duduk di bagian tengah kafe. Dari zaman SMA Maura paling bahagia kalau diberi ice cream—bahkan sampai sekarang kebiasaan itu masih ada. Dulu, Asraf begitu sering memberikan Maura ice cream namun ia tidak memiliki keberanian seperti tadi, jadi setiap kali ia hendak memberikan ice cream kepada Maura maka hal itu dilakukan oleh perantara. "Kamu inget nggak? Setiap hari kamis, setelah olahraga, pasti ada seseorang yang selalu kasih kamu ice cream?" tanya Asraf memulai percakapan setelah hening sejak sepuluh menit yang lalu. Dari paras wajahnya, Maura terlihat sedang berpikir keras—mencari kepingan memori tentang kejadian itu. "Ingat, emang kenapa? Ohiya bahkan sampai sekarang aku enggak tahu siapa orang dibalik ice cream itu. Yang aku tahu, Udin selalu bilang kalo ice cream itu dari penggemar rahasiaku." Maura tersenyum simpul. "Sedangkan, aku mana mungkin punya penggemar rahasia. Emang kamu tau ya ... siapa yang sering kasih ice cream itu?" Asraf mengangguk pasti lalu tersenyum, memperlihatkan bibirnya yang tidak terlalu merah tetapi terkesan seksi karena dibalut dengan brewok yang tidak terlalu tebal. "Itu aku." Maura langsung membulatkan matanya dengan sempurna. "Kamu? Maksudnya kamu yang ngasih?" kali ini tidak tanggung, Maura melahap habis ice creamnya tanpa sisa, padahal baru saja lima menit yang lalu pesanan ice cream mereka datang. "Iya ... aku yang selalu kasih kamu ice cream waktu itu." Asraf menyendokan ice cream coklat miliknya ke dalam mulut, lalu ia diam sejenak sampai ice cream itu tidak bersisa di dalam mulutnya. "Dan kamu paling suka ice cream mint choco, benar, 'kan?" Maura langsung tertawa hingga kedua matanya menyipit. "Kamu tahu darimana?" Maura menggaruk tengkuknya setelah itu ia tersenyum kuda. "Aku boleh nambah semangkuk lagi, nggak?" Asraf mengacak rambut Maura, ia tahu pasti sifat wanita di hadapannya ini. Selalu terburu-buru dengan sesuatu, seperti saat ini. "Boleh sayang, terserah kamu mau pesan berapa kali." Asraf berdeham, "hhm ... kalo bisa nanti sewaktu kita nikah mahar kamu satu ton ice cream, gimana?" "Ngawur kamu, masa mahar aku ice cream." Maura mencubit kedua pipi Asraf dengan gemas, "yaudah, aku panggil Pelayannya dulu, ya ...." Maura mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, setelahnya ia melihat ada seorang Pelayan yang berada tidak jauh dari meja mereka, lalu ia panggil Pelayan tersebut. "Eem ... saya pesan ice cream mint choco satu tapi astornya dua, dan satu lagi saya mau, em ... ohiya, dessert pudding," jelas Maura setelah Pelayan tersebut menghampirinya. "Itu aja?" tanya Pelayan yang diketahui bernama Nico, lalu Maura membalasnya dengan anggukan kepala. "Baiklah, pesanan akan datang dalam waktu lima menit ke depan. Terimakasih." Setelah b****g pelayan itu mulai menjauh dari meja mereka, Maura kembali menatap pupil mata Asraf. "Jadi waktu itu, aku nyuruh Udin buat ngasih ice cream ke kamu." Maura kembali tertawa. "Jadi kamu nyuruh Udin? Aku nggak nyadar sampe sekarang." Tawa Maura terdengar sangat keras—membuat orang-orang di sekitar kafe menoleh ke arah meja mereka. "Tapi aku udah lama deh, enggak ketemu Udin lagi. Entah masih hidup atau udah lenyap tuh anak, kagak ada kabar." "Asraf!! Enggak boleh gitu ah ngomongnya. Terakhir aku dengar kabar, Udin udah jadi Pengusaha Behel di Amerika." Kali ini Asraf yang tertawa terbahak-bahak. "Serius? Terus, nasib giginya yang maju lima senti, gimana?" Asraf begitu geli mendengar pernyataan kabar Udin yang sudah menjadi Pengusaha Behel. "Iya sayang ... nasib giginya sekarang udah rapi, putih, enggak kayak dulu lagi banyak tanaman cabe." Keduanya langsung tertawa—mengingat betapa mengerikan setiap kali melihat gigi Udin saat sedang berbicara. Drrrt ... drrt ... drrt ... Disela-sela suara tertawa mereka, Maura merasakan ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menyuruh Asraf untuk diam sejenak. Dengan suara yang ragu sekaligus takut, Maura mencoba menyapa Ervin dari balik speaker ponselnya. "Halo Vin ...." "Lo dimana? Katanya sebentar, cuma mau ke kantor Alice ...," sindirnya dengan nada suara yang menyebalkan. "Tapi sekarang udah dua setengah jam lo pergi dan belum balik ke kantor!" belum sempat Maura menjawab, Ervin langsung menyambar. "Ooh ... lo pasti lagi di mall? Dan ... ohh, lo lagi berduaan sama Asraf? BENERKAN? Mall mana lo?" Maura memutar bola matanya jengah, nih anak tau aja semua aktivitas gue. Batin Maura. "Vin, apaansih lo! Lebay banget, lagian terserah gue dong, 'kan elo udah kasih gue durasi tambahan untuk makan siang." "Gak peduli gue, sekarang juga lo balik ke kantor! Atau gue jemput lo di CTS," geram Ervin dengan nada suara yang terdengar sangat keras—bahkan Asraf dapat mendengarnya meskipun Maura tidak mengaktifkan tombol loudspeaker. Mendengar kalimat terakhir dari Ervin barusan berhasil membuat jantung Maura lepas dari sarangnya. Jangan bilang dia dari tadi ngintilin gue, moga aja enggak. "Gue balik satu jam lagi, dan lo enggak usah jemput gue." "20 menit, enggak ada penawaran atau komisi lo gue potong 70 persen, paham?" pekik Ervin emosi. "Iyaiya ...! Setengah jam gue udah sampe." "DUAPULUH MENIT!" tutur Ervin penuh penekanan dan pemaksaan. Maura langsung mematikan panggilan telepon dari Ervin lalu menyenderkan punggungnya pada kepala kursi. Ia memejamkan matanya sejenak lalu menghela napas berat. Ia merasa tidak enak dengan Asraf, karena mau bagaimanapun hari ini adalah hari paling spesial bagi mereka berdua—tetapi Ervin sudah menghancurkannya dalam sekejap. "Nggak pa-pa, Ra ... gue antar sampe basement, yuk ...." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD